From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 245 Dua hari sebelum perang



Untuk merubah Class ku menjadi Mage, aku harus meminum darah gadis perawan!? Apakah aku tidak salah dengar! Baiklah akan ku pastikan...


"Untuk merubah Class ku, aku harus meminum darah gadis perawan...? Itu yang baru saja kau bilang?"


"Ya!"


Ternyata aku tidak salah dengar! Apa-apaan dengan syarat itu!? Apakah tidak ada persyaratan yang lebih baik untuk merubah Class ku!


Arisa yang nengawasi dari samping, menjadi bingung, mata nya terbelalak, dia kemudian mulai mencari sesuatu.


"Pisau... Pisau...." Gumam nya. "Demi kak Mira, aku rela memberikan darah ku...." Setelah mendapatkan pisau, Arisa memotong urat nadi di tangan nya, darah kemudian keluar sangat banyak dari luka yang di buat nya. Dia kemudian menyodorkan tangan yang berdarah itu ke pada ku.


Natasha yang duduk di samping ku, langsung menyucuk tangan kanan nya dengan kuku jari telunjuk tangan kiri nya. Tetesan darah keluar dari pergelangan tangan nya, dia langsung menyodorkan tangan nya yang berdarah pada ku. "Minum ini, Mira! demi keberlangsungan hidup mu!"


"Eeeeh... Kalian menganggap serius perkataan ku ya." Seringai jahat muncul di wajah Gloria, dia menikmati Arisa dan Natasha yang panik, berusaha meminumkan ku darah mereka. Dia kemudian berkata dengan senyum lebar di wajah nya, "Itu cuma bercanda, jangan di bawa serius! Hahahahaha..... Tu-Tunggu, kenapa wajah kalian menakutkan seperti itu... E-Eeek!! Ma-Maafkan aku!"


Dia mengejek kami, dengan tawa yang menyebalkan. Melihat hal itu, Natasha dan Arisa melotot kepada nya, kemudian mereka menyiapkan serangan mereka, Natasha dengan (Cursed Blood Control) nya, dan Arisa dengan (Super Magic) nya. Mereka serius ingin membunuh Gloria!


"Hentikan... Jika kalian serius menyerang nya, seluruh istana ini bisa hancur." Aku menghentikan mereka, sebelum mereka melepaskan serangan. Jika mereka betul-betul melepaskan serangan mereka, istana ini bisa hancur, dan itu adalah gerakan berlebihan untuk candaan anak kecil seperti Gloria. Yah, aku kurang yakin menyebut nya sebagai anak kecil, karena aku tidak tahu umur nya. Dia bisa sama seperti ku, memiliki umur yang lebih tua dari pada tubuh nya.


Tetapi, karena dia terlihat seperti anak kecil, jadi masih aman untuk memanggil nya anak kecil.


"Jadi Gloria, bagaimana aku bisa merubah Class ku."


"Cara nya adalah..."


\*\*\*


Dua hari sebelum peperangan dengan Demon Lord di mulai.


Di Benua yang di penuhi dengan hutan lebat, tempat tinggal para Elf. Benua Hokahi, nama nya. Saat ini, Arisa sedang berbicara dengan Thinkie dan Raja Elf, Oberon.


"Apa kau bilang!? Kau ingin mengambil dedaunan di hutan Roh!?" Thinkie berteriak kepada Arisa yang telah selesai menjelaskan kenapa dia datang ke kerajaan Elf.


"Ya. Apakah itu boleh?"


"....Apakah Mira yang menyuruh mu?" Tanya Oberon dengan wajah ketakutan.


Arisa menjawab dengan gelengan kepala, sebelum akhir nya dia berkata dengan senyum lembut di wajah nya. "Aku ingin mengambil dedaunan itu karena keinginan ku sendiri. Jadi apakah aku boleh mengambil nya?"


"Boleh saja sih..." Thinkie menjawab pertanyaan Arisa. "Tetapi, untuk apa?"


".....Sesuatu yang sangat penting." Jawab Arisa dengan senyum lebar di wajah nya.


\*\*\*


Di saat bersamaan, di sebuah Benua yang di jadikan tempat pembuangan orang yang tidak berguna oleh semua Ras, Benua Aziliya.


Jack sedang berlari berkeliling menyusuri seluruh Benua itu, mencari sebuah mahluk yang hanya hidup di Benua itu.


Mahluk yang di cari Jack adalah Behemot. Mahluk yang menyerupai kura-kura besar berukuran lebih dari seratus meter, dengan cangkang hitam legang dan sangat keras, memiliki leher panjang seperti ular dan memiliki kaki besar seperti kaki gajah, serta memiliki ekor seperti ekor singa.


Jack datang ke sini karena di beritahu Joshua kalau Mira butuh bantuan nya untuk mencari air mata Behemot.


Jack merasa, jika ia berhasil mendapatkan air mata Behemot, Mira akan memaafkan kesalahan nya dulu.


Dengaan pemikiran itu, Jack terus berlari menyusuri Benua Aziliya, mencari seekor Behemot.


\*\*\*


Di suatu dataran, yang di penuhi dengan bebatuan besar, ada daerah hutan juga, dengan pepohonan yang tinggi nya hampir mencapai 500 meter. Dan di ujung dataran ada lautan dengan pasir putih dan pohon kelapa yang indah, di sini juga terdapat daerah yang sangat panas, dan di penuhi dengan pasir, dengan kata lain, Gurun. Di sini, tidak ada rerumputan hijau, dan bangunan-bangunan buatan manusia. Hanya ada gua alam, dan tempat tinggal mahluk-mahluk alam lain nya.


Ini adalah Dataran tempat tinggal Ras terkuat dan Ras terbesar di dunia, Dragon dan Giant.


Dataran ini adalah Benua Festria, Benua terbesar kedua setelah Benua Silia.


Dan di sinilah kami, di atas puncak gunung itu. Untuk memulai ritual.


Aku, Natasha, dan Amanda yang di paksa ikut oleh Natasha, berdiri di puncak gunung tertinggi di dunia ini. Kami semua di kirim oleh Gloria menggunakan (Teleportation) nya, semua ini di lakukan untuk memulai ritual untuk merubah Class ku dari Princess menjadi Mage.


Tetapi sebelum memulai Ritual, di perlukan beberapa bahan. Di antara bahan itu adalah:




Daun tujuh warna yang hanya ada di hutan Roh. Yang sekarang di ambil oleh Arisa.




Air mata Behemot. Yang sekarang di ambil oleh si pengkhianat sialan.




Sisik Raja Naga.




Sepuluh helai rambut dari Ras Giant.




Kuku dari Ras Vampir.




Itu adalah kelima bahan yang di perlukan untuk memulai ritual, karena kuku Vampir sudah tersedia, sekarang hanya tinggal menunggu kedua bahan di bawa oleh Si pengkhianat Sialan dan Arisa. Kemudian mencari dua bahan lain nya.


"Hah. Hah. Kalau begitu... Kami... Berangkat." Kata Natasha dengan nafas terengah-engah, di puncak gunung ini sangat sedikit udara, karena itu membuat kami susah bernafas.


"Kami... Hah. Hah. Akan... Mencari... Sisa bahan nya...." Kali ini Amanda yang berbicara dengan nafas lebih terengah-engah dari Natasha.


Aku hanya mengangguk, tidak ingin buang-buang nafas untuk berbicara. berdiri di sini saja sudah membuat ku susah bernafas, apalagi harus berbicara, aku pasti akan pingsan karena kekurangan udara.


"Selagi kalian mencari sisa bahan, aku akan membuat lingkaran sihir ritual."


Berbanding terbalik dengan kami bertiga, Gloria berbicara seperti biasa tanpa terengah-engah. Bagaimana dia bisa bernafas di tipis nya udara ini dengan begitu mudah? Sangat aneh... Tidak, mungkin dia tidak perlu bernafas? Karena dia secara harfiah hanyalah tongkat yang memiliki wujud manusia.


"Aku serahkan.... Mira... Padamu...." Kata Natasha kepada Gloria. Natasha... Kau tidak perlu terlalu khawatir seperti itu, aku bukan anak kecil yang perlu di rawat secara terus menerus. Pikir ku, melihat kekhawatiran Natasha yang sudah berlebihan.


"Baik. Serahkan pada ku!" Jawab Gloria dengan senyum di wajah nya.


Natasha kemudian menarik tangan Amanda, lalu melompat ke bawah. Aku mendengar suara teriakan Amanda yang menggema saat Natasha melakukan hal itu, suara nya makin kecil hingga akhir nya menghilang.


Aku kemudian melihat Gloria yang sedang menggambar lingkaran sihir yang sangat kompleks dengan garis-garis geometris yang semakin menambah kerumitan dari lingkaran sihir itu. Lingkaran sihir yang di gambar Gloria bahkan lebih rumit dari pada lingkaran sihir (Super Magic).


"Ini adalah sihir terkuat kedua setelah sihir penghancuran diri yang di ciptakan Sistem, jadi wajar lingkaran sihir nya begitu rumit."


Gloria menjelaskan sambil terus menggambar lingkaran sihir.