
Setelah mendapatkan pemberitahuan kalau pasukan Demon Lord sudah memulai invasi nya, aku segera bersiap-siap untuk pergi ke markas pusat. Aku membersihkan tubuh ku dengan sihir air, aku tidak mandi karena akan memakan banyak waktu. Setelah membersihkan tubuh ku, aku segera memakai pakaian yang di buat khusus untuk orang-orang yang bekerja di markas pusat. Pakaian khusus itu seperti seragam prajurit, hanya saja bagian bawah nya bukanlah celana melainkan sebuah rok. Setelah aku selesai berpakaian, barulah aku keluar kamar bersama dengan Gloria.
"O. Iya. Ngomong-ngomong mana Natasha dan Arisa?" Aku menutup pintu kamar ku, kemudian melihat ke arah Gloria setelah itu bertanya keberadaan Natasha dan Arisa.
"Mereka berada di markas pusat, mengawasi gerak-gerik Putri Catulus." Jawab Gloria.
"Hmm.... Baguslah."
"Dan Jack berada di perbatasan antara Bena Yuro dan Benua Chiso, pasukan Demon Lord sudah sampai ke sana juga." Sambung Gloria.
.... Aku tidak bertanya tentang Jack, tetapi dia malah memberitahu ku posisi Jack. Sejujur nya aku tidak peduli dengan keberadaan Jack. Dia bukan urusan ku, dan tidak ada waktu untuk peduli kepada nya. "Haaaah...." Aku tidak merasa lelah atau apapun, hanya saja aku tiba-tiba menghela nafas tanpa alasan yang jelas. "Kita hentikan pembicaraan ini, ayo berangkat!" Kata ku kepada Gloria.
"Ah. Sebelum itu. Kita pergi ke taman terlebih dahulu, Selir Shina menunggu di sana."
"Eh? Dia belum berangkat?" Saat aku bertanya pada Gloria, dia mulai berjalan, aku mengikuti tepat di samping nya. Kami pun melanjutkan pembicaraan sambil berjalan menuju arah taman istana.
"Ya. Dia menunggu mu. Ingin berangkat sama-sama, katanya."
"Hmmmm....."
....Benar juga... Ada yang aneh saat aku baru sadar.
Istana ini terasa sepi.
Aku tahu kalau para prajurit pergi ke medan perang, tetapi aku tidak melihat para Selir dan Ibu. Jika aku tidak sadarkan diri, mereka pasti akan heboh, dan jika aku sudah sadar, mereka pasti akan menyerbu kamar ku. Itu yang biasa mereka lakukan. Tetapi, hari ini tidak ada siapapun yang datang saat aku sadar, hanya ada Gloria.
Aku pun menanyakan hal itu kepada Gloria.
"Ah. Itu. Sebenarnya, tidak ada yang tahu kalau kau tidak sadarkan diri selama dua hari penuh."
"Eh?"
Aku tercengang, menghentikan langkah ku. Gloria masih berjalan sedikit, hingga akhir nya ia sadar kalau aku telah berhenti berjalan. Ia pun berbalik, melihat ke arah ku, tatapan nya seolah-olah bertanya 'ada apa?'
"Apa yang baru saja kau katakan?" Aku bertanya pada Gloria, memastikan kalau aku tidak salah dengar. Dia baru saja mengatakan kalau tidak ada yang tahu kalau aku tidak sadarkan diri selama dua hari... Serius!?
"Sebenarnya, tidak ada yang tahu kalau kau tidak sadarkan diri dua hari." Kata Gloria, mengulangi perkataan sebelum nya.
Ternyata aku tidak salah dengar!
"Bagaimana bisa tidak ada orang yang tahu!?"
"Ah... Sebenarnya...."
Gloria pun menceritakan kejadian dua hari yang lalu, setelah ritual perubahan Class selesai.
Tepat setelah perubahan Class selesai, aku langsung tidak sadarkan diri. Saat itu, aku di bawa pulang menggunakan sihir (Teleportation), dengan waktu sedetik pun Natasha dan yang lain nya dapat sampai ke kamar ku. Setelah sampai di kamar ku, mereka ingin laporan ke Ibu kalau aku tidak sadarkan diri, tetapi Gloria menghentikan mereka.
Keputusan yang tepat, yang di buat Gloria. Jika ketahuan aku tidak sadarkan diri, kerajaan pasti akan panik, karena aku adalah pengatur strategi di peperangan nanti. Akan gawat kalau aku tidak sadarkan diri. Dan jika aku sadar tepat sebelum peperangan, ibu pasti tidak akan mengizinkan aku untuk pergi, dan itu pasti akan merugikan pasukan nanti nya. Sekarang aku baru sadar, aku memiliki peran yang sangat penting dalam perang ini.
Saat aku berpikiran seperti itu, Gloria melanjutkan cerita nya.
"Begitulah cerita nya... Karena itulah tidak ada yang tahu kalau kau tidak sadarkan diri selama dua hari."
"Haaaah....." Aku menghela nafas panjang, setelah mendengar cerita Gloria. "Setelah mendengar cerita mu, aku mengetahui alasan kenapa Selir Shina menunggu ku di taman."
Alasan Selir Shina menunggu ku di taman sangat jelas.
Itu semua karena Gloria dan yang lain nya berkata aku mengurung diri di kamar untuk memikirkan strategi baru. Dan Selir Shina menunggu ku untuk mengetahui strategi baru yang ku buat setelah mengurung diri di kamar. Dia pasti mengharapkan aku mengganti strategi ku, karena memang dia tidak setuju dengan strategi ku yang sekarang. Tetapi... Walaupun begitu, aku tidak akan mengganti strategi ku. Maaf untuk Selir Shina, harapan untuk strategi baru, harus pupus sampai di sini. Walaupun 'Kejam' aku akan tetap pada pendirian ku untuk memakai strategi yang telah aku pikirkan.
Kami terus berjalan di lorong istana hingga sampai ke lantai pertama, tanpa pembicaraan sedikitpun, kami terus berjalan ke pintu keluar istana dan sampai di taman. Saat di taman, aku melihat sekeliling, hingga tujuan ku tertuju sebuah gazebo di taman, dari jauh terlihat sosok dua orang wanita sedang duduk di sana. Dengan mata emas milik ku, yang memiliki kemampuan melihat segala nya, termasuk kemampuan untuk melihat jarak jauh. Aku bisa melihat dua oranh yang duduk di gazebo taman itu adalah Selir Shina dan Ibu.
Aku dan Gloria pun pergi mendatangi mereka.
"Akhir nya datang juga... Jadi bagaimana? Dapat rencana baru?"
"....."
Saat aku sampai, Selir Shina langsung melontarkan pertanyaan. Karena pertanyaan yang datang dengan tiba-tiba, aku kebingungan harus menjawab apa. Akhir nya aku hanya bisa diam sambil melihat wajah Selir Shina dengan tatapan kosong.... Serius....? Orang baru sampai, itu yang pertama kali kau tanyakan....? Gerutu ku kepada Selir Shina di dalam kepala ku.
"Kenapa kau diam?" Tanya Selir Shina kembali.
"Tidak. Bukan apa-apa... Untuk pertanyaan mu yang sebelum nya, jawaban nya adalah: Tidak ada rencana baru. Kita akan tetap pada rencana awal."
"....Begitu.... Ya...." Kata Selir Shina dengan suara pelan. Dia pasti sangat kecewa mendengar jawaban ku... Eh... Dia tidak kecewa sama sekali...? Pikir ku, setelah memperhatikan wajah Selir Shina dengan seksama. Wajah nya, sama sekali tidak menunjukan kekecewaan, malahan wajah nya seperti menunjukkan kalau ia sudah menduga aku tidak akan menemukan strategi lain.
"Yah... Aku sudah menduga. Kalau kau tidak akan bisa memikirkan rencana lain."
"Sayang sekali.... Padahal Ibu tidak mau tangan Mira kotor."
Selir Shina berkata dengan wajah sombong, dan ibu berkata dengan wajah kecewa. Dia pasti tidak ingin anak nya, menjadi seorang yang kejam karena membuat rencana yang sangat tidak berperikemanusiaan.
"Sudah terlambat untuk berharap tangan ku tidak akan kotor... Tangan ku sudah kotor, semenjak aku di usir dari istana." Aku menjawab komentar ibu dengan dingin. Itu benar... Sudah terlambat untuk berpikir aku adalah anak kecil yang tidak bisa membunuh seekor semut. Ibu harus berpikir aku adalah seorang pembunuh berdarah dingin, yang bisa dengan mudah memenggal kepala orang jika di perlukan.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita berangkat ke markas pusat."
Aku dan Gloria mengangguk, membalas ajakan dari Selir Shina.
Selie Shina berdiri dari tempat duduk nya, kemudian mengeluarkan Crystal sihir, Gloria yang ada di samping ku memberikan Crystal sihir, dan dia juga memegang satu Crystal. Kami tidak bisa menggunakan sihir (Teleportation) di depan banyak orang, karena itu adalah sihir yang seharus nya tidak ada orang yang bisa menggunakan kecuali dengan Crystal sihir.
"Kalian berangkat terlebih dahulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Ibu."
"Baiklah."
Dengan begitu, Selir Shina dan Gloria membanting Crystal sihir mereka ke tanah. Sekejap, mereka pun menghilang dari tempat mereka berdiri. Aku kemudian melihat ke arah Ibu, mengucapkan selamat tinggal pada nya, kemudian memberikan nya 'Sesuatu' setelah itu barulah aku berangkat ke markas pusat.
Author's Note :
Jika ada salah kata Lapor di Kolom Komentar.