
Setelah berpakaian, aku memastikan penampilan ku di cermin yang kebetulan ada di ruang harta. Dan hasil nya tidak buruk. Aku sangat cocok menggunakan pakaian yang Ibu berikan kepada ku, dan juga setelah aku memakai nya, aku merasakan energi sihir yang cukup kuat keluar dari pakaian yang ku kenakan.
"Eeeh... Tidak buruk. Dan aku suka dengan desain nya."
Pakaian ini berwarna perak seperti rambut ku dan rambut ibu, yang membuat pakaian ini di buat khusus untuk ku. Bahkan saat aku melihat diri ku di cermin, aku melihat diri ku seperti peri yang sangat imut. Yah, memang dasar nya aku sangat imut, jadi menggunakan pakaian ini tidak akan menambah atau mengurangi keimutan ku.
Setelah aku berpakaian, aku dan Ibu pun meninggalkan ruang harta, menuju ke halaman istana. Aku dan Ibu terus berjalan hingga sampai di ruang tengah istana, yang posisi nya sangat dekat dengan gerbang masuk istana. Di ruang tengah sudah ada Arisa dan Natasha yang menunggu ku, tapi aku tidak melihat sosok Kak Yuri dan Jack. Mungkin mereka berdua sedang keluar.
Saat aku sedang mencari keberadaan Jack dan Kak Yuri, pintu gerbang istana terbuka, kedua orang yang ku cari pun masuk melalui pintu yang terbuka itu. Ada yang aneh dengan keadaan mereka. Mereka memasuki pintu dengan sedikit menjaga jarak, dan wajah mereka juga merah. Mereka beberapa kali melakukan kontak mata, tapi segera mengalihkan pandangan, mereka malu untuk menatap wajah satu sama lain. Semua orang yang ada tahu apa yang telah terjadi pada mereka, termasuk aku. Jadi kami tidak akan menanyakan lebih lanjut mengapa mereka bisa berakhir dengan suasana seperti itu.
"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya ku dengan datar. Aku memang tahu apa yang terjadi pada mereka, tapi aku ingin mereka mengungkapkan apa yang baru saja mereka lakukan selama kami semua pergi meninggalkan mereka berdua sendirian.
Ibu, Natasha, dan Arisa yang mengetahui apa yang terjadi antara mereka berdua, melihat ku dengan wajah yang seolah-olah mengatakan: 'Baca suasana nya!'
"Ti-Tidak terjadi apa-apa... Tidak terjadi apa-apa... Ya... Tidak ada yang terjadi sama sekali..." Jawab Kak Yuri dengan terbata-bata, wajah nya memerah.
Jelas sekali Kalau Kak Yuri berbohong. Mereka pasti melakukan sesuatu selama kami pergi. "... Begitu...? Tapi wajah Kak Yuri memerah? Kakak demam?" Tanya ku pura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi pada mereka berdua.
"A-Aku tidak apa-apa..." Jawab Kak Yuri dengan memerah karena malu.
... Yah. Jika dia tidak mau memberitahu, apa boleh buat... Aku harus menyerah menanyakan apa yang terjadi pada mereka. Hanya saja sebagai adik aku khawatir. Aku khawatir kalau si bajingan Jack melakukan sesuatu yang di luar batas.
Aku tahu mereka bertunangan, tapi bukan berarti mereka bisa melakukan hal tidak senonoh. Tidak sebelum mereka menikah. Mereka harus menyelesaikan sumpah di Catredal barulah mereka bisa melakukan berbagai macam hal. "Benar-benar tidak ada yang terjadi kan?" Sekali lagi aku bertanya pada Kak Yuri. Walaupun pertanyaan itu ku arahkan ke Kak Yuri, tetapi tatapan ku, ku arahkan ke Jack. Aku dengan tajam menatap langsung ke mata nya.
Wajah nya yang awal nya merah, dan malu-malu seketika berubah menjadi pucat dan di penuhi dengan ketakutan. Ia menggelengkan kepala nya ke kiri dan kanan, mengisyaratkan kalau dia tidak melakukan apapun yang kelewat batas.
"Benar-benar tidak terjadi apa-apa... Aaakh... Mira keras kepala! Aku bilang tidak terjadi apa-apa, itu berarti tidak ada apapun yang terjadi! Percaya pada kakak mu sedikit!"
"Ah. Maaf... Aku tidak bermaksud memarahi mu..." Kak Yuri akhir nya sadar apa yang telah ia lakukan. Ia pun akhir nya meminta maaf pada ku dengan panik, ia takut aku akan menjauhi nya karena ia memarahi ku.
"Tidak apa-apa. Ini salah ku, seharus nya aku tidak terlalu terlibat dalam hubungan kalian berdua. Yah... Hanya saja... Kak Yuri tahu, aku hanya khawatir kalian melakukan sesuatu yang tidak senonoh."
"Kami tidak akan melakukan sampai sejauh itu... Kami hanya berciuma... Ah."
Kak Yuri tanpa sadar memberitahu apa yang telah ia dan Jack lakukan, ia pun segera menghentikan perkataan nya. Ibu, Arisa, dan Natasha tersenyum masam saat melihat ku yang dengan polos nya menggali secara tidak langsung mengenai sejauh apa hubungan mereka. Sedangkan aku tersenyum jahat saat Kak Yuri mengambil umpan ku untuk memberitahu apa yang telah ia lakukan dengan Jack, wajah Kak Yuri dan Jack seketika memerah.
"Aku benci kau Mira!!" Kak Yuri dengan wajah merah, berlari ke arah kamar nya. Ia menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya, tidak ingin wajah malu nya di lihat orang lain.
"Ahahahaha... Seperti nya aku terlalu berlebihan." Kata ku setelah tertawa melihat kepolosan Kak Yuri yang sudah malu setengah mati hanya karena sebuah ciuman.
"... Kau tidak boleh menjahili kakak mu terlalu berlebihan Mira..." Ibu berjalan ke samping ku, menepuk kepala ku dengan pelan lalu memberitahu ku untuk tidak menjahili Kak Yuri terlalu berlebihan.
"Nona Mira. Sudah waktu nya kita kembali ke markas pusat."
Natasha yang selama ini diam mengawasi, akhir nya membuka mulut. Walaupun kata-kata yang keluar dari mulut nya adalah peringatan untuk segera kembali ke markas pusat... Karena urusan ku di Fantasia selesai, aku pun mengangguk atas kata-kata Natasha, menandakan aku setuju dengan nya untuk kembali ke markas pusat. Kami saat ini sedang menghadapi situasi genting, dan kami tidak boleh membuang waktu kami di sini.
Dengan begitu, aku pun berpamitan kepada Ibu dan berbisik kepada nya untuk menjaga baik-baik dan selalu mengenakan 'Sesuatu' yang ku berikan pada nya. Ibu menjawab "Baik." sambil tersenyum bahagia, ia tidak tahu fungsi dari 'Sesuatu' yang aku berikan pada nya, tapi 'Sesuatu' itu adalah barang yang berguna untuk menjaga nya kalau-kalau sesuatu yang tidak terduga terjadi di kerajaan Fantasia selama aku dan ayah tidak ada.
Setelah berpamitan aku pergi ke halaman istana. Natasha, Arisa dan Jack kemudian mendekat kepada ku, setelah itu, Arisa mengeluarkan tongkat sihir dari (Inventori) nya, lalu ia mengucapkan "(Teleportation!)"
Lingkaran sihir muncul di tanah tempat kami berpijak, kemudian pilar cahaya muncul menutupi pandangan ku, setelah pilar cahaya menghilang, pemandangan di depan ku pun berubah.