From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 126 Keadaan gawat! Perspektif Natasha.



Aku membaringkan Mira di kasur nya. Kasur Mira adalah kasur berkanopi, yang jika di lihat, kasur Mira sangat mahal. Itu sudah sangat wajar, dia adalah seorang Putri. Jika kasur Mira adalah kasur murahan, posisi nya sebagai seorang ningrat patut di pertanyakan.


Saat aku membaringkan Mira, aku memegang dahi nya. Panas! Dia terkena demam! Dan demam ini sangat tinggi!


"Arisa, Jack kalian jaga Mira. Aku akan memberitahu orang tua nya!"


Arisa dan Jack mengangguk.


Aku mendekati pintu, membuka nya, lalu pergi keluar kamar. Aku melihat seorang prajurit yang sedang berpatroli malam, ia berkeliling di sekitar istana. Aku langsung mendekati prajurit yang berpatroli.


"Ke-kenapa?" Tanya Prajurit kebingungan.


"Di-dimana kamar Yang Mulia Raja dan Ratu?"


"Kau ingin apa malam-malam begini? Beliau masih tidur! Tunggu sampai besok!" Bentak prajurit.


Tentu saja dia membentak ku, seorang pelayan ingin menemui Raja dan Ratu pada saat malam, pasti akan menimbulkan kecurigaan.


"Ini situasi mendesak, Putri Mira.... Putri Mira... Terkena demam, jika lambat di tangani kondisi beliau akan semakin parah. Jadi ku mohon beritahu aku!"


Tanpa ragu prajurit menjawab. "Baiklah akan ku antar! Kau bisa berlari?"


Dia bertanya, setelah melihat ku terengah-engah. Jadi dia kira aku tidak bisa berlari karena nafas ku sangat berat. Sebenar nya, nafas ku berat karena panik, jadi aku sama sekali tidak kelelahan.


"A-aku bisa!! Jadi ku mohon cepat antar aku sekarang!"


"Kalau begitu ikuti aku!"


Prajurit mulai berlari, aku mengikuti nya. Saat kami berlari, para Prajurit yang lain kebingungan melihat kami, tapi prajurit yang ku ikuti melirik ke arah mereka. Para Prajurit yang kebingungan mengangguk, lalu mereka semua berdiri tegak seperti bersiap-siap.


Apakah prajurit yang ku ikuti ini mengirim kode kepada prajurit lain?


"Kamar Yang Mulia Raja dan Ratu terpisah. Tapi tenang saja, kamar mereka hanya bersebalahan. Kau ketuk kamar yang mulia Ratu, dan aku akan mengetuk kamar yang mulia Raja."


"Aku sangat terbantu dengan itu."


Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa kamar mereka bisa terpisah. Tapi saat ini keadaan sedang genting, jadi aku tidak akan bertanya tentang hal itu.


Kami terus berlari, prajurit yang ku ikuti terus memberi kode kepada prajurit lain yang kebingungan.


Akhir nya kami sampai di kamar Raja dan ratu, kamar mereka memang bersebalahan, kamar mereka berdua sangat besar, berbeda dengan kamar yang lain, bahkan kamar Mira kalah dengan kamar mereka.


"Kau ketuk yang itu!" Prajurit menunjuk pintu yang di sebelah kiri.


Aku dan prajurit berdiri di pintu masing-masing, aku di kiri dan prajurit di sebelah kanan.


Aku mengetuk dengan keras, tapi prajurit mengetuk dengan pelan. Apakah dia paham situasi nya? Harus nya dia mengetuk dengan keras kan?


"Yang Mulia!! Saya mohon buka!!"


Ada suara dari dalam, lalu pintu terbuka. Keluar seorang wanita dengan rambut perak seperti Mira, dia adalah Ibu Mira! Ratu kerajaan Fantasia! Di sebelah kanan juga, Raja sudah keluar.


Saat keluar wajah Raja dan Ratu masih mengantuk.


"Ada apa? Apakah kerajaan Elf menyerang kita?" Kata Raja dengan sedikit panik.


Prajurit melihat ku, Raja juga melihat ku.


"Anu... Begini.... Pu-putri Mira.. Putri Mira... Di-dia. Di-dia. Putri Mira dia.."


Ratu memegang kedua pundak ku.


"Tenang dulu! Lalu beritahu aku Mira kenapa?"


Aku mengikuti kata Ratu, lalu aku menenangkan diri.


"Saya dan teman-teman saya tidur di kamar Putri Mira karena perintah beliau. Lalu tadi beliau membangunkan kami, kata beliau tidak enak badan. Setelah beliau memberitahu kami, beliau langsung pingsan di depan kami! Dan sekarang badan beliau sangat panas, saya tidak tahu harus berbuat apa!? Karena itu saya mendatangi Yang Mulia Raja dan Ratu. Maaf jika saya menganggu, tapi kondisi Putri Mira sekarang sangat buruk, dan harus mendapatkan pertolongan."


Aku sudah menyiapkan cerita yang masuk akal. Tidak mungkin aku memberitahu jika Mira sakit, karena dia mengeluarkan energi sihir yang besar saat menyerang kerajaan Elf.


Dan aku hampir lupa, sekarang kerajaan bersiap-siap untuk perang, jadi karena itu prajurit yang berpatroli bertambah.


"Kau melakukan hal yang tepat, kau tidak mengganggu kami! Sekarang kau cepat antar kami ke kamar Mira!" Kata Ratu dengan suara lembut.


Aku mengangguk, lalu aku berlari lagi ke kamar Mira, di ikuti dengan Raja dan Ratu, ngomong-ngomong mereka masih memakai baju tidur, dan prajurit yang mengantar ku tidak mengikuti kami.


Benar juga, akan gawat jika Raja dan Ratu melihat Mira memakai gaun saat tidur, aku harus memberitahu Arisa untuk mengganti baju Mira ke baju Tidur. Tentu saja aku memberitahu Arisa melalui (Telephaty).


Kami sampai di depan kamar Mira, aku mengetuk kamar Mira sambil meneriakkan nama Arisa.


Suara terdengar di balik ruangan, lalu Arisa membuka pintu.


"Kondisi Putri Mira sangat gawat, hidung beliau keluar darah terus dari tadi, dan darah nya tidak berhenti!" Kata Arisa panik.


Setelah mendengar itu, Ratu mendorong ku ke samping pintu, lalu ia menerobos masuk ke kamar, setelah itu Raja, dan selanjut nya aku. Saat masuk, Mira terbaring di kasur dengan baju tidur, dan Jack tidak ada di ruangan. Apakah Arisa mengusir nya?


Ratu dan Raja mendekati kasur Mira, lalu mereka melihat wajah Mira.


"Kondisi nya sangat gawat! Jika terus seperti ini dia akan mati karena kekurangan darah!


Apa yang terjadi pada Mira!?"


"Ka-kami tidak tahu!" Jawab Arisa. "Saat beliau bangun, beliau bilang tidak enak badan, lalu langsung pingsan."


Aku sudah memberitahu cerita yang ku buat kepada Arisa lewat (Telephaty) dan seperti nya Jack di usir saat Arisa mengganti pakaian Mira.


Raja berdiri, lalu Raja mendekati kami, setelah itu ia menarik kerah baju kami, dengan kedua tangan nya.


"Kalian berdua meracuni Mira kan?" Kata Raja dengan suara berat.


"Kami tidak akan melakukan hal itu!" Aku menjawab dengan lantang.


"Kalian tidak bisa berbohong padaku! Aku akan mengeksekusi kalian besok pagi.... Prajurit tangkap kedua orang ini!"


Raja berteriak, lalu prajurit masuk kedalam kamar. Setelah itu mereka menahan kami. Aku dan Arisa tidak melawan, Raja sangat panik sekarang, dia tidak akan mendengarkan penjelasan kami. Jadi percuma jika kami menjelaskan. Aku sudah pasrah sekarang, ini hukuman yang pantas untuk ku karena tidak bisa menghentikan Mira. Aku melihat ke arah Arisa, ia menangis! Pandangan ku juga mulai kabur, seperti di tutupi air. Apakah aku juga menangis?


"Jika memang Yang Mulia menganggap kami bersalah. Kami akan menerima keputusan itu. Dan kami siap untuk di hukum mati." Kata Arisa.


"Cepat bawa mereka prajurit!" Kata Raja memerintahkan.


Kami di giring, keluar kamar. Saat berada di depan pintu, Ratu berteriak sangat kencang.


"Charles!! Apa yang kau lakukan!? Mereka tidak mungkin bersalah! Jika mereka meracuni Mira, mereka pasti akan melawan saat di giring prajurit! Apakah kau tidak memikirkan hal itu!? Jika Mira sembuh, dan dilihat bawahan nya tidak ada, apa yang harus kau jelaskan!? Pikirkan itu bodoh!! Jangan panggil prajurit bodoh!! Cepat panggil dokter! Kau dengar aku!"


Suara ratu bergetar. Ratu mungkin sangat sedih melihat kondisi Mira sekarang, bukan hanya sedih, Ratu mungkin juga sangat takut kehilangan Mira, ia takut Mira mati.


"Kalian dengar? Lepaskan mereka! Dan panggil dokter kesini!" Raja memerintahkan prajurit.


Prajurit melepaskan kami, kemudian mereka dengan cepat pergi keluar kamar.


"Maafkan aku! Aku tidak berpikir jernih sebelum nya."


Setelah meminta maaf kepada kami, Raja mendekati Mira, Ratu yang selama ini di samping Mira, terus memegangi tangan nya dengan kuat.


"Da-darah nya tidak berhenti!!" Kata Ratu saat melihat darah keluar terus dari hidung Mira.


Aku mengirimkan (Telephaty ke Arisa.)


"Apakah kau sudah menggunakan Heal?" Aku bertanya ke Arisa melalui pikiran ku.


"Sudah! Tapi itu tidak berguna!"


Setelah mendengar jawaban Arisa, aku memutuskan (Telephaty.)


Selama beberapa menit kami menunggu dengan keadaan cemas.


Hingga akhir nya perasaan cemas kami makin menjadi-jadi, saat Mira mulai batuk, dan memuntahkan banyak darah.


"Mira!!" "Nona Mira!!" Kami semua berteriak bersamaan.


Lalu dari pintu depan, masuk dua orang prajurit bersama dengan pria tua dan seorang gadis remaja.


Gadis remaja itu adalah Kakak Mira, bernama Yuri.


Yuri masuk ke kamar, kemudian ia mendekati kasur. "Mira!!" Yuri berteriak dengan suara bergetar.


Saat ia melihat kondisi Mira, ia dengan panik bertanya pada ratu.


"Bu-bunda Mira kenapa?"


"Ka-kami tidak tahu! Karena itu kami memanggil dokter."


Pria tua memasuki kamar, lalu Ratu dan Raja membiarkan pria tua itu memeriksa Mira. Apakah dia dokter kerajaan?


Raja, Ratu, dan Yuri menjauh sedikit dari kasur, mereka membiarkan Mira di periksa oleh pria tua yang baru masuk.


Setelah beberapa menit ia memeriksa, pria tua melihat ke arah Raja dan Ratu dengan wajah cemas.


"Seperti nya, ramuan yang di berikan penyihir beberapa bulan yang lalu yang telah menyebabkan Putri Mira menjadi seperti ini."


"A-apa!?" Raja, Ratu, dan Yuri kaget.


O, iya. Mira pernah bercerita kalau dia pernah di beri ramuan oleh penyihir, ramuan itu membuat nya tidak sadarkan diri selama sepuluh bulan. Dan sekarang ramuan itu memberikan efek buruk pada Mira? Apakah itu benar? Aku tidak tahu, yang jelas dokter sendiri yang berkata seperti itu, jadi mungkin saja benar.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ratu.


"Sayang nya saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa berharap kepada para leluhur untuk menyembuhkan Putri Mira. Jika kondisi nya terus seperti ini, aku takut Jiwa Putri Mira akan di ambil Para leluhur."


"Ja-jadi maksud mu.... Nyawa Mira bisa hilang kapan saja?" Tanya Ratu dengan suara bergetar.


Dokter memalingkan wajah nya, kemudian ia mengangguk dengan perlahan, tanda dokter berkata "Iya."


-------------------------------------------


**Author's Note.


Jika ada kesalahan ketik, penyebutan nama karakter, dan dialog. Mohon beritahu saya di kolom komentar.


Terima kasih selalu mendukung dan membaca Novel saya. Saya bisa menulis sampai ratusan episode berkat dukungan kalian**.