From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 302 Jangan terlalu cepat menyimpulkan



Beberapa menit kemudian. Semua sihir Mira telah berhenti bekerja, tanah yang di buat Mira melayang turun kembali ke daratan. Itu menyebabkan guncangan yang sangat hebat. Semua air yang Mira gunakan untuk menyerang masuk ke dalam belahan tanah yang masih tersisa. Saat semua air sudah surut, uap akibat suhu air yang tinggi memenuhi udara. Mira menggunakan sihir nya untuk memanggil Roh Angin untuk meniup semua uap yang menghalangi pandangan.


Sesaat semua uap menghilang, tergeletak mayat empat Player di tanah dengan tubuh memerah. Tanda seluruh tubuh mereka terebus dengan sempurna.


'Entah kenapa rasa nya antiklimaks.' Suara seorang gadis bergema di kepala Mira. Itu adalah suara dari tongkat sihir Mira yang memiliki kesadaran. Tongkat sihir nya bernama Glory Rod, atau yang biasa Mira panggil dengan sebutan Gloria.


"...."


Mira tidak menanggapi perkataan Gloria, dia terus menatap ke tubuh ke empat Player.


'Untung kau sudah merubah Class mu. Dengan keadaan tubuh mu yang melemah, setelah itu menggunakan (Super Magic) tujuh kali beruntun. Jika kau tidak merubah Class mu sudah pasti tubuh mu akan hancur.' Gloria berkata pada Mira dengan nada lelah. Tubuh Mira sudah sangat melemah akibat perubahan Class nya, dia memiliki batas dalam menggunakan (Super Magic) dan pengeluaran energi sihir nya. Jika ia melebihi batas yang di tentukan, tubuh nya akan hancur, membuat nya mati seketika.


'Jadi... Apa yang akan kita lakukan sekarang?' Tanya Gloria.


"..." Mira masih tidak menjawab. Ia terus menatap ke tubuh ke empat Player.


'Hei... Kenapa kau dari tadi diam terus?'


"Bukankah ini aneh." Mira akhir nya menanggapi Gloria


'Apanya?'


"Mereka adalah orang-orang berlevel seratus, tapi mereka dengan mudah nya di kalahkan."


'... Mira...' Gloria menghela nafas, ia tidak tahu harus berkata apa... 'Setinggi apapun level mereka, jika mereka menerima serangan sangat kuat secara sepihak sudah pasti mereka tidak akan selamat!' Setelah diam sejenak, akhir nya Gloria bisa mengungkapkan isi pikiran nya.


"Tapi aku tidak seperti itu... Walaupun aku di serang secara sepihak, dan aku tahu aku tidak bisa melawan musuh yang sedang ku hadapi, aku akan memikirkan rencana untuk mundur... Tapi mereka. Mereka sama sekali tidak berniat untuk mundur saat menerima serangan ku, malahan mereka seperti nya menerima serangan ku dengan lapang dada."


Walaupun terlihat Mira menyerang secara sepihak. Mira berpikir kalau pihak lawan menerima serangan nya dengan senang hati, mereka seperti tidak peduli dampak apa yang akan terjadi jika mereka menerima serangan Mira. Terlebih lagi, di dalam hati Mira, ia tidak percaya kalau pihak lawan akan kalah dengan mudah hanya dengan beberapa (Super Magic) yang kekuatan nya tidak terlalu kuat. Terlebih lagi yang di lawan Mira adalah orang-orang berlevel seratus. Jika yang di lawan Mira adalah Natasha yang sekarang, maka serangan yang baru saja Mira keluarkan belum cukup untuk mengalahkan nya.


Tidak ada pilihan lain, seperti nya aku harus mengecek nya sendiri. Pikir Mira sembari mengacungkan tongkat sihir nya ke arah empat mayat yang tergeletak di tanah.


'Apa yang ingin kau lakukan Mira?' Gloria bertanya saat diri nya di acungkan ke arah empat tubuh orang yang sudah jelas-jelas mati.


"Super Magic: The Death Ash!" Mira mengabaikan pertanyaan Gloria, mengucapkan mantra untuk mengaktifkan suatu sihir.


Eh!? Apakah sihir ini dapat menyebabkan mendung seperti ini? Seperti nya Mira tidak menyangka kalau sihir nya akan membuat langit menjadi mendung, ia terkejut saat melihat awan hitam tiba-tiba muncul dan mengepul di langit hingga menutupi sorotan cahaya matahari.


Kemudian dari gumpalan awan hitam yang memenuhi langit, jatuh serbuk abu-abu. Serbuk abu-abu itu jatuh layak nya salju yang turun pada musim dingin... Seketika serbuk abu-abu yang berjatuhan dari langit itu menyentuh tanah seketika tanah menjadi pasir, saat serbuk itu menyentuh pohon, seketika pohon itu menjadi layu, serbuk abu-abu itu jatuh hingga mengenai empat mayat yang masih tergeletak, seketika mayat itu berubah membusuk, mayat itu kondisi nya terus berubah hingga akhir nya menjadi tulang belulang. Satu-satu nya yang tidak terkena efek dari serbuk abu-abu yang jatuh dari langit itu hanyalah Mira.


'Sepertinya mereka benar-benar mati.' Kata Gloria dengan nada lelah.


"Ka-Kau benar..." Jawab Mira dengan senyum canggung. Ia tidak menyangka kalau sihir yang ia keluarkan akan berdampak pada daerah sekitar nya. Saat ini seluruh Benua Aziliya berubah menjadi gurun, tanpa ada kehidupan sama sekali. Secara HARFIAH, Benua Aziliya benar-benar berubah menjadi gurun.


'Tetapi... Apakah perlu mengubah seluruh Benua menjadi gurun hanya untuk memastikan kematian mereka?'


"A-Aku tidak menyangka sihir ini akan memiliki dampak yang begitu luas seperti ini... Setahu ku sihir ini hanya akan membuat mahluk hidup mati jika menghirup serbuk abu-abu yang sekarang berjatuhan." Jawab Mira dengan sedikit terbata-bata.


'Bukankah tanah dan pohon juga mahluk hidup? Tentu saja mereka akan mati jika terkena serbuk itu... Apakah kau pikir mereka hanya benda yang tertaruh di sana yang berfungsi sebagai penghias saja?'


"..."


Mira tidak menjawab. Walaupun ia tidak sadar, Mira masih memiliki jalan pikir seperti Player. Ia menganggap semua benda yang ada di alam hanyalah penghias belaka, yang tidak akan berpengaruh terhadap sihir nya. Walaupun jalan pikir seperti ini jarang muncul, karena Mira biasa menggunakan medan bertarung nya sebagai senjata. Sebagai contoh, Mira pernah menggunakan batu besar untuk di lemparkan ke musuh. Hal ini jelas tidak bisa ia lakukan saat masih di dalam Game. Batu yang ada di medan bertarung hanyalah hiasan biasa, tidak dapat di pindahkan.


'Yah... Seperti nya mereka sudah mati. Kita harus kembali, dan juga jangan rubah Class mu melebihi sepuluh menit. Kau sudah merubah Class mu selama tiga menit. Jika mereka setangguh Natasha, walaupun kau merubah Class mu, aku tidak yakin kau bisa menang.' Kata Gloria memberi peringatan kepada Mira.


Mira masih bisa menang melawan Natasha jika ia merubah Class nya selama sepuluh menit. Hanya saja, jika ia melawan empat orang yang memiliki kekuatan yang sama dengan Natasha, bahkan ia sendiri saja tidak yakin apakah ia bisa menang.


".... Kau benar. Kita harus kembali. Aku tidak ingin yang lain khawatir." Mira diam selama beberapa detik, sebelum akhir nya menjawab perkataan Gloria.


Walaupun ia setuju untuk kembali, mengikuti saran Gloria. Ia masih tidak yakin apakah ia harus kembali atau tidak. Ia masih ragu, apakah ia sudah mengalahkan ke empat Player atau belum. Ia masih memiliki perasaan tidak enak dengan kemenangan yang mudah ia dapat.


'Apakah aku terlalu paranoid?' Pikir Mira sambil bersiap-siap mengaktifkan sihir (Teleportation) nya.


Saat Mira hendak mengatifkan sihir nya, tiba-tiba tombak cahaya datang dari sisi kiri nya. Saat Mira menyadari ada serangan datang, dari sisi kanan nya ada serangan lain yang datang. Kali ini sebuah panah yang di tutupi dengan api yang sangat besar dan panas.


"Barri-"


Sebelum ia selesai mengucapkan mantra nya, kedua serangan yang datang telah mengenai nya dengan telak.