From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 164 Kebenaran dari pengendalian pikiran. Perspektif Natasha.



"Serius. Apa yang terjadi di sini?" Mira bertanya sewaktu kami memasuki Vila.


Keadaan Vila saat ini sangat mengerikan, beberapa barang berhamburan di sana-sini, Sofa yang biasa menjadi tempat duduk kami, dalam posisi terbalik, sofa itu ada di ujung ruangan, meja tempat biasa menaruh cemilan, tersangkut di tangga untuk naik ke lantai dua, ada beberapa pisau yang menancap di dinding, ambang pintu yang terlepas, dan yang paling parah, Para Vampir, Lizard, Rabisia dan Jack terbaring lemah di lantai. Mereka seperti mayat yang di biarkan membusuk di tengah peperangan.


"Ini semua salah mu!" Thinkie yang selama ini berdiam diri di atas kepala ku angkat bicara.


"O. Iya. Ngapain Thinkie di sini?" Tanya Mira.


"Apa itu!? Seharusnya kau berterima kasih! Tanpaku kau tidak mungkin bisa sadar!"


"Begitu ya. Kalau begitu terima kasih. Walaupun aku tidak tahu alasan nya kenapa aku harus berterima kasih padamu."


"Kau tidak ikhlas mengucapkan terima kasih kan? Katakan dengan ikhlas, dari lubuk hati mu. Asal kau tahu, kau itu utang budi pada ku.... Dengar kan aku sialan!!"


Mira mengabaikan ocehan berisik Thinkie, ia berjalan mendekati Jack yang tidak sadarkan diri di pojok ruangan, saat dekat dengan Jack Mira menendang perut Jack sambil berteriak.


"Bangun Wooy!"


Jack tersadar, kemudian ia menjerit kesakitan.


"Ka-kak Mira. Kak Mira sudah sadar?" Tanya Jack sambil memegangi perut nya yang habis di tendang Mira.


Mira mengabaikan pertanyaan Jack, ia menyentuh kepala Jack lalu Mira menggunakan sihir (Heal) untuk mengobati wajah Jack yang bonyok dan seluruh luka di tubuh Jack.


"Sadarkan semua orang! Setelah itu simpuni semua barang, dan baiki pintu yang rusak. Aku ingin berganti pakaian di kamar."


Jack mengangguk. "Ba-baiklah. Akan ku lakukan."


"Natasha, ikut aku ke kamar. Kau bawa baju ganti ku kan?"


"Iya aku bawa."


"Kalau begitu ayo!"


Mira berjalan naik ke lantai dua melalui tangga, meja yang menghalangi jalan di lemparkan nya ke lantai satu, kemudian ia lanjut lagi berjalan menuju kamar nya.


Aku berjalan perlahan menyusul Mira, saat menaiki tangga, aku melihat ke arah Jack lalu memberikan nya semangat. Setelah itu aku lanjut berjalan menyusul Mira lagi.


"Dia terlalu santai." Kata Thinkie dari atas kepala ku. "Seharus nya jika dia baru sadar, lalu melihat rumah nya dalam keadaan setengah hancur, kemudian melihat banyak orang tidak sadarkan diri tergeletak di lantai, seharus nya orang normal akan panik kan? Tapi dia...."


"Memang begitulah sifat nya, saat melihat Kakak nya sedang di kendalikan oleh orang asing, dia juga tidak panik. Bahkan saat itu dia tersenyum dan dengan percaya diri melihat ke arah kakak nya yang sedang di kendalikan. Mungkin karena sifat nya itu, yang membuat kami yakin kami pasti bisa mengalahkan musuh apapun."


"Bukan nya keyakinan itu sudah ada sejak dulu sebelum kau bertemu Mira?"


"Keyakinan itu belum ada pada diri kami, bahkan Kakek buyut ku yang mendeklarasikan perang kepada seluruh Ras saja tidak yakin kalau kami bisa menang. Aku pun dulu tidak yakin bisa mengalahkan Sieg. Mungkin ini terdengar seperti ucapan dusta. Tapi sebenarnya Ras Vampir dulu tidak ingin berperang, tapi karena suatu alasan yang tidak ku ketahui, Ras Vampir pun mendeklarasikan perang kepada seluruh Ras. Kami tidak ingin berperang itu karena kami tidak yakin bisa menang melawan seluruh Ras, tapi kami membuang keragu-raguan itu dan mendeklarasikan perang."


"Jadi Pemimpin Ras Vampir sebelum nya tidak memberitahu kenapa Ras kalian mendeklarasikan perang?"


"Tidak. Memang nya kenapa dengan itu?"


"Tidak apa-apa, aku tidak memiliki hak untuk menberitahu mu tentang hal ini."


Aku berhenti berjalan mendekati kamar Mira, padahal kamar itu sudah tinggal beberapa langkah lagi. Tapi aku memilih berhenti, itu karena aku ingin memberikan Thinkie pertanyaan.


"Thinkie sebelum nya, kau bilang leluhur ku ada hubungan nya dengan leluhur Mira, lalu kau seperti nya mengetahui alasan Ras Vampir mendeklarasikan perang. Bisakah kau ceritakan semua hal yang kau tahu padaku?"


"Aku tidak memiliki hak untuk memberitahu mu hal itu, lagi pula tugas ku hanya untuk mengamati perkembangan dunia ini. Jika aku memberitahu mu semua yang ku tahu, ramalan The Mother of Nature tidak akan terjadi. Hal itu harus ku hindari. Kalau tentang hubungan leluhur mu dan leluhur anak itu, suatu saat kau akan mengetahui nya, cepat atau lambat kau akan tahu. Tidak. Bukan hanya kau, tapi Mira juga akan tahu."


"Ramalan?" Waktu melawan Dragon Leader, dia juga ada menyebutukan hal itu....


"Natasha!" Mira mengintip dari dalam kamar nya. "Bisa kau bawakan baju ku kesini!"


"Ah, aku datang!"


Aku berlari kecil menuju kamar Mira, aku memasuki kamar nya lalu menutup pintu dengan rapat. Untung nya kerusakan akibat energi sihir Mira tidak sampai lantai dua. Jadi kamar ini tidak berantakan seperti di lantai satu.


Setelah menutup pintu, aku mengeluarkan gaun yang biasa di pakai Mira dari (Blood Box) ku.


"Jangan gaun, itu membuat ku susah bergerak. Kau ada pakaian yang membuat ku nyaman untuk bergerak?"


"Ada. Memang nya, kau ingin kemana?"


"Ke kota Banitza, kita harus menyelamatkan Kak Yuri dan Arisa."


Mira melepaskan pakaian nya, lalu aku memberikan pakaian kepada Mira. Pakaian itu berwarna merah dengan Rok pendek berwarna merah juga, aku tidak lupa memberikan nya kaus kaki panjang se paha, dan sepatu biasa, bukan hak tinggi. Biasa nya Mira menggunakan sepatu hak tinggi, ia selalu protes karena tidak bisa mengambil barang-barang dari rak yang paling tinggi, itu karena dia pendek, jadi dia selalu memakai sepatu hak tinggi, dengan harapan bisa mengambil barang dari rak paling tinggi.


Setelah pakaian nya sudah lepas semua, Mira memakai pakaian yang ku berikan padanya.


"Kau bilang ingin pergi ke kota Banitza, apakah kau sudah menemukan cara bagaimana musuh mengendalikan pikiran Putri Yuri dan Arisa?"


"Masih belum." Kata Mira sambil berpakaian.


"Lalu kau ingin langsung pergi kesana tanpa menemukan bagaimana cara musuh mengendalikan pikiran?"


"Tidak. Aku akan menemukan cara itu secepat nya."


Mira sudah selesai berpakaian, lalu ia mengajak ku turun ke lantai satu.


Aku, dan Mira berjalan ke lantai satu, saat tiba di sana, kami terkejut. Lantai satu yang awal nya berantakan sudah kembali menjadi rapi.


"Nona Mira!" Semua orang berteriak sambil mendekati Mira.


Wajah bahagia dapat terlihat jelas di wajah mereka, bahkan sampai ada yang menangis saking bahagia nya.


Salah satu Vampir mendorong Mira ke sopa, lalu ia menyediakan manisan, tanpa ragu Mira memakan manisan itu.


Yang aneh di sini, bagaimana mereka bisa membuat lantai satu yang awal nya berantakan menjadi rapi kembali, lalu sejak kapan mereka membuat manisan?


Momen ini adalah momen bahagia pada hari ini, tapi momen ini harus hancur karena Thinkie.


"Merayakan nya nanti saja, sekarang kira harus memikirkan bagaimana caranya musuh mengendalikan pikiran Elf bernama Arisa itu." Kata Thinkie.


"Apakah kau tidak bisa membaca suasana nya?" Aku bertanya.


"Memang nya kenapa?"


"Saat ini bukan saat nya untuk membahas itu!"


"Malahan sekarang saat nya, bukan nya kalian meminta ku untuk menyadarkan Mira untuk menemukan jawaban tentang pengendali pikiran itu?"


"Benar kata Thinkie," Mira angkat bicara saat cemilan yang di dalam mulut nya sudah habis. "Kita harus menemukan cara pengendali pikiran itu mengendalikan pikiran Arisa dan Kak Yuri. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya, apa yang terjadi sebelum nya? Kenapa Vila ku sangat berantakan?"


"Sebenarnya Mira, begini cerita nya-"


Aku menceritakan semua kejadian kepada Mira, mulai dari Mira pingsan, aku berkeliling mencari bantuan, hingga sampai aku bagaimana aku meminta bantuan kepada Thinkie, aku tidak lupa menceritakan bagian energi sihir Mira yang mengamuk.


"Jadi begitu lah cerita nya."


"Jadi seperti yang ku bilang, kau itu utang budi padaku!" Kata Thinkie sambil membusungkan dada nya.


"Iya. Iya. Suatu saat akan ku balas utang budi ini," Kata Mira membalas Thinkie. "Kalau begitu kita masuk ke topik utama nya, jadi apakah kalian tahu bagaimana cara musuh mengendalikan pikiran?"


Semua orang menggelengkan kepala nya.


Setelah itu Mira mendecakkan lidah nya, dan bergumam. "Cih, seharus nya sebelum aku sadar, kalian harus memikirkan itu."


Di saat serius seperti ini, Jack tiba-tiba berlutut sambil memegangi kepala nya.


"Aaakh!" Jack merintih kesakitan.


"Jack kau tidak apa-apa?" Tanya Mira.


"Aku tidak apa-apa, yang lebih penting kita harus membahas bagaimana Arisa bisa di kendalikan pikiran nya." Kata Jack sambil berdiri, ia masih memegang kepala nya.


Aku melihat ke arah Jack, wajah nya nampak kesakitan. Apa yang terjadi padanya? Bukan nya Mira sudah menyembuhkan luka nya? Lalu kenapa dia masih kesakitan?


"Hmmm." aku bisa mendengar suara Mira bergumam.


Aku melihat ke arah nya, Mira menatap Jack dengan tajam, matanya juga bercahaya.


"Jadi begiu ya...." Gumam Mira sambil tersenyum. Kemudian ia melihat ke arah Lizard. "Lizard bisa kau ambilkan minuman beralkohol yang kau tunjukkan pada ku sebelum nya," Lalu ia melihat ke arah Amanda. "Amanda buat Jack pingsan dan bawa dia ke kamar nya!"


"Tu-tunggu ada apa ini!?" Kata Jack kebingungan.


Amanda memukul bagian belakang kepala Jack, Jack pun langsung pingsan menerima pukulan itu, setelah itu Amanda meminta maaf pada Jack lalu membawa nya ke kamar.


Di satu sisi, Lizard sudah kembali dari tempat penyimpanan Low Light, ia membawa botol alkohol yang di maksud Mira.


Lizard memberikan botol alkohol ke Mira.


"Terima kasih." Kata Mira sambil menerima botol dari Lizard. "Ambilkan gelas di dapur!"


Salah satu Vampir berlari ke dapur lalu ia kembali sambil membawa gelas.


Mira mengambil gelas, lalu ia meletakkan nya di atas meja, setelah itu Mira membuka tutup botol minuman beralkohol lalu ia menuangkan minuman itu ke gelas.


"Mira jangan bilang kau ingin meminum minuman itu?" Aku bertanya dengan sedikit bercanda. Aku tahu sifat Mira, walaupun dia sedikit jahat, ia tidak akan meminum minuman beralkohol.


"Tentu saja tidak akan ku minum!" Kata Mira dengan sedikit kesal. "Ini hanya untuk membuktikan hipotesa ku."


"Hipotesa?"


Dia mengangguk. Lalu ia mengangkat gelas minuman ke depan matanya, kemudian dia menatap air beralkohol yang sudah di tuang nya dalam gelas. "Itu benar. Dengan ini semua nya akan terungkap." Kata Mira.


Saat Mira menatap minuman beralkohol di gelas, matanya bercahaya terang. Setelah di tatap nya cukup lama, Mira menaruh lagi minuman itu di atas meja.


"Aku sudah tahu bagaimana cara musuh mengendalikan pikiran Arisa." Kata Mira.


"Lalu bagaimana cara nya?" Thinkie bertanya dengan penuh semangat.


"Musuh, atau harus ku sebut Wilson. Dia mengendalikan pikiran bukan menggunakan sihir atau pun kutukan, dia mengendalikan pikiran menggunakan mahluk hidup yang di sebut Parasit."