From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 345 Meluapkan emosi yang terpendam



Saat aku mengatakan tujuan ku masuk kedalam penjara untuk menyelamatkan nya, Kak Yuri hanya bisa menatap mata ku dengan mata terbelalak kaget, tidak percaya dengan perkataan ku. Ia kemudian dengan lesu mengkorfirmasi perkataan ku sebelum nya.


"Kau datang... Untuk menyelamatkan ku...?"


"Ya! Aku datang kemari untuk menyelamatkan Kak Yuri!"


"Huhu... Huhu.... Huhu...." Kak Yuri tiba-tiba tertawa kecil saat aku mengatakan itu. Aku mengira ia senang dengan perkataan ku, tapi saat aku melihat ekspresi wajah nya, aku tahu kalau aku salah. "Hahahahahaha...." Kali ini ia tertawa seperti orang gila.


"Kak Yuri..." Aku memanggil nya dengan khawatir.


"Bukankah terlambat untuk melakukan itu...? Kemana kau selama ini? Kenapa kau menghilang saat kerajaan di tengah kondisi genting?" Kak Yuri bertanya kepada ku sambil melotot, bibir nya tersenyum, tetapi aku dapat melihat kemarahan dari sorot mata nya.


"..." Aku hanya bisa terdiam saat menyaksikan Kak Yuri yang seperti itu. Ia kemudian menarik kerah baju ku, lalu berteriak tepat di depan wajah ku. "Tidak bisa menjawab! Kau tahu apa yang ku alami selama kau tidak ada!? Ayah dan Ibu mati saat peperangan... Kemudian aku di tuduh membunuh Ibunda... Dan saat ku pikir kau juga telah mati, kau datang di saat-saat terakhir tanpa luka sedikit pun, kemudian kau bertingkah layak nya pahlawan, dengan sombong nya mengatakan ingin menyelamatkan ku! Memang nya kau siapa!?"


"..." Aku tidak bisa mengatakan apapun, bahkan jika aku memberitahu alasan ku menghilang selama ini, aku yakin di kondisi Kak Yuri saat ini, dia pasti tidak percaya pada ku dan mengira aku hanya beralasan... Bahkan jika aku meminta maaf pada nya, aku hanya akan memperburuk situasi.


"Jangan hanya diam! Katakan sesuatu!"


"..."


Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, aku hanya bisa terdiam sambil terus menatap mata Kak Yuri. Tapi ia makin kesal dengan sikap ku. "Apa-apaan ekspresi itu!? Kau pikir aku akan bersimpati jika kau membuat ekspresi seperti itu!"


Aku tidak bisa melihat wajah ku, jadi aku tidak tahu ekspresi wajah yang ku buat saat ini. Yang jelas, itu membuat Kak Yuri kesal. Ia kemudian mendorong ku menjauh. Kak Yuri kemudian kembali ke tempat ia berbaring sebelum nya, berbaring kembali sembari menghadap dinding.


... Aku tidak menyangka kondisi mental kak Yuri benar-benar rusak. Selama ini Kak Yuri tidak pernah memarahi ku, bahkan jika aku berbuat kesalahan serius, ia selalu percaya pada ku, ia selalu mendukung ku selama ini. Aku bahkan memasukkan ia di dalam hati ku sebagai orang yang ku percaya...


Aku terlalu percaya diri bisa menenangkan Kak Yuri, ku pikir dengan kehadiran ku di sini dapat menenangkan nya. Tapi ternyata aku salah...


.... Saat tahu Kak Yuri menolak ku seperti ini... Aku... Merasakan dadaku merasakan sakit yang tidak tertolong, ini perasaan yang sama saat aku tahu kawan satu guild ku mengkhianati ku dan ini adalah perasaan yang sama saat Jack mengkhianati ku. Perasaan sakit di khianati seseorang yang sangat ku percaya, perasaan sakit di tolak oleh orang yang sangat ku hargai... Ini perasaan yang sangat tidak ku sukai...


"Uuuuuwaaaaaaaah........"


Tidak bisa menahan rasa sakit itu, membuat pandangan ku menjadi kabur di karenakan air mata yang mulai mengalir keluar. Aku berusaha menguatkan diri, tapi perasaan sakit di hati ku terus menguat, membuat ku tidak bisa menahan lagi, membuat ku menangis seperti seorang anak kecil.


\*\*\*


Yuri terkejut saat mendengar adik nya menangis begitu kencang. Tetapi kepala nya saat ini tidak bisa berpikir jernih, tanpa berpikir panjang ia membentak adik nya yang tengah menangis itu. "Diam!" Kata nya... Tetapi bukan nya ia diam, tangisan itu makin kencang.


Dari tangisan itu bukan hanya menunjukkan rasa sedih, tapi juga rasa kesal, dan juga putus asa.


Yuri memutuskan untuk mengabaikan adik nya yang terus menangis itu. Tapi ia tidak bisa mengabaikan nya, karena makin lama tangisan adik nya semakin kencang hingga membuat nya terganggu... Karena tidak tahan lagi, Yuri bangkit, lalu mendekati adik nya.


"Kau tidak mengerti apa yang ku katakan! Aku bilang diam!" Yuri tanpa pikir panjang menarik kerah baju adik nya lalu membentak nya di depan wajah nya.


Jika berpikir secara rasional, jika seseorang menangis dan di bentak, tangisan itu akan semakin keras. Dan itulah yang terjadi, adik nya menangis makin keras... Beberapa kasus, orang yang menangis akan menghentikan tangisan nya jika di bentak, tetapi itu terjadi kalau tangisan itu di tujukan untuk mencari perhatian. Tapi kasus kali ini berbeda, jelas tangisan adik nya itu adalah luapan emosi yang tidak bisa di bendung lagi. Karena itu bentakan tidak akan berguna.


Yuri sekali lagi tanpa berpikir, ingin memukul adik nya. Tapi saat ia memperhatikan wajah adik nya, ia menghentikan tindakan nya itu. Kepala Yuri selama ini berkabut, membuat nya tidak bisa berpikir jernih. tapi kini kabut itu akhir nya menghilang membuat nya sadar akan tindakan nya.


Ia kemudian dalam waktu singkat memikirkan kembali kapan adik nya terakhir kali menangis... Seingat Yuri itu sudah lama sekali... Adik nya berpikir layak nya orang dewasa, ia tidak berpikir seperti anak-anak pada umum nya, karena itu sikap nya sama seperti jalan pikiran nya. Ia selalu bersikap dewasa, ia tidak pernah mengeluh apapun masalah yang ia hadapi, jika kesedihan menimpa nya, ia tidak akan pernah menangis. Bahkan dulu saat ia di usir pun ia tidak menangis sama sekali. Ia selalu bersikap tenang, memendam semua masalah di dalam hati nya yang terdalam.


... Dan kini, adik nya menangis seperti anak kecil... Hanya karena di bentak sedikit saja.... Ini membuat Yuri sadar. Bukan hanya diri nya yang merasa kehilangan dan tersakiti akibat ayah dan ibu nya meninggal. Adik nya juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi ia hanya memendam nya jauh di dalam hati nya.


Akhir nya Yuri menyadari kesalahan nya...


Yuri dengan erat memeluk adik nya, kemudian dengan tulus dari hati nya mengucapkan permintaan maaf nya. "Maafkan aku Mira," Kata nya dengan suara di penuhi rasa penyesalan.


Walaupun sudah meminta maaf, adik nya masih tidak berhenti menangis. Yuri kemudian mengelus kepala adik nya dengan lembut sambil terus meminta maaf pada nya.


\*\*\*


"Hik... Hik... Hik..."


"... Maaf Mira... Aku tidak tahu, kalau kau mengalami hal itu sehabis peperangan..."


Beberapa menit kemudian, aku sudah agak tenang, sambil masih cegukan aku memberitahu alasan ku menghilang selama ini. Kak Yuri langsung menyesali perbuatan nya.


"Hik... Hik..."


Kak Yuri kemudian mengelus punggung ku, berusaha menenangkan ku. Usaha nya memang berhasil, aku sedikit lebih tenang dari sebelum nya, tapi karena aku menangis terlalu keras cegukan ku tidak reda sama sekali.


Aku terus menghapus air mata ku, hingga akhir nya air mata ku berhenti mengalir keluar. Mata ku sedikit terasa pedih. Aku yakin mata ku membengkak saat ini.


".... Sudah merasa baikan...?" Tanya Kak Yuri agak sedikit tidak yakin.


Aku menjawab nya hanya dengan menganggukkan kepala ku.


"...."


"...."


Kami tidak berbicara satu sama lain, membuat situasi menjadi canggung. Aku hanya duduk diam, bersandar di dinding sambil memeluk lutut ku, sedangkan Kak Yuri terus memperhatikan wajah ku, ia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa menemukan waktu yang tepat untuk membuka mulut nya.


"...."


"...."


Keheningan terus berlanjut.