From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 89 Wujud bayangan Hitam



Natasha turun dari lantai dua ke lantai satu, saat berada di lantai satu Natasha pergi ke pintu keluar Vila.


Saat sampai di pintu keluar, Natasha membuka sedikit pintu Vila, ia melakukan itu untuk mengintip melalui celah pintu yang terbuka.


Saat mengintip Natasha masilh melihat para bangsawan berkumpul di depan Vila. Natasha bisa mendengar perkataan para bangsawan.


"Syukurlah kita selamat." Kata salah satu bangsawan.


"Kau benar!" Jawab salah satu bangsawan lain nya. "Ini semua berkat Tuan Sarion. Rencana yang di buat beliau sangat jitu untuk mengatasi rakyat jelata itu."


Seluruh bangsawan mengangguk menanggapi perkataan bangsawan yang sebelum nya berbicara.


"Beliau memang bisa diandalkan," Kata salah satu bangsawan. "Tidak seperti anak kecil yang bisa nya bersembunyi di Vila."


Semua bangsawan melihat kearah pintu Vila, Natasha dengan cepat menutup rapat pintu Vila.


"Untung tidak ketahuan." Gumam Natasha sambil menghela nafas.


Ternyata benar dugaan Mira! Para bangsawan memuji Sarion! Pikir Natasha.


Natasha hendak kembali menuju ruang tengah lantai dua, saat Natasha berjalan, pintu Vila di buka oleh seseorang.


"Kau kan? Bawahan Putri Mira!" Kata orang yang membuka pintu.


Natasha menengok ke arah pintu, ia melihat Sarion.


"Kenapa kau di sini?" Tanya Sarion.


"Kenapa kau bilang? Ini tempat tinggal Nona Mira! Tempat tinggal Nona Mira adalah tempat tinggal ku juga! Seharus nya aku yang bertanya. Kenapa kau disini?" Jawab Natasha lantang.


"Aku?" Kata Sarion sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku kesini cuma ingin berbicara dengan Gadis Elf."


"Gadis Elf? Maksud mu Arisa?"


"Iya benar...... Dimana dia sekarang?"


"Jam segini biasanya dia tidur. Jika ada yang ingin kau sampaikan, bilang saja padaku, nanti akan ku sampaikan ke Arisa."


"Kalau begitu bilang pada nya. Malam ini aku mengajak nya kencan. Tempat nya di restoran yang paling besar di kota Cocoa."


"Baiklah akan ku sampaikan."


Sarion mengangguk, kemudian Sarion pergi keluar Vila, sebelum Sarion sampai keluar Vila Natasha memanggil Sarion.


"Tunggu!!" Kata Natasha memanggil Sarion.


Sarion berbalik melihat ke Natasha. "Ada apa?"


"Aku dengar kau yang menyusun rencana untuk menahan orang yang mengamuk masuk ke daerah ini?" Kata Natasha.


"Kau benar. Aku yang menyusun rencana nya. kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir kau itu jenius, bisa memikirkan rencana bagus seperti itu." Kata Natasha memuji.


"Terima kasih atas pujian nya," Kata Sarion sambil membungkuk. "Memang banyak yang memuji ku seperti itu."


"Jika banyak yang memuji mu jenius, berarti kau memang orang yang jenius. Seperti nya aku harus memaksa Arisa untuk menerima lamaran mu." Kata Natasha tersenyum.


Sarion tertawa kecil. "Aku senang sekali kau ingin membantu ku."


Sarion berbalik badan, kemudian ia berjalan menuju pintu keluar. Sarion berjalan keluar sambil tersenyum licik, senyuman nya seperti mengatakan kalau dia sudah berhasil membuat gadis Elf yang bisa melihat Ghoul menjadi milik nya.


Natasha melihat Sarion pergi dari Vila, melihat Sarion pergi Natasha tersenyum licik. "Kena kau!" Gumam Natasha tersenyum.


"Apa nya yang kena kau?"


Natasha terkejut dengan orang yang baru saja berbicara, Natasha melihat ke arah orang itu. Ternyata orang yang baru saja bicara adalah Leonardo!


"Jangan mengejutkan ku!" Kata Natasha membentak.


Leonardo tertawa kecil. "Maaf, maaf." Kata Leonardo sambil tertawa.


"Itu bukan hal yang lucu." Balas Natasha dengan suara lesu.


"Jadi apa nya yang kena kau?" Tanya Leonardo heran.


"Ah itu......" Natasha memalingkan wajah nya. "Aaaah, Eeeeehm..... Itu......" Natasha terus memalingkan wajah nya. Akhir nya Natasha pun mendapatkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan Leonardo.


"Ah, itu.... Aku bilang kena kau itu.... Untuk menjahili Nona Mira."


"Menjahili Nona Mira?" Kata Leonardo heran.


"Kau tahu, sebenarnya saat ini kami semua bersembunyi dari Nona Mira. Jadi pasti sekarang Nona Mira sedang menangis. Jadi aku bilang kena kau itu maksud nya, kena kau Nona Mira. Akhirnya kau menangis!! Seperti itu." Kata Natasha tersenyum canggung.


Leonardo menatap serius Natasha. Kemudian Leonardo tersenyum. "Jadi begitu ya."


Mendengar jawaban Leonardo, Natasha menghembuskan nafas lega. Seperti nya aku bisa mengelabui nya. Pikir Natasha.


"Tapi saran ku, sebaiknya kalian jangan terlalu menjahili Nona Mira. Kasihan dia masih anak kecil." Kata Leonardo cemas.


Natasha berlari ke lantai atas, melihat Natasha berlari, Leonardo mengingat masa lalu nya kembali.


"Enak sekali punya anak kecil yang mendampingi kita.... Dulu aku juga seperti itu, aku memiliki cucu yang seumuran dengan Nona Mira. Dulu saat cucuku masih hidup sangat membuat ku bahagia." Kata Leonardo tersenyum.


Wajah Leonardo menjadi murung. "Seandainya dulu tidak ada penyakit menular. Pasti anak, dan cucu ku masih hidup...."


Entah kenapa, Nona Mira mengingatkan ku pada cucu ku. Dan bawahan Nona Mira yang berambut pirang tadi itu mengingatkan ku kepada anak ku. Pikir Leonardo.


"Sebagai penebusan dosa ku karena tidak bisa menyelamatkan cucu dan anak ku. Aku harus melindungi Nona Mira dan para bawahan nya dari penyakit menular itu..... Pasti akan ku lindungi mereka....." Gumam Leonardo.


Natasha sampai di ruang tengah lantai dua, saat Natasha sampai, di dalam ruangan sudah tidak ada siapa-siapa.


"Kemana Mira?" Kata Natasha.


Natasha berkeliling di lantai dua, hingga akhir nya Natasha sampai di ruangan yang paling ujung. Natasha melihat Mira baru saja keluar dari ruangan yang paling ujung. Natasha pun mendatangi Mira.


"Di sini kau ternyata." Kata Natasha.


"Natasha! Bagaimana hasilnya?"


"Sesuai dugaan mu. Mereka memuji Sarion, aku juga bertanya ke Sarion. Dia bilang kalau semua rencana menahan orang yang mengamuk itu adalah rencana nya."


"Bagus sekali, dengan laporan mu aku sudah menyusun rencana ku. Jika ku perkirakan rencana nya akan berhasil dalam waktu dua minggu."


"Secepat itu?"


Mira mengangguk. "Kau benar secepat itu."


"Sebenarnya apa rencana mu?" Tanya Natasha.


"Kita keruang kerja dulu, akan ku jelaskan semua rencana ku di sana."


Mira dan Natasha pun berjalan menuju ruang tengah, yang berguna sebagai ruang kerja.


"O iya Mira." Kata Natasha.


"Ada apa?"


"Kau habis ngapain di ruang ujung tadi?"


"Aku mengantar Arisa dan Jack. Mereka ketiduran saat ku suruh bertugas sebentar tadi."


"Tidak mungkin mereka ketiduran saat bertugas..... Dan juga Arisa dan Jack tidak pernah tidur siang, mereka pasti pingsan.... Benar kan?"


"Apa yang kau bilang? Mereka mana mungkin pingsan. Mereka itu ketiduran."


"Iya, iya. Mereka tidur siang. Sesuka hati mu, mau jawab apa."


Akhirnya kami berdua sampai di ruang kerja. Natasha membuka pintu, aku dan Natasha masuk. Saat kami sudah masuk di dalam ruangan, Natasha menutup pintu lalu Natasha mengunci pintu.


Aku duduk di meja yang ada di dalam ruangan, saat aku duduk, Natasha mengeluarkan teko yang berisi teh dan dua cangkir kosong. Natasha menuangkan teh ke kedua cangkir itu, lalu Natasha menyodorkan salah satu cangkir kedepan ku. Setelah itu, aku mengeluarkan cemilan, kemudian aku menaruh cemilan di tengah-tengah meja.


Natasha duduk, kemudian ia minum seteguk teh, lalu makan satu buah cemilan. Aku pun meminum teh ku, kemudian aku memakan tiga buah cemilan.


"Jadi bagaimana rencana nya?" Tanya Natasha, sambil menaruh cangkir teh di meja.


Aku menelan semua cemilan yang ku makan, kemudian aku meminum habis teh ku. Saat teh ku habis, aku menaruh cangkir di atas meja, Natasha langsung mengisi penuh cangkir dengan teh kembali.


"Sebelum aku membahas rencana nya... Ada satu hal yang ingin ku beri tahu."


Natasha meminum teh nya.


"Sebenarnya aku juga bisa melihat bayangan yang bersama dengan Sarion."


Natasha menaruh cangkir teh nya. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Tanya Natasha.


"Aku kurang yakin."


"Kurang yakin?"


"Yang ku lihat bersama dengan Sarion itu bukan bayangan, tapi yang ku lihat adalah seorang anak kecil. Jadi aku kurang yakin apakah yang ku lihat dan yang Arisa lihat adalah mahluk yang sama."


"Tapi sekarang aku yakin, kalau yang kulihat dan yang Arisa lihat adalah mahluk yang sama."


"Kenapa baru sekarang kau yakin?" Tanya Natasha sambil mengambil cemilan.


"Sebenarnya saat Arisa pingsan...."


"Sudah ku duga dia pingsan." Kata Natasha memotong perkataan Mira.


Mira berdehem-dehem. "Maksudku waktu Arisa tidur!"


Natasha mengangguk. "Iya. Aku tahu." Jawab Natasha.


"Waktu Arisa tidur, aku melihat ingatan Arisa saat bertemu dengan Sarion. Memang benar yang di lihat Arisa adalah bayangan hitam, tapi saat aku melihat bayangan hitam dari ingatan Arisa bayangan hitam itu berubah menjadi anak kecil."