
Aku membuka mata ku, saat aku membuka mata. Aku berada di suatu tempat, tempat ini tidak memiliki apapun. Aku melihat sekeliling tempat ini hanya berhiaskan warna putih. Aku menyuruh Natasha dan Arisa membuka mata.
Mereka berdua membuka mata, saat membuka mata. Mereka berdua melihat sekeliling.
"Tempat apa ini?" Tanya Arisa.
"Tidak ada apa-apa di sini." Sambung Natasha.
"Tempat ini adalah alam bawah sadar Jack."
"Bagaimana kita membangunkan Jack lewat sini?" Tanya Natasha.
"Pertama kita harus mencari Jack dulu."
"Jack!!" Arisa berteriak.
Suara Arisa menggema di seluruh tempat. "Tidak ada jawaban." Kata Arisa.
Jack!!" Natasha berteriak. Suara Natasha menggema di seluruh tempat. "Arisa benar tidak ada jawaban."
"Tidak ada gunanya kita berteriak. Kita harus berjalan mencari nya."
Kami bertiga pun berjalan ke arah depan, kami terus berjalan, hingga Natasha dan Arisa merasa kelelahan.
"Kak Mira bisa berhenti sebentar." Kata Arisa.
"Benar kata Arisa," Sambung Natasha. "Kita istarahat sebentar."
"Apa yang kalian katakan. Kita harus cepat menyelamatkan Jack."
"Tapi tidak ada gunanya berjalan tidak jelas seperti ini." Kata Natasha.
"Benar kata Kak Natasha," Sambung Arisa. "Tempat ini sangat besar. Kita tidak bisa menemukan Jack di tempat sebesar ini!!"
"Kalian benar tempat ini terlalu besar... Biasanya alam bawah sadar seseorang tidak sebesar ini. Seperti nya ada yang menghalangi kita untuk menemui Jack."
Aku memejamkan mata ku, kemudian aku berjongkok. Aku menyentuh tanah. Kemudian aku memukul tanah.
Seluruh tempat bergetar, lalu di seluruh tempat terdapat retakan.
"A-ada apa ini!?" Kata Arisa panik.
"Apa yang kau lakukan Mira!?" Kata Natasha.
"Aku memecahkan ilusi yang menjebak kita. Dari awal tempat ini adalah ilusi yang di buat oleh Jack."
"Kenapa Jack bisa menciptakan ilusi di dalam pikiran nya? Jack bukan penyihir!!" Kata Arisa.
"Mungkin dia menciptakan nya secara tidak sadar."
Tempat putih hancur berkeping-keping lalu ruangan menjadi hitam kemudian muncul banyak lukisan di seluruh tempat.
Arisa terkejut. "Kak Mira!!" Kata Arisa berteriak. "Di sana ada lukisan orang tua ku!" Kata Arisa sambil menunjuk.
"Lukisan itu adalah potongan ingatan Jack."
"Jadi semua lukisan ini-" Kata Natasha.
"Ini semua ingatan Jack." Sambung ku.
Arisa melihat keseluruh tempat. "Bukan hanya lukisan orang tua ku, bahkan ada lukisan ku, lukisan Kak Mira dan lukisan Kak Natasha."
"Itu menandakan kalau kita selalu berada di dalam ingatan Jack."
Arisa berjalan sedikit kedepan kemudian ia berhenti. Aku melihat prilaku aneh Arisa kemudian aku mendekati Arisa. "Kenapa Arisa?" Tanya Natasha.
"Lukisan ini...."
Aku melihat sebuah lukisan seorang wanita membawa kedua anak sambil di kejar banyak monster.
"Ini lukisan sewaktu ibu kami di buru di Hokahi." Kata Arisa dengan suara pelan.
"Berarti monster yang ada di lukisan-" Kata Natasha.
"Mereka adalah para Elf." Sambung Arisa.
"Jack mungkin melihat para Elf sebagai monster pada saat itu. Karena itulah di lukisan itu monster yang terlukis bukan Elf."
Setelah melihat lukisan itu, Arisa terus berjalan. Kemudian ia melihat sebuah pintu. "Kak Mira!! kak Natasha!!" Arisa berteriak.
Aku dan Natasha mendekati Arisa.
"Kenapa ada pintu disini?" Tanya Arisa.
Aku mendekati pintu itu. Kemudian aku memegang gagang pintu. Saat aku memegang gagang pintu Arisa menarik ku.
"Tunggu Kak Mira!!" Kata Arisa sambil menarik tangan ku.
"Kenapa?"
"Ada sesuatu tertulis di pintu nya."
Aku melihat ke pintu. Kemudian aku melihat tulisan di pintu nya. "Kau benar. Tulisan nya..... Ekki Opna? Apa artinya?"
"Artinya jangan di buka!" Jawab Arisa. "Ini di tulis dalam bahasa Elf."
"Jadi apa yang harus kita lakukan Kak Mira?" Tanya Arisa.
"Natasha!!"
"Ada apa Mira?" Kata Natasha.
"Jika ada seseorang yang menyuruh mu jangan buka! Apakah kau akan menuruti nya?"
"Lalu tulisan ini apa aku yang menulis nya?"
"Tentu saja bukan." Jawab Natasha.
"Lalu sudah pasti kau akan...."
"Membuka nya. Karena bukan kau yang menyuruh nya." Kata Natasha sambil membuka pintu.
"aaaaaaa," Arisa berteriak. "Bagaimana jika yang ada di dalam nya adalah monster?"
"Tentu saja kita lawan." Kata Natasha.
"Tapi...."
"Kau takut Arisa?" Tanya Natasha dengan nada mengejek. "Apa yang kau takutkan. Ada Ras terkuat yang menemani mu..... Dan juga..." Natasha menatap ke arah Mira. "Di sini sudah ada monster."
"Kenapa waktu bilang monster kau malah menatap ku?"
"Habis nya Mira itu kan sebelas dua belas sama monster."
Aku mengabaikan perkataan Natasha, kemudian aku masuk kedalam ruangan. Saat aku di dalam ruangan aku terkejut. Natasha dan Arisa mengikuti ku memasuki ruangan, mereka pun juga ikut terkejut.
"Apa-apaan ruangan ini!!?" Arisa berteriak.
Di ruangan yang kami masuki, terdapat lukisan kak Yuri yang sangat banyak. Sampai ruangan penuh dengan lukisan kak Yuri.
"Mira!!" Natasha memanggil ku. Aku pun berjalan mendekati Natasha. "Lihat ini!" Kata Natasha sambil menunjuk sebuah lukisan.
Aku melihat ke lukisan yang di tunjuk oleh Natasha. Di situ terlukis Kak Yuri dan Jack sedang berciuman.
Natasha tertawa terbahak-bahak saat melihat lukisan itu. "Seperti nya Jack betul-betul menyukai saudari mu sampai-sampai ada lukisan seperti ini." Natasha tertawa lagi.
Arisa mendekati ku. Kemudian Arisa menepuk pundak ku. "Kak Mira. Aku tahu apa yang Kak Mira rasakan." Kata Arisa.
"Memang nya kau merasakan apa?"
Arisa memegangi dada nya. "Aku merasakan sakit kak." Kata Arisa. "Hati ku sakit. Melihat saudara ku, sudah menemukan pujaan hatinya. Hati ku sangat sakit, padahal aku masih belum menemukan pujaan hati ku, tapi kenapa saudara ku sudah menemukan nya." Kata Arisa sambil meneteskan air mata. "Padahal umur kami sama. Tapi kenapa malah Jack yang dapat duluan. Kenapa!!" Kata Arisa berteriak. "Aku ingin cepat-cepat dapat pasangan." Kata Arisa sambil jatuh tersungkur.
Melihat prilaku Arisa membuat ku kelelahan. Aku mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan nya.
"Kalau kau ingin pasangan. Kenapa tidak dengan Alex saja."
"Kalau begitu Kak Mira. Biar kutanya, apakah Kak Mira mau dengan Alex?"
Aku menggelengkan kepala ku. "Aku tidak ingin menikah. Walaupun ada seratus pria tampan yang melamar ku pasti akan kutolak."
"Heeeh," Kata Arisa dengan memasang wajah kesal. "Maaf saja Kak Mira. Aku tidak mau sendirian sampai tua. Dan jika aku dapat pasangan, sudah pasti pasangan itu bukan Alex. Siapa juga yang mau sama Homonculus seperti dia."
"Begitu ya."
Setelah mengatakan itu, aku mengabaikan Arisa yang masih tersungkur sambil menangis. Aku mendatangi Natasha, kemudian aku dan Natasha terus memeriksa ruangan yang penuh dengan lukisan Kak Yuri.
"Seperti nya tidak ada apa-apa di sini kecuali lukisan." Kata Natasha.
Tiba-tiba ada suara yang memanggil ku. Aku kenal dengan suara yang memanggil ku. Suara yang memanggil ku adalah suara Kak Yuri!!
"Mira!!"
Aku menengok kearah suara itu, kemudian aku melihat Kak Yuri sedang berlari menuju arah ku. Kak Yuri makin mendekati ku, saat dekat dengan ku, Kak yuri melompat ke arah ku. Kemudian kak Yuri memeluk ku. "Mira!!"
"Kenapa saudari Mira ada di sini!" Kata Natasha.
"Mungkin Jack membayangkan sosok Kak Yuri di dalam pikiran nya."
Arisa mendekati ku sambil berteriak. "Kak Mira!!" saat Arisa berada di dekat ku, Arisa melepaskan pelukan Kak Yuri. "aku sudah memutuskan. Ayo kita-"
Sebelum Arisa berbicara Natasha memotong perkataan Arisa. "Ayo Kita selamatkan Jack kan?" Kata Natasha.
"Bukan," Jawab Arisa. "Yang ingin ku bilang adalah..... Ayo kita pergi dari sini! Dan lupakan penyelamatan Jack!"
"Apa yang kau bilang!?" Teriak Natasha. "Dia itu saudara mu!!"
"Aku tahu itu!! Tapi setelah melihat hal ini aku jadi tidak ingin menyelamatkan nya. Aku tidak meyangka kalau Jack dan Saudari Kak Mira sudah jadian." Kata Arisa.
"Apa yang kau katakan Arisa!? Kak Yuri dan Jack masih belum jadian."
"Apakah itu benar?"
Aku mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita selamatkan Jack!!" Kata Arisa bersemangat.
"Tapi kata Jack. Dia ingin mengungkapkan perasaan nya setelah masalah dengan Goby selesai." Kata Natasha.
"Kalau begitu kita batalkan penyelamatan nya." Kata Arisa dengan wajah kesal.
"Sudahlah Arisa berhenti bercanda!! Rencana ku akan gagal tanpa Jack."
"Maafkan aku." Kata Arisa menyesal.
"Anu," Kata Yuri. "Kalian ingin menyelamatkan suami ku?"
"Suami?" Kata ku, Natasha dan Arisa bersama-sama.
"Kalian tidak tahu ya?" Kata Yuri tersenyum. "Sebenarnya aku dan Jack sudah menikah. Jadi kita berdua sudah resmi jadi pasangan suami istri."
Mendengar perkataan Yuri. Natasha menjadi tertawa terbahak-bahak, dan Arisa menjadi kesal. Mira biasa saja mendengar perkataan Yuri.
"Jadi di mana Jack?" Tanya Mira.
"Ikuti aku!" Kata Yuri. "Jack terkurung di dalam labirin Pierot." Sambung Yuri dengan wajah serius.