
Tiga hari berlalu, selama tiga hari ini aku berada di ruang kerja. Aku menyusun rencana untuk membuat peternakan di daerah pembuangan. Aku juga mengatur ulang sistem perpajakan. Untuk membangun peternakan perlu dana yang besar, sebenar nya duit tabungan ku lebih dari cukup untuk membangun nya.
Tapi, aku tidak ingin menggunakan uang ku, untuk memperbaiki kota ini. Bahkan jika aku mau aku bisa menggunakan sihir, tapi aku juga tidak mau melakukan itu. Aku ingin membangun ulang kota ini hanya dengan menggunakan kepintaran ku. Karena itulah yang membuat ku berada di ruang kerja selama tiga hari.
Aku mencatat semua rencana ku di kertas, kemudian aku juga mengusulkan tentang peraturan baru mengenai perpajakan. Aku ingin menerapkan peraturan baru ini secepat nya, tapi hal itu tidak dapat di lakukan, karena aku belum meminta izin semua penduduk. Dengan sebab itulah, aku ingin pergi mendatangi semua penduduk di kota ini.
Tapi tubuh ku menolak untuk melakukan itu, saat ini tubuh ku sangat lelah. Itu wajar saja, selama tiga hari aku selalu duduk dan menulis peraturan baru yang ingin ku terapkan. Bahkan aku belum ada tidur dan makan.
Aku menguap, rasa kantuk yang hebat menyerang ku. Aku berjalan dengan perlahan menuju pintu. Langkah ku sempoyongan, untuk berdiri saja aku sudah tidak kuat lagi.
Ini sangat aneh, aku yang memiliki kekuatan sihir yang kuat, tapi aku menjadi kelelahan karena kerja lembur selama tiga hari. Bahkan aku merasa kalau tubuh ku mulai terasa panas.
Pandangan ku kabur, dengan susah payah aku berjalan, hingga akhir nya aku dapat menyentuh gagang pintu. Aku menarik gagang pintu, saat pintu terbuka. Pandangan ku menjadi gelap, tubuh ku lemas, kaki ku sudah tidak kuat menopang tubuh ku. Aku pun jatuh tersungkur, setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Natasha berada di lantai satu, lebih tepatnya ia sedang berada di dapur. Ia sedang memasak makanan untuk Mira. Selama tiga hari Mira tidak makan sama sekali. Jadi Natasha hari ini memutuskan akan menorobos masuk ke ruang kerja Mira, dan memaksa Mira untuk makan.
Natasha sudah selesai memasak, ia menaruh semua makanan di sebuah nampan besar. Setelah itu ia pergi ke ruang tengah, di ruang tengah ada tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.
Natasha berjalan menuju tangga, lalu ia menaiki tangga hingga ke lantai dua.
Saat di lantai dua, Natasha pergi berjalan ke ruang tengah. Saat ruang tengah terlihat, Natasha terkejut! Di depan ruang tengah terbaring seorang gadis kecil berambut perak dengan posisi tengkurap.
Natasha mengenali gadis kecil itu. Dia adalah Mira!! Natasha langsung menjatuhkan nampan yang di pegang nya, lalu ia berlari mendekati Mira.
Saat berada di samping Mira, Natasha berjongkok. Lalu ia menggoyang-goyang badan Mira.
"Mira!!" Kata Natasha sambil menggoyang kan badan Mira.
Mira tidak merespon, Natasha pun membalikkan badan Mira.
Wajah Mira memerah, keringat nya membahasi tubuh nya. Nafas Mira sangat berat. Natasha memegang dahi Mira.
"Badan nya panas!!" Kata Natasha panik. Natasha menggendong Mira, setelah itu Natasha berdiri. "Inilah akibat nya jika kau memaksakan diri!" Kata Natasha ke Mira dengan wajah kesal. Tapi peringatan Natasha percuma, Mira tidak sadarkan diri untuk mendengar perkataan Natasha.
Natasha pun berlari menuju kamar Mira. Saat di kamar Mira, Natasha membaringkan Mira di kasur. Setelah membaringkan Mira, Natasha pergi keluar kamar Mira, saat di luar, Natasha berteriak memanggil Arisa dan Jack.
"Arisa!! Jack!!" Teriak Natasha dengan suara keras.
Di saat bersamaan, Arisa dan Jack sedang di halaman belakang. Mereka berdua sedang berlatih, alasan mereka berlatih karena mereka menyadari ke tidak bergunaan mereka saat melawan Sarion. Dengan alasan itu mereka berlatih dengan keras, di halaman belakang Vila.
Aris Menggunakan sihir (Barrier), sihir ini untuk menghalangi kerusakan mengenai Vila. Dan juga sihir ini berguna sebagai peredam dari suara saat mereka berlatih, kadang-kadang efek serangan mereka membuat efek ledakan, karena itulah Arisa memutuskan untuk menggunakan (Barrier).
(Barrier) yang di buat Arisa memungkinkan siapa saja yang tinggal di Vila untuk masuk kedalam nya. Jadi selain Mira dan Natasha, para pelayan juga bisa masuk kedalam nya.
Arisa mengarahkan tongkat sihir nya ke tanah. "Wall" tanah liat yang sudah mengeras timbul dari dalam tanah. Tanah itu membentuk dinding yang mengurung Jack di dalam nya.
Jack mengeluarkan pedang dari sarung nya, setelah itu Jack mengayunkan pedang nya secara horzontal. Dinding tanah liat yang di buat Arisa pun terbelah.
Arisa mengarahkan tongkat sihir nya ke arah Jack. "Tornado!" Angin kencang membentuk sebuah pusaran. Pusaran angin itu mengurung Jack di dalam nya. "Wind Knife!" Dari pusaran angin muncul sebuah medan yang membentuk pisau, dengan pisau itu kulit Jack terluka.
"Sword Skill Number One." Kata Jack sambil menarik nafas dalam-dalam. "Dragon Slicer!" jack mengayunkan pedang nya secara diagonal. Tebasan pedang nya menciptakan angin kencang, dalam sekejap angin itu berubah menjadi naga.
"Percuma Jack!!" Teriak Arisa.
Perkataan Arisa menjadi kenyataan naga angin yang tercipta dari tebasan pedang Jack terhisap kedalam pusaran angin yang di ciptakan Arisa.
Arisa membatalkan sihir nya. Pusaran angin yang mengurung Jack pun menghilang. Jack mendudukkan diri nya di tanah, lalu ia menghela nafas panjang.
"Sialan!!" Kata Jack kesal.
"Ini kemenangan ku Jack!" Kata Arisa sambil tersenyum.
Jack membaringkan diri nya di tanah. "Ini masih belum cukup...." Kata Jack. "Kita masih lemah."
Arisa mengangguk. "Kau benar." Kata Arisa dengan suara pelan.
Keluar seseorang dari dalam Vila, dia adalah pelayan tua bernama Leonardo. Ia mendatangi Arisa dan Jack dengan wajah panik.
"Ini gawat!!" Kata Leonardo sambil berlari mendatangi Arisa dan Jack.
Saat berada di hadapan Arisa dan Jack, Leonardo nafas nya tersengal-sengal. "Ini... Gawat... Nona Mira..."
"Ada apa dengan Nona Mira?" Tanya Arisa.
"Nona Mira terkena demam!" Leonardo berteriak.
"Terima... Kasih... Natasha." Kata Mira dengan suara pelan, bahkan suara nya hampir tidak terdengar.
"kau tidak perlu berterima kasih.... Seharus nya kau tidak memaksakan diri."
Mira tersenyum. "Bisa minta tolong... Ambilkan kertas di meja, yang ada di ruang kerja....." Nafas Mira terengah-engah. "Kertas itu tertulis peraturan baru.... Aku ingin kau, meminta persetujuan Para penduduk."
Natasha meraih tangan Mira, kemudian ia menggenggam tangan Mira. "Jangan urus masalah itu dulu.... Kau harus sembuh dulu, baru kita pikirkan masalah itu."
"Sudahlah.... Cepat ambil saja."
Natasha melepaskan tangan Mira, kemudian ia mendecikkan lidah nya. "Dasar kau ini, egois sekali!"
Dari luar kamar masuk Arisa, Jack dan Leonado dengan wajah panik.
"Kak Natasha!!" Kata Arisa dan Jack bersama-sama.
"Kebetulan kalian datang," Jawab Natasha. "Bisa ambilkan kertas di ruang kerja... Ini perintah dari Nona Mira!"
Arisa dan Jack memasang wajah bingung, seolah-olah wajah nya berbicara. "Kenapa kami harus melakukan itu?" Tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulut mereka.
Arisa dan Jack pun membuang pertanyaan itu jauh-jauh, mereka menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Baiklah. Akan kami ambil!" Jawab Jack sepontan.
Jack berjalan menuju ruang kerja, Arisa tidak mengikuti nya.
"Arisa!!" Kata Jack memanggil. "Ayo cepat!"
"Maaf aku berubah pikiran. Kau saja yang pergi." Jawab Arisa sambil tersenyum.
"Ya sudahlah, terserah mu." Kata Jack sambil lanjut berjalan.
Leonardo menunjuk diri nya sendiri. "Aku ikut!" Kata Leonardo sambil menyusul Jack.
Arisa melihat saudara nya dan pelayan bernama Leonardo pergi, setelah melihat mereka pergi, Arisa mengalihkan pandangan nya ke arah Mira. Kemudian ia memasuki kamar, saat di dalam kamar, Arisa menutup pintu kamar Mira.
Natasha menengok ke arah Arisa. "Jangan di kunci!"
Arisa berjalan mendekati Natasha. "Tenang saja, pintu nya tidak ku kunci."
Arisa duduk di samping Natasha. "Bagaimana kondisi Kak Mira?"
"Dia terkena demam tinggi." Jawab Natasha, kecemasan terlihat jelas di wajah Natasha.
"Ini sangat aneh," Sambung Natasha berbicara. "Padahal dia yang paling kuat di antara kita. Tapi dia juga yang paling lemah, dia sangat sering terkena demam, walaupun dia hanya sering terkena demam ringan.... Tapi kali ini dia terkena demam yang lebih parah dari sebelum nya."
"Menurut Kak Natasha kapan Kak Mira sembuh?"
"Kalau manusia normal mungkin memerlukan waktu satu minggu. Tapi yang kita bicarakan ini Mira, mungkin saja dia akan sembuh dalam waktu sehari."
Arisa menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu."
Pintu kamar di buka, masuk Jack dan Leonardo sambil membawa selemar kertas.
"Kami sudah membawa nya... Kertas ini tertulis tulisan tangan Nona Mira." Kata Jack.
Natasha berdiri, kemudian ia mengambil kertas dari tangan Jack. Setelah itu Natasha menyuruh Jack duduk di samping Arisa.
"Aku bagaimana?" Tanya Leonardo.
"Kalau kau mau ikut mendekarkan, silahkan duduk di samping Arisa." Jawab Natasha.
Leonardo duduk di samping kiri Arisa.
Natasha membaca kertas yang ia pegang. Setelah satu menit membaca, Natasha menatap ke arah Arisa, Jack, Dan Leonardo dengan tatapan serius.
"Untuk hari ini. Kita akan menggantikan Nona Mira memimpin kota ini."
Tidak ada balasan untuk perkataan Natasha, Natasha pun melanjutkan perkataan nya.
"Untuk hal pertama yang kita lakukan adalah meminta persetujuan untuk peraturan baru yang dibuat Nona Mira ini." Kata Natasha sambil mengangkat tinggi-tinggi kertas yang ia pegang.