
Aku menjalankan rencana penangkapan Goby setelah semua orang tertidur. Walaupun hasil akhir nya melenceng dari rencana awal, sewaktu di rencana awal Goby ku rencanakan tertangkap, malah di akhir nya Goby harus terpaksa ku bunuh.
Ke esokan hari nya, pada pagi hari. Aku dan ke empat saudari ku bersiap-siap pergi ke kota yang akan kami pimpin. Kak Nina pergi ke Yugmish, Kak Blanc ke Gelato, Kak Rosa ke Salad, Kak Yuri ke Banitza dan aku ke kota Cocoa.
Padahal aku baru bertemu Ibu dan Kak Yuri beberapa hari, tapi sekarang kami akan berpisah lagi. Jauh di dalam lubuk hati ku aku merasa sedih. Tapi aku memiliki tugas yang harus ku lakukan.
Aku dan ke empat saudari ku, berada di ruang tahta. Kami berlima berpamitan kepada semua orang yang ada di istana. Setelah kami berpamitan, akhirnya kami pun bersiap-siap pergi.
Aku, Natasha dan Jack. Kembali ke kamar ku untuk mengambil barang yang sudah kami siapkan. Selama kami berjalan ke kamar ku, Jack selalu menghela nafas panjang.
Melihat perilaku Jack, membuat ku heran. Aku pun bertanya kepada Jack.
"Jack kau kenapa?"
"Tidak ada apa-apa." Kata Jack, lalu Jack menghela nafas lagi.
Natasha mendekati ku, kemudian Natasha mendekatkan bibir nya ke telinga ku. Aku mengingat kalau Natasha mengetahui kelemahan ku ada di telinga, aku pun menutup telinga ku, karena aku takut Natasha akan meniup telinga ku.
"Ke-kenapa kau menutup telinga mu?" Tanya Natasha.
Karena menutup telinga, aku tidak mendengar perkataan Natasha. "Apa!? Kau bilang apa!?"
Natasha menarik tangan ku, kemudian ia berteriak tepat di depan telinga ku.
"Kenapa kau menutup telinga mu!!" Teriak Natasha.
"Tidak perlu berteriak sekencang itu kan? Aku dapat mendengar mu."
"Lalu kenapa kau menutup telinga mu?"
"Aku pikir kau akan meniup telinga ku."
"Tidak akan." Jawab Natasha. "Ada yang ingin ku bisiki." Natasha mendekatkan mulut nya ke telinga ku, kemudian Natasha berbisik. "Aku pikir Jack ingin mengungkapkan perasaan nya ke saudari mu. Tapi dia takut di tolak, makanya dari tadi dia menghela nafas terus." Kata Natasha dengan suara berbisik.
Aku melihat ke arah Jack, Jack masih terus menghela nafas. Aku memanggil Jack, Jack menengok setelah kupanggil.
"Jack! Kau tidak ingin mengungkapkan perasaan mu ke-"
Sebelum aku selesai berbicara Jack memotong perkataan ku. "Tidak. Aku tidak akan melakukan nya! Kedudukan kami berbeda. Dia keluarga kerajaan sedangkan aku seorang pelayan." Kata Jack Sedih.
"Kau benar Jack," Kata Arisa. "Kedudukan kalian berbeda. Kalian tidak akan pernah bersatu." Kata Arisa sambil tersenyum jahat.
"Seharus nya kau dukung saudara mu. Jangan malah bikin depresi." Kata Natasha.
Mendengar perkataan Arisa Jack menghela nafas panjang dari yang sebelum nya. Kemudian Jack berbalik badan. "Aku duluan ke halaman. Arisa bisa tolong bawakan barang ku."
"Tenang saja! Aku akan membawa semua barang mu. Tentu saja memakai Inventori." Jawab Arisa bersemangat.
Jack pergi dengan lesu ke halaman istana.
Melihat perilaku Jack, Natasha langsung memukul kepala Arisa.
"Dasar bodoh!!" Kata Natasha berteriak. "Seharusnya kau itu menghibur saudara mu, jangan malah bikin tambah sedih."
Arisa memegangi kepala nya. "Tidak ada guna nya, mendukung pengecut seperti Jack. Dia sudah langsung menyerah, padahal dia belum mencoba nya. Apa-apaan itu, hal itu membuat ku kesal!" Kata Arisa kesal.
"Tunggu dulu," Kata Natasha. "Kau kesal bukan karena Jack dapat pasangan duluan dari kau?"
"Tentu saja tidak. Aku mendukung Jack."
"Tapi kau waktu di dalam pikiran Jack..."
"Itu hanya bercanda." Jawab Arisa.
"Eeeeeh," Kata Natasha terkejut. "Aku kira kau kesal karena kau tidak dapat pasangan."
"Siapa juga yang kesal karena masalah seperti itu."
Natasha menengok ke arah ku. "Mira!!" Kata Natasha berteriak. "Kau sadar waktu di dalam pikiran Jack. Arisa itu bercanda tentang masalah pasangan?"
Aku mengangguk. "Aku sadar. Arisa tidak mungkin tidak mendukung masalah percintaan Jack. Sudah pasti Arisa seratus persen mendukung masalah percintaan Jack. Waktu di pikiran Jack Arisa kesal bukan karena Jack dapat pasangan, tapi Arisa kesal Jack melarikan diri dari kenyataan dan membuat hayalan kalau dia sudah menikah dengan Kak Yuri."
"Ja-jadi begitu ya... Entah kenapa aku merasa paling bodoh di antara kalian."
"Kalau kau sadar bagus lah."
Aku melanjutkan pergi ke kamar ku, di ikuti Natasha dan Arisa.
\*
Jack pergi kehalaman istana di halaman istana saat ini sangat ramai, karena semua orang berkumpul melihat kepergian semua Putri kerajaan. saat di halaman istana Jack di dekati oleh Nina dan Blanc.
"Se-selamat pagi." Kata Nina terbata-bata. Wajah Nina memerah.
"Selamat pagi." Jawab Jack dengan nada cuek.
Jack berusaha untuk menjauhi Nina dan Blanc, tapi mereka berdua terus mencoba mendekati Jack.
"Tu-tunggu!!" Kata Nina. "Ka-kalau boleh tahu...... Siapa namamu?" Tanya Nina dengan wajah merah.
"Jack."
Jack mencoba menjauh lagi. Melihat perilaku Jack Nina dan Blanc berbisik.
"Dingin sekali." Kata Blanc.
"Tapi entah kenapa dia terlihat kerena dengan sikap dingin nya itu." Jawab Nina.
"Yang penting Blanc," Sambung Nina. "Kita harus tetap mendekati nya, karena ini mungkin yang terakhir kalinya kita melihat nya."
Blanc mengangguk.
Nina dan Blanc pun pergi lagi untuk mendekati Jack.
"Tunggu!!" Kata Nina.
"Jadi Mira yang menyuruh mu." Kata Blanc.
Nina menarik kerah baju Jack, kemudian Nina mendekatkan wajah nya dengan wajah Jack. "Kenapa kau tidak tinggalkan saja Mira, kemudian kau bisa menjadi pelayan ku... Aku bisa memberikan mu kenikmatan setiap hari." Kata Nina dengan nada menggoda.
\*
Yuri berada di halaman, ia sedang berkeliling mencari Mira, karena di halaman istana banyak orang, Yuri kesulitan mencari Mira.
"Mira kemana ya." Gumam Yuri.
Saat Yuri tengah sibuk mencari Mira, Yuri melihat bawahan Mira sedang di ganggu dengan kedua saudari nya.
"Pria itu kan..."
Yuri pergi mendekati bawahan Mira yang kerah baju nya sedang di tarik oleh saudari nya yang paling tua yaitu Nina.
Saat berada di dekat bawahan Mira dan di dekat Nina, Yuri langsung memukul tangan Nina, hingga Nina melepaskan tangan nya.
"Maaf mengganggu!" Kata Yuri.
"Yuri?" Kata Nina dan Blanc bersama-sama.
"Apa yang kau lakukan Yuri?" Tanya Nina.
"Maaf, aku ada urusan dengan pria ini." Kata Yuri sambil menunjuk bawahan Mira.
"Aku?" Kata bawahan Mira.
"Iya," Kata Yuri sambil menggenggam tangan bawahan Mira. "Mira memanggil mu. Ayo ikuti aku! Aku akan mengantar mu ke Mira."
Yuri langsung berlari sambil menarik tangan bawahan Mira menjauh dari kedua saudari nya.
"Tunggu Yuri!!" Teriak Nina. Blanc menepuk pundak Nina. "Untuk sekarang menyerah saja." Kata Blanc. Nina mendecakkan lidah nya. "Cih... Untuk sekarang tentu nya... Jika kita bertemu lagi, akan kubuat dia menjadi milik ku." Nina tersenyum jahat.
\*
Jantung Jack berdebar kencang karena tangan nya di pegang oleh Yuri. Wajah Jack memerah. Ia menjadi gelisah karena tangan nya di pegang oleh Yuri.
"Pu-pu-putri Yu-yu-Yuri bi-bilang..... No-nona..... Mi-Mi-Mi-Mira ada..... Disini?" Kata Jack dengan terbata-bata.
Aaaaah, aku bahkan tidak bisa berbicara dengan normal. Pikir Jack.
Yuri tertawa kecil. "Kau ini lucu ya.... Aku tidak menyangka Mira punya bawahan selucu ini."
Jantung Jack makin berdebar kencang. Tanpa Jack sadari, Jack menarik tangan nya. Yuri berhenti berlari lalu Yuri berbalik melihat ke arah Jack.
"Kenapa?" Tanya Yuri.
Aku bodoh!!! Kenapa aku menarik tangan ku!!! Pikir Jack.
Yuri menampar pelan pipi Jack. "Woooy!! Kau kenapa!?" Kata Yuri sambil menampar pelan pipi Jack.
Jack reflek menjauh dari Yuri. "Ke-ke-ke-ke-kenapa?" Kata Jack terbata-bata.
"Seharus nya aku yang bertanya kenapa?" Kata Yuri.
Yuri menghela nafas panjang. "O iya, kau belum memberitahu nama mu."
"Na-nama ku.... Ja-jack!"
"Jack ya... Nama yang bagus!! Terdengar sangat jantan."
Jantung Jack berdebar makin kencang setelah mendapatkan pujian dari Yuri, Jack pun berbalik badan membelakangi Yuri. "O iya.... Di-di mana No-nona Mira?"
"Entahlah mungkin dia masih di kamar." Jawab Yuri.
Yuri melihat ke arah pintu masuk istana kemudian Yuri melihat adik nya datang bersama dengan dua bawahan nya. "Itu Mira!!" Kata Yuri menunjuk.
\*
Aku sudah selesai menyiapkan barang ku, aku, Natasha dan Arisa langsung pergi ke halaman. Di halaman sudah ada banyak orang. Kami pun memandang ke seluruh tempat untuk mencari Jack.
"Ketemu!!" Kata Natasha.
"Dimana?"
"Disana!" Natasha menunjuk ke arah depan. Aku minta gendong Natasha agar aku bisa melihat Jack di tengah kerumunan orang.
Saat aku di gendong aku melihat Kak Yuri sedang melambaikan tangan nya, dan Jack sedang di belakang Kak Yuri, Jack berdiri mematung sambil menunduk kan kepalanya.
"Sesuatu yang menarik terjadi saat kita berada di kamar..... Natasha cepat bawa aku Kak Yuri!"
Natasha pun berjalan mendekati Kak Yuri sambil menggendong ku, lalu Arisa mengikuti dari belakang.
"Mira!!" Kata Kak Yuri saat kami sampai di tempat nya.
Aku di turunkan Natasha. "Kak Yuri kenapa banyak orang di sini?"
"Mereka ingin melihat kita pergi."
"Hmmm, begitu ya. Jadi sekarang kita menunggu apa?"
"Kita menunggu Ayahanda menyampaikan pidato. Setelah itu baru kita pergi."
Istana kerajaan Fantasia adalah bangunan bertingkat lima. Di tingkat dua terdapat beranda tempat Raja menyampaikan pidato nya. Setelah menunggu beberapa menit akhir nya Charles dan Carla beserta ke empat Selir keluar istana, dan mereka semua berada di beranda lantai dua.