
"Ibu!! Kak Yuri!! Kenapa kalian berdua kesini?"
"Tidak ada alasan khusus, kami hanya ingin menemui Mira saja." Kata Yuri.
"Begitu ya."
Kak Yuri dan Ibu masuk ke kamar ku, kemudian mereka duduk di kursi yang berada di kamar ku. Kursi itu terdiri dari empat kursi beserta satu meja makan kecil untuk ku, Natasha, Arisa dan Jack makan.
Melihat mereka duduk di situ, aku pun ikut duduk.
Saat kami bertiga duduk, Ibu bertepuk tangan kemudian beberapa pelayan masuk sambil membawa Roti dan teh. Para pelayan menaruh makanan dan minuman di atas meja makan.
Setelah mereka menaruh makanan di meja makan, mereka semua keluar dari ruangan. Melihat semua pelayan keluar ruangan, aku menyuruh Natasha, Arisa dan Jack keluar dari ruangan.
Saat aku menyuruh mereka Ibu menyuruh ku untuk membiarkan mereka bertiga tinggal di dalam kamar.
Ibu dan Kak Yuri mengambil roti yang ada di atas meja, aku melihat selai di oleskan di atas roti yang sedang mereka makan. Saat mereka memasukkan roti dalam mulut mereka, mereka tersenyum bahagia.
"Sudah ku duga selai ini sangat enak." Kata Carla.
"Ibunda benar, yang membuat selai ini sangat jenius." Kata Yuri
"Terima kasih."
"Kenapa Mira mengucapkan terima kasih?" Tanya Yuri.
"Sebenarnya-" Saat aku ingin berbicara, Natasha memotong pembicaraan. Natasha sedang berdiri di belakang ku, dia saat ini bersikap seperti seorang pelayan.
"Sebenar nya Nona Mira yang membuat selai itu." Kata Natasha menjelaskan.
"Eeeh, seriusan!?" Kata Yuri.
Aku mengangguk, kemudian aku memanggil Arisa. Lalu aku meminta Arisa mengeluarkan semua selai yang ku bawa dari Tiramisu. Aku membawa 5 toples selai dari Tiramisu.
"Ini yang ku bawa dari kota Tiramisu, aku masih punya banyak di Tiramisu."
Ibu dan Kak Yuri memandang ku dengan tatapan serius.
"Punya banyak?" Kata Yuri. "Mira juga punya banyak Ruby di Tiramisu. Sebenarnya apa saja yang Mira punya?"
"Hmmm, sebenarnya aku memiliki pakaian yang banyak, perhiasan, makanan, dan berbagai barang lain nya."
"Untuk apa barang sebanyak itu?" Tanya Carla.
"Tentu saja di jual, berjualan itu bisa membawa banyak keuntungan."
"Begitu ya." Kata Carla dengan senyum bahagia di wajah nya.
"Sebenar nya perusahaan dagang yang ku buat sudah menyebar ke seluruh benua Silia."
"Tunggu dulu perusahaan dagang?" Tanya Yuri.
Aku mengangguk.
"Perusahaan dagang milik Mira bernama Mirror?"
Aku mengangguk. "Sudah ku duga Kak Yuri tahu... Ternyata perusahaan dagang ku sudah terkenal sampai sini."
"Mira bohong kan?" Tanya Yuri.
"Untuk apa aku berbohong. Jika Kak Yuri tidak percaya nanti ikut aku ke sana besok. Kalau tidak salah perusahaan dagang ku sudah di buka di sini."
"Baiklah, besok aku akan ikut Mira." Kata Yuri dengan bersemangat.
Aku terus berbincang dengan Ibu dan Kak Yuri, tidak terasa malam pun makin larut. Mata ku semakin mengantuk, Kak Yuri dan Ibu pun pergi dari kamar ku. Setelah mereka pergi, Natasha, Arisa dan Jack. Juga ikut pergi setelah mereka pergi aku merebahkan diri di kasur.
Hari ini sangat menyenangkan aku bisa bertemu dengan semua keluarga ku lagi. Tapi, saat aku pulang aku melihat ke arah Kak Nina dan Kak Blanc. Mereka menatap ku dengan tatapan tajam. Bahkan saat aku memutuskan untuk memilih kota Cocoa, mereka masih menatap ku dengan tajam. Padahal aku berfikir mereka akan berhenti menatap ku dengan tajam jika aku memilih kota Cocoa.
Sebenarnya mereka berdua menatap tajam ke arah ku, karena mereka membenci ku, mereka waspada kepada ku. Mereka takut aku akan mengambil tahta kerajaan dari mereka. Saat aku pergi, mereka berdua adalah kandidat paling di unggulkan, tapi saat ini aku lah kandidat yang paling di unggul kan.
Padahal aku sengaja memilih kota Cocoa dan meminta ayah menurunkan waktu tes ku. Itu semua agar mereka tidak waspada lagi padaku. Aku berharap mereka berfikir aku tidak akan sanggup memajukan kota miskin dalam waktu enam bulan. Aku harap mereka tidak akan melakukan hal gila untuk mengusir ku.
Aku merasakan bahaya, aku pun terbangun. Saat aku terbangun aku melihat seseorang berbaju hitam dan memakai topeng badut menindihiku. Dia sedang mengangkat sebuah pisau.
"Mati!!"Orang itu berteriak.
Orang itu menusuk kan pisau ke arah keningku. sebelum pisau itu mengenai keningku aku menangkap bilah pisau itu dengan kedua tangan ku.
Tangan ku berdarah karena menangkap bilah pisau itu, aku menahan pisau itu agar tidak menusuk keningku.
"Mati!!" Kata orang itu.
Orang itu menambah kekuatan dorongan nya.
"Mati!!"
Orang itu menambah lagi kekuatan dorongan nya.
"Mati!!"
"Kau berisik, jika kau ingin membunuh orang kau harus tenang. Kau gagal menjadi pembunuh."
Aku mematahkan bilah pisau, setelah ku patah kan aku melemparkan bilah pisau ke jendela. Jendela nya dalam keadaan terbuka, seperti nya dia masuk lewat jendela.
Aku memukul wajah, orang yang menindihi ku.
Setelah ku pukul, orang itu pergi keluar melalui jendela. Dia bergerak sangat cepat. Aku menyembuhkan tangan ku yang terluka, kemudian aku mengaktifkan sihir pengendali waktu.
"Super Magic Activated. Super Magic: Time Control, Time Stop."
Waktu terhenti, saat waktu terhenti aku berjalan ke jendela. Aku melihat keluar, orang yang menindihi ku sudah berada di tengah-tengah halaman istana. Dia bisa bergerak cepat juga.
Aku melompat keluar lewat jendela, kemudian aku berjalan mendekati orang yang menindihi ku. Orang itu berhenti bergerak. Karena waktu berhenti.
Saat tiba di depan nya, aku membuka topeng badut nya. Saat aku nembuka topeng nya, orang itu sudah kehilangan kulit wajah nya.
"Jadi dia sangat ingin menyembunyikan wajah nya ya."
Aku nenyembuhkan wajah nya, agar bisa mengetahui siapa orang itu, saat wajah nya sudah selesai ku sembuhkan wajah orang itu memiliki wajah pria yang berumur sekitar 30 tahunan.
Aku membuka mulut pria itu, kemudian aku mengambil sebuah obat dari (inventori). Lalu aku melemparkan obat itu kedalam mulut nya. Obat itu akan langsung larut jika masuk ke dalam mulut, obat itu memiliki fungsi sebagai pelacak. Aku ingin dia membawa ku ke tempat bos yang mengirim nya.
Aku kembali ke kamar ku, kemudian aku membatalkan sihir penghenti waktu. Saat sihir nya ku hentikan orang itu langsng menghilang dari tengah halaman.
"Menganggu orang tidur saja."
Pintu kamar ku tiba-tiba di buka oleh seseorang, aku berbalik melihat ke arah pintu.
Yang masuk adalah seseorang berbaju hitam, dengan topeng hitam. Dia membawa pisau di tangan nya.
Saat melihat ku orang itu langsung menutup pintu kamar.
"Seperti nya yang ingin membunuh ku bukan hanya satu orang...... Malam ini seperti nya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tapi para pengawal di mana? Bisa-bisa nya mereka membiarkan dua orang pembunuh masuk ke kamar ku."
Aku berjalan keluar kamar, saat aku berada di luar kamar. Aku melihat para prajurit terus berjaga di depan kamar ku. Pembunuh yang satu nya masuk lewat jendela, di halaman luar memang banyak penjaga tapi di halaman sangat gelap, dan pembunuh juga memakai baju hitam, jadi wajar kalau dia tidak ketahuan. Lalu bagaimana bisa, pembunuh yang satu nya bisa masuk lewat pintu. Ruangan istana sangat terang, dan di luar kamar ku banyak prajurit yang berjaga, tapi bagaimana bisa si pembunuh yang satu nya bisa sampai tidak ke tahuan membuka kamar ku.
Kalau aku tidak bangun, pasti si pembunuh kedua sudah menusuk ku dengan pisau nya, seperti pembunuh yang pertama.
"Ada apa Tuan Putri." Kata salah satu prajurit yang mendekati Mira.
"Apakah kau lihat ada orang yang membuka pintu kamar ku?"
"Tidak, saya tidak melihat nya."
"Begitu ya. Perketat penjagaan, dari tadi aku memiliki firasat buruk."
"Baik!!" Kata semua prajurit yang ada di depan kamar ku.
Aku memasuki kamar, kemudian aku pun menyambung tidur lagi.