From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 273 Hari Ketiga Invasi VIII



Beberapa menit setelah pengangkatan ku menjadi panglima perang, aku saat ini berada di dalam tenda divisi strategi, membahas rencana untuk membalikkan keadaan. Di dalam tenda ada para komandan dari Divisi strategi, Selir Shina, Raja dari tiga kerajaan besar Benua Silia, Putri Catulus, Arisa, Natasha dan Jack.


Perhatian semua orang terfokus pada ku, yang saat ini berdiri di samping meja yang di atas nya terdapat peta perbatasan. Di atas peta, terdapat beberapa pion berwarna merah yang bergerak, pion itu terletak di atas peta yang menunjukkan daerah perbatasan antara Benua Chiso dan Benua Yuro secara spesifik.


Pion berwarna merah itu adalah pion sihir yang merepresentasikan pasukan Demon, jadi pion merah itu bergerak sesuai dengan pergerakan pasukan Demon.


Kenapa Pion itu bisa bergerak sesuai dengan pergerakan pasukan Demon, jawaban nya sudah pasti dengan sihir. Mengenai sihir apa yang di gunakan, aku tidak tahu sihir apa yang di gunakan pada pion itu. Jika kondisi nya tidak sedang gawat, aku pasti akan meneliti sihir apa yang di gunakan untuk membuat pion itu bergerak sesuai pergerakan pasukan Demon, tapi karena kondisi saat ini sedang gawat, aku harus mengurungkan niat ku untuk meneliti pion itu lebih lanjut.


Aku terus memperhatikan pergerakan pion yang semakin dalam memasuki perbatasan Benua Yuro, bahkan menurut peta, mereka sudah melewati tiga desa berisi penduduk. Dan untuk nasib penduduk desa itu sudah pasti mereka tidak selamat.


"Jadi, apa kalian menemukan cara menghentikan pasukan Demon?"


Setelah melihat pergerakan pion, aku sebenarnya menemukan cara untuk menghentikan mereka, tapi aku tidak ingin memberitahu semua orang yang ada di ruangan ini.


"Jika kami menemukan nya, kami pasti tidak akan meminta bantuan mu." Jawab Selir Shina dengan sedikit kesal.


"Begitu ya... Kalau boleh jujur, aku juga tidak menemukan cara. Seperti nya kita harus menyerah."


Mendengar jawaban Selir Shina, aku sedikit bercanda, menyarankan kita menyerah ke pasukan Demon.


"Cih... Dasar tidak berguna!"


"Jangan bodoh! Kami tidak mungkin menyerah pada para penjajah!"


"Kalau kau tidak memiliki rencana, tidak ada gunanya kau di pilih menjadi panglima perang."


Para komandan mengejek ku dengan suara tinggi, mereka masih kesal aku di angkat menjadi panglima perang tanpa persetujuan mereka.


"Kalian menyalahkan ku? Setelah kalian sendiri yang membuat situasi kita menjadi seperti ini? Lagipula aku di minta memikirkan rencana secara mendadak di sini, tidak mungkin aku mendapatkan ide dengan cepat. Aku memerlukan waktu sehari untuk menemukan cara menghentikan pasukan Demon. Dan untuk seseorang yang mengatakan aku tidak berguna, apakah kau tidak memiliki cermin? Setelah seharian penuh memikirkan rencana, kalian masih tidak menemukan cara menghentikan pasukan Demon. Siapa yang tidak berguna di sini?"


"...."


Mendengar perkataan ku, para komandan dari divisi strategi tidak bisa berkata-kata. Wajah mereka terdistorsi, mereka semua menatap ku dengan mata di penuhi dengan kebencian. Melihat mereka yang seperti itu, aku hanya bisa tersenyum puas.


Haaah.... Sudah lama aku tidak membuat orang kesal. Menghancurkan harga diri seseorang memang hal yang sangat menyenangkan. Dalam sekejap senyum puas ku berubah menjadi senyum jahat.


"Nona Mira. Bisakah anda memikirkan masalah ini dengan serius?"


"Baiklah... Aku akan memutar otak ku sedikit untuk menyelesaikan masalah ini."


Dengan senyum mengejek yang ku arahkan ke para komandan, aku menjawab Natasha.


"Heh... Walaupun kau berpikir dengan sekuat tenaga, tidak mungkin kau bisa menemukan rencana untuk membalikkan keadaan." Kata salah satu komandan, membalas ejekan ku.


Mendengar nya berkata seperti itu, sudut bibir ku makin melengkung, menciptakan senyum sadis. Dengan nada santai, aku pun mulai bicara, memberitahu rencana ku.


"Aku tidak perlu berpikir keras," Kata ku memprovokasi. "Aku sudah menemukan cara untuk menghentikan mereka. Bahkan aku bisa membalikkan keadaan." Yah... Itu pun jika kondisi di pertempuran nanti sesuai dengan prediksi ku. Aku menambahkan di dalam kepala ku.


Aku sangat yakin dapat membalikkan keadaan, jika tidak ada kondisi tidak terduga. Sebagai contoh. Pada hari pertama invasi, rencana ku dapat berjalan dengan lancar karena pergerakan para Demon sesuai dengan perhitungan ku, jika saat itu ada Demon yang dapat terbang, mungkin rencana ku akan berakhir gagal. Karena aku tidak dapat membantai mereka sekaligus dalam penyerangan bombardir ke kota Paela.


"Ya. Ya. Kau hanya bisa bicara omong kosong," Mendengar provokasi ku, salah satu komandan tersulut emosi nya. "Buktikan kepada kami jika kau memiliki rencana yang dapat membalikkan keadaan pada situasi seperti ini!" Kata nya di penuhi dengan emosi, tangan nya beberapa kali memukul meja dengan keras.


"..... Apakah seperti itu cara mu meminta tolong?" Kagum dengan cara komandan itu yang menyuruh ku untuk memberitahu rencana ku dengan arogan, aku menjadi terdiam sejenak, sebelum akhir nya aku bisa membalas perkataan nya.


"Hah?"


"Apakah begitu cara mu meminta tolong? Dengan gaya bicara yang sombong seperti itu? Asal kau tahu, aku bisa menggunakan hak ku untuk diam di sini. Bahkan jika seluruh kerajaan di Benua Yuro hancur, aku akan tetap diam. Aku tidak memiliki hak untuk membantu negara dari Benua asing yang bisa kapan-kapan menginvasi ke Benua kami. Kalau boleh jujur, aku mengharapkan Benua Yuro di tundukkan dalam invasi kali ini, karena aku bisa dengan mudah menghabisi pasukan Demon jika mereka memasuki perbatasan Benua Silia." Saat aku mengatakan itu, energi sihir ku bocor keluar, membuat semua orang di dalam ruangan tersentak, wajah mereka memucat... Dalam dunia ini ada tiga hal yang ku benci. Pertama di khianati. Kedua di hina lemah oleh seseorang yang lebih lemah dari ku. Dan ketiga, di perintah oleh seseorang yang lebih lemah dari ku... Komandan yang barusan, memerintahkan ku, padahal dia lebih lemah dari ku. Itu sudah cukup untuk menyulut emosi ku. "Aku akan bertanya sekali lagi, apakah seperti itu cara mu meminta tolong?" Dengan suara rendah di penuhi dengan emosi, aku bertanya pada komandan sebelum nya yang memerintahkan ku dengan arogan.


".... To-to-tolong... Be-beritahu. Ka-ka-ka-kami rencana nya..." Karena tidak tahan dengan tekanan energi sihir ku, komandan itu menjawab dengan sopan dan terbata-bata, wajah nya semakin memucat, seakan-akan ia adalah mayat, dan ekspresi wajah nya di penuhi dengan ketakutan yang sangat dalam.


Mendengar nya yang meminta dengan sopan, aku hanya bisa menjawab. "Baiklah... Akan ku beritahu rencana nya pada kalian." Kata ku sambil tersenyum bahagia.


***


Sementara Mira menjelaskan rencana nya, beberapa orang yang hadir di di dalam tenda, merasakan energi sihir Mira. Mereka semua memikirkan hal yang berbeda-beda tapi sampai pada kesimpulan yang sama. Kesimpulan yang mereka capai adalah: 'Kekuatan Mira sangat mengerikan.'


'Aura yang sangat mengerikan. Energi sihir nya melebihi milik ku dan milik Jack. Sejak kapan dia sekuat ini?' Pikir Charles dengan wajah pucat.


'Apa itu tadi? Energi sihir barusan milik Mira?' Pikir Shina dengan wajah di penuhi dengan ketakutan.


'Bruno... Apakah rencana mu benar-benar akan berhasil...? Mira masih menakutkan seperti dulu. Ah. Saat ini Mira memiliki Glory Rod bukan? Itu berarti kekuatan nya akan jauh lebih mengerikan.... Aaaaah. Seharus nya aku tidak memberitahu keberadaan Glory Rod. Kalau seperti ini rencana Bruno akan betul-betul bisa gagal.... Tidak... Aku harus percaya pada Bruno, kami sudah sejauh ini, hanya ini harapan kami untuk bisa pulang.' Pikir Catulus, wajah nya juga sama seperti yang lain nya, yaitu wajah yang di penuhi dengan ketakutan.