From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 260 Hari Invasi Kedua V



Setelah mendengar argumen milik Shina, mata Carla terbelalak, kaget, sebelum akhir nya ia mengerjap beberapa kali. Shina beragumen sifat Mira berubah karena efek kutukan yang di berikan oleh penyhir pada nya tujuh tahun yang lalu. Memang benar, sifat Mira berubah setelah ia sadarkan diri dari kutukan penyihir, tetapi mengenai sifat Mira yang berubah karena kutukan penyihir adalah hal yang konyol menurut Carla.


"Pfft... Hahahahaha...." Karena tidak bisa menahan tawa nya, Carla tertawa terbahak-bahak, menanggapi argumen milik Shina.


"Ke-Kenapa anda ketawa yang mulia... Sa-saya serius di sini!" Shina memperotes Carla dengan suara tinggi, wajah memerah karena marah perkataan serius nya di anggap konyol oleh Ratu.


"Aaaah.... Maaf, maaf. Memang benar sifat Mira menjadi lebih dewasa setelah dia sadarkan diri dari kutukan penyihir. Tetapi, sebenarnya Mira bersikap dingin dan tidak peduli kepada orang lain jauh sebelum dia terkena kutukan penyihir." Kata Carla memberitahu Shina, mengenai sifat Mira yang tidak di ketahui oleh nya.


"Eh!? Benarkah!?...." Aku tidak tahu hal itu... Pikir Shina, di dalam kepala nya setelah mendengar pernyataan dari Carla.


"Ya. Itu benar." Jawab Carla. "Kau tahukan sebelum Mira berumur tujuh tahun, atau lebih tepat nya saat dia berumur enam tahun, Mira selalu mengurung diri nya di dalam kamar?"


"Ya. Karena itu aku jarang melihat nya." Shina menganggukkan kepala nya, kemudian ia membuka mulut nya, menjawab pertanyaan Carla.


Mendengar jawaban Shina, membuat Carla tersenyum lembut. Ia kemudian memmejamkan mata nya, melihat kedalam kepala nya, mencari ingatan saat Mira masih berumur enam tahun. "Dulu, saat Mira berumur enam tahun...." Dengan senyum nostalgia, Carla menceritakan suatu kisah yang hanya dia dan Charles ketahui.


\*\*\*


Saat Mira berumur enam tahun, Mira jarang keluar dari kamar nya. Dia biasa keluar kamar nya, hanya untuk makan, atau menyuruh pelayan membawa kan nya buku atau manisan. Mira banyak menghabiskan waktu di dalam kamar nya untuk membaca buku. Dia membaca berbagai macam buku, mulai dari buku pelajaran, cerita fiksi, sejarah dan lain nya. Mungkin karena itulah Mira tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pintar.


Saat itu, Carla dan Charles khawatir dengan kondisi Mira jika ia terus mengurung diri di dalam kamar. Mira hampir, tidak. Dia sama sekali tidak pernah berbicara! Mira biasa menyuruh pelayan mengambil cemilan atau mengambil buku dengan menggunakan tulisan yang ia tulis melalui kertas. Charles dan Carla tidak pernah melihat nya bicara sama sekali. Mira juga sangat buruk dalam bergaul dengan orang lain, jika seseorang memanggil nama nya, ia akan lari ke dalam kamar nya lalu mengurung diri dalam waktu yang lama. Sebagai orang tua, Carla dan Charles khawatir, jika di biarkan seperti itu, Mira akan tumbuh menjadi gadis pemalu dan tidak pandai berinteraksi dengan orang lain.


Dalam masyarakat bangsawan, kemampuan seseorang dalam negosiasi adalah hal utama dan terpenting. Dan dasar dari kemampuan bernegosiasi adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Sebagai kandidat utama dalam mewarisi tahta kerajaan, kemampuan itu sangat wajib ada dalam diri Mira.


"Jadi? Bagaimana cara mu mengatasi masalah ini?" Tanya Carla kepada Charles.


"Mmmm...." Charles memegang dagu nya, memasang wajah rumit tanda ia sedang berpikir. Setelah beberapa detik berpikir, barulah Charles menemukan cara untuk masalah yang saat ini menimpa anak nya. "Yah... Satu-satu nya cara, tentu saja memaksa nya keluar dan berinteraksi dengan orang lain kan?"


"Dia kadang-kadang keluar kamar untuk menyuruh pelayan, itu sudah termasuk berinteraksi dengan orang lain bukan...? Jika seperti itu tidak ada gunanya." Kata Carla menentang gagasan Charles, setelah mendengar pendapat nya.


"Karena itulah, kita membawa nya keluar istana untuk berinteraksi dengan warga kota."


"Kita....?" Carla tidak yakin dengan maksud dari perkataan Charles. Sementara dia tahu maksud dari perkataan nya, dia tidak yakin Charles benar-benar serius dengan ide nya.


"Ya. Kita." Charles menjawab Carla dengan seringai jahat di wajah nya.


\*\*\*


"Untuk memperbaiki sifat Mira, kami pun sering bolos kerja untuk jalan-jalan di kota bersama nya. Tentu saja dengan menyamar." Carla tersenyum lembut saat mengingat masa-masa itu.


Keterbalikan dengan senyum lembut Carla, Shina tersenyum masam saat mendengar cerita nya. Pantas saja, aku sering melihat Yang Mulia lembur, jadi ini alasan nya... Pikir Shina. Memang benar dia sering melihat Carla dan Charles bekerja hingga larut malam di waktu dulu. Awal nya, Shina mengira perdana menteri yang dulu sering memberikan tugas yang banyak kepada Charles, tenyata ia salah, ternyata Charles sendirilah yang membuat tugas nya menumpuk. Setelah memikirkan itu secara sekilas di dalam kepala nya, Shina terus mendengar cerita Carla.


"Awal nya Mira tidak mau di ajak ke kota," Sambung Carla dengan sedikit cemberut di wajah nya. "Tetapi setelah mengajak nya beberapa kali, dengan terpaksa Mira pun setuju untuk pergi ke kota." Wajah Carla berubah menjadi senyum bahagia saat mengingat usaha nya dan Charles membujuk Mira akhir nya berhasil. "Perlahan tapi pasti, sifat Mira mulai berubah... Yang awal nya, dia selalu bersembunyi di belakang ku atau Charles sampai akhir nya dia berani bicara dengan orang lain. Yah, walaupun dia masih malu-malu saat itu... Kemudian di saat kunjungan kami yang keseratus tiga belas, kami mengetahui sifat tidak peduli dan dingin nya Mira kepada orang lain." Dengan senyum masam, Carla menceritakan kisah kunjungan ke kota bersama Mira dan Charles.


\*\*\*


Setelah ratusan kali berkunjung ke kota, Mira yang awal nya enggan berbicara pada orang lain, mulai menunjukkan perubahan. Mereka saat ini berada di pasar, Mira melihat toko buku, dan ingin pergi ke sana. Mereka pun menuruti kemauan Mira, dan pergi ke toko buku itu. Saat di dalam, Mira langsung pergi mengelilingi toko mencari buku yang menarik. Saat menemukan nya, Mira mendetangi Charles dan Carla yang menunggu di dekat meja resepsionis.


"Aku... Ingin... Buku... Ini." Dengan malu-malu, Mira berbicara pada Carla dan Charles. Mereka berdua mengangguk, lalu Charles memberikan uang sesuai dengan harga buku yang di pegang Mira.


"Mira, lakukan seperti kemarin. Saat kamu membeli makanan."


Saat Charles menyuruh Mira, membayar sendiri buku yang ia beli, wajah Mira berubah. Wajah nya di penuhi dengan ketakutan saat dia melihat buku, ayah nya, dan resepsionis yang berdiri di balik meja melayani para pembeli secara bergantian. Kemarin Mira, di suruh ayah nya membayar uang makanan yang ia beli. Tetapi, membeli makanan dan membeli buku adalah hal yang berbeda. Mira pernah membaca di buku, jika seseorang membeli makanan dia hanya perlu memberi uang pas dan penjual tidak akan mengatakan apa-apa setelah nya. Tetapi, penjual buku berbeda. Penjual buku akan mengatakan beberapa hal kepada pembeli saat mereka selesai membeli buku. Sebagai contoh, apakah ingin kami bungkus buku anda? Apakah anda ingin rekomendasi buku yang serupa? Itulah yang biasa mereka katakan kepada pembeli. Untuk orang biasa itu bukanlah masalah besar, tapi untuk Mira yang jarang berbicara pada orang lain itu sudah merupakan suatu bencana.


"Ayo. Kalau kau berdiam lama-lama di sini, akan semakin banyak orang yang mengantri." Kata Carla sambil mendorong punggung Mira mendekat ke meja resepsionis. Saat itu, hanya ada dua orang termasuk Mira yang mengantri, kebetulan orang pertama sudah menyelasaikan urusan nya sesaat Mira sampai di belakang nya. Dan giliran Mira pun tiba untuk berbicara dengan resepsionis.


Mira maju selangkah, kemudian ia berjinjit untuk mencapai meja, lalu ia meletakkan buku di atas nya. Setelah melakukan itu, Mira menundukkan kepala nya dengan gelisah.


"Ada yang bisa saya bantu adik kecil?" Tanya resepsionis dengan senyum ramah.


"Beli... Ini." Kata Mira dengan suara pelan sambil menunjuk buku yang dia letakkan di atas meja. Walaupun suara Mira pelan, suara nya masih bisa di dengar oleh resepsionis.


"Buku ini harga nya-"


Sebelum resepsionis selesai berbicara, Mira sudah meletakkan uang nya di atas meja.


"Uang adik kecil 5 Gold?"


"Ah. Tunggu, uang adik kecil terlalu banyak. Harga buku nya hanya 1 Gold 5 Silver koin."


Mira tersentak, wajah nya kemudian berubah seperti seseorang yang melihat akhir dunia. Ia baru saja mengetahui fakta kalau ayah nya sengaja memberi nya uang lebih agar Mira dapat berbicara dengan resepsionis sendirian.


Mira pun dengan segenap kekuatan nya, melakukan pembicaraan dengan resepsionis hingga urusan nya selesai dan dia berhasil membeli buku nya. Setelah itu, Mira pergi mendatangi kedua orang tua nya. Charles dan Carla tersenyum, melihat anak mereka kembali dengan kepala tertunduk dan langkah lesu. "Kerja bagus!" Kata Carla sambil mengelus kepala Mira. "Ayo... Pulang..." Kata Mira dengan pelan.


Mereka bertiga pun keluar dari toko. Saat mereka keluar, mereka melihat seorang pria di pukuli oleh lima orang pria, pria yang di pukuli hanya bisa meringkuk di tanah sambil melindungi kepala nya, sedangkan yang memukuli nya, terus menyerang nya dengan keras hingga pria yang meringkuk di tanah mengerang kesakitan. Orang- orang di pasar hanta terus berjalan, mengabaikan orang yang di pukuli itu. Tetapi, tidak dengan Charles dan Carla, mereka memiliki jiwa keadilan yang kuat. Mereka akan selalu membela yang benar, dan melindungi yang lemah.


Mereka berdua pun, bersiap untuk pergi menyelamatkan pria yang di pukuli. Hingga akhir nya-


"Ayah... Ibu... Pulang." Mira menggenggam tangan kedua orang tua nya. Buku yang di beli Mira, di bawah oleh Charles di salah satu tangan nya, jadi tangan Mira kosong, tidak memegang apa-apa.


"Eh?" Carla dan Charles terkejut.


"Pulang... Aku... Lapar."


\*\*\*


"Saat itu, ada orang kesusahan di depan mata nya, dia tidak peduli sama sekali." Kata Carla dengan wajah sedih saat mengingat masa itu.


Shina menundukkan kepala nya, memasang wajah kontemplatif setelah mendengar kisah Carla... Jadi memang begitu sifat asli nya ya, dan setelah dia merasakan keras nya dunia, sifat tidak peduli nya pada orang lain semakin bertambah. Pikir Shina. Mira di kutuk oleh penyihir, tidak sampai sebulan ia sadar, ia di usir dari kerajaan, jadi wajar kalau sifat tidak peduli nya semakin bertambah hingga sampai tega membantai penduduk kota. Jadi aku saja yang terlalu naif ya... Dengan senyum kecut, Shina menghina diri nya sendiri.


\*\*\*


Di tempat lain di istana, saat Shina dan Carla sedang melakukan pembicaraan.


Lina, Nina, White, dan Blanc sedang berada di kamar Nina. Mereka duduk di kursi, di depan mereka ada sebuah meja bundar. Mereka berempat duduk bersampingan, lalu di sebrang meja duduk seorang lagi.


"Penyihir agung, apakah itu benar?" di depan Lina duduk seorang berjubah, tidak di ketahui dia wanita atau pria, tapi dari suara nya mungkin saja dia adalah wanita, tapi gaya bicara nya menyerupai seorang pria, yang membuat jenis kelamin nya menjadi semakin ambigu.


"Kukuku...." Orang berjubah itu tertawa menjawab pertanyaan dari Lina. Dia adalah orang penting yang ingin Nina pertemukan dengan ibu nya, ibu Blanc dan Blanc, dia adalah orang yang akan membuat mimpi mereka berempat menjadi kenyataan. Yaitu, menguasai kerajaan terbesar di Benua Silia, Kerajaan Fantasia. "Ya. Itu benar. Aku akan membuat mimpi kalian menjadi kenyataan."


Nina, White, dan Blanc tersenyum bahagia mendengar perkataan orang itu, wajah mereka berseri-seri seperti seseorang yang menemukan berlian di pinggir jalan. Keterbalikan dengan mereka bertiga, Lina menatap orang itu dengan tatapan ragu-ragu, tidak percaya dengan perkataan nya.


"Kau tidak percaya pada ku?" Tanya orang itu kepada Lina.


"Tentu saja. Setelah kau gagal membunuh Mira dulu." jawab Lina dengan wajah kesal.


Mendengar perkataan Lina. Nina,White, dan Blanc terkejut. Mereka semua melihat ke arah orang itu dan Lina secara bergantian.


"Kukuku..." Orang itu, tertawa dengan nada menakutkan. "Kejadian itu adalah kesalahan di pihak ku... Tetapi, setidak nya aku berhasil membuat ratu melahirkan anak perempuan bukan?"


Wajah Nina, White dan Blanc makin terkejut. Mereka berdua tidak bisa mengikuti arah pembicaraan Lina dan orang itu. Perlu waktu beberapa saat hingga akhir nya mengerti, hanya ada satu kesimpulan di kepala mereka.


Orang itu, adalah penyihir yang mengutuk Mira.


Mereka tidak bisa mempercayai nya, karena penyihir yang mereka tahu sudah tua, sedangkan orang di depan mereka jelas masih muda, setidak nya masih berada di tengah umur tiga puluhan atau begitulah perkiraan mereka. Walaupun mereka tidak bisa mengidentifikasi jenis kelamin nya, mereka masih mengetahui kalau orang di depan mereka tidaklah tua.


"Cih... Kau pandai mengelak," Kata Lina dengan suara iritasi, wajah nya semakin menunjukkan ketidak senangan nya dengan orang itu. "Jadi bagaimana cara mewujudkan mimpi kami?"


Orang itu, atau lebih tepat nya penyihir itu mengulurkan tangan nya, kemudian ruang di depan nya mulai terdistorsi, ada sebuah lubang hitam yang tercipta di udara. Orang itu, memasukkan tangan nya, sedetik kemudian ia mengeluarkan tangan nya, lubang hitam pun menghilang, dan tangan penyihir memegang sesuatu.


"Kalung?" White membuka mulut, bertanya-tanya kenapa penyihir mengeluarkan aksesoris di depan mereka. Dan juga, aksesoris itu nampak murahan.


"Kalung ini charsima boost. Seperti nama nya, ini menambahkan karisma kepada seseorang. Dengan menggunakan ini kamu dapat menarik orang-orang untuk mengakui mu sebagai pemimpin." kata nya sambil menyodorkan kalung itu kepada Lina.


Lina melihat kalung itu, lalu membuka mulut nya. "Jadi kau pikir menggunakan kekuatan kalung ini untuk membuat pasukan dan memulai kudeta?"


"Itu ide yang bagus." Kata penyihir. "Tapi, seberapa besar pun pasukan yang kalian kumpulkan, kalian pasti akan kalah selama ada Mira dan Charles."


Alis Lina terangkat mendengar perkataan setelah mendengar perkataan penyihir. Dia tahu bahaya dari Charles, dia memiliki pusaka terkuat yang di sebut sebagai pedang suci, dengan kekuatan itu Charles menjadi one man army di kerajaan Fantasia. Tapi dia tidak mengetahui bahaya dari Mira, apa yang bisa di lakukan anak itu? Pikir nya. Kemudian Lina mengingat kejadian yang di lakukan oleh Mira... Dia benar, pikir Lina. Anak itu juga berbahaya, dia memang lemah tapi kepala anak itu tidak bisa di remehkan, dia pasti dapat mengetahui rencana kami sebelum kami melaksakan nya. Mira sangat hebat dalam membuat rencana dan strategi, dia dapat membongkar plot pemberontak sebelum mereka menjalankan aksi nya. Juga insting Mira sangat tajam, dia pasti akan segera mengtahui kalau Lina dan yang lain nya merencanakan sesuatu.


"Kalau bukan itu, apa rencana mu?" Tanya Lina.


Penyihir itu tersenyum, lalu ia membuka mulut nya, menjawab pertanyaan Lina. "Pertama kita akan membunuh Yang Mulia Raja, Charles."