
Pertarungan semakin sengit, Vampir menggunakan tehnik (Cursed Blood Control) untuk membuat pedang, dengan pedang itu ia menebas ekor Dragon. Tanpa hambatan, ekor itu terpotong. Dragon menjerit kesakitan.
Dragon membuka mulut nya dengan lebar, lalu ia menyemburkan api dari mulut nya. Vampir langsung merubah pedang darah nya menjadi perisai.
Hembusan api itu menghantam perisai, saat itu api terbelah menjadi dua, melihat hal itu Dragon memfoluskan api nya menjadi satu titik, hingga api itu seperti sebuah lembing. Hembusan api terus mendorong untuk menerobos perisai, api itu fokus pada satu titik yaitu bagian tengah perisai.
Alhasil perisai darah Vampir meleleh hingga membuat lubang sebesar 3 cm, melalui lubang itu api mengenai tubuh Vampir, saat itu api yang menusuk seperti jarum, menyebar membakar tubuh vampir. Jeritan keras terdengar.
Fantasia yang berada di bawah tanah mendengar jeritan itu sambil melihat pertatungan melalui mata emas nya.
Pakaian Vampir sedikit demi sedikit terbakar di ikuti dengan kulit nya. Saat itu, Fantasia melihat tubuh Vampir yang terekspos. Fantasia pun berfikir.
Vampir itu perempuan!
Itu benar, mulai dari suara jeritan nya, dan bentuk tubuh nya. Sangat jelas Vampir itu adalah seorang wanita.
Api yang membalut Vampir menghilang, tubuh Vampir mengalami luka bakar yang parah. Tapi ia masih terbang dengan tegap dan menatap Dragon dengan mata yang penuh tekad. Tapi dia sudah tidak bisa menyerang lagi karena luka tubuh nya yang sangat parah.
Dragon tanpa ampun mengarahkan kuku panjang nya ke arah perut Vampir, Vampir tertusuk, setelah tertusuk Vampir itu di lemparkan ke tanah hingga terhempas. Darah mengalir deras dari lubang yang menusuk perut nya. Setelah di lihat Vampir yang terbaring lemah tidak berdaya, Dragon pun terbang menjauh dari hutan.
Fantasia yang melihat Vampir terjatuh bergegas keluar dari ruang bawah tanah, berlari mendekati vampir, lalu memeriksa keadaan nya.
Yang mengejutkan Fantasia adalah, Vampir wanita itu masih hidup, walaupun nafas nya sangat lemah.
"Hmmm... Dia mengatakan sesuatu?" Kata Fantasia saat melihat bibir Vampir bergerak seperti mengoceh sesuatu.
Fantasia mendekatkan telinga nya ke arah mulut Vampir itu, Vampir itu hanya mengucapkan satu kata secara berulang-ulang. Kata itu adalah.
"Darah!"
Hanya itu yang di ucapkan nya.
Fantasia yang tidak mengerti bertanya dengan nada gugup. "Ada apa dengan darah? Apakah kau ingin mengatakan darah ku terlalu banyak keluar?"
Tidak ada jawaban.
Fantasia mendekatkan telinga nya lagi. Kata yang sama terus terucap secara berulang-ulang.
Ada apa dengan darah? Pikir Fantasia. Lupakan hal itu, aku harus mengubur nya jika di biarkan banyak binatang buas yang akan kesini karena mencium bau mayat nya.
Tapi....
Dia masih hidup apa yang harus ku lakukan? Apakah aku bunuh dia? Atau.....
Fantasia mendekatkan telinga nya lagi.
"Da.... Rah, Da..... Rah, Da..... Rah." Kata Vampir itu dengan susah payah.
Kenapa hanya kalimat itu yang dia ucapkan? Apa yang salah dengan darah? Tunggu dulu...... Kalau tidak salah ibu dulu pernah bilang Vampir itu hidup dengan mengkonsumsi darah mahluk hidup selain dari kelompok nya.
"Apakah dengan darah kau bisa selamat?"
Kepala Vampir itu mengangguk perlahan. Melihat hal itu Fantasia melukai tangan nya, dengan cara menggigit sekuat tenaga. Setelah itu ia mengarahkan tetesan darah yang keluar dari luka nya ke mulut Vampir yang terbaring sekarat. Beberapa tetesan meleset masuk ke dalam mulut vampir, tapi sebagian besar darah berhasil masuk tanpa masalah.
Vampir itu meneguk sedikit demi sedikit darah yang masuk kedalam mulut nya, sekitar satu menit setelah meminum tetesan darah, Vampir itu menarik nafas panjang, luka di tubuh nya mulai sembuh. Saat luka di tubuh nya sembuh semua, Vampir itu langsung pingsan tidak sadarkan diri.
Fantasia yang melihat hal itu tidak tega untuk membiarkan nya, karena di hutan juga ada binatang buas dan beberapa monster, jika di biarkan nyawa Vampir sekali lagi akan berada dalam bahaya. Karena itulah Fantasia memutuskan untuk membawa nya ke dalam ruang bawah tanah buatan nya.
"Ini adalah pertemuan pertama Fantasia dengan Victoria." Kata Gaztor sambil memegangi Putri Yuri yang tergantung di pundak nya.
"Apa........ Victoria!?" Natasha berkata pelan dengan ekspresi kaget sambil melotot tajam ke arah Gaztor. Semua Vampir yang bersama Natasha juga sama kaget nya seperti Natasha.
"Kau kenal dia Natasha?"
"Aku sangat mengenal nya, Victoria...... Victoria Crimsonia Twilight adalah nenek buyut ku." Natasha menjawab pertanyaan Mira.
Mendengar hal itu Gaztor tekekeh, pelan kemudian ia tertawa sekeras-keras nya.
"Kukukukufufufufuhahahahahahahahaha........ Ya........ Ini mungkin takdir, kedua keturunan Fantasia dan Victoria mereka berdua bisa bertemu lagi setelah sekian lama."
"Apa maksud mu!?" Natasha berkata dengan sedikit meninggikan nada bicara nya, kemarahan dapat tergambar jelas dari frekuensi suaranya.
"Masih belum paham? Kalian itu memiliki satu garis keturunan dari Victoria. Saat Victoria di temukan oleh Fantasia, dia tinggal bersama dengan Fantasia selama beberapa tahun, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa kan jika perempuan dan laki-laki tinggal bersama dalam waktu yang lama."
"Jadi begitu ya...."
"Itu benar," Gaztor membalas Mira. "Fantasia dan Vicotria memiliki anak, dan anak itu adalah pendiri sekaligus raja pertama kerajaan Fantasia."
Mendengar perkataan Gaztor semua Vampir membuka mulut nya, terkejut mendengar perkataan Gaztor.
"Itu tidak mungkin..... Kau bohong kan!?" Natasha berteriak.
"Jika tidak percaya tanya saja Ratu Roh. Dia bisa menjamin cerita ku."
Jadi begitu ya.... Jadi ini yang di maksud Thinkie, leluhur ku memiliki hubungan dengan leluhur Mira. Pikir Natasha.
"Cerita nya belum selesai," Kata Gaztor sambil menyeringai. "Dengarkan lebih seksama, karena cerita nya sebentar lagi akan selesai.... Setelah membawa Victoria ke ruang bawah tanah, Fantasia-"
Saat di ruang bawah tanah, Fantasia mengobati luka Vampir, walaupun itu sudah sembuh waktu Fantasia memberikan darah.
Fantasia hanya membersihkan darah yang menempel pada tubuh Vampir, setelah bersih Fantasia membaringkan Vampir di kasur tempat nya tidur.
"Entah kenapa, aku merasa berdosa saat menyentuh tubuh nya." Gumam Fantasia.
Beberapa Jam kemudian Vampir itu terbangun, saat itu hari sudah malam, Fantasia tidur di lantai sedangkan Vampir berada di kasur.
Saat Vampir itu bangun, Vampir itu langsung menerjang ke arah Fantasia. Sebelum tertangkap, Fantasia menghindar lalu berdiri di ujung ruangan.
Vampir waspada, sambil melotot kearah Fantasia.
"Siapa kau!? Apa yang kau lakukan padaku!?" Kata Vampir itu sambil menunjukkan taring nya.
"Nama ku Fantasia, aku menyelamatkan mu. Apakah seperti itu perilaku terhadap seorang penyelamat?" Kata Fantasia sambil mengangkat tangan nya.
"Penyelamat?" Gumam Vampir itu. "Itu..... Benar.... Aku!?" Vampir itu melanjutkan gumaman nya sambil memegangi kepala nya.
"Kau sudah ingat? Apa yang terjadi pada mu?"
Vampir itu mengangguk pelan, lalu ia duduk di kasur, menghela nafas lega kemudian membaringkan diri di kasur.
"Jadi siapa nama mu?" Tanya Fantasia.
"Victoria."
"Victoria ya.... Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang? Kembali ke kelompok mu?"
Victoria diam sejenak, wajah nya bermasalah. Setelah diam sejenak, Victoria duduk kembali, lalu menjawab.
"Aku tidak akan kembali, aku akan tinggal di sini."
"Haaaah!?" Fantasia terkejut. "Tu- Ja-jangan di sini!? Cari tempat lain! aku tidak punya waktu mengurus orang lain di sini, lagipula kau itu Vampir, bisa saja kau menghisap darah ku bila ada kesempatan!"
"Hmmmm....." Victoria berdiri lalu ia mendekati Fantasia. "Alasan mu sangat jelas, bilang saja kau malu tinggal bersama seorang gadis."
"Ti-tidak!! Bu-bukan begitu." Fantasia memalingkan wajah nya.
"Semua itu terlihat jelas di wajah mu, wajah mu memerah tahu...... Hmmmm..... Jadi kau benar-benar malu ya.... Lagi pula kau sudah menyentuh tubuh ku kan? Saat membersihkan tubuh ku."
Fantasia mulai gelisah, matanya melirik ke segala arah seakan-akan berusaha mencari alasan untuk menutupi rasa malu nya.
"Ya...... Aku sudah memutuskan tinggal di sini, dan tidak ada niat untuk kembali. Dan juga..... Bila aku kembali..... Yang lain nya tidak akan menerima orang lemah seperti ku." Suara Victoria makin mengecil saat ia mengoceh sendiri. Fantasia yang penasaran menaikkan nada suara nya lalu bertanya. "Kau bilang apa tadi!?"
Victoria mengambil langkah mundur, lalu ia duduk dikasur kemudian menjawab pertanyaan Fantasia dengan senyum yang di paksakan.
"Bukan apa-apa."
Mulai hari itu, Fantasia dan Victoria hidup bersama.