From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Epilog: Dunia setelah perang.



Satu setengah tahun telah berlalu semenjak perang besar yang melibatkan seluruh dunia. Mira yang sebelumnya mengaktifkan sihir untuk menghancurkan dunia berujung gagal. Sihirnya malah menciptakan sihir baru, untungnya, sihir baru Mira memiliki efek yang menguntungkan untuknya. Sihir baru yang ia ciptakan benar-benar merubah hukum dunia.


System yang menjadi langkah pertahanan yang diciptakan untuk melindungi alam semesta dari penjajah, telah menghilang dari dunia. Menghilangnya system ini membuat kekuatan Mira yang telah di batasi akibat perubahan kelasnya, kembali. Sewaktu datang kedunia ini, kelas Mira berubah menjadi Princess, tapi sekarang kelasnya kembali sewaktu ia menjadi Player FL. Yaitu Mage.


Perubahan kelas ini begitu menguntungkan Mira, dia berhasil mengungguli kekuatan teman-temannya.


Setelah kalah, Mira diberitahu oleh mereka alasan mengapa mereka melawan Mira. Singkatnya mereka hanya ingin pulang ke dunia asal. Walaupun di dunia ini mereka mendapatkan kekuatan besar, abadi, dan dapat menggunakan sihir, mereka masih ingin pulang ke dunia asal. Masih ada hal yang berharga bagi mereka di dunia itu.


Mengetahui alasan ini, kebencian Mira yang terpendam jauh di dalam hatinya, akhirnya memudar. Ia dengan berat hati memaafkan kawan-kawannya itu.


Mira menciptakan sihir baru lagi, yaitu sihir yang dapat menembus dimensi spektrum, yang menjadi penghalang antara dunia ini dan dunia tempat Mira tinggal. Sihir ini ia namai (Dimensional Travel). Dengan sihir ini, Mira mengembalikan semua kawan-kawannya ke dunia lama.


Hal yang mengejutkan mereka semua saat kembali adalah, waktu di dunia lama mereka sama sekali tidak bergerak satu detikpun. Mereka hanya tertidur di kasur mereka, dengan alat VR yang masih terpasang di kepala mereka.


Hal yang terjadi kepada mereka berempat selama di dunia lain, seakan-akan hanyalah mimpi bagi mereka. Bahkan yang lebih mengejutkannya lagi, ingatan mereka mengenai dunia lain, tidaklah solid. Ingatan mereka kabur, mereka tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi di dunia lain.


Yang sangat di sayangkan, atau mungkin sangat menguntungkan bagi Mira. yaitu kondisi tubuh aslinya di dunia lama. Laki-laki yang menjadi identitas asli Mira, telah mati. Hal ini diakibatkan otaknya yang overload dalam menerima data digital dari dunia VR. Kapasitas otak manusia terbatas, manusia tidak bisa menerima data besar yang melebihi kapasitas otaknya, sebagai tindakan pencegahan atas hal ini, otak manusia didesain untuk melupakan ingatan masa lalu dengan amnesia ringan. Atas alasan inilah, mengapa manusia tidak bisa mengingat dengan jelas akan kejadian masa lalu mereka.


Karena tubuh utamanya telah mati, Mirapun tidak memiliki alasan untuk kembali ke dunia lamanya. Ia memutuskan untuk tinggal di dunia baru. Dunia tempat Natasha, Arisa, dan Jack, bawahannya yang paling setia berada.


Selepas perang yang melibatkan seluruh benua, Jack dan Yuri menikah. Nama Jack di tambah dengan marga keluarga kerajaan Fantasia. Kini namanya menjadi Jack Fantasia. dan sekarang mereka telah dikarunai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Kevin.


Untuk Mira sendiri, ia memperbaiki konsep sihir yang telah rusak di dunia ini. Karena system menghilang, orang-orang di dunia ini kesusahan untuk menggunakan kemampuan sihir mereka. Karena secara konsep, sihir mereka didukung oleh keberadaan system.


Anehnya hal ini tidak berlaku bagi Mira, karena itu ia masih bisa menghabisi banyak pasukan waktu peperangan melawan ke empat kawannya yang di bantu oleh kerajaan Dwarf, Demi-Human dan Demon. Inilah faktor yang membuat Mira memenangkan perang.


Mira merubah hukum fisika di dunia ini, dengan membuat sihir baru, ia menciptakan sebuah energi yang menjadi fondasi untuk energi sihir.


Dengan energi baru ini, seluruh orang di dunia dapat menggunakan sihir mereka. Tetapi harga yang harus ia bayar sangatlah mahal. Mira, selepas menghabisi semua musuh, melawan ke empat kawan Guildnya, memperbaiki konsep sihir dunia ini, benar-benar kelelahan. Seluruh energi sihirnya habis. Karena tidak ada kekuatan system yang membantunya dalam meregenerasi kekuatan sihir, Mira tidak sadarkan diri selama ini. Bisa di katakan ia kini mati suri. Dan kini, ia terbaring di dalam peti mati di sebuah kerajaan yang baru saja berdiri setelah perang besar pecah satu setengah tahun yang lalu.


Kerajaan yang di pimpin oleh Amanda, rumah bagi para Vampir yang kini keberadaan mereka telah di ketahui oleh seluruh dunia.


Peti mati Mira di simpan di ruangan khusus. Arisa dan Natasha yang menempati ruangan itu, selalu menunggu Mira untuk sadar. Mereka hanya diam di dalam ruangan itu sehabis peperangan yang terjadi satu setengah tahun yang lalu.


Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Waktu terus berlalu dengan cepat bagi Natasha yang berumur panjang. Dan kini, Seribu tahun pun berlalu....


"Kau nampak tua Arisa." Kata Natasha dengan wajah datar kepada Elf tua yang ada di depannya.


Setelah Mira tidak sadarkan diri, kini Natasha tidak bisa lagi mengeluarkan ekspresinya. Otot-otot wajahnya mati, ia hanya bisa mengeluarkan ekspresi datar.


"Aku Half Elf, Kak Natasha. Waktu hidupku tidak bisa disamakan dengan mu yang sudah mendekati abadi." Jawab Arisa dengan cemberut.


Natasha ingin tersenyum mendengar perkataan Arisa. Tapi otot wajahnya tidak bisa membuat bibirnya membentuk kurva. Hal ini menyebabkan ia hanya bisa menatap Arisa dengan tatapan senang dengan wajah datarnya.


"Sebenarnya aku sudah menjadi abadi Arisa. Bahkan Amanda saja sudah nampak seperti tante-tante berumur 40 tahunan sekarang." Jawab Natasha.


"Walaupun aku abadi. Tidak ada gunanya sekarang. Orang yang kucintai telah lama tiada." Natasha menyentuh peti mati di hadapannya, dengan wajah datar. Tapi air mata yang mengalir dari kedua matanya, sangat jelas menunjukkan kalau dia saat ini sedang sedih.


"Kak Natasha..." Arisa hanya bisa menatap Natasha dengan tatapan iba, saat melihat ekspresi Natasha.


"Tidak apa-apa, Arisa. kau tidak perlu menatap ku seperti itu. Mira masih bernafas, ia bisa sadar kapan saja. Aku harus tetap menunggunya, hingga ia sadarkan diri." Kata Natasha kepada Arisa.


"Aku selalu berharap yang terbaik untuk mu Kak Natasha.... Tapi maaf, aku tidak bisa lagi menunggu Kak Mira sadar bersama mu, ada negara yang harus ku pimpin sekarang."


"Mmm..." Natasha mengangguk. "Aku mengerti, kau urus negara mu Arisa, serahkan tugas ini padaku."


"Baiklah... kalau ada apa-apa. Katakan padaku." Jawab Arisa, sebelum akhirnya menggunakan sihirnya, berteleportasi ke suatu tempat.


Sesaat Arisa pergi, Natasha langsung terduduk lesu. Dengan menyandarkan kepalanya ke peti mati, Natasha menangis tersedu-sedu dengan wajah datarnya.


"Mira... Aku akan terus menunggu mu, tidak peduli berapa lama kau akan sadar. Aku akan terus menunggu mu... Walaupun rasanya begitu sakit, aku akan terus menunggu mu Mira."


Natasha terus menangis, hingga akhirnya ia tertidur pulas.


...****************...


Waktu berlalu, malampun tiba. Tapi Natasha tidak ada tanda akan terbangun.


Saat ia tertidur pulas, ia tiba-tiba dikejutkan dengan suara yang memanggilnya dengan lembut, suara seorang gadis yang selama ini ia tunggu.


"Natasha... Bangun."


Natasha membuka matanya sesaat mendengar suara panggilan itu, di depan wajahnya, seorang gadis kecil dengan rambut perak berdiri dari dalam peti mati.


Melihat gadis kecil itu wajah mati Natasha seketika berubah. Senyum yang telah lama menghilang dari wajahnya sekarang muncul kembali. Dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya, dan senyum bahagia di wajahnya, Natasha mengucapkan kata-kata yang selalu ia ingin ucapkan selama ini.


"Akhirnya kau sadar." Kata Natasha dengan suara bergetar hebat. "Akhirnya kau sadar... Orang yang paling ku cintai di dunia ini, orang yang paling berharga, yang merubah dunia ku yang monoton."


"Tidak perlu se dramatis itu."


"Fufufu... Maaf... Aku selalu menunggu mu selama ini, jadi tidak apa kan, se dramatis ini."


"Kau benar."


Natasha berdiri, dengan sigap ia segera memeluk gadis kecil berambut perak itu. "Aku senang kau kembali Mira."


Gadis kecil berambut perak itu, Mira Fantasia, hanya bisa tersenyum kecil sembari membalas pelukan erat Natasha.