From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 274 Hari Ketiga Invasi IX



Di suatu Benua. Benua ini terkenal dengan Benua pembuangan. Itu benar, Benua Aziliya. Benua yang hanya ada tanah tandus, batu kapur dan pasir sejauh mata memandang.


Di tempat yang tidak memiliki apa-apa selain batu kapur dan pasir ini ada sebuah bangunan berdiri dengan megah, dan para orang sakit yang biasa tergeletak di tanah, tidak dapat di temukan lagi. Semua orang-orang sakit itu kini berada di dalam bangunan megah yang berdiri kokoh di Benua ini.


Yang mendirikan bangunan megah itu tidak lain dan tidak bukan adalah para 'Player' lebih tepat nya Siegurd dan Javelin yang mendirikan bangunan itu.


Bangunan itu berbentuk lingkaran, dengan kubah yang menjadi atap nya, berwarna putih bersih dan berukuran sekitar 50 meter persegi. Siegurd dan Javelin menyebut bangunan ini dengan nama, 'Laboratorium'.


Sebenarnya Siegurd dan Javelin sudah memindahkan laboratorium mereka ke Benua Chiso. Hanya saja setelah di pindahkan laboratorium mereka berubah fungsi. Yang awal nya meneliti sesuatu mengenai mahluk hidup, menjadi meneliti item sihir. Alhasil laboratrium mereka yang di Benua Chiso hanya berfokus dalam mengembangkan dan menciptakan item sihir, contoh produk hasil ciptaan mereka dari laboratorium di Benua Chiso adalah: 'Item penyembunyi energi sihir.'


Karena pengurangan fungsi itulah, Siegurd dan Javelin memutuskan untuk memindahkan laboratorium mereka ke tempat semula, yaitu Benua Aziliya. Dengan tujuan meneliti sesuatu yang belum mereka selesaikan, yang di mana sesuatu ini akan membalikkan keadaan dalam penyerangan ke Benua Yuro nanti.


Alasan mereka bisa leluasa meneliti tentang mahluk hidup di Benua ini karena ada banyak mahluk hidup yang sudah tidak mengharapkan untuk hidup lagi di Benua ini, dan tidak akan ada lagi yang peduli terhadap mereka. Jadi Siegurd dan Bruno bisa melakukan apapun pada mereka, walaupun yang Siegurd dan Javelin lakukan pada mahluk hidup itu jauh di luar dari perikemanusiaan. Untuk lebih singkat nya, mereka melakukan penelitian yang sangat gila, sampai-sampai membuat tikus percobaan mereka berharap untuk mati dari pada harus menjadi tikus percobaan mereka, bahkan di antara tikus percobaan Siegurd dan Bruno ada yang mencoba untuk bunuh diri, karena tidak tahan menjadi tikus percobaan mereka.


Siegurd yang saat ini sedang berada di lorong, yang di mana di sisi kiri dan kanan nya banyak terdapat mayat mahluk hidup dari berbagai Ras, binatang, dan monster tergeletak memanjang mengikuti lorong yang di lewati Siegurd. Di tangan nya ada sebuah papan yang berguna untuk menahan kertas yang di gunakan nya untuk menulis.


Siegurd berjalan sambil melihat ke arah mayat, sambil menulis di atas kertas, hasil penelitian yang telah ia lakukan bersama dengan teman nya, Javelin.


Hasil dari penelitian mereka berdua sangat memuaskan. Mereka berhasil menciptakan 'sesuatu' untuk membalikkan keadaan dalam peperangan nanti. Yang perlu mereka lakukan hanyalah produksi masal 'sesuatu' itu.


Siegurd sudah sampai di ujung lorong, kertas nya pun sudah selesai terisi data-data hasil penelitian terhadap mahluk hidup yang ada di Benua Aziliya. Setelah selesai mendata, Javelin tiba-tiba muncul di samping Siegurd. "Hmmm.... Untuk menciptakan satu saja sudah memakan banyak korban. Apakah kita bisa memproduksi masal benda itu?" Gumam Javelin setelah melihat kertas berisi data penelitian yang ada di tangan Siegurd.


Karena posisi Javelin yang tepat di samping Siegurd, dia bisa mendengar gumaman Javelin dengan jelas. Dengan wajah lelah, Siegurd menanggapi gumaman Javelin. "Bisa saja. Tapi melihat jumlah mahluk hidup yang ada di Benua ini kita hanya bisa menciptakan lima saja."


"Li-lima... Serius?" Mendengar jumlah yang sangat sedikit, Javelin tercengang, dengan terbata-bata ia memastikan jawaban Siegurd sekali lagi.


"Kau pikir aku bercanda?"


"Serius?"


"Sangat serius?"


"Uuugh...." Mendengar jawaban Siegurd yang tanpa jeda dan percaya diri, Javelin menjadi depresi. Ia pun jatuh terduduk di lantai dengan kepala tergantung, aura gelap dan suram mengelilingi nya. "Jika di gabung dengan yang kita buat barusan, total benda itu hanya akan berjumlah enam. Apakah itu cukup untuk membalikkan keadaan dalam peperangan nanti?"


"...Pasti bisa! Oleh karena itu kita harus membuat tipe khusus yang akan menjadi kunci dalam peperangan nanti." Siegurd terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Javelin, wajah nya nampak ragu, ia akhir nya menjawab Javelin dengan tegas, berusaha meyakinkan Javelin dan juga diri nya sendiri.


Setelah mendengar jawaban dari teman nya, Javelin mengangkat kepala nya, menatap mata teman nya. Wajah nya nampak ragu, seakan-akan mengungkapkan kalau dia tidak percaya dengan perkataan nya sendiri. Tapi di dalam ekspresi keraguan itu, menunjukkan tekad yang kuat! Tekad kuat untuk mewujudkan kata-kata nya menjadi kenyataan. Tanpa sadar sudut mulut Javelin terangkat menjadi senyuman lembut, sebelum akhir nya ia membuka mulut nya. "Kau benar. Kita pasti bisa."


\*\*\*


Di tempat lain, di perbatasan antara Benua Chiso dan Benua Yuro. Tempat berdiri nya markas pusat pasukan Demon, yang saat ini berfungsi menjadi rumah pribadi para 'Player.'


Di markas pusat Demon ini, masih tersisa satu 'Player' yang masih belum bergerak. Dia adalah Bruno. 'Player' yang menyusun semua strategi untuk pasukan Demon, dia juga adalah pemimpin dari 'Player' lain nya.


Bruno masih belum bergerak sama sekali, jawaban nya sangat simple. Dia belum memiliki peran dalam peperangan ini, peran yang telah ia siapkan untuk diri nya sendiri masih belum tiba waktu nya. Dia saat ini masih belum menjadi aktor dalam drama penyerangan ini, tapi dia saat ini menjadi sutradara yang akan mengatur aktor-aktor yang akan berperan dalam drama penyerangan ini.


Dan saat ini ia sedang melakukan itu, menyuruh seseorang untuk menjalankan peran nya dalam drama kali ini.


Bruno di markas tidak sendiri, masih ada orang yang bersama nya. Dan orang itu adalah Demon Lord bersama dengan anak nya.


"Di hari kedua Invasi kita berhasil membuat pasukan kita memukul mundur pasukan aliansi dan membuat pasukan kita berhasil memasuki perbatasan. Pasukan aliansi saat ini sedang kekusahan untuk memukul mundur pasukan kita. Sebagai bukti, pasukan kita saat ini makin dalam menerobos masuk ke perbatasan musuh." Kata Bruno, menyingkat prestasi pasukan Demon pada hari kedua Invasi kemarin.


"Anda benar tuan," Jawab Demon Lord dengan sopan. Sambil membungkuk. "Ini semua berkat strategi brilian dari anda." Demon Lord memuji Bruno dengan jujur.


Bruno tersenyum dengan wajah sombong mendengar pujian dari Demon Lord, tapi dalam sekejap wajah nya berubah menjadi cemberut, seakan-akan ia melihat sesuatu yang memuakkan. "Kau benar, itu semua berkat strategi jenius ku. Tapi, jangan lupa di pasukan Aliansi ada seseorang yang jauh lebih jenius dari pada ku. Dan kita tidak bisa berpuas diri hanya karena pasukan kita berhasil menerobos masuk ke perbatasan.


Oleh karena itu, kita harus membuat pergerakan selanjut nya!"


Bruno menarik nafas dalam-dalam, lalu ia menjulurkan tangan kanan nya ke depan, dengan jari telunjuk nya ia menunjuk ke wajah Demon Lord.


"Kau! Aku perintahkan kau maju ke garis depan! Kau tidak boleh kembali sebelum kau berhasil memenggal kepala Raja dari kerajaan Fantasia! Dan kau!" Kali ini Bruno menunjuk ke arah anak Demon Lord. "Kau bertugas membantu ayah mu membunuh Raja kerajaan Fantasia!"


".... Apakah bantuan ku perlu?"


"Kalau kau terlalu meremehkan Ras Human, kau akan menerim akibat nya."


Mengingat apa yang terjadi pada nya, saat ia menghina para 'Player' anak Demon Lord tidak bisa membalas perkataan Bruno. Ia akhir nya sadar, jangan menilai seseorang dari penampilan dan Ras nya. Terkadang penampilan seseorang bisa menipu


Sebagai contoh: Seorang gadis kecil yang terlihat lemah, dan nampak tidak berdaya, serta di lahirkan dari Ras yang katanya Ras paling lemah, yaitu Ras Human. Ternyata seorang monster yang dapat menundukkan Ras yang katanya Ras terkuat, yaitu Ras Vampir.


"Baiklah. Jika ayah kesulitan, aku akan dengan senang hati membantu nya." Jawab anak Demon Lord.


Mendengar jawaban anak Demon Lord, Bruno tersenyum. Ia pun mengirim Demon Lord ke garis depan pertempuran, untuk bersiap-siap memasuki peperangan.