
Shina, berhasil berteleportasi. Dia saat ini berdiri di halaman istana kerajaan Fantasia. Para ksatria penjaga istana yang terkejut karena merasakan energi sihir, mengelilingi Shina. Sesaat mereka mengetahui energi sihir itu berasal dari sihir (Teleportation) milik keluarga kerajaan, mereka pun menjadi tenang.
Kebetulan para ksatria berkumpul di sekitar nya, Shina meminta di antar menuju kamar Carla. Para ksatria tidak ada alasan untuk menolak, salah satu ksatria pun menawarkan diri untuk mengantarkan Shina ke kamar Carla.
Shina di tuntun berjalan memasuki istana, saat di dalam istana seorang pelayan menggantikan ksatria untuk mengantarkan Shina pergi ke kamar Carla. Shina pun di tuntun oleh pelayan, berjalan di lorong istana menuju kamar Carla. Saat di tengah perjalan menuju kamar Carla, Shina melihat Lina dan White yang bertingkah aneh, juga Shina tidak melihat Lavender yang biasa selalu bersama mereka berdua. Shina pun memutuskan untuk medatangi mereka, dan bertanya mengapa mereka bertingkah aneh.
"Ada apa?" Tanya Shina saat sudah sampai di depan Lina dan White.
Mereka berdua tersentak, kaget dengan keberadaan Shina. Seseorang yang seharus nya tidak berada di istana, sekarang berdiri di depan mereka, menatap mereka dengan mata curiga.
"Kenapa? Apakah keberadaan ku di sini begitu mengejutkan?" Shina bertanya lagi, dia makin menatap curiga ke Lina dan White... Kenapa mereka bersikap aneh? Apakah mereka menyembuyikan sesuatu yang tidak boleh di ketahui oleh ku? Pikir Shina sambil terus menatap curiga mereka berdua.
"Ah... Tidak..." Yang menjawab pertanyaan Shina adalah Lina, suara nya bergetar dengan gugup, kemudian dia berdehem, membersihkan tenggorokan nya, lalu menjawab Shina dengan nada sombong seperti biasa. "Kami hanya terkejut, tidak biasa kau memanggil kami. Apakah kau perlu sesuatu dengan kami?"
"Ah. Tidak. Hanya saja kalian berdua bertingkah aneh, jadi aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang terjadi?"
"Kami.... Bersikap aneh...? Aneh bagaimana? Kau yang bersikap aneh, tiba-tiba memanggil kami!" Kali ini White yang menjawab. Nada nya agak tinggi, kesal terhadap Shina yang menatap mereka dengan curiga.
"Benar kata White... Kau yang bersikap aneh di sini Shina." Kata Lina setuju dengan White, berkebalikan dengan White yang menjawab dengan nada tinggi, Lina menjawab dengan tenang. Walaupun dia menjawab dengan tenang, mata nya menatap tajam ke arah Shina, menunjukkan kekesalan nya kepada Shina.
"Kalau kau tidak ada perlu dengan kami, jangan ganggu kami! Ayo, Lina." White, menutup pembicaraan dengan mengajak Lina pergi menjauh dari Shina. Lina menganggukkan kepala, kemudian ia berjalan bersampingan dengan White, menjauh dari Shina.
Shina hanya bisa menatap mereka berdua menarik diri. Dia kemudian berpikir di dalam kepala nya... 'Apakah sangat aneh bagiku untuk berbicara kepada mereka berdua?' memang benar, Shina tidak pernah berbicara dengan Lina dan White, dia bahkan jarang berbicara dengan Lavender dan Carla, dia biasa menghabiskan waktu di perpustakaan membaca buku, atau biasa dia berbicara dengan anak nya, Yuri. Jadi wajar kalau pihak lain berpikir Shina bersikap aneh, karena mengajak mereka berbicara dengan tiba-tiba... 'Mungkin sikap aneh mereka berdua hanya perasaan ku?' Pikir Shina sambil memiringkan kepala nya dalam kebingungan. Pada akhir nya, Shina berhenti memikirkan sikap aneh Lina dan White, dia pun melanjutkan berjalan menuju kamar Carla.
Di waktu bersamaan saat Shina berjalan menuju kamar Carla, Lina dan White berjalan bersebalahan di lorong istana, mereka berjalan menuju kamar Nina untuk mengadakan pertemuan dengan seseorang yang sangat penting. Atau begitulah yang di katakan Nina kepada mereka berdua. Saking penting nya orang yang ingin mereka temui ini, Nina melarang orang lain tahu kalau mereka berdua akan bertemu dengan orang ini, inilah alasan di balik sikap aneh mereka berdua.
"Shina sialan!" Kata Lina dengan wajah cemberut. "Seberapa tajam intuisi nya!?"
"Seperti nya kita berhasil menipu nya." White berkata, sambil mengusap dada nya, lega karena mereka tidak di curigai lagi.
"Kau benar. Untuk saat ini, dia seperti nya tidak curiga dengan kita... Lebih baik kita cepat kekamar Nina."
"Iya!"
White mengangguk, setuju dengan saran Lina. Mereka berdua pun mempercepat langkah menuju kamar tidur Nina.
Beberapa menit kemudian, Shina sampaj di depan kamar Carla. Pelayan yang menuntun Shina mengetuk pintu kamar, memastikan Carla sudah tidur atau belum. Matahari terbenam baru dua jam yang lalu, untuk anak kecil ini adalah jam yang tepat untuk tidur, tetapi di saat seperti ini sangatlah awal untuk orang dewasa pergi tidur. Walaupun begitu, Carla biasa tidur lebih awal, itu di karenakan dia selalu kelelahan mengurus berbagai urusan dalam negeri. Karena itu, Pelayan harus memastikan apakah Carla masih terjaga atau sudah tidur.
"Yang Mulia..." Pelayan memanggil Carla, sambil mengetuk pintu.
"Selir Shina ingin menemui anda." Jawab pelayan.
Sesaat pelayan mengatakan itu, terdengar suara langkah kaki dari dalam kamar, kemudian terdengar suara pintu terbuka, pintu kemudian bergerak ke arah dalam, menciptakan celah di ambang pintu, dari balik celah itu seorang wanita mengintip keluar. Dia adalah Carla. Sesaat Carla mengintip, dia dengan cepat melihat ke arah Shina, dia pun makin melebarkan membuka pintu nya, melangkah keluar kamar lalu menyambut Shina dengan senyum hangat. "Wah... Shina. Untuk apa kau datang jauh-jauh kesini?"
Shina membungkuk sedikit, kemudian ia menjawab pertanyaan Carla. "Yang mulia boleh saya masuk?"
"..... Ya. Silahkan."
"Terima kasih."
Carla terdiam sejenak, terkejut dengan permintaan Shina yang tidak biasa. Shina biasa nya tidak pernah mengunjungi kamar Carla di waktu malam seperti ini, jika dia memiliki sesuatu untuk di bicarakan biasanya Shina akan menunggu sampai besok, lalu mengajak Carla ke taman. Dia datang dari markas pusat untuk berbicara pada ku, aku yakin pasti ini sangat penting. Pikir Carla, sambil membiarkan Shina memasuki kamar nya. Saat Shina sudah masuk, Carla menyuruh Pelayan pergi, kemudian ia menutup pintu kamar lalu mengunci nya.
"Ada apa Shina?" Carla bertanya, sambil berjalan ke kasur nya, kemudian ia duduk, lalu menatap ke arah Shina.
"Apakah kabar mengenai penyerangan di kota Paela sudah sampai ke istana?"
"..... Jadi kota itu benar-benar di serang ya..." Mata Carla terbelalak kaget, tidak percaya dengan berita yang baru saja di kabarkan oleh Shina kepada nya.
"Ya. Kota itu benar-benar di serang."
"Jadi bagaimana cara mereka menyerang Kota Paela? Menggunakan kapal?"
"Tidak. Mereka membekukan laut, lalu berjalan hingga sampai ke kota."
"...... Aku tidak menyangka kalau mereka benar-benar membekukan lautan...." Mata Carla terbelalak lagi, sebegitu mengejutkan nya lah berita yang di bawa Shina. "Lalu, bagaimana hasil akhir dari penyerangan itu, apakah sesuai yang di rencanakan?"
".......Ya. Warga kota Paela dan Pasukan Demon, berhasil di musnahkan. Sesuai dengan rencana Mira." Wajah Shina terdistorsi, dia menjawab dengan suara serak di penuhi dengan emosi yang tak tergambarkan. "Itu benar-benar rencana yang sangat keji... Mira. Dia bahkan tidak merasa bersalah setelah melakukan hal itu." Sambung Shina dengan wajah di penuhi dengan amarah, tangan nya mengepal, dan setelah ia selesai berbicara Shina menggigit bibir bawah nya.
"Begitu ya...." Kata Carla dengan wajah sedih, dia kemudian membaringkan diri di kasur, menghela nafas lalu bergumam dengan suara pelan. "Aku gagal sebagai orang tua... Kalau saja aku berhasil menghentikan Charles mengusir Mira, dia pasti tidak akan menjadi anak yang berdarah dingin seperti itu."
Mungkin karena ruangan yang hening, Shina dapat mendengar gumaman kecil Carla, dia segera membuka mulut nya untuk menghentikan Carla menyalahkan diri nya sendiri. "Yang Mulia ini bukan salah anda. Ini salah penyihir yang membuat Mira tidak sadar dulu."
Carla tidak mengerti dengan perkataan Shina, dia pun bangkit, duduk kembali di kasur. "Apa maksud mu?" Tanya Carla.
"Aku selalu memperhatikan sifat Mira mulai dia berumur tujuh tahun hingga sekarang. Dulu, Mira bersifat seperti anak kecil biasa, dia bisa menangis saat terluka, bahkan saat umur nya mendekati sepuluh tahun sifat Mira tidak berubah sama sekali... Tetapi setelah terkena kutukan penyihir dan membuat nya tidak sadarkan diri selama sepuluh bulan, sifat nya mulai berbubah. Beberapa jam setelah Mira sadar aku melihat nya terjatuh, tetapi dia tidak menangis dan sifat nya juga jauh lebih dewasa. Dia seperti orang yang berbeda, dia melakukan segala sesuatu dengan perhitungan, memikirkan rugi dan untung. Aku yakin penyihir itulah yang merubah sifat Mira hingga jadi seperti ini."
Mendengar perkataan Shina, Carla hanya terdiam menatap nya dengan mata terbelalak.