
Ke esokan hari nya, aku mengintip melalui jendela. Aku melihat para prajurit masih belum pulang. Saat mereka masih belum pulang aku merasa lega, sebenarnya aku sangat ingin ikut mereka. Tapi perasaan amarah ku menghalangi ku untuk ikut bersama mereka.
Salah satu prajurit berjalan ke tengah halaman.
"Putri Mira!! Maafkan saya karena tidak memeperkenalkan diri. Nama saya Goby. Anda pasti bingung kenapa saya baru memperkenalkan diri? Jawaban nya hanya satu, karena ini akan menjadi kesempatan terakhir saya untuk memperkenalkan diri. Putri Mira!! Saya ingin bilang ini untuk terakhir kali, Saya Mohon nona Mira pulang lah ke kerajaan Fantasia. Coba anda bayangkan bagaimana wajah Ratu Carla saat tahu anda tidak mau pulang. Coba bayangkan wajah Putri Yuri jika anda tidak mau pulang. Sebenarnya, saya dapat surat dari Yang Mulia. Beliau bilang kalau Ratu Carla akan pergi dari istana jika anda tidak mau pulang. Jadi saya mohon anda untuk kembali ke istana!!"
Ibu ingin pergi dari istana kalau aku tidak pulang!? Tidak mungkin!! Tidak mungkin!! Tidak mungkin, ibu pergi dari istana. Pasti mereka hanya menggertak supaya aku mau pulang.
"Kalau anda tidak percaya lihat ini surat dari Yang Mulia!!" Kata Goby sambil mengangkat tangan yang memegang surat.
Seseorang menepuk pundak ku dari belakang. "Kurasa sekarang saat nya kau harus berhenti mengurung diri di Vila, cepat kau keluar!" Kata Natasha.
Aku menarik nafas panjang, kemudian aku menghembuskan nya. "Aku tidak mau, mereka pasti berbohong. Ibu tidak mungkin pergi dari istana."
"Sudahlah Mira, jujur pada dirimu sendiri. Kau sebenarnya ingin ikut dengan mereka kan."
Aku menggelengkan kepala ku. Natasha menghembuskan nafas panjang, kemudian Natasha pergi ke ruang tengah.
"Dasar anak itu, tidak mau jujur dengan perasaan nya sendiri." Gumam Natasha.
Aku terus memerhatikan prajurit yang berada di halaman, mereka masih berdiri di sana. Mereka masih menunggu aku keluar.
"Putri Mira!! Kami mohon, pulang lah. Kami tidak ingin Ratu Carla pergi dari istana.... Coba anda bayangkan jika Ratu Carla pergi dari istana. Beliau mungkin tidak bisa bertahan hidup di dunia luar, mungkin beliau akan menjual diri beliau. Mungkin saja beliau langsung di bunuh... Bagaimana itu terjadi kalau Ratu Carla pergi dari istana. Coba bayangkan hal itu Putri Mira." Teriak Goby.
Goby terus berdiri di halaman, Goby berdiri sambil memikirkan isi surat yang di kasih Charles kemarin. Yang Mulia menyuruh ku untuk memberitahu Putri Mira kalau Ratu Carla akan pergi dari istana. Aku tidak tahu cara ini akan berhasil atau tidak. Pikir Goby.
Perkataan Goby terus terbayang di kepala ku, aku terus memikir kan kondisi ibu jika dia pergi dari istana. Ibu tidak seperti ku, kemampuan ibu sangat lemah. Ibu juga sering menangis, aku tidak tahu lagi bagaimana nasib ibu jika dia pergi dari istana. Dan jika ibu pergi dari istana karena ku, aku akan merasa sangat bersalah... Apa yang harus ku lakukan? Apakah aku menerima ajakan mereka? Aku sebenarnya ingin pulang... Tapi jauh di dalam lubuk hati ku menolak.... Aku harus bagaimana sekarang?
Saat fikiran ku sedang kacau seseorang menepuk pundak ku.
"Mira!!" Kata Natasha.
Arisa memeluk ku. "Tenang saja, Kak Mira. Apapun keputusan kak Mira kami akan selalu ada di sisi kak Mira... Kami akan selalu melayani Kak Mira." Kata Arisa.
Arisa melepaskan pelukan nya, kemudian Jack mengelus kepala ku. "Kak Mira ini masih anak-anak. Jika ingin pulang, pulang saja. Jangan di tunda-tunda, tidak perlu memikirkan hal rumit." Kata Jack.
Aku menepis tangan Jack. "Untuk apa kau mengelus kepala ku, bikin jijik."
"Eeeh, padahal aku juga ingin menghibur." Kata Jack dengan wajah sedih.
Melihat kelakuan mereka, memberikan ketenangan di hati ku. Aku menatap ke mereka bertiga. Kemudian mereka melihat ku dengan wajah tersenyum. Aku menundukkan kepala, kemudian aku menghembuskan nafas panjang, lalu aku memukul pelan kedua pipiku.
"Janji ya.. Kalian akan terus bersama dengan ku."
Natasha, Arisa dan Jack mengaitkan kelingking nya ke jari kelingking ku. "Kami berjanji." Kata mereka bertiga bersama-sama.
Aku menghembuskan nafas panjang. Kemudian aku membuka pintu Vila. Aku berjalan beberapa langkah keluar Vila. Natasha, Arisa dan Jack mengikuti ku dari belakang. Saat aku keluar, para prajurit berbaris kemudian mereka berlutut.
"Tuan Putri, jadi anda berubah fikiran?" Kata Goby.
Aku mengangguk.
Goby, menaikkan kepala nya sedikit untuk melihat Mira. Kemudian Goby tersenyum ke arah Mira. "Syukurlah kalau anda berubah fikiran." Kata Goby.
"Tapi dengan satu syarat."
Mendengar perkataan ku senyum Goby menghilang.
"Apa syarat nya?" Kata Goby dengan wajah cemas.
"Aku akan pulang ke istana, jika ketiga pelayan ku di perbolehkan tinggal di istana bersama ku... Selama ini mereka yang menjaga ku, dan aku tidak ingin berpisah dengan mereka."
Goby tersenyum kembali. "Jadi syaratnya hanya itu... Tenang saja, Yang Mulia sudah mengizinkan mereka bertiga tinggal bersama Tuan Putri. Dan juga, Yang Mulia ingin bertemu dengan mereka." Kata Goby.
"Begitu ya... Syukurlah kalau begitu."
"Jadi apakah anda sudah siap untuk kembali?" Tanya Goby.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, mari kita rubah penampilan anda dan para bawahan anda." Goby berdiri.
Aku, Natasha, Arisa dan Jack. Menatap Goby dengan heran.
"Sindi, Cindy!! Cepat kesini!!" Teriak Goby.
Dua orang prajurit berdiri, kemudian mereka berdua berjalan mendekati Goby.
"Kami berdua, akan merubah penampilan Tuan Putri dan para bawahan nya." Kata salah satu prajurit yang berjalan mendekati Goby.
"Benar sekali" Balas prajurit lain yang mendekati Goby.
Mereka sampai di samping Goby, kemudian mereka membuka helm yang menutupi mereka. Saat mereka membuka helm, rambut panjang mereka terurai. Rambut mereka berwarna hijau, wajah mereka berdua sangat mirip. Dan mereka berdua memiliki wajah yang cantik.
Setelah membuka helm, mereka berlutut. Nama saya Sindi." Kata salah satu prajurit. "Nama saya Cindi." Kata prajurit yang lain nya.
Natasha menunduk kemudian Natasha, mendekatkan mulut nya ke telinga ku. "Nama mereka berdua sama, dan wajah mereka berdua tidak ada beda nya. Bagaimana cara membedekan mereka?" Kata Natasha dengan berbisik.
Aku mendekatkan mulut ku, ke telinga Natasha. "Ada sedikit perbedaan. Kau lihat ke arah dada mereka, ukuran nya berbeda. Yang satu besar, dan yang satu rata."
Natasha, berdiri kemudian ia menghembuskan nafas panjang. "Yang mana Sindi dan yang mana Cindy."
"Saya Sindi!" Kata salah satu prajurit yang berdada rata.
"Dan saya Cindy." kata prajurit yang berdada besar.
"Jadi begitu ya... Jadi yang kakak ini Cindy." Kata Natasha.
"Saya yang kakak." Kata Sindi.
"Be-begitu ya." Kata Natasha dengan senyum canggung di wajah nya. Natasha tertawa kecil, kemudian ia memalingkan wajah nya.
Bagaimana bisa yang rata jadi kakak!? Pikir Natasha.
Sindi mulai menyadari perilaku aneh Natasha. "Apakah ada masalah kalau aku menjadi seorang kakak?" Kata Sindi dengan nada mengancam.
Natasha melihat ke arah Sindi. "Te-tentu saja tidak. Hahahaha." Kata Natasha, sambil tertawa kecil.
"Sudahlah Sindi, Cindy. Jangan buang waktu... Cepat dandani mereka." Kata Goby."
"Siap!!" Kata Sindi dan Cindy bersama-sama. Kemudian mereka berdua bergenggaman tangan. "Item Box, Open!!" Kata mereka berdua bersama-sama.
Di depan wajah mereka muncul beberapa pakaian, kemudian mereka berdua menangkap pakaian yang muncul di depan wajah mereka.
"Sihir itu kan..." Gumam Arisa.
"Bagaimana hebat kan," Kata Goby. "Itu adalah sihir khusus mereka berdua. Mereka bisa menciptakan ruang kecil untuk menyimpan beberapa barang. Mereka berdua harus bergenggaman tangan untuk mengaktifkan nya, jika mereka berdua berpisah mereka tidak akan bisa menggunakan sihir itu." Sambung Goby.
"Hmmm, begitu ya... Sihir yang berguna. Ngomong-ngomong berapa banyak barang yang bisa di simpan?" Tanya Arisa.
"Jangan terkejut!!" Kata Sindi dan Cindy bersama-sama. "Kami bisa menyimpan sepuluh barang kecil. Bagaimana hebat kan?"
"Hmmm, begitu ya... Pantas saja, kalian tidak menyimpan Cristal sihir yang besar itu." Kata Arisa sambil.menunjuk ke arah Cristal yang berada di tengah-tengah Prajurit.
Sindi dan Cindy menengok ke arah Cristal. "Untuk Cristal itu.." Kata Sindi. "Kami tidak bisa menyimpan nya..." Kata Cindy. "Ruangan kami.." Kata Sindi. "Tidak cukup." Sambung Cindy.
"Bisa tidak kalian bicara dengan normal?" Tanya Jack.
Sindi dan Cindy mengabaikan Jack. Kemudian Sindi dan Cindy, melihat ke arah ku.
"Tuan Putri...." Kata Sindi. "Boleh kami memakai Vila..." Sambung Cindy. "Anda?" Kata mereka bersama-sama.
"Boleh saja, memang nya kalian mau apa?"
Sindi dan Cindy menarik tangan ku, tangan Natasha dan tangan Arisa. Mereka menarik kami ke dalam Vila.
Jack yang melihat Mira, Natasha dan Arisa yang di paksa masuk kedalam. Menjadi keheranan. "Mereka mau ngapain?" Kata Jack.
"Tenang saja," Kata Goby menenangkan. "Sindi dan Cindy hanya ingin mendandani mereka saja. Tuan putri dan para pelayan nya harus berpakaian Formal jika ingin menemui Raja dan Ratu." Sambung Goby.
"Hmmm, begitu ya."
"Habis ini giliran mu. Tuan Kesatria." Kata Goby ke Jack.
Jack tertawa kecil. "Tidak perlu memanggil ku tuan kesatria. Itu panggilan yang tidak pantas untukku."
"Tapi anda, membawa pedang. Pasti anda adalah kesatria yang melindungi tuan Putri kan."
"Sudah wajar aku melindungi nya, Nona Mira adalah penyelamat hidup ku. Jadi kami bertiga akan melindungi nona Mira apapun yang terjadi."
Sungguh pria yang loyal dan rendah hati. Aku juga bisa merasakan kekuatan pria ini. Bagaimana Putri Mira bisa membuat orang ini patuh? Apa yang sebenarnya pria ini maksud tentang putri Mira menyelamatkan hidup nya? Pikir Goby.
Beberapa menit kemudian Mira, Natasha dan Arisa keluar dari dalam Vila.
Mereka bertiga terlihat sangat cantik dengan gaun yang mereka pakai.
"Aku tidak terbiasa pakai gaun, dan juga sangat susah sekali berjalan dengan sepatu hak tinggi." Kata Arisa dengan nada kesal.
Arisa menatap marah Sindi dan Cindy. "Kalian!!" Kata Arisa dengan kesal. Kemudian Arisa berjalan cepat ke arah Sindi dan Cindy saat berjalan beberapa langkah, Arisa langsung terjatuh. Karena tidak bisa berjalan dengan benar.
Sebelum Arisa menyentuh tanah, Jack langsung melesat dengan cepat untuk menangkap Arisa. "Jika kau berjalan secepat itu kau akan terjatuh, kau tidak memperhatikan bagaimana Nona Mira berjalan?" Kata Jack.
"Ma-maaf." Jawab Arisa menyesal.
Sindi dan Cindy bertepuk tangan. "Wooow..." Kata Sindi. "Sangat keren..." Sambung Cindy.
Jack melepaskan Arisa, setelah melepaskan Arisa Jack di tarik kedalam Vila oleh Sindi dan Cindy. Awal nya terdengar bunyi gaduh di dalam Vila, beberapa menit kemudian Jack pun keluar bersama dengan Sindi dan Cindy.
Jack terlihat sangat tampan dengan baju prajurit kerajaan Fantasia. Rambut Jack yang awal nya acak-acakan menjadi sangat rapi. Rambut nya yang membuat Jack terlihat menjadi sangat tampan.
"Rasa nya seperti melihat orang asing." Kata Natasha.
"Kau benar Natasha."
"Aku saja tidak percaya kalau dia itu saudara ku." Sambung Arisa.
"Baik semua sudah siap." Kata Sindi dan Cindy bersama-sama.
"Sekarang kita berangkat!!" Teriak Coby.
"Tunggu dulu!"
"Ada apa lagi tuan Putri?"
"Setelah sekian lama tidak pulang, aku ingin memberikan hadiah ke pada ibu. Aku juga ingin memberikan hadiah ke Kak Yuri sebagai permintaan maaf, atas apa yang terakhir ku katakan sebelum aku pergi."
"Anda tidak perlu membawa hadiah. Kepulangan anda merupakan hadiah terbesar bagi mereka berdua." jawab Goby.
"Tidak aku ingin memberikan hadiah... Aku akan pergi ke kota sekarang... Ayo Natasha, Arisa, Jack!"
"Baik!!" Jawab Natasha, Arisa, dan Jack bersama-sama.
"Tunggu!! Tuan Putri kami juga ikut." Teriak Goby.
Para prajurit pun mengikuti ku dari belakang bersama dengan Natasha, Arisa, dan Jack.
Kami sampai di tengah kota Tiramisu, kami menjadi pusat perhatian di kota. Aku mengabaikan tatapan para warga kota, aku hanya terus berjalan.
Akhir nya kami sampai di salah satu toko ku. Toko berlian. Toko ini jarang di kunjungi oleh pembeli, padahal toko ku yang lain selalu ramai pengunjung. Apa karena barang yang di jual sangat mahal? Karena itu jarang ada pembeli.
Aku berjalan menuju pintu masuk toko, saat aku menyentuh gagang pintu, Goby menghentikan ku dengan cara menarik tangan ku.
"Tu-tunggu tuan Putri!!" Kata Goby sambil menggenggam tangan ku.
Aku berbalik melihat ke arah Goby.
"Tuan Putri ini toko berlian. Apakah tuan putri punya uang untuk membayar berlian nya. Lagi pula ini toko milik perusahaan dagang Mirror, perusahaan dagang yang terkenal." kata Goby dengan wajah cemas.
Aku melepaskan tangan Goby. "Kau tenang saja, aku tidak akan bayar."
Goby berekspresi ketakutan. "A-apa... Apa yang anda.. Bi-bicarakan... Ti-tidak ba-ba-" Goby menjadi susah berbicara karena ketakutan.
Kemudian aku menenang kan Goby, Goby menjadi sedikit tenang.
"Asal kau tahu Goby. Perusahaan dagang Mirror itu punya ku."
Semua prajurit tertawa terbahak-bahak.
"Anak kecil jangan bermimpi." Kata Salah satu prajurit.
Goby berbalik melihat ke seluruh prajurit. "Siapa yang ngomong barusan!!" Teriak Goby.
Semua prajurit menjadi diam.
Aku mengabaikan mereka, dan membuka pintu toko.
Saat aku membuka pintu, semua pelayan yang ada di toko, langsung berbaris memanjang, kemudian mereka berlutut. "Suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda Nona Mira." Kata semua pelayan.
Aku berbalik menghadap semua prajurit. "Siapa yang bilang anak kecil jangan bermimpi tadi?" Tidak ada jawaban. "Kalian semua pulang duluan ke kerajaan Fantasia, aku tidak ingin melihat wajah orang yang mentertawakan ku." Kata ku dengan sedikit mengancam.
Semua prajurit berlutut. "Maafkan kami!!" Kata semua prajurit.
"Lain kali hati-hati saat bicara!!"
Setelah sedikit mencaci mereka, aku pergi memasuki toko berlian. Aku masuk bersama dengan Natasha, Arisa, Jack dan Goby.
Salah satu pelayan bertubuh cungkring berdiri kemudian dia mendatangi ku, di wajah nya terdapat kumis yang sangat lebat. Saat di hadapan ku, pria berkumis itu membungkuk.
"Kenapa Nona Mira datang ke sini?" Tanya pria berkumis.
"Aku ingin memberikan hadiah kepada ibuku dan saudaraku. Jadi aku ingin berlian terbaik yang ada di toko ini."
"Berlian yang terbaik?" Tanya pria berkumis.
"Iya benar... Kalau bisa kau bawakan Ruby."
"Eeeh, Ru-Ruby!!" Goby berteriak di belakang ku.
Tanpa menghadap ke Goby, aku memberitahu nya. "Bisa tidak kau jangan berteriak?"
"Ma-maaf." Kata Goby dengan terbata-bata.
"Jadi bagaimana bisa kau bawakan Ruby?" Tanya ku kepada pria berkumis.
Pria berkumis itu mengangguk, kemudian ia bergegas pergi ke tempat berlian jenis Ruby di taruh. Tempat Ruby itu di taruh berada di bagian paling belakang toko. Setelah sampai di bagian paling belakang toko, si pria berkumis mengambil 2 buah Ruby yang paling indah di antara semua Ruby. Setelah mengambil Ruby, pria berkumis bergegas pergi ke depan toko.
Si pria berkumis datang dengan membawa 2 Ruby di tangan nya.
"Saya mengambil Ruby yang paling indah, dan yang paling bagus kualitas nya di antara semua Ruby." Kata Pria berkumis itu.
Aku mengambil, kedua Ruby yang ada di tangan nya. Kemudian aku memerhatikan kedua Ruby itu. Bentuk nya sangat indah, warna nya sangat cantik. Dan ini adalah Ruby yang berkualitas sangat bagus. Goby yang memerhatikan Ruby dari belakang ku, berdecak kagum dengan ke indahan Ruby yang ku pegang. "Indah sekali..." Gumam Goby dengan nada kagum.
Aku memberikan Ruby ke pelayan berkumis. "Bisa kau jadikan Ruby ini menjadi aksesoris?"
"Bisa nona. Saran saya lebih baik di jadikan kalung."
Aku mengangguk.
Kemudian si pelayan berkumis pergi ke suatu ruangan, 10 menit kemudian si pelayan berkumis keluar. Dia keluar dengan membawa Ruby yang sudah menjadi kalung.
Aku pun mengambil kedua kalung itu, setelah mendapatkan kalung, aku pergi keluar dari toko.
"Sekarang kita pergi ke kerajaan Fantasia." Kata Goby.
"Kita kembali dulu ke Vila. Aku ingin mengambil barang-barang ku."
Goby berkespresi kecewa.
Kami semua pun pergi kembali ke Vila. Saat sampai di Vila, Natasha, Arisa dan Jack pergi ke dalam Vila. Beberapa menit kemudian mereka kembali dengan membawa tas. Natasha, mengunci pintu Vila kemudian Natasha mengaktifkan sihir pertahanan yang melindungi Vila dari serangan penyusup pada saat kami pergi. Setelah itu Natasha mendekati ku bersama dengan Arisa dan Jack.
"Semua nya sudah siap." Kata Natasha menegaskan.
Aku mengangguk ke arah Goby.
Goby membalas anggukan ku. "Akhir nya selesai juga." Gumam Goby.
Para prajurit membuat formasi lingkarang mengelilingi ku bersama dengan Natasha, Arisa dan Jack. Kemudian datang lima prajurit membawa Cristal sihir yang besar. Mereka berlima mengangkat dengan susah payah.
Mereka terus berjalan, hingga akhir nya mereka berlima sampai ke samping Jack.
Mereka berlima menaruh Cristal sihir ke tanah dengan perlahan. Nafas mereka berlima terengah-engah. Mereka semua membungkuk. "Tu-tunggu... Kami istirahat... Sebentar..." Kata prajurit dengan nafas yang terengah-engah.
Melihat mereka yang kesusahan, aku menyuruh Jack untuk mengangkat Cristal sihir.
"Baik Nona." Balas Jack, atas suruhan ku.
"Tu-tunggu kau tidak mungkin-" Sebelum salah satu prajurit selesai berbicara, Jack sudah mengangkat Cristal sihir dengan kedua tangan nya. Semua prajurit berdecak kagum melihat Jack. Kemudian Jack tersenyum sombong.
Aku berteriak kepada Jack. "Jack, cepat aktifkan Cristal sihir nya!!"
"Ba-baik." Jawab Jack.
Jack bersiap membanting Cristal sihir nya. Saat Jack hendak membanting Cristal nya, jantung ku berdebar sangat kencang. Aku menjadi takut untuk kembali ke istana, sekarang aku ingin menolak ajakan mereka. Rasanya aku sangat takut untuk bertemu ibu lagi. Rasanya aku ingin membatalkan pergi ke Fantasia. Pikiran seperti itu terus menyerang kepala ku, saat aku dalam keadaan takut, Natasha menggenggam tangan kanan ku.
"Jangan takut. Kami akan selalu ada di samping mu." Kata Natasha menenangkan.
Setelah perasaan ku tenang, aku menghembuskan nafas panjang. Aku memegangi dada ku, detak jantung ku, berdebar sedikit lebih pelan. Aku menjadi semakin tenang mendengar perkataan Natasha.
Saat perasaan ku sudah tenang, Jack berteriak. "Pindahkan kami!!" Kemudian Jack membanting Cristal ke tanah.
Dalam sekejap aku, Natasha, Arisa, Jack dan kelima puluh prajurit berpindah ke ruang tahta istana kerajaan Fantasia.