From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 338 Menguburkan Jasad Carla



Aku berteleportasi ke depan ruangan tempat aku meninggalkan Natasha dan keluarga Kak Rosa. Aku menghirup nafas panjang, kemudian dengan perlahan memutar gagang pintu, lalu membuka pintu dengan perasaan ku yang sedikit lebih tenang dari sebelum nya.


"Maaf," Kata ku setelah memasuki ruangan. Saat aku masuk, mata Natasha, Selir Lavender, dan Kak Rosa otomatis mengarah pada ku. "tiba-tiba keluar di tengah diskusi." Kata ku pada mereka.


"Tidak apa-apa Mira. Kami tahu perasaan mu." Jawab Kak Rosa atas permintaan maaf ku.


Aku hanya bisa tersenyum, atas pengertian Kak Rosa.


Aku kembali ke tempat duduk ku. Selir Lavender kemudian menuangkan teh lagi ke cangkir ku yang kosong, aku pun berterima kasih atas perhatian Selir Lavender.


"Benar juga Mira, kau mengatakan alasan kau datang ke kota ini untuk mewujudkan keinginan Yang Mulia Carla kan?" Setelah aku meminum teh seteguk, Kak Rosa mengajak ku berbicara kembali, dengan mengkonfirmasi alasan ku datang ke kota ini.


"Ya... Apakah Kak Rosa tahu di mana keluarga Ibu di makamkan? Kalau bisa aku ingin memakamkan ibu bersama dengan keluarga nya."


"Ya, aku tahu. Tapi kalau bisa kita pergi ke tempat itu saat malam hari."


Menurut Kak Rosa, makam keluarga kerajaan yang runtuh di jaga sangat ketat. Karena itu Kak Rosa menyarankan untuk datang saat malam hari, di kala penjagaan sedikit longgar. Aku sedang tidak buru-buru untuk menyusul kelompok Arisa, dan juga aku masih memiliki sedikit waktu untuk menyusul mereka, karena itulah aku menyetujui saran Kak Rosa untuk menyusup ke tempat yang di maksud pada malam hari.


\*\*\*


Malam hari, tiga jam setelah matahari terbenam.


"Pada saat seperti ini, para penjaga monumen akan sedikit lengah."


Saat kami berjalan menuju tempat keluarga ibu di makamkan, Kak Rosa menjelaskan sistem penjagaan kepada ku. Untuk lebih jelas nya, di saat hari mulai gelap para penjaga akan melakukan rotasi, dan di saat itulah penjagaan mencapai titik terendah nya. Dan waktu rotasi penjaga adalah sekarang.


"Pada waktu tengah malam, penjagaan akan lebih ketat dari biasa nya, oleh karena itu kita harus menyelesaikan pemakaman Ratu Carla sebelum tengah malam."


Saat ini, aku bersama dengan Natasha dan Kak Rosa berjalan di gang-gang sempit, menghindari keramaian, kami juga memakai jubah berwarna hitam untuk berbaur dengan gelap nya malam. Tidak lama untuk mencapai tempat yang di maksud oleh Kak Rosa, hanya lima belas menit berjalan kaki dari rumah Kak Rosa.


"Ok... Kalian ikuti instruksi ku. Kalian lihat pagar beton itu." Kak Rosa menunjuk sebuah bangunan yang di kelilingi dengan pagar beton yang menjulang tinggi, setinggi sepuluh meter, dan di sekitaran pagar beton sesekali ada penjaga yang lewat sambil membawa pedang dan tombak. Menurut Kak Rosa, saat tengah malam, tempat itu akan di kelilingi oleh para penjaga sehingga tidak ada celah untuk mendekati pagar beton.


"Dahulu pagar beton itu, pernah rusak dan di renovasi ulang. Sayang nya, saat perenovasian pemerintah kota ini tidak memantrai pagar itu dengan sihir alarm. Jadi rencana nya adalah..."


"Mencari titik dari pagar beton itu yang tidak di mantrai dengan sihir alarm..."


"Ya. Kau benar. Aku senang kau cepat dalam memahami rencana ku."


Selama melakukan percakapan ini, aku sudah melakukan apa yang Kak Rosa mau, yaitu mencari titik pagar itu yang tidak di mantrai. Dengan mata emas ku, itu adalah hal mudah... Dan kabar baik nya, aku sudah menemukan nya.


"Aku menemukan nya, ikuti aku."


Kami berjalan ke sisi kiri dinding, tepat di paling ujung. Aku menyentuh dinding itu, hendak menggunakan sihir tanah untuk membolongi nya. Saat aku sudah mengaktifkan sihir, aku langsung menghentikan nya, lalu melihat ke arah Natasha. "Natasha, di balik dinding ini, ada penjaga yang baru datang. Saat aku selesai membolongi nya, aku ingin kau membereskan penjaga itu."


Natasha mengangguk atas perintah ku. Aku melanjutkan apa yang telah aku mulai. Mengalirkan energi sihir keluar melalui tangan kanan ku yang menyentuh tembok, lingkaran sihir muncul, sedetik kemudian dinding yang awal nya utuh berlubang dengan diameter ukuran satu meter. Penjaga di balik dinding terkejut, ia berbalik sembari meraih pedang di pinggang nya, tapi Natasha dengan cepat mendorong ku lalu melesat masuk ke dalam lubang, menjatuh kan penjaga ke tanah lalu memukul perut penjaga itu hingga ia pingsan.


Aku menarik tangan Kak Rosa, melewati lubang, kemudian saat kami semua sudah di sisi lain tembok aku menutup lubang itu kembali. Tembok beton pun kembali seperti semula.


"Jangan gunakan sihir di dalam sini, aku merasakan kita telah memasuki (Barrier) khusus. Menurut dugaan ku, (Barrier) ini berguna untuk memberi peringatan jika ada energi sihir asing yang aktif."


Aku memberikan instruksi kepada Kak Rosa dan Natasha sesaat kami berada di balik tembok.


"Kalau begitu, bagaimana cara nya kita memasuki bangunan itu?" Tanya Natasha.


"Kak Rosa, di mana makam yang kau maksud?"


"Ada di ruang terdalam bangunan itu."


"Ya."


"Kalau begitu tunjukkan jalan nya pada kami, jangan khawatirkan masalah penjaga, biar kami yang mengurus hal itu."


"Baiklah... Lewat sini..."


Aku mengatakan kalau (Barrier) yang ada di balik dinding mendeteksi energi sihir asing jika penyusup menggunakan sihir, tapi di dunia ini ada satu Ras yang tidak sepenuh nya mengandalkan sihir untuk bisa mendeteksi musuh di sekitar mereka. Dan Ras yang ku maksud adalah Vampir, mereka memiliki indera yang lebih tajam dari Ras manapun. Jika aku tidak melemah, aku juga memiliki indera yang sama kuat nya dengan mereka. Tetapi saat ini semua panca indera ku menurun hingga ke titik sama dengan manusia pada umum nya, bahkan saat aku menggunakan sihir barusan aku merasakan energi sihir ku berkurang drastis padahal aku menggunakan sihir lemah. Karena itu sebisa mungkin aku tidak ingin terlalu banyak menggunakan sihir.


Oleh karena itu, untuk saat ini aku akan bergantung pada Natasha untuk mendeteksi musuh dan Kak Rosa untuk memandu kami.


\*\*\*


"Hah... Hah... Hah... Aku tidak menyangka kita dapat masuk ke ruang pemakaman tanpa hambatan."


Beberapa menit berlalu, empat puluh menit setelah kami melewati tembok untuk lebih tepat nya. Kami berhasil menyusup ke ruang terdalam bangunan tanpa ada nya hambatan, dengan kemampuan deteksi Natasha, kami berhasil melewati penjagaan ketat bangunan monumen dan dengan lancar sampai ke tempat yang kami tuju.


Aneh nya, ruangan terdalam monumen ini tidak memiliki penjagaan sama sekali, yang membuat kami dapat bernafas lega di sini. Sesaat kami memasuki ruangan, Kak Rosa langsung menjatuhkan diri nya, duduk di lantai sambil mengambil nafas. Ia terus berlari selama kami menyusup ke sini... Untuk ku? Di tengah perjalanan aku kehabisan nafas dan minta gendong oleh Natasha.


Aku tidak menyangka kemampuan fisik ku akan jatuh ke titik di mana aku kehabisan nafas hanya karena berlari sejauh seratus meter.


"Aku tidak percaya mereka membangun makam di dalam ruangan seperti ini." Gumam Natasha sembari melihat sekeliling.


"Natasha, kita tidak memiliki banyak waktu."


"Ya. Kau benar. Maaf."


Seperti yang Natasha Katakan, ruangan yang kami masuki hanyalah pemakaman. Hanya ada gundukan tanah dengan batu nisan di ruangan ini. Aku langsung memberikan Natasha instruksi untuk mengeluarkan jasad ibu dari (Blood Box) milik nya. Dari penglihatan Kak Rosa, Natasha seperti mengeluarkan jasad ibu dari ruang kosong, sama seperti Arisa saat menggunakan (Inventori) nya. Tapi untukku, Natasha jelas melukai tangan nya, mengeluarkan setetes darah, lalu dari darah itu jasad ibu keluar.


"Tunggu, kau mengatakan kita tidak boleh menggunakan sihir di sini!?" Kak Rosa berteriak dengan panik.


"Tenang saja, Natasha tidak menggunakan sihir sama sekali."


Mendengar penjelasan ku, Kak Rosa melihat ku dengan ragu, tapi ia tidak mengatakan dengan keras keraguan nya itu.


"Maaf Putri Rosa, saya menitipkan jasad Ratu Carla sebentar." Natasha menyerahkan jasad Ibu kepada Kak Rosa, lalu mulai menggali tanah yang masih datar dengan tangan nya. Dengan kemampuan Natasha yang jelas jauh lebih kuat dari Ras manapun ia dapat menggali lubang untuk menguburkan ibu dalam hitungan detik.


Setelah selesai menggali, Natasha mengambil kembali jasad ibu dari Kak Rosa, lalu memasukkan nya ke dalam lubang. Jasad ibu yang terutupi kain di letakkan nya dengan perlahan-lahan, setelah meletakkan jasad ibu ia pun keluar dari dalam lubang.


Sebelum Natasha menutup lubang, aku menyaksikan jasad ibu untuk terakhir kali nya, lalu mengucapkan kata perpisahan terakhir kepada ibu.


"Selamat tinggal Ibu." Kata ku, dengan suara bergetar. Aku berusaha untuk tidak menangis, tetapi itu percuma, karena air mata ku mulai mengalir jatuh, hingga beberapa tetes air mata ku terkena jasad ibu yang berada di dalam lubang. "... Natasha, kau boleh menutup lubang nya."


Natasha menutup kembali lubang galian dengan gesit, untuk tidak menimbulkan keanehan, Natasha berusaha untuk tidak membuat gudukan bekas galian.


Saat lubang tertutup rapat, aku menghapus air mata ku, lalu bersiap untuk meninggalkan tempat ini dengan sihir (Teleportation), tidak ada salah nya kan ketahuan menggunakan sihir di saat-saat terakhir...


Saat aku hendak mengaktifkan sihir, tanah mulai bergetar. Energi sihir asing muncul dari dalam tanah bekas galian Natasha, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas aku dapat mendengar para penjaga mendekati ruangan ini. Dengan sigap aku mengambil tangan Kak Rosa dan tangan Natasha, lalu mengaktifkan sihir (Teleportation) untuk berpindah keluar tembok.


"Apa yang terjadi!?" Kata Kak Rosa kepada ku dengan panik, setelah kami berada di luar tembok.


"Aku juga tidak tahu!"


Saat aku mengatakan itu, jawaban atas pertanyaan Kak Rosa terjawab, dari dalam bangunan aku dapat melihat sebuah pohon tumbuh dengan kecepatan tidak wajar. Pohon itu terus tumbuh hingga menghancurkan bangunan monumen, dan puncak pohon itu dapat terlihat dari luar tembok. Kejadian pohon yang tumbuh dengan kecepatan tidak wajar itupun membuat satu kota menjadi heboh.