From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 261 Hari Kedua Invasi VI



Aku bangun dari tidur ku, meregangkan persendian ku, kemudian aku turun dari kasur. Aku berjalan menuju sudut ruangan, tempat pakaian ganti tergantung. Saat aku hendak mengganti pakaian ku, aku merasakan kehadiran seseorang, mendekat ke tenda ku. Karena alasan itulah aku mengurungkan niat ku untuk berganti pakaian. Kain tempat pintu masuk tenda ku terangkat, kemudian masuk seorang wanita berambut pirang, penampilan nya seperti seorang remaja berumur tujuh belas tahun. Dia adalah bawahan paling terpercaya ku, Natasha.


"Mira, aku ingin melaporkan sesuatu." Kata nya, setelah masuk kedalam tenda.


"Oh.. Maksud mu, laporan yang ingin kau beritahu pada ku tadi malam?"


"Ya." Jawab nya, dengan singkat.


"Baiklah. Tunggu sampai aku selesai berganti pakaian."


Kata ku kepada Natasha, sambil melepaskan kancing baju ku.


Aku kemudian berganti pakaian ke seragam militer, yang wajib di pakai untuk semua orang yang berada di markas pusat tanpa terkecuali. Natasha juga memakai seragam nya, menandakan dia salah satu prajurit yang siap bertempur di bawah komando ku.


Setiap komandan memiliki ciri khusus pada seragam mereka, begitu pula dengan bawahan nya. Begitu pula dengan pasukan yang berada di bawah komando ku, mereka memiliki ciri khusus di seragam mereka. Untuk kasus ku, seragam prajurit di bawah komando ku ada lencana sayap perak di bagian dada kiri.


Setelah berganti pakaian militer, aku menarik kursi yang ada di dekat tempat ganti pakaian, lalu duduk di atas nya, menghadap Natasha. "Baiklah. Apa yang ingin kau laporkan?" Tanya ku pada nya.


"Ini mengenai penyerangan di kota Paela," Kata Natasha. "Saat kau membantai pasukan Demon ada familiar yang mengawasi jalan nya pembantaian."


.... Apa yang baru saja dia katakan...? Ada familiar yang mengawasi jalan nya pembantaian...? Aku tidak merasakan energi sihir aneh selama pembantaian kemarin... Apakah aku salah dengar. Untuk memastikan aku bertanya pada nya sekali lagi.


"Apa yang baru saja kau katakan Natasha?"


"Hmm...? Sudah ku bilang, ada sesosok familiar yang mengawasi pembantaian kemarin. Aku merasakan energi sihir aneh di atas langit, setelah aku periksa ternyata itu adalah seekor burung. Akupun berasumsi burung itu adalah familiar seseorang. Karena kau melemah Mira, aku yakin kau tidak akan menyadari nya, karena itu aku ingin melaporkan ini padamu."


Ternyata aku tidak salah dengar!!


"Mira kau kenapa?" Karena melihat tubuh ku bergetar karena terkejut, Natasha bertanya kepada ku dengan khawatir.


Tetapi, aku mengabaikan nya. Aku mengabaikan nya, untuk mempersiapkan diri memuntahkan semua kekesalan ku pada nya.


Dengan segenap kekuatan, aku menghirup nafas, berdiri dari tempat duduk ku, lalu dengan segenap kekuatan juga aku berteriak kepada Natasha sekeras yang ku bisa.


"KENAPA KAU TIDAK MELAPORKAN ITU DARI TADI MALAM!?"


Suara ku bergema ke seluruh penjuru markas pusat. Natasha yang melihat ku kesal menjadi pucat, ia sadar akan kesalahan nya. Dengan panik ia pun berusaha meminta maaf pada ku.


Aku mengabaikan Natasha yang panik, dan duduk kembali ke tempat duduk ku sambil memegangi kepala ku yang tiba-tiba di serang dengan rasa sakit akibat stres yang di berikan oleh bawahan ku yang ceroboh.


"HAAAAAAAH....." Dengan suara berat aku menghela nafas, berusaha untuk menenangkan diri.


Ini adalah kesalahan besar yang harus nya tidak ku buat... Sial! Jika pihak musuh tahu aku tidak bisa merasakan familiar mereka, mereka pasti akan terus mengirim familiar mereka untuk memata-matai ku. Yah, jika ada Natasha dia pasti akan memberitahu ku jika ada sesuatu yang salah terjadi di sekitar ku. Tetapi, berbeda jika aku sedang sendiri, aku tidak akan bisa menyadari familiar itu, yang membuat pihak musuh akan tahu rencana ku melalui familiar yang mereka kirim. Haaah... Ini adalah kesalahan terbesar yang harus nya tidak terjadi.


"Um... Mira." Saat aku masih di tengah memikirkan untuk mencari solusi mengenai masalah ini, Natasha membuka mulut nya, memanggil nama ku dengan gugup. Aku melihat ke arah nya, kemudian Natasha melanjutkan perkataan nya. "Apakah hal buruk akan terjadi?"


".... Aku pikir.... Ya. Sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi tidak sekarang." Aku terdiam sejenak, hingga pada akhir nya aku bisa memberikan jawaban yang bisa menenangkan hati Natasha. Aku tidak mau dia menyalahkan diri nya, jika hal buruk terjadi pada ku.


Haaah.... Sebaik nya aku mencari solusi untuk masalah ini dengan perlahan, ada hal yang lebih penting harus ku lakukan sekarang...


Kemudian, seseorang memasuki tenda, dia adalah Elf berambut pirang, salah satu bawahan ku, Arisa. "Kak Mira. Pasukan Demon di perbatasan mulai melakukan pergerakan." Kata Arisa dengan nada santai, memberikan laporan yang sebenarnya sangat gawat pada ku.


"Haaah... Jadi mereka benar-benar memilih bergerak sekarang ya... Apakah mereka menyerang hanya dengan menggunakan serangan proyektil?"


"....Ya. Bagaimana-" Arisa terdiam sejenak, mata nya terbelalak kaget, mendengar jawaban ku. Dia akhir nya menjawab pertanyaan ku, dan ingin bertanya bagaimana aku mengetahui hal itu, tapi ia segera berhenti, dan memasang senyum masam di wajah nya. Wajah nya seperti berkata: kurasa percuma menanyakan hal itu.


"Lalu bagaimana tindakan Jack dan ayah yang memimpin di garis depan?"


"Karena mereka selalu siaga, mereka dapat mengantisipasi serangan Demon dengan jumlah korban minimal."


"Baguslah kalau begitu... Apakah ada hal lain yang ingin kau laporkan?"


"Bagaimana dengan Putri Catulus? Apakah dia melakukan sesuatu yang mencurigakan lagi?"


"Tidak... Masih belum."


"Begitu ya."


Mendengar jawaban Arisa, membuat ku masuk kedalam mode berpikir kembali. Aku kemudian memain-mainkan ujung rambut ku, terkadang melakukan hal ini membantu proses berpikir ku.


Aku pikir Putri Catulus akan melakukan sesuatu lagi... Apakah aku salah? Atau dia hanya akting bersikap normal di depan Arisa agar tidak membuat nya curiga?


.... Tunggu dulu.... Kalau tidak salah tadi malam Arisa mengatakan Putri Catulus menerima surat dari pasukan Demon, dan di siang hari nya pasukan Demon mengawasi ku saat memerintahkan pembantaian di kota Paela... Apakah kedua kejadian ini berhubungan...? Apakah Putri Catulus dan Pasukan Demon mengawasi ku? Tapi kenapa harus aku dari semua orang?


Bukan nya aku sombong, memang aku adalah entitas yang sangat berbahaya bagi para Demon. Tapi itu jika mereka mengetahui tentang ku. Walaupun aku sangat hebat, nama ku belum terekspos ke luar Benua Silia... Bahkan Jack lebih terkenal dari pada ku, di Benua Yuro dia di kenal sebagai 'Bajingan beruntung, yang berhasil memikat Putri kerajaan besar.' apakah... Apakah ada seseorang yang mengenal ku bergabung dengan pasukan Demon...?


Aku terus memikirkan berbagai kemungkinan di kepala ku, sampai akhir nya aku tidak menemukan kemungkinan lain nya. Hingga akhir, aku memikirkan ada seorang yang mengenal ku dengan sangat baik, bergabung dengan pasukan Demon. Yang menjadi pertanyaan sekarang, siapa orang nya.


\*\*\*


"Two Pair!"


"Full House!"


"Royal Straight Flush!"


Siegurd, Javelin, dan Bruno sedang bermain kartu di ruangan mereka. Mereka menunjukkan kartu yang ada di tangan mereka, secara berurutan mulai dari Siegurd, kemudian Javelin dan terakhir Bruno. Hasil akhir dari permainan mereka di menangkan oleh Bruno.


"Sial! Aku kalah lagi..." Karena frustasi, Javelin melemparkan kartu nya ke udara. Siegurd dengan cepat menangkap kartu-kartu yang di lempar Javelin sebelum jatuh ke tanah. Karena hasil Siegurd yang paling rendah dari kedua teman nya, dia mendapatkan hukuman untuk mengocok ulang kartu dan membagikan nya.


Saat Siegurd selesai mengumpulkan kartu, ia mengocok nya beberapa kali sebelum akhir nya membagikan kartu kepada kedua teman nya satu-persatu.


"O iya. Ini selalu membuat ku penasaran." Saat Siegurd membagikan kartu, teman Siegurd, seorang Elf bernama Javelin membuka mulut nya, mengajak Siegurd bicara. "Kenapa kau tidak menua Siegurd?" Tanya Elf itu.


"Maksud mu?" Tangan nya terus bergerak membagikan kartu saat bertanya pada Javelin.


"Benar juga," Kali ini Bruno yang berbicara. "Sangat aneh Siegurd tidak menua saat dia seorang Human."


Siegurd selesai membagikan kartu, kemudian ia meletakkan kartu sisa di deck lalu mengambil kartu milik nya yang terletak di depan nya. Ia kemudian berbicara pada kedua teman nya. "Aaah... Itu karena aku bukanlah Human biasa. Ras ku berganti saat mencapai level seratus, yang awal nya Human menjadi Immortal Human karena itu aku tidak menua."


"Eeeh... Begitu ya. Aku pikir itu karena kekuatan Sistem." Kata Javelin kagum saat mendengar jawaban Siegurd.


"Kalau begitu, Mira juga termasuk dalam Ras Immortal Human itu, dan bawahan nya juga."


"Kalau Mira dari awal sampai ke dunia ini dia sudah menjadi Immortal Human, tapi kalau bawahan nya, dia tidak akan pernah bisa menjadi Immortal Human."


"Kenapa?" Tanya Bruno, setelah mendengar jawaban dari Siegurd, meminta nya menjelaskan lebih rinci.


"Yah. Jawaban nya sederhana... Mira terlahir di dunia ini sebagai Pure Human sedangkan bawahan nya terlahir sebagai Half Human."


"Apalagi itu, Pure Human dan Half Human?" Kali ini Javelin bertanya, dia tidak mengerti dengan istilah yang baru dia dengar.


"Pure Human adalah Human yang terlahir dari orang tua yang betul-betul Human, ayah dan ibu nya berras Human. Sedangkan Half Human adalah Human yang terlahir dari orang tua yang berras berbeda. Dalam kasus bawahan Mira, ibu nya adalah Elf dan ayah nya adalah Human."


"Jadi maksud mu hanya Pure Human yang bisa berubah menjadi Immortal Human jika dia mencapai level seratus?" Tanya Bruno untuk memastikan dia sudah memahami maksud dari penjelasan Siegurd.


"Ya." Siegurd mengangguk, saat tangan nya bergerak menukar kartu-kartu di tangan nya.


"Aku mengerti alasan kenapa kau tidak bisa menua Siegurd." Kata Javelin tersenyum bahagia, melihat kartu di tangan nya. Kali ini dia yakin bisa menang di putaran berikut nya.


Saat putaran berikut nya, Javelin kalah lagi, hingga suasana hati nya memburuk dan memutuskan untuk berhenti bermain.