
Rio menjauh dari Lia yang menjadi pusat perhatian orang sekitar. Sedangkan Lia masih bergumam sendiri, Lia tidak sadar kalau Rio sudah pergi dari hadapan nya.
"Putri Lia!! Putri Lia!!" Teriak prajurit yang ikut dengan Lia.
Lia terkejut mendengar teriakan prajurit. Tapi karena teriakan Prajurit Lia tidak lagi bergumam sendirian, Lia melihat ke arah depan. Lia tidak lagi melihat Rio berada di hadapan nya, Lia pun bertanya ke Prajurit yang ikut dengan nya.
"Kemana, Pria besar yang ku ajak bicara tadi?" Tanya Lia.
"Dia sudah lama pergi." Jawab Prajurit itu.
"Kalau begitu, ayo cepat pergi ke gunung itu." Kata Lia sambil menunjuk Gunung yang ada di depan nya.
Prajurit itu mengangguk, kemudian mereka berdua pun berjalan menuju gunung. Saat menaiki Gunung, Lia di gendong Prajurit sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Lia dan Prajurit itu, berada di halaman depan Vila Mira. Lia memasuki Halaman Vila Mira dan berjalan ke depan pintu Vila.
"Mira!!" Teriak Lia. Saat Lia berteriak, tidak ada yang menjawab. Lia pun menggedor-gedor pintu Vila sambil berteriak memanggil Mira. "Mira!! Miraaa!!!" Lia berteriak sangat keras, tapi masih tidak ada jawaban.
"Mungkin memang dia sudah pergi dari kota ini." Kata Prajurit.
Lia duduk di depan pintu Vila, Dia memasang wajah cemberut. "Mira pergi ke mana sih." Kata Lia dengan nada kesal.
Apa mungkin dia sudah pulang ke Kerajaan Fantasia? Kalau begitu aku harus cepat pulang dan mengajak Ayah cepat-cepat pergi ke Kerajaan Fantasia. Kata Lia di dalam pikiran nya.
"Lebih baik kita pulang saja." Kata Lia.
Prajurit itu mengangguk, kemudian Lia mengambil Cristal sihir yang ada di saku celananya. "Pindahkan aku ke Ruang Tahta Kerajaan Milefolia." Setelah mengucapkan itu, Lia membanting Cristal sihir nya ke tanah.
Lia berpindah ke ruang Tahta Kerajaan Milefolia, saat ia tiba di ruang tahta, ia melihat ayah nya sedang duduk di kursi tahta.
"Lia, kenapa kau pulang." Kata Raja Albert.
"Ayah, apakah besok ayah pergi ke kerajaan Fantasia?"
"Iya. Ayah baru saja, menerima surat persetujuan dari Raja Charles."
"Kalau begitu, boleh aku ikut ayah besok?"
"Kenapa tiba-tiba mau ikut? Tadi nggak mau ikut?"
"Aku berubah fikiran. Sepertinya teman ku sudah pulang ke negara nya, dan kebetulan teman ku itu tinggal di kerajaan Fantasia. Jadi boleh aku ikut ayah besok." Lia menunjukkan muka memelas di depan ayah nya.
Melihat wajah memelas Lia, Raja Albert pun tidak bisa menolak permintaan anak nya.
"Baiklah kau boleh ikut besok."
Lia melompat kegirangan, kemudian Lia berlari menuju pintu Ruang tahta, saat dekat dengan pintu ruang tahta, para pengawal membuka pintu ruang tahta.
Lia pun langsung menuju keluar ruang tahta, melalui pintu yang terbuka. Saat Lia berada di ambang Pintu, Lia berbalik badan dan melihat ke arah Ayah nya.
"Terima kasih telah mengajak ku Ayah."
Setelah mengatakan itu, Lia bergegas pergi dari Ruang tahta.
\*
Aku berjalan pergi menuju pintu keluar istana, setelah beberapa detik berjalan, pintu keluar sudah terlihat di depan mata. Para pengawal yang melihat ku, bersiap-siap untuk membuka pintu, saat aku sudah tiba di depan pintu para pengawal langsung mendorong pintu. Pintu terbuka perlahan-lahan, saat pintu terbuka secara sempurna, Alex terlihat berdiri di depan pintu seperti menunggu sesuatu.
Aku pergi keluar istana, Alex yang menunggu di depan pintu, langsung mengikutiku.
"Jadi apa yang kau bicarakan dengan ayah?" Tanya Alex, sambil mengikuti ku dari belakang.
"Bukan hal penting. Ayah mu hanya membahas tentang panti asuhan yang baru saja ku beli."
Mendengar perkataan ku, Alex berhenti berjalan. Kemudian aku berbalik lalu aku menyuruh Alex berjongkok.
Tanpa bertanya Alex berjongkok, semula tinggi ku setara dengan perut Alex, setelah Alex berjongkok tinggi ku setara dengan kepala Alex. Karena tinggi ku sudah setara Alex, aku mengarahkan tangan ku ke dahi Alex kemudian aku menjetik dahi Alex.
Setelah ku jentik, Alex jatuh tersungkur, kemudian ia memegangi dahinya.
"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Alex.
"Alex, jika kau memiliki kesulitan. Jangan sungkan untuk minta tolong padaku."
Aku berbalik, kemudian aku meninggalkan Alex yang terlihat kebingungan dengan perkataan ku.
Aku sampai di depan rumah, aku berjalan menuju pintu rumah, aku sampai di depan pintu rumah, aku jinjit untuk menggapai gagang pintu. Setelah aku berhasil memegang gagang pintu, aku memutar nya kearah kanan kemudian aku mendorong sedikit pintu itu hingga terbuka.
Saat pintu terbuka, Natasha menyambut ku. Kemudian Natasha mengajak ku keruang makan, saat aku sampai di ruang makan, Arisa dan Jack duduk di meja makan. Meja makan itu penuh dengan berbagai sajian makanan.
"Kami berdua yang sudah menyiapkan nya." Sambung Jack.
"Kenapa kalian tiba-tiba masak banyak makanan seperti ini?"
"Lagi iseng aja. Hahahaha." Jawab Arisa.
Aku duduk di kursi makan, Arisa dan Jack menatapku sambil tersenyum.
"Jack aku sudah memutuskan hukuman mu."
"Ka-kak Mira masih ingat ya." Jawab Jack dengan terbata-bata.
"Tentu saja, walaupun kalian berusaha menyogok ku dengan masak banyak makanan. Aku tidak akan melupakan hukuman Jack."
Jack cemberut mendengar perkataan ku.
"Untuk hukuman mu. Aku memutuskan kau untuk membantu Alex. Kau hanya perlu menemani nya."
"Baik." jawab Jack dengan wajah kecewa.
"Sekarang kau sudah boleh melakukan tugas mu. Cepat pergi sekarang!"
Jack pun pergi dengan wajah cemberut.
Setelah Jack pergi, aku beranjak dari tempat duduk ku.
"Kebetulan kalian masak banyak makanan kebetulan hari ini aku ingin mengundang banyak tamu..... Kalian berdua ayo ikut dengan ku!!"
Aku berjalan menuju pintu keluar, Natasha dan Arisa mengikuti ku dari belakang. Saat sampai di depan pintu, aku berusaha meraih gagang pintu, sebelum gagang pintu berhasil ku raih, Natasha sudah memegang nya, kemudian Natasha menarik pintu, pintu itu pun terbuka.
"Kau harus banyak-banyak minum susu Mira." Kata Natasha, sambil tersenyum.
Aku tidak menjawab perkataan Natasha, aku langsung berjalan keluar rumah.
Saat di luar aku pergi ke istana, aku pergi ke istana untuk mengambil satu kereta kuda yang terparkir di halaman samping istana. Para prajurit tidak ada yang protes pada saat aku mengambil kereta kuda tanpa izin ke Joshua.
Aku pun menyuruh salah satu prajurit untuk mengendarai kereta kuda, saat ku suruh prajurit itu tidak bertanya apapun. Dan langsung mengikuti perintah ku.
Aku, Natasha dan Arisa menaiki kereta kuda, lalu prajurit yang kusuruh juga ikut menaiki kereta kuda, dia duduk di kursi pengemudi yang ada di depan.
Prajurit itu mulai mengambil tali pengendali kuda, kemudian ia mencambukkan nya. Kereta kuda pun mulai berjalan secara perlahan.
Di depan kami terdapat jendela kecil yang menyambungkan kursi penumpang ke kursi pengemudi. Jendela itu di buka, kemudian prajurit yang mengendalikan kereta kuda berbicara dengan suara nyaring.
"Nona Mira, kita ingin kemana?" Tanya Prajurit itu.
"Bawa aku ke Panti Asuhan."
Setelah mendengar jawaban ku, prajurit itu menutup jendela kembali. Kereta kuda berjalan dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan Aku dan Natasha melakukan percakapan singkat.
"Mau apa kita di Panti Asuhan?" Tanya Natasha.
"Tadi aku bilang ingin buat selai kan. Untuk membuat selai kita perlu buah, untuk membuat selai itu memiliki rasa. Karena itu aku ingin menanam buah, tapi aku tidak mau menanam nya, aku ingin menyuruh orang saja yang melakukan nya. Karena itu aku ingin anak-anak panti asuhan itu yang mengerjakan nya untuk ku."
"Lalu untuk apa kau minta dokumen kepemilikian Panti Asuhan?" Tanya Natasha.
"Aku ingin membuat sesuatu yang lebih besar lagi. Dari pada hanya membuat selai."
Saat melakukan percakapan singkat, akhirnya kami tiba di depan panti asuhan. Saat kami tiba, para anak-anak di panti asuhan pergi ke halaman untuk melihat kereta kuda milikku. Wajar jika mereka ingin melihat, kereta kuda ini kan kereta kuda kerajaan.
Saat kami sampai, Natasha dan Arisa turun terlebih dahulu, saat aku ingin turun Natasha langsung menggendong ku, kemudian Natasha menurunkan ku di tanah. Saat aku sudah turun Arisa menutup pintu kereta yang awal nya terbuka.
\*
Anak-anak panti asuhan bermain seperti biasanya, ada 5 orang anak di panti asuhan yang sudah berumur 17 tahun. Biasanya anak-anak panti asuhan paling lambat di adopsi berumur 12 tahun. Tapi tidak dengan mereka berlima.
Tidak ada yang ingin mengadopsi mereka berlima, mereka pernah di adopsi tapi orang tua adopsi mereka selalu memulangkan mereka. Dan keluhan orang tua adopsi mereka selalu sama. "Anak ini terlalu nakal, kami tidak kuat mengurusnya." Begitulah keluhan orang tua yang pernah mengadopsi mereka, karena itu mereka tidak pernah di adopsi.
Saat kelima anak itu bermain dengan adik-adik mereka di panti asuhan seperti biasanya, tiba-tiba ada sebuah kereta kuda kerajaan yang berhenti di depan panti asuhan. Mereka berlima pun menghentikan permainan, lalu ibu pengasuh keluar dari panti asuhan dengan wajah panik setelah melihat kereta kuda itu.
Pintu kereta itu di buka, lalu keluar dua gadis berambut pirang. Salah satu dari mereka adalah Elf. Lalu salah satu gadis mengeluarkan gadis kecil berambut perak. Gadis kecil itu berjalan memasuki halaman, kemudian gadis kecil itu mengambil sesuatu dari kantung bajunya. Dia mengambil sebuah kertas, dia membuka kertas itu lalu menunjukkan nya kedepan.
"Dengar semua nya. Nama ku Mira. Raja sudah memberikan panti asuhan ini padaku, jadi mulai sekarang panti asuhan ini adalah milikku." Teriak gadis kecil itu.
Lalu gadis kecil itu berteriak lagi. "Karena panti asuhan ini milikku. Aku ingin menggusur panti asuhan ini!"