
Aku dan Mimi berjalan ke lantai satu, saat di lantai satu, kami pergi ke ruang tengah. Di ruang tengah terdapat pintu keluar. Kami berjalan ke pintu itu.
Aku membuka pintu, saat berada di luar, aku menarik nafas panjang.
Menghirup udara di dunia ini tidak seenak menghirup udara di dunia tempat Mimi. Udara di sini sudah sedikit tercemar dengan asap kendaraan dan pabrik. Berbeda dengan di dunia Mimi, udara di sana masih sangat segar.
Aku melihat ke langit, sebuah pesawat udara melintasi langit, melewati awan hingga meninggalkan bekas panjang di awan.
"Selamat datang di pertengahan abad 21."
"Kau bilang apa tadi?" Tanya Mimi.
"Bukan apa-apa. Hanya bergumam!"
"Hmmm, begitu ya.... Jadi kita akan berjalan kaki ke tempat yang kau tunjukkan itu?"
"Kita naik Taxi.... Walaupun ku sebutkan nama nya, kau tidak akan tahu apa itu Taxi."
"Tenang saja, aku tahu apa yang kau maksud."
Aku menatap Mimi dengan tatapan heran. "Dari mana kau tahu?"
"Kita berbagi ingatan."
"Jadi begitu ya... Pantas sewaktu aku sadar, aku mendapat ingatan asing. Ternyata itu ingatan mu."
Mimi mengangguk.
Aku berjalan keluar pekarangan rumah, pekarangan rumah ku berhadapan langsung dengan jalan raya. Jadi sewaktu aku leluar, aku tinggal menunggu taxi mendatangi ku saja.
Beberapa menit kemudian taxi datang, Taxi itu berhenti di depan ku. Aku membuka pintu penumpang, setelah itu aku masuk kedalam taxi, di ikuti dengan Mimi.
Mimi menutup pintu Taxi. Supir taxi di depan mengarahkan kaca spion nya ke arah wajah kami.
"Mau kemana dek?" Tanya supir Taxi itu.
"Ke taman bermain."
Setelah mendengar jawaban ku, supir taxi memencet sebuah layar yang ada di samping setir nya. Dari layar itu terdapat petunjuk jalan menuju taman bermain.
"Waktu perjalanan ke taman bermain akan mengambil waktu 1 Jam dengan kecepatan normal." Suara wanita yang keluar dari Radio yang ada di samping layar.
Mendengar jawaban itu, supir Taxi menginjak pedal gas, Taxi pun berjalan dengan kecepatan normal.
"Setel lagu dangdut!" Kata supir Taxi.
"Menyetel lagu dangdut!" Suara wanita berasal dari radio.
Musik dangdut pun terdengar dari Radio.
"Maaf berisik dek.... Biar nggak bosan nyetel lagu." Kata supir Taxi.
"Nggak papa om!"
"Ngomong-ngomong. Adek berdua ini kembar ya?"
"Iya om." Jawab Mimi.
Setelah menjawab itu Mimi tersenyum padaku.
"Oh gitu ya," Balas Supir Taxi. "Terus orang tua kalian mana?"
"Ayah dan Ibu kami lagi kerja om!"
Mendengar jawaban ku Supir taxi, menggelengkan kepala nya. "Orang tua jaman sekarang, lebih mementingkan pekerjaan dari pada anak nya sendiri!"
Aku dan Mimi tidak menjawab perkataan Supir Taxi. Supir Taxi itu melanjutkan omelan nya. Aku dan Mimi mengabaikan omelan supir Taxi itu.
Aku mengambil ponsel di saku baju, aku memegang ponsel dengan tangan kiri ku. Aku menekan tombol yang ada di samping ponsel, ponsel pun menyala. Setelah itu aku menyentuh layar ponsel, saat ku sentuh, muncul keyboard di layar, lalu ada tulisan "Masukkan Password" aku mengetikkan password. Hasil nya password benar!
Aku menggeser layar ponsel, setelah ku geser ada sebuah aplikasi yang menyediakan Video. Aku pun membuka aplikasi itu.
Mimi melihat Rara sedang memainkan ponsel nya dengan tangan kiri. Mimi pun menjadi bingung, karena seingat Mimi, Rara itu bukan seorang Kidal.
"Rara kamu kidal ya?... Aku baru tahu."
"Aku nggak kidal kok."
"Terus ngapain kamu main pake tangan kiri?"
"Oooh.... Sebenarnya, saat aku bermain ponsel aku menggunakan tangan kiri!"
"Hmm.... Gitu ya.... Ngomong-ngomong, lagu yang di setel Supir..."
"Benar juga lagu apa ini ya? Ayah dan Ibu kadang juga memutar lagu ini di rumah."
Supir pengemudi berteriak. "Apa!! Adek nggak tahu lagu dangdut!? Adek sudah gagal jadi orang indonesia!"
"Emang nya kalo jadi orang indonesia harus tahu lagu dangdut?" Tanya Mimi.
Mimi duduk semakin mepet di samping ku, kemudian ia juga ikut melihat Video yang ku putar di ponsel.
Beberapa menit kemudian Taxi berhenti. Aku langsung mematikan ponsel ku.
"Sudah sampai dek. Maaf tadi om berisik selama perjalanan."
"Nggak papa om." Jawab Mimi sambil memberikan uang.
"Uang nya kelebihan dek.. Tunggu sebentar... Kalo nggak salah om ada uang kecil..."
"Ambil aja kembalian nya om." Aku memberitahu supir taxi sambil membuka pintu.
Aku melompat keluar, Mimi juga melompat keluar dari Taxi, kemudian Mimi menutup pintu Taxi.
Supir Taxi keluar dari taxi. "Jangan gitu dek," Kata supir Taxi sambil memberikan uang. "Om nggak mau ngambil kembalian dari anak kecil."
Aku pun mengambil uang yang di berikan supir Taxi. "Ya udah kalo gitu."
"O iya... Adek berdua ini Blasteran luar negeri ya?"
Mimi mendekatkan wajah nya ke wajah ku. "apa itu blasteran?" Tanya Mimi sambil berbisik.
Aku menggelengkan kepala ku. Mimi menatap supir Taxi. "Apa itu blasteran?"
"Blasteran itu campuran.... Misal nya ada bapak kalian indonesia dan ibu kalian orang barat."
Dengan spontan aku menjawab. "Dari mana om tahu?"
"Rambut kalian. Berwarna perak... orang Indonesia mana ada yang rambut nya perak."
Supir itu membuka pintu Taxi, kemudian ia masuk kedalam. "Ya sudah Om pergi dulu... Hati-hati nanti kalian kena culik!" setelah mengatakakan itu, supir Taxi menginjak pedal gas. Taxi pun langsung melaju ke arah depan.
Setelah Taxi pergi, aku dan Mimi memasuki taman bermain, kami membeli tiket, setelah membeli tiket kami di perbolehkan masuk kedalam.
Saat di dalam, kami mencoba berbagai wahana. Kami mencoba hampir semua wahana, waktu demi waktu berlalu. Malam pun akhir nya tiba. Aku dan Mimi menaiki wahana terakhir yaitu bianglala.
"Menyenangkan sekali!!" Kata Mimi sambil tersenyum gembira.
Aku dan Mimi melihat ke arah luar bianglala. Di samping kami terdapat jendela, kami melihat melalui jendela itu. Saat bianglala yang kami naiki sampai pada puncak nya, bianglala berhenti.
Aku menatap Mimi dengan tatapan serius. "Sekarang kita mendapatkan tempat yang tepat untuk berbicara."
"Sebelum aku berbicara, aku ingin kau melihat Status mu!" Kata Mimi dengan wajah serius.
"Open Status!"
Muncul layar di depan ku.
Name:Mira
Level:100 MAX
Class:Mage
HP:1.000.000
MP:10.000.000
STR:100 MAX
AGI:100 MAX
INT:100 MAX
VIT:100 MAX
DEX:100 MAX
"Mimi.. Kenapa Class nya kembali lagi ke Mage?"
"Tentu saja akan kembali. Class Princess itu milik ku."
"Hmmm jadi begitu ya.... Jadi apa hubungan nya Status ku ini dengan hal yang ingin kau bicarakan?"
"Aku tidak suka basa basi. Jadi aku akan langsung ke inti nya." Mimi memejamkan mata nya, ia menarik nafas panjang. Setelah itu ia membuka mata nya, saat ini ia sedang menatap ku dengan tatapan tajam.
"Rara... Maksudku Mira.... Jangan gunakan sihir super lagi... Atau tubuh mu akan hancur."
"Apakah hal itu ada hubungan nya dengan Class ku yang menjadi Princess?"
Mimi, maksud ku... Diri ku yang lain menganggukkan kepala nya.
"Itu adalah salah satu kerugian karena Class mu berubah menjadi Princess."
"Salah satu? Itu berarti kerugian nya ada banyak?"
Diriku yang lain mengangguk lagi. "Ada tiga kerugian. Pertama kau tidak bisa menggunakan sihir super, kedua tubuh mu menjadi lemah, dan ketiga kau tidak bisa mengeluarkan kekuatan penuh. Jika kau memaksakan diri menggunakan sihir super, atau kau memaksakan diri mengeluarkan kekuatan penuh... Tubuh lemah mu tidak akan bisa menahan nya, lama kelamaan tubuh mu akan hancur."