
Suasana hati Crystal saat ini cukup bagus, dia akhirnya bisa menyalurkan hobi barunya yaitu berkebun. Meski pada awalnya dia sama sekali tertarik akan hal itu, namun jika dipikir – pikir kegiatan tersebut tidaklah buruk.
Selain dapat membunuh waktu, hal tersebut bisa berguna untuk membakar kalorinya agar tidak ada siapapun yang bisa mengatainya gemuk dan memiliki banyak lemak.
Kata – kata pedas Mike kembali terngiang – ngiang di gendang telinga Crystal, membuat tekadnya bulat untuk beraktivitas agar semua lemak jahat hilang dalam tubuhnya.
Setelah suasana hening untuk sesaat, tiba – tiba suara Crystal yang merdu kembali mengusik ketenangan yang ada. Membuat semua orang memegang dadanya, berusaha untuk tidak kena serangan jantung saat mendengar apalagi keinginan sang tunangan si bos itu.
“ Untuk taman sebelah timur, apakah tidak sebaiknya kita kasih pohon mangga dan rambutan. Lalu di atas jembatan yang berada ditengah kolam bisa kita tanam buah anggur disana, selain indah dipandang, buahnya juga bisa kita nikmati…”, ucap Crystal dengan mata semakin berbinar.
Mendengar hal tersebut, Emily langsung terdiam tanpa kata, sementara Arnold, ekspresinya semakin dingin. Mendapati hawa tidak enak yang ada disekitarnya, Crystalpun kembali bersuara.
“ Hey…apa masalahnya jika aku ingin menanam buah – buahan disana…”, tanyanya seakan meminta penjelasan tentang ekspresi aneh yang dilayangkan semua orang kepadanya.
“ Apa kau kelaparan disini….”, tanya Arnold dengan nada dingin sambil memainkan cangkir kopi yang ada dihadapannya.
“ Um….tidak…”, ucap Crystal hampir saja dia tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan dengan nada dingin itu.
“ Apa maksudnya aku kelaparan disini. Apa dia bermaksud mengejekku sekarang…. Sejak kecil aku tidak pernah kekurangan makanan. Bahkan disinipun makanan cukup berlimpah. Tapi kan lebih enak kalau makan buah dari hasil kebun sendiri…”, batin Crystal sedikit sedih.
Melihat raut kesedihan kembali muncul diwajah tunangannya membuat Arnold sedikit menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar.
“ Lakukan semua yang diminta olehnya….”, ucap Arnold dingin.
“ Baik bos…”, ucap Emily dengan wajah pucat akibat aura yang dikeluarkan sang bos.
“ Ini gila…bagaimana mungkin gadis ini mau mengubah taman mewah tersebut menjadi kebun buah…”, batin Emily masih tidak percaya dengan keinginan Crystal.
“ Yeahhh…akhirnya kita bisa memakan semua buah – buahan itu tanpa perlu menunggu musimnya. Apakah aku juga bisa menanam pohon durian dan strawberry disana….”, tanya Crystal sambil menjerit penuh semangat.
“ Jika begini…aku tidak usah keluar rumah tidak apa – apa. Aku nanti akan membuat beraneka olahan cake dan camilan jika buah tersebut sudah masak…”, ucapnya lagi masih dengan mata berbinar.
Arnold mengangkat satu alisnya heran, melihat tunangannya itu bernyanyi dan berjoget – joget kegirangan saat keinginannya terpenuhi.
“ Apa…hanya dengan hal sepele ini dia berkata tidak ingin keluar dari rumah. Padahal sebelumnya, beraneka cara dia coba agar bisa kabur dari rumah…dan sekarang,lihatlah dia….”, batin Arnold terkejut dengan sikap Crystal yang menurutnya sangat aneh.
“ Apakah ini adalah sifat dia sesungguhnya…”, batinnya lagi.
“ Atau ini juga termasuk taktiknya…”, batinnya penuh selidik.
Arnoldpun terus mengamati semua gerak gerik Crystal yang mulai berjalan menjauh darinya, menuju halaman depan rumah bersama Emily dan tukang kebun yang mengikuti mereka dari belakang.
Sambil menunggu pohon buah yang diinginkan tunangan sang bos tiba, mereka mulai bergerak untuk menanam bunga yang sudah datang disekitar area kolam, sesuai dengan instruksi Cystal.
Sepanjang hari Crystal sibuk menginstruksikan kepada para pekerja rencana perubahan taman yang sudah dibuatnya. Siangnya, pohon buah dan ikan yang diminta oleh Crystalpun telah tiba.
Para pekerja mulai sibuk mengisi kolam dengan air agar ikan yang telah datang bisa segera dimasukkan kedalam kolam.
Begitu juga dengan bagian tengah kolam, jembatan yang melintang ditengah kolam, kini sudah mulai dipasang atap kawat yang nantinya berfungsi sebagai tempat pohon anggur melilit dan tumbuh disana.
Sedangkan pohon mangga, jambu, rambutan, dan durian yang sudah datang mulai ditanam di beberapa tepi taman bagian timur. Sekarang taman sebelah timur terlihat lebih rindang karena banyaknya pohon besar yang tumbuh disana.
Arnold tidak membelikan bibit buah, tapi langsung membelikan pohon yang sudah berbungga agar tunangannya itu tidak menunggu terlalu lama agar pohon tersebut berbuah.
Semua orang terlihat sangat sibuk mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Crystal yang sangat antusias merubah halaman rumah mewah tersebut sesuai keinginannya.
Pohon strawberry, blueberry, dan jeruk juga sudah mulai ditaman didalam pot – pot kecil dan ditata apik disepanjang tepi kolam, membuat tampilannya lebih hidup dan berwarna.
Crystal memandang taman halaman rumah dengan rasa puas. Sekarang, bukan hanya lebih rindang dan asri, taman tersebut terlihat lebih segar dan berwarna dari pada sebelumnya.
“ Tampaknya aku berbakat juga dalam bidang ini…”, batin Crystal bangga, puas dengan hasil kerja kerasnya hari ini.
Seharian melakukan banyak aktiviats fisik membuat Crystal sedikit kelelahan. Setelah membersihkan diri didalam kamar mandi dan berganti pakaian, diapun segera turun untuk makan malam.
Malam ini Crystal menyantap habis semua makanan yang tersedia diatas meja dengan sangat lahap. Para pelayan menatapnya dengan heran saat melihat tunangan sang bos seperti orang kelaparan yang tiga hari tidak makan.
Setelah kenyang, Crystal yang hendak masuk kedalam kamar tanpa sadar kakinya melangkah ke depan kamar Arnold yang berada disamping kamarnya.
“Apa aku coba berbicara lagi ya….siapa tahu malam ini keberuntungan berpihak padaku…”, batin Crystal mulai gelisah.
Cukup lama dia berdiri didepan kamar Arnold, berusaha untuk mengumpulkan tenaga agar mempunyai kekuatan dan keberanian untuk mengetuk kamar tersebut.
Setelah cukup lama berkutat dengan pemikirannya diapun akhirnya mengambil keputusan. Setelah menarik nafas panjang beberapakali, Crystal bergerak maju dan memberanikan diri untuk mengetuk.
Tok tok tok….
“ Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu…apakah kau punya waktu….”, ucapku sambil menunduk saat pintu terbuka.
Sepasang mata dingin yang menyambutnya hanya berdehem dan melangkah masuk kedalam kamar, meninggalkan Crystal yang masih berdiri mematung didepan pintu.
“ Sampai kapan kau berdiri disitu…”, tanya Arnold dingin.
“ Ehhh….iya….”, ucapku sambil melangkah masuk kedalam kamar yang baru dua kali ini aku kunjungi, setelah sebelumnya aku terdampar disini setelah tertidur dipangkuannya.
Akupun mulai masuk kedalam ruangan yang didominasi wara hitam dan putih. Sayup – sayup kudengar alunan music yang menenangkan keluar dari audio kecil yang brerada diatas nakas, disampng ranjang.
Tirai jendela yang menghadap kearah taman ditarik sepenuhnya, sehingga ruangan tersebut terasa sangat tertutup, seperti sang pemilik kamar, tidak ada yang bisa membaca apa sebenarnya yang sedang dipikirkannya karena tidak adanya ekspresi dalam raut wajah tampan itu.
Ada banyak jenis alkohol yang berada dalam almari kaca disamping jendela, dan disana terlihat seorang pria tua sedang mempersiapkan sesuatu, semacam lilin aroma terapi yang baru saja dikeluarkannya dari dalam tas.
“ Apakah dia akan bersiap tidur…. ”, batin Crystal penasaran.
“ Kurasa begitu…dan aku yakin kalau pria tua itu adalah psikolog pribadinya…”, batinku menebak.
Melihat Crystal berada didalam kamar, pria tua tersebut langsung undur diri tanpa banyak tanya, tidak mau menganggu waktu berharga sang bos dengan tunangannya.
“ Jadi ini semua yang harus disiapkan sebelum dia tidur…”
“ ribet banget…”
“ padahal kemarin saat aku berada dipangkuannya dia tidur dengan sangat nyenyaknya…”
“ Apa karena dia sudah tidak tidur selama seminggu…”, batin Crystal penuh tanda tanya.
“ Apa yang ingin kau bicarakan…”, tanya Arnold sambil berjalan menuju bar kecil yang ada disamping almari yang penuh dengan alkohol berharga fantastis.
Dengan santai, Arnold mengambil salah satu anggur dari dalam almari dan menuangkannya kedalam gelas kosong yang dipegangnya.
“ Aku ingin membicarakan mengenai hubungan kita…”, ucapku dalam satu tarikan nafas.
“ Hubungan kita…”, tanya Arnold sedikit menaikkan satu alisnya, terlihat berminat dengan topik yang akan aku bahas.
Crystalpun mengangguk sambil mengambil tempat duduk dihadapan Arnold dengan wajah yang mulai serius.
“ Arnold, apa pendapatmu mengenai hubungan kita…”, tanyaku penasaran.
“ Kamu milikku…”, jawabnya singkat.
Crystal merasa heran dengan jawaban ambigu yang keluar dari mulut tunangannya itu. Crystalpun berusaha untuk mencerna lagi kata – kata yang baru saja dia dengar.
“ Dengan status yang kamu miliki, tentunya kamu bisa mendapatkan wanita manapun yang kamu inginkan…dan mungkin mereka jauh lebih baik dari saya, dari segi penampilan dan lainnya…terlepas dari kesepakatan yang dibuat kakek kita tentunya…”, ucapku berusaha menjelaskan tentang keadaan sebenarnya.
“ Dan aku…termasuk tipikal yang bebas. Semakin kau mengenggamku dengan erat, maka aku akan semakin lari menjauh darimu. Itulah yang selama ini kulakukan…seperti pasir, semakin erat digenggam maka akan semakin cepat hilang…”, ucapku panjang kali lebar.
Arnold hanya membiarkan Crystal tanpa suara, hingga wanita itu selesai berbicara. Sambil memutar gelas anggur yang dipegangnya dia mulai bersuara.
“ Aku tidak mau mengenggam pasir…itu menjijikan…”, ucapnya tanpa ekspresi.
Mendengar hal itu, aku langsung Speechless dibuatnya.