From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 129 Pengganggu



Arisa bersama dengan semua penyihir kerajaan berada di tempat yang tidak memiliki warna kecuali warna putih.


"Ada di mana kita?" Kata salah satu penyihir.


"Kita berada di pikiran Kak..... Ehem... Maksud ku Nona Mira." Kata Arisa mengoreksi perkataan nya.


Arisa melihat ke sekililing, kemudian di lihat nya dari jauh ada dua anak kecil, penyihir lain juga melihat dua anak kecil itu. Arisa tanpa ragu mendatangi kedua anak kecil yang dilihat nya, sementara para penyihir lain ragu-ragu untuk mendatangi kedua anak kecil itu.


"Ki-kita ikuti saja!" Kata salah satu penyihir.


Para penyihir berjalan agak jauh dari Arisa. Saat mereka sudah dekat, mereka berteriak.


"Itu Nona Mira!!"


Mereka mempercepat langkah, tapi saat sudah di depan kedua gadis kecil itu, mereka kecuali Arisa, terkejut. Mira putri kelima kerajaan Fantasia ada dua!! Pikir penyihir kerajaan.


Kenapa Kak Mira menggunkan Doppleganger? Pikir Arisa bingung.


"Kenapa ada banyak penyihir di sini?" Kata kedua Mira bersamaan.


"Kami di sini untuk menyelamatkan Nona Mira. Tapi.... Mira yang mana yang harus kita selamatkan?" Kata salah satu penyihir.


Kedua Mira saling bertatapan, setelah mereka bertatapan melihat ke semua penyihir.


"Kenapa Mira harus di selamatkan?" Kata salah satu Mira.


"Nona Mira!!" Kata Arisa yang berada di depan kerumunan.


"Arisa!! Kau kesini juga?"


"Iya, jadi anda baru sadar kalau saya ada di sini. Lupakan masalah itu dulu, nona Mira, kenapa anda berkata (Kenapa Mira harus di selamatkan?) Anda memang harus di selamatkan bukan? Anda sudah tidak sadarkan diri selama seminggu."


"Aku sudah tidak sadarkan diri selama itu!!" Kata kedua Mira.


Setelah mengatakan itu, kedua Mira saling bertatapan lagi.


"Aaaaaakh!!" Salah satu penyihir berteriak.


"Ada apa!?" Tanya semua penyihir melihat ke arah penyihir yang berteriak.


"Ka-kalian ti-tidak melihat nya!?" Kata penyihir yang baru saja berteriak dengan wajah pucat.


"Melihat apa?" Tanya salah satu penyihir.


"A-aku tidak bisa menjelaskan..... Ka-kalian gunakan saja Clairvoyance! Dan lihat ke dua bocah itu!"


(Clairvoyance?) Pikir Arisa bingung. Apa yang bisa di lihat dengan Clairvoyance?


Arisa memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan nya, kemudian ia melihat ke dua Mira dengan menggunakan (Clairvoyance). Arisa melihat salah satu Mira mengeluarkan energi sihir yang besar, dan Mira yang lain mengeluarkan energi sihir besar tapi tidak sebesar Mira yang satunya.


Kekuatan energi sihir mereka hampir sama. Tapi yang satunya mengeluarkan energi sihir lebih sedikit dari yang satunya. Pikir Arisa.


Setelah Arisa menggunakan (Clairvoyance), para penyihir lain juga ikut menggunakannya. Sesaat mereka menggunakan (Clairvoyance) mereka semua jatuh tersungkur sambil berteriak.


"Mo-monster!" Kata salah satu penyihir.


"Mereka berdua bukan Nona Mira!! Mereka adalah wujud kutukan yang diberikan oleh penyihir beberapa bulan yang lalu!"


\*\*\*


Kutukan? Pikir ku heran.


Maaf saja pria tua!! Aku tidak pernah menerima kutukan! Aku hanya menerima Ramuan dari penyihir misterius.


Apakah pria tua itu bodoh?


Diri ku yang lain mendekatkan telinga nya pada ku.


"Seperti nya pemulihan diri kita diganggu dengan mereka?"


Pemulihan diri?


"Apa maksud mu pemulihan diri?"


"Aku tidak bilang pada mu ya... Kita berada di sini untuk memulihkan diri."


"Hmmmm, begitu ya.. Jadi bagaimana kita bisa memulihkan diri?"


"Gampang! Kau hanya harus memberikan ku tujuh puluh persen Energi sihir mu, lalu aku menghapus ingatan mu tentang dunia yang lama, dengan begitu tubuh kita akan pulih dengan sendiri nya."


"Jadi begitu ya... Pantas saja, aku tidak bisa mengingat kehidupan ku yang dulu."


"Itu karena aku menghapus ingatan mu. Itu adalah tahap pertama, seharus nya kita melakukan tahap kedua. Tapi kita di ganggu oleh mereka."


"Kalau masalah dengan mereka gampang kan? Tinggal usir saja dengan sihir."


"Kita tidak bisa menggunakan sihir di sini. Jika kita menggunakan sihir, tubuh kita akan semakin terluka."


"Cih, punya tubuh lemah itu merepotkan."


Aku dan diri ku yang lain tersentak karena terkejut. Kenapa orang itu bisa sampai pada kesimpulan bodoh seperti itu?


"Ka-kau benar.. Untuk menyadarkan Nona Mira kita harus membunuh mereka." Kata penyihir yang lain.


Seperti nya sebentar lagi aku dan diri ku yang lain akan mengalami hal yang buruk.


Aku langsung memberi kode ke Arisa untuk melindungi ku dan diri ku yang lain, kode itu aku kirimkan lewat tatapan. Sebenar nya aku bisa menggunakan (Telephaty), tapi kata diri ku yang lain, aku tidak boleh menggunakan sihir di sini.


Saat ku beri kode Arisa mengangguk.


"Kalau begitu kita bunuh mereka!" Salah satu penyihir berteriak.


Dengan satu teriakan penyihir itu, para penyihir yang lain mengeluarkan sihir mereka, dan menembakkan nya pada kami.


"Barrier!" Teriak Arisa yang melompat ke depan kami.


Semua sihir yang di arahkan kepada kami langsung tertahan dengan medan yang tidak terlihat milik Arisa. Itu adalah efek sihir dari Arisa.


"Ke-kenapa kau melindungi mereka!" Teriak salah satu penyihir.


"Nona Mira adalah tuan ku, apapun yang terjadi aku akan melindungi nya." Kata Arisa dengan lantang.


"Elf bodoh!! Mereka bukan Nona Mira, mereka adalah wujud kutukan dari penyihir jahat!"


"Maaf saja. Tapi setahuku Nona Mira tidak pernah menerima kutukan, jadi tidak mungkin di dalam tubuh Nona Mira ada wujud dari kutukan."


"Dasar Elf sialan!!"


Serangan sihir terus berlanjut bahkan semakin membabi buta, tapi (Barrier) Arisa tidak tergores sedikit pun.


"Jadi bisa Kak Mira jelaskan apa yang terjadi? Dan mana Kak Mira yang asli?" tanya Arisa.


Di tengah keadaan genting seperti ini dia masih bisa santai? Siapa yang mengajari nya untuk seperti itu? Oh.... Benar juga, aku yang mengajari nya, seharus nya aku berkata "Murid ku, kau membuat guru mu ini bangga!" Tapi entah kenapa memuji Arisa rasanya sangat memalukan. Jadi aku menyimpan pujian itu di dalam kepala ku.


"Kalau aku di suruh untuk menjelaskan akan panjang, tapi kalau kau bertanya siapa yang asli. Jawaban nya akan singkat."


"Kalau begitu, jawab yang itu saja dulu."


"Kami berdua asli." Diri ku yang lain menjawab.


"Ap... Tunggu..... Aku tidak paham! Bisa Kak Mira jelaskan?"


"Sudah ku bilang akan panjang kalau di jelaskan."


Sementara kami berdebat, para penyihir masih terus menembakkan sihir mereka. Mereka menembakkan sihir sambil berteriak, "Sialan!!" "Mati!!" "Hadapi kami pengecut!"


Semakin lama mereka berteriak, tekanan darah ku semakin naik! Tapi aku berusaha untuk bersikap tenang, kalau aku marah di sini itu akan merusak karakter ku.


"Jadi bagaimana kita keluar dari situasi ini?" Tanya diri ku yang lain.


"Kak Mira yang pikir! Bukan nya Kak Mira yang selalu memikirkan rencana untuk keluar dari situasi yang sulit seperti ini."


"Maaf saja, tapi aku tidak selalu bisa membuat rencana yang bagus. Rencana ku juga bisa gagal, apalagi kalau aku membuat rencana di situasi genting seperti ini." Jawab diri ku yang lain.


"Kalau begitu pikir rencana yang paling mudah."


"Kalau begitu bunuh saja para penyihir itu." Jawab ku.


"Benar juga. Ada cara seperti itu.. Kalau begitu aku akan-"


"Kalau itu tidak boleh!" Diri ku yang lain memotong perkataan Arisa. "Luka yang kita dapat dari dunia ini, akan terbawa sampai ke dunia nyata. Hal itu berlaku juga pada mereka! Kalau mereka mati disini, mereka juga akan mati di dunia nyata."


"Kalau begitu..... Kita harus menyelesaikan tahap kedua pemulihan diri.... Arisa!" Aku melihat kearah Arisa. "Lindungi Kami, apapun yang terjadi jangan sampai Barrier mu pecah! Jika Barrier mu pecah, aku yang ada di dunia nyata akan mati."


"Ba-baiklah. Aku akan memaksimalkan energi sihir ku pada Barrier ini!" Kata Arisa gugup. Aku bisa melihat ada keringat di kening Arisa, itu tanda kalau dia sangat gugup.


Diri ku yang lain memegang tangan ku.


"Kalau begitu kita mulai!" Kata diri ku yang lain.


Saat kami baru ingin memulai tahap kedua, aku merasakan tangan diri ku yang lain sangat dingin. Aku melihat ke wajah nya, mulut nya mengeluarkan darah sedikit.


"Kenapa mulut mu berdarah?" Diri ku yang lain bertanya.


Apa maksud nya? Bukan nya mulut nya yang berdarah?


Aku melepaskan tangan ku, kemudian aku menyentuh mulut ku. Terasa ada cairan di bibir ku. Aku melihat ke tangan ku, di sana ada cairan berwarna merah.


Eh? Mulutku juga berdarah. kenapa?


Saat itu terdengar teriakan salah satu penyihir.


"Aku berhasil!! Serangan kutukan berhasil membuat mereka berdua terluka! Semua nya jangan gunakan serangan proyektil! Gunakan serangan kutukan! Barrier itu tidak bisa menahan serangan kutukan."


"Apa!?" Kata Arisa terkejut, kemudian ia melihat ke belakang, atau lebih tepat nya Arisa melihat ke arah tuan nya. "Kak Mira!!" Arisa berteriak.


Alasan Arisa berteriak, karena Arisa melihat tuan nya terbaring lemah di lantai.