From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 131 Mira sadar I



Arisa terus menyiksa para penyihir kerajaan, penyihir kerajaan terus berteriak. "Maaf!""Ampuni kami!""Bunuh saja kami!""kami akan keluar dari pikiran Nona Mira!""Mohon ampuni kami!"


Begitulah teriakan para penyihir.


Tapi Arisa tidak dapat mendengar teriakan mereka, karena teriakan mereka teredam (Barrier) Arisa.


"Maaf!! Aku tidak mendengar gongongan kalian anjing sialan!"


Arisa menghina para penyihir, kemudian ia melanjutkan siksaan nya lagi. Itu adalah pemandangan yang mengerikan!


Tubuh penyihir terbakar, tertusuk, terpotong, dan saat mereka ingin mati, mereka di sembuhkan, kemudian di siksa lagi.


Tidak ada yang tahu kapan siksaan itu akan berakhir, dan para penyihir sudah putus asa, mereka sampai memohon untuk di bunuh.


Tapi permohonan mereka tidak dapat di dengar Arisa, jadi Arisa terus menyiksa para penyihir.


"Aku tidak akan membunuh kalian. Jadi kalian tenang saja!"


Arisa terus menyiksa para penyihir. Tidak ada yang tahu berapa lama Arisa sudah menyiksa mereka, bahkan Arisa sampai lupa tujuan utama nya masuk ke pikiran Mira, Arisa terlalu asik menyiksa para penyihir.


"Maaf karena mengganggu mu Arisa.... Tapi, kau harus berhenti menyiksa mereka."


Suara yang tidak asing terdengar di belakang Arisa, ia melihat ke belakang saat mendengar suara itu. Saat berbalik, di lihat nya dua gadis kecil berambut perak. Saat melihat mereka, Arisa langsung memeluk mereka berdua, dengan tangisan yang keras seperti anak kecil.


Para penyihir pun terselamatkan dari siksaan Arisa karena kehadiran kedua gadis kecil berambut perak itu.


"Kak Mira!!" Arisa memeluk kedua Mira. "Syukurlah Kak Mira sudah sadar... Saat tahu Kak Mira tidak sadarkan diri, aku merasa dunia ini sudah berakhir.. Aku sangat bersyukur Kak Mira sudah sadar!" Tangisan Arisa makin kencang setelah mengatakan kalimat memalukan secara beruntun.


"Kau nggak malu ngomong kayak gitu?"


"Sebelum kau menyiksa para penyihir, kau bisa menyembuhkan kami kan?"


Kata kedua Mira memberikan komentar kepada Arisa.


"Aaah, aku lupa hal itu." Jawaban yang tidak terduga keluar dari mulut Arisa.


"Sudahlah... Yang penting aku sudah bisa sadarkan diri sekarang. Arisa, cepat kau gunakan Dispel Magic! Untuk menghancurkan dunia Monokrom ini!"


"Ba-baik!" Arisa menjawab, kemudian ia melepaskan pelukan nya. Lalu mengarahkan tongkat sihir nya kelangit.


"Dispel Magic!" Teriak Arisa.


Muncul retakan di tanah dunia yang tidak memiliki warna kecuali warna putih ini. Retakan itu makin besar, hingga memenuhi seluruh dunia. Hingga akhir nya retakan itu pun menjadi pecahan hingga tidak ada yang tersisa di dunia monokrom ini.


Perspektif : Natasha.


Sudah tiga hari Arisa memasuki pikiran Mira dengan menggunakan mantra sihir yang di beritahu oleh Raja. Selama tiga hari juga, para penyihir menerima luka secara terus menerus.


Raja, Ratu, Yuri. Tidak bisa berada di kamar Mira selama tiga hari, jadi mereka akan mengawasi Mira sewaktu siang sampai malam, saat malam mereka bertiga kembali ke kamar. Jadi yang ada di kamar Mira selama tiga hari adalah. Para penyihir, aku, Jack dan Arisa.


Saat ini matahari berada di tengah-tengah langit, itu tanda hari sudah siang. Dan tanda hari memasuki tengah hari.


Saat itu juga, luka para penyihir berhenti.


Jack mendekati ku, dia seperti nya sadar akan sesuatu.


"Seperti nya Arisa mengingat tujuan utama nya."


"Bagus lah... Kalau dia terus melupakan tujuan utama nya, Mira tidak akan pernah sadar."


Raja, Ratu, dan Yuri ada di kamar Mira, mereka lega saat melihat para penyihir berhenti terluka. Awal nya Ratu dan Yuri kaget sekaligus panik saat melihat para penyihir terluka. Tapi Raja menenangkan mereka. "Luka para penyihir itu dikarenakan mereka berjuang melawan kutukan Mira." Begitulah kata Raja saat menenangkan Ratu dan Yuri.


Saat melihat itu, aku meminta maaf di dalam hati ku. "Luka para penyihir bukan di sebabkan kutukan Mira, tapi di sebabkan oleh Arisa. Mungkin...... Aku tidak yakin, tapi.... Aku MINTA MAAF!" Begitulah yang aku katakan di dalam hati ku, saat melihat Ratu dan yuri panik.


Setelah luka para penyihir berhenti, cahaya di tubuh mereka menghilang, kemudian mereka membuka mata mereka, kecuali Arisa dan Mira. Mereka tidak membuka mata.


"Aaakh!! Ampuni kami!"


Semua orang terkejut saat melihat para penyihir berteriak.


Bahkan aku terkejut, tentu saja aku terkejut... Mereka tiba-tiba sadar, lalu berteriak seperti mereka mengalami hal buruk dari pada kematian.... Jika Arisa terlibat dengan teriakan mereka, aku semakin merasa bersalah.


"Entah kenapa aku ingin meminta maaf!"


Jack berkata di samping ku sambil menutup wajah nya.


"Kenapa kau ingin meminta maaf?"


Aku sebenarnya tahu alasan Jack. Tapi aku ingin mencoba bertanya.


"Entah kenapa...... Rasanya hanya ingin saja."


Sudah ku duga dia akan menjawab seperti itu... Dia pasti tahu kalau Arisa bersalah, tapi karena dia tidak memiliki bukti untuk itu, dia menjawab seperti itu, dari pada menjawab. "Karena Arisa bersalah untuk luka para Penyihir. Aku meminta maaf."


Aku merasa iba pada Jack. Saat Arisa sadar aku akan memarahi nya.


Langit mendengarkan harapan ku, Arisa sadar! Saat sadar, dia menarik nafas panjang seperti habis keluar dari dalam air.


Saat melihat Arisa sadar, para penyihir bersujud di depan Arisa.


"Ka-kami minta maaf! Kami membuat keputusan bodoh!! Kami benar-benar minta maaf! Jadi kami mohon ampuni kami!" Kata salah satu penyihir.


"Kami juga minta maaf!" semua penyihir menjawab setelah penyihir pertama menyelesaikan kalimat nya.


Raja, Ratu, dan Yuri menatap para penyihir dengan kebingungan.


Sedangkan aku dan Jack menghela nafas panjang. Kemudian kami bergumam kecil bersama-sama. "Sudah ku duga dia terlibat!" suara ku dan Jack tumpang tindih. Kami bergumam sangat pelan, jadi tidak perlu khawatir suara kami kedengaran oleh Raja, Ratu dan Yuri.


"A-anu.... Sebenarnya apa yang terjadi?" Yuri bertanya.


Ratu, dan Yuri melihat ke arah Raja. Kemudian Raja menggelengkan kepala nya, setelah itu Raja melihat ke arah Arisa.


"Bagaimana cara ku menjelaskan nya ya....." Kata Arisa sambil menggaruk pipi nya. "Jadi begini-"


Penjelasan Arisa di potong oleh seseorang yang sudah kami harapkan kesadaran nya.


"Untuk masalah itu tidak perlu di pikirkan. Mereka berusaha untuk menyembuhkan ku, karena itu mereka terluka. Jadi aku ingin ayah memberikan mereka gaji tambahan untuk itu."


Raja, Ratu, Yuri, Aku, Jack, Arisa dan para penyihir melihat ke arah kasur berkanopi tempat Mira terbaring, di sana ada Mira yang tidak lagi terbaring lemah. Tapi Mira duduk di kasur nya dengan wajah bersemangat seperti biasanya.


Itu bukan air mata kesedihan, itu adalah air mata kebahagiaan.


Perspektif : Mira.


Saat aku tersadar, aku melihat para penyihir bersujud di depan Arisa. Semua orang melihat ke arah para penyihir, jadi mereka tidak sadar kalau aku sudah sadar.


Kalian di sini menunggu aku sadar kan? Lalu kenapa kalian malah tidak sadar kalau aku sudah sadar!


Aku memprotes semua orang di dalam kepala ku.


Aku menghela nafas. Lalu aku mengidentifikasi kondisi yang sedang terjadi, dari hasil identifikasi ku, Arisa seperti nya di suruh untuk menjelaskan kenapa para penyihir bersujud.


Arisa seperti nya kesusahan, jadi aku memutuskan untuk membantu nya.


Saat aku mulai berbicara, barulah semua orang sadar kalau aku sudah sadar.


Ibu langsung memeluk ku saat tahu aku sudah sadar.


"Maaf membuat semua nya khawatir."


Ibu melepaskan pelukan nya, kemudian ia melihat ke ayah dengan wajah serius.


"Charles!! Aku punya permintaan untuk mu!"


"Apa itu?"


"Aku ingin kau membatalkan tes nya... Aku tahu permintaan ini tidak masuk akal, karena tes itu sudah sampai tahap pertengahan. Tapi kondisi Mira tidak memungkinkan untuk mengikuti tes itu. Jadi aku ingin tes itu di batalkan."


"Baiklah akan ku batalkan!"


Langsung di jawab!? Bukan nya tes itu untuk mencari pewaris tahta!? Apakah tidak apa-apa tes itu di batalkan karena kondisi ku sekarang?


"Kalau begitu akan ku umumkan sekarang."


"Tu-tunggu ayah!" aku berteriak menghentikan ayah.


"Kenapa Mira?"


"Aku sudah tidak apa-apa. Aku masih bisa memimpin sebuah kota sekarang! Jadi tes itu tidak perlu di batalkan, lagi pula tes itu tinggal lima bulan lagi berakhir, akan sayang bila di batalkan sekarang."


"Tapi tes itu tidak akan seru jika bintang utama nya tidak ada."


Bintang utama itu aku!? Lagi pula tes ini di laksanakan waktu aku di usir kan? Seharus nya tidak masalah kan kalau tes ini di lanjutkan?


"Walaupun tes itu tidak dilaksanakan sampai selesai, kami juga sudah tahu siapa yang akan mendapatkan peringkat pertama nya." Ayah melanjutkan perkataan nya.


"Eeeh, lalu siapa peringkat pertama nya?"


"Kamu Mira!" Ibu menjawab.


Sudah ku duga! Dengan begini aku mewarisi tahta kerajaan! Aku mewarisi tahta kerajaan.... Aku mewarisi tahta kerajaan... Aku mewarisi.... Tahta kerajaan.... Mewarisi..... Tahta?


Gawat!! Kalau itu benar! Aku tidak bisa menyelesaikan Quest khusus ku!


Quest khusus?


Apa itu?


Aku tidak tahu! Tapi rasanya itu sangat penting!! Dan jika aku mewarisi tahta, aku tidak bisa mendapatkan hal yang penting itu?


Hmmm..... Entah kenapa kepala ku menjadi sangat sakit sekarang!


Aku memegangi kepala ku, lalu semua orang langsung berteriak khawatir.


"Mira!!"


"Aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing... Yang lebih penting..... Ayah, apakah aku mewarisi tahta kerajaan?"


"Menurut peraturan seperti itu."


"Kalau begitu jangan batalkan tes nya. Kita masih belum tahu hasil akhir tes nya, bisa saja hasil akhir nya berubah nanti... Kita tidak akan tahu apa yang terjadi dalam waktu 5 bulan kedepan."


Ibu melihat ke ayah dengan wajah khawatir.


Saat di tatap Ibu, ayah memasang wajah bermasalah. Setelah berdiam selama beberapa detik, ayah kemudian menjawab.


"Tes nya akan ku lanjutkan." Ayah menghela nafas. "Walaupun di lanjut aku rasa tidak akan ada yang berubah."


"Terima kasih ayah."


"Tapi ada syarat nya.... Mira tidak boleh pergi ke kota Cocoa! Kau hanya boleh memimpin kota mu dari istana! Akan ku berikan burung pengantar pesan pada mu, kau boleh menggunakan itu untuk memberi instruksi pada bawahan mu yang ada di sana."


"Tunggu dulu... Bagaimana bila bawahan ku tidak akan mengukuti instruksi ku? Lalu bagaimana jika dia mengkorupsi uang pajak? Selama aku tidak mengawasi, hal buruk bisa saja terjadi di kota Cocoa."


"Kalau masalah itu aku jamin tidak akan terjadi... Aku tahu Leonardo itu orang yang seperti apa. Jadi dia pasti akan mengikuti semua instruksi mu."


"Tapi aku masih tidak percaya dengan nya.... Bagaimana dia memiliki skema jahat di dalam pikiran nya, kita tidak tahu apa yang ada di pikiran orang lain, jadi aku ingin pergi ke kota Cocoa dan mengawasi langsung di sana."


"Kau ini sangat keras kepala.... Mirip seperti ibu mu waktu masih muda."


Saat mendengar hal itu, Ibu memasang wajah sombong. Wajah ibu seperti mengatakan. "Tentu saja, lagi pula Mira itu putri ku!"


"Baiklah kau boleh ke kota Cocoa,"


Rasa senang ku saat ini sudah maksimal.


"Tapi hanya sebulan sekali."


Sekarang rasa senang ku mencapai angka mines.


Aku menghela nafas panjang. Lalu pasrah menerima keadaan.....


Tunggu dulu!! Aku punya ide!


Dengan rencana ini, aku bisa menolak tahta kerajaan secara tidak langsung.