Love Destiny

Love Destiny
Epson 249



Dena berjalan mendekati papi intan yang masi terbaring tidak sadarkan diri, Dena menarik bantal intan dan berniat untuk membekap papi intan dengan bantal.


"Jangan, ak_aku mohon jangan sakiti papi ku." Teriaknya, Dena menoleh dan tersenyum.


"Kau melarangku untuk menyakiti papi mu, tapi kau dan papi mu menyakiti kedua orang tuaku. Apa kau fikir aku akan diam saja?" Ujar Dena membuat intan bungkam.


"Jangan, aku punya alasan untuk menyakiti orang tuamu." Lirih intan.


"CK, kau fikir aku tidak memiliki alasan untuk melakukan ini?" Tanya Dena.


"Kau_kau dan keluarga mu bersalah karena menguasai kak Mei, bahkan kalian menikahkan kak Mei dengan bang Dio hanya untuk menguasai harta nya." Ujar intan membuat Dena geram.


"Tanpa harta dai om Gio keluarga ku sudah kaya intan, kau jangan terlalu bo*oh kemakan omongan papi mu. Apa kau fikir selama kak Mei dirawat ayah ku kami menggunakan uang dari om Gio? Tidak, ayah ku sangat mampu untuk menanggung semua biaya kak Mei." Tegas Dena, kini emosi Dena sudah tidak bisa tertahankan lagi.


Dena menusukan suntikan di botol infus papi intan, membuat intan menjerit histeris karena setelah Dena menyuntikkan cairan itu sang papi langsung kejang-kejang.


"Papiiiiiiiiiii, jahat kau jahat. Harusnya kau tidak menikah dengan Keanu yang terlalu baik, kau_kau tidak pantas dengan nya." Teriak intan membuat Dena langsung mencengkram leher intan dengan kuat.


"Kau tidak tahu sayang bagaimana kejamnya suami dan mertuaku, mereka baik hanya kepadaku. Namun jika kepada orang yang mencari masalah dengan ku, mereka bisa melakukan segala hal untuk menghanc*rkan nya." Bisik Dena, intan sudah hampir kehabisan nafas.


"Ti_tidak aku yakin Kean tidak seperti itu." Lirih intan dengan suara yang tersendat karena kehabisan nafas.


"Cih, yang tahu siapa? Kau atau aku, jelas saja aku karena aku ini istrinya." Ujar Dena melepaskan cengkraman nya, intan kembali melihat sang papi yang sudah mengeluarkan busa dari mulut nya.


"Dokter tolong aku mohon tolong." Teriak intan, teriakan intan yang keras membuat beberapa dokter dan perawat masuk kedalam ruang rawat nya.


Sementara Dena duduk santai di sofa sambil tersenyum, Keanu Dio dan Justin ikut masuk dan ketiganya tercengang saat melihat Dena yang duduk manis menonton kejadian di hadapan nya.


Keanu dan Justin tertawa kecil melihat kelakuan Dena, sepertinya ini aksi baru dari seorang mommy Rafael.


"Kau nakal." Ucap Keanu mencubit hidung Dena.


"Bukankah aku melakukan nya dengan baik." Ucap Dena, Justin tertawa.


"Good girls." Ucap Justin mengelus kepala Dena.


"Kalian jahat." Teriak intan.


"Kami tidak akan jahat jika kau tidak memulai nya." Ujar Dio, membuat intan menggigit bibir bawahnya.


Baru kali ini Dio berkata dingin kepada intan, igadis itu terus menatap sang papi yang di tangani oleh dokter.


"Bertahanlah aku mohon." Lirih intan frustasi.


"Leny*p lah aku mohon, aku capek jika terus bekerja untuk mengirimmu untuk bertemu opa ku." Ujar Dena santai.


"Maaf nona, papi anda sudah tidak bisa kami selamatkan." Ucap seorang dokter, membuat intan berteriak histeris.


"Kau g*la kau wanita g*la, kau membuatku melihat nya saat meregang nyawa. Kau jahat Dena kau ibl*s." Teriak intan.


Plaaakkk!!!


Satu tamp*ran mendarat di pipi mulus intan membuat gadis itu menunduk rapuh, Mei yang melakukan itu menatap benci kepada sepupunya.


"Jaga ucapan mu, apa kau fikir kau pantas mengatakan hal yang lebih pantas untuk dirimu sendiri." Ucap Mei.


"Kak, kenapa kau membelanya." Lirih intan.


"Berterima kasihlah kepada nya kepada keluarganya yang sudah merawat dan menjaga kakak mu dengan baik, bukan malah memberikan luka di hatinya." Tegas Mei, intan menangis histeris melihat alat medis yang terpasang di tubuh sang papi mulai di lepas satu persatu.


"Aku akan membalas perbuatan kalian, akan akan membalas semua nya." Lirih intan.


"Kau fikir kau bisa melakukan itu? Seperti nya tidak karena setelah ini kau akan di tangani olah para orang nya tuan Richard." Ucap Dio, ya memang Keanu meminta intan kepada keluarga Artadinata.


Kean ingin ia mengurus kasus ini, bahkan Justin dan Dio sudah menyetujui nya. Intan yang mendengar itu menelan Saliva nya dengan sulit.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dea menghampiri Dena.


"Tentu, aku tidak apa-apa." Jawab Dena, Dea tersenyum dan memeluk adik bungsu nya.


Dena membalas pelukan dea dan tersenyum, akhirnya keluarga nya terlepas dari masa sedih nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


A**: Stop Yee bilang kakak Dena gak berguna, ini kan Alur gue yang nulis. Dan ini kan novel Dena jadi yang lebih mencolok itu Dena, kenapa Lo pada Masi kaga ngerti yaampun 😒


N: Maklum lah Thor, mereka mah taunya semua jadi peran rame-rame dah tuh 😂


A: Berasa lagi antri toilet ye kan 😒


N: Nah kan cakep 🤣🤣🤣


A: 😌😌😌


N: 🤣🤣🤣*