From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 294 Tiga Orang Misterius



Awan jamur setinggi sepuluh kilometer nampak sangat jelas terlihat saat aku dan Arisa terbang di atas langit. Kami saat ini berada di jarak aman dari tempat ledakan bom nuklir terjadi. Walaupun kami sudah berada di jarak aman, kami masih bisa mendengar dentuman keras yang di akibatkan ledakan bom nuklir.


Melihat pemandangan awan jamur hasil dari ledakan bom nuklir membuat aku merinding, ketakutan... Aku menelan ludah ku sendiri, berusaha menenangkan diri... Walaupun aku sudah selamat dari ledakan itu, aku masih tidak sanggup untuk menghela nafas lega. Sebegitu mengerikannya lah pemandangan yang ku saksikan dengan kedua mata ku ini... Aku sekali lagi menelan ludah ku.


Sebagai salah satu upaya ku menenangkan diri dari ketakutan menyaksikan ledakan bom atom, aku mengalihkan pandangan ku dari awan jamur ke arah wajah Arisa... Aku melihat ekspresi nya, dan segera mengetahui perasaan apa yang ia rasakan saat melihat ledakan bom atom.


Berbanding terbalik dengan ku yang ketakutan. Arisa nampak sangat tenang, ekspresi wajah nya datar, tidak menunjukkan emosi apapun. Kagum, takut, takjub, dan emosi lain nya, tidak dapat terlihat dari wajah nya... Atau mungkin dari awal ia tidak merasakan apapun setelah melihat pemandangan di depan kami?


Saat aku berpikir seperti itu, ekspresi wajah Arisa berubah... Dan emosi yang dia tunjukkan dari ekspresi wajah nya adalah....


Amarah.


Itu benar. Arisa nampak marah melihat pemandangan awan jamur yang meninggi kelangit.


"Arisa..." Aku memanggil nya. Sesaat aku memanggil nya, ekspresi wajah Arisa menjadi datar kembali, ia kemudian melihat ke arah ku.


"Ada apa?" Tanya nya.


".... Tidak... Hanya saja... Mengapa kau nampak begitu marah melihat pemandangan ini?" Aku awal nya ragu untuk bertanya, tapi pada akhir nya aku pun memutuskan bertanya pada nya.


Menanggapi pertanyaan ku, Arisa menunjukkan wajah kebingungan, dengan nada yang meragukan ia bertanya balik pada ku. "Aku? Nampak marah?" Kata nya.


"Ya! Itu semua tergambar jelas di wajah mu." Jawab ku.


"... Begitu ya..."


Hanya itu yang bisa ia katakan. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi, dan juga wajah nya menunjukkan ekspresi kalau ia tidak ingin pembahasan sebelum nya di lanjutkan, aku pun memutuskan untuk berhenti bertanya lebih lanjut pada nya.


Saat kami bercakap-cakap seperti ini, gelombang kejut yang tercipta akibat ledakan bom atom terus terjadi. Gelombang kejut itu menciptakan angin kencang, angin itu terus menerpa wajah kami.


Beberapa menit kemudian, awan jamur berangsur-angsur mengecil, angin kencang yang sebelum nya menerpa wajah kami juga berangsur-angsur melemeh. Saat itulah sesuatu terjadi...


Sebuah pilar cahaya muncul di tengah-tengah awan jamur, di sertai dengan angin yang sangat kencang. Angin itu membuat keseimbangan terbang Arisa terganggu, akibat nya, aku yang berada di pelukan nya hampir terjatuh. Untung nya, Arisa memperkuat dekapan tangan nya ke tubuh ku.


Aku sebenar nya ingin terbang dengan kekuatan ku sendiri, tapi semenjak tubuh ku melemah, terbang sebentar saja membuat stamina ku berkurang secara signifikan... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, karena itu, untuk aman saja aku pun di bantu Arisa saat terbang. Arisa memahami fakta itu, ia pun dengan senang hati membantu ku terbang, padahal aku tidak memerintahkan nya.


Aku merasakan energi sihir yang sangat besar muncul dari dalam pilar cahaya yang dalam beberapa detik lagi akan menghilang. Saat pilar cahaya betul-betul menghilang, tanah bekas ledakan bom atom dapat terlihat. Di sana terdapat kawah besar dengan lebar 45 meter dan kedalaman nya mencapai 80 meter, sudah jelas kawah itu tercipta akibat dari ledakan atom sebelum nya. Itu menandankan ledakan dari bom atom itu sangat besar.


Jarak kami dengan pusat ledakan sangat jauh, aku bisa melihat kawah itu di karenakan kemampuan mata emas ku, yang di mana mata ku ini memiliki kemampuan penglihatan jarak jauh. Arisa juga dapat melihat nya, jika ia menggunakan sihir (Clairvoyance).


"Hmm...? Itu kan..."


Saat aku memfokuskan pandangan ku, aku dapat melihat sosok dari dalam kawah... Semakin aku memfokuskan pandangan ku, semakin jelas sosok yang ada di tengah kawah itu. Sosok itu adalah orang, dan bukan hanya seorang tapi ada beberapa orang, tiga orang tepat nya.


"..."


Arisa juga memfokuskan pandangan nya ke tiga orang yang berdiri di tengah kawah, ekspresi nya cemberut, ia nampak tidak senang dengan kehadiran tiga orang itu.


"!"


Saat aku terus memfokuskan pandangan ku ke ketiga orang yang muncul secara tiba-tiba itu, salah satu dari tiga orang itu melakukan sesuatu, tepat di saat itulah aku merasakan sesuatu yang sangat berbahaya sedang mendekat.


Tiba-tiba ada sebuah tombak berwarna hijau terang terbang ke arah kami, Arisa dengan sigap mengaktifkan sihir (Barrier). Saat tombak berkontak langsung dengan (Barrier), tombak itu langsung tertutupi dengan angin yang berbentuk seperti bor. Bor angin itu berputar dengan kencang, berusaha menerobos (Barrier) Arisa. (Barrier) Arisa mulai menunjukkan kerusakan, retakan yang sangat besar. Setelah itu, (Barrier) Arisa benar-benar hancur berkeping-keping seperti kaca yang jatuh dari ketinggian.


Arisa dengan tangan kosong menahan tombak berwarna hijau terang itu, saat ia melakukan itu, tangan kanan yang di gunakan nya untuk menahan, hancur berkeping-keping. Darah yang sangat banyak keluar dari tangan Arisa yang hancur. Untung nya, mengorbankan tangan nya adalah pilihan yang tepat. saat tangan Arisa hancur, tombak hijau terang menghilang seperti embun di pagi hari.


Arisa segera menggunakan sihir Penyembuh untuk meregenerasi tangan nya, kemudian ia menggunakan sihir air untuk membersihkan tubuh ku dan tubuh nya yang tertutupi dengan darah segar, setelah tangan nya kembali seperti semula, tubuh kami berdua sudah bersih, Arisa menggunakan sihir angin untuk mengeringkan tubuh kami yang sebelum nya basah akibat sihir air yang ia gunakan sebelum nya.


"Siapa mereka...? Salah satu dari mereka dapat menghancurkan Barrier ku dengan mudah." Kata Arisa pada diri nya sendiri.


"Entahlah... Yang jelas mereka sangat berbahaya, energi sihir yang kurasakan sebelum nya dari mereka." Walaupun ia tidak berbicara pada ku, aku memutuskan untuk menjawab pertanyaan nya.


"Siapapun mereka, kita tidak boleh berdiam di sini." Arisa memberikan saran.


"Kau benar..." Dengan anggukan kecil, aku menyetujui saran nya.


Aku dan Arisa pun memutuskan untuk turun ke tanah, mendatangi ketiga orang yang baru saja menyerang kami.