
Sehari setelah kunjungan Lia dan Willy ke Vila ku. Kami saat ini sedang sarapan setelah sarapan aku berencana pergi ke Eurasia. Kami pun akhirnya selesai sarapan, sebelum kami pergi ke Eurasia ada hal yang ingin kulakukan, hal yang pertama ku lakukan adalah menjelaskan tentang hal yang sudah kulakukan kepada Lia kemarin.
"Arisa, Jack. Ada hal yang ingin ku beritahu pada kalian." Arisa dan Jack melihat kearah ku. Kemudian aku melanjutkan perkataan ku. "Aku akan memberitahukan apa yang telah kulakukan pada Lia kemarin."
Pertama aku memperkirakan kalau Lia akan menjadi gila karena kematian Wiliam, setelah itu dia akan menemui pembunuh Wiliam. Awalnya aku ingin menggunakan Lizard sebagai pelaku pembunuh Wiliam, tapi hati nurani ku tidak memperbolehkan hal itu. Jadi aku menyusun rencana lain.
Aku pun merencanakan untuk membuat Lia bisa melupakan kematian Wiliam, dan aku memiliki sihir yang bisa melakukan hal itu. Tapi efek samping sihir itu membuat sifat ku menjadi penakut dan cengeng.
Aku pun menyusun scenario yang mendukung perubahan sifat ku. Aku membuat diri ku seperti trauma karena di culik. Karena itulah aku menyuruh Natasha dan yang lain nya untuk berakting seperti pengawal ku.
Kemarin aku mempersiapkan diri untuk mengaktifkan sihir, karena itu aku menyuruh Arisa dan Jack berjaga di depan pintu, karena itu bisa mengulur waktu sedikit. Lalu saat sihirnya aktif yang di tandai dengan perubahan sifat ku, aku menyuruh Natasha membiarkan Lia dan Willy masuk.
Aku memang berhasil mengaktifkan sihirnya tapi aku tidak bisa mengarahkan sihirnya ke Lia. Aku pun menyuruh Natasha melalui (Telephaty) untuk mengalihkan perhatian agar aku bisa mengarahkan sihirku ke Lia.
Akhirnya cara Natasha mengalihkan perhatian nya dengan cara memotong tangan Willy. Di tengah kepanikan tangan Willy yang terpotong aku mengarahkan sihir ke Lia. Sihir itu adalah sihir pengendali pikiran, aku bisa bebas membuat Lia mejadi boneka ku, tapi sihir itu hanya tahan satu hari. Tapi aku masih harus waspada terhadap Willy, aku pun memutuskan untuk membunuh Willy, tapi aku ingin membuat kematian Willy terlihat alami.
Karena itu aku menyuruh Natasha untuk mengajak mereka minum teh, aku mengarahkan pikiran Lia untuk berfikir kalau memang Wiliam yang bersalah, di saat bersamaan aku juga memasukkan sihir diam-diam kedalam minuman Willy. Sihir yang kumasukkan kedalam minuman Willy adalah sihir yang membuat kuman penyakit cepat berkembang biak. Jadi kematian Willy hanya tinggal menunggu waktu saja.
Tapi hingga akhir Willy tidak meminum teh nya, lalu aku menggunakan Lia untuk meminum teh nya, dan terakhir aku menggunakan Lia untuk mencabut status kebangsawanan Willy.
"Itulah yang kurencanakan kemarin. Maaf tidak memberitahu kalian lebih awal."
"Tapi ada satu hal yang membuat ku bingung." Kata Arisa.
"Apa itu?"
"Tadi kak Mira bilang kalau sihir yang kakak gunakan akan membuat kakak memiliki sifat seperti anak kecil. Jadi bagaimana kakak memasukkan sihir kedalam minuman Willy? Dan juga bagaimana kakak bisa memberikan perintah ke kak Natasha?"
"Yang berubah hanyalah sifat ku. Bukan pemikiran ku. Jadi walaupun aku memiliki sifat seperti anak kecil, pemikiran ku masih sama seperti biasanya."
Setelah selesai bercerita kami pun siap untuk berangkat ke Eurasia, sebelum kesana kami mengunjungi Rio terlebih dahulu.
Kami sampai di tempat Rio, kelihatan nya Rio ketakutan dengan kejadian kemarin, sampai sekarang dia masih mengurung diri di rumah dan tidak ingin menerima tamu, saat kami sampai kami di halangi dengan penjaga.
Aku bilang pada penjaga, jika tuan nya tidak ingin bertemu dengan ku, ia akan kehilangan uang dalam jumlah banyak. Penjaga masih tidak mau membiarkan kami masuk, kami pun dengan terpaksa pergi, tapi sebelum kami pergi Rio keluar dari rumah nya dan memanggil kami.
Kami di suruh masuk ke rumah Rio, kami bertiga duduk di sofa, lalu Rio menyediakan kami teh, kemudian ia duduk.
"Kenapa anda kemari nona Mira?"
"Aku langsung saja ke intinya. Rio berapa banyak bangunan yang belum kau jual?
"Masih ada 20 bangunan."
"Kalau begitu aku beli semuanya."
Rio terkejut mendengar perkataan ku. "Ha-harganya mahal, kau tidak akan sanggup."
Aku melihat kearah Natasha, kemudian aku mengangguk kan kepalaku. Natasha membalas anggukan ku, kemudian Natasha berdiri, lalu Natasha mengeluarkan kotak di sakunya.
Natasha membuka kotak itu, kemudian ia membalikkan kotak itu, dalam sekejap uang yang sangat banyak keluar dari kotak itu, uang itu membuat meja yang berada di depan kami tenggelam.
"Apakah segini cukup?"
Setelah penjualan tubuh Wiliam aku mendapatkan uang yang banyak, di tambah dengan uang ku sewaktu masih di FL, aku bisa membeli satu kota Tiramisu ini. Untuk membeli 20 bangunan aku hanya perlu mengeluarkan setengah dari penjualan tubuh Wiliam.
Rio tersenyum bahagia melihat uang yang banyak, kemudian Rio memberikan ku dokumen kepemilikan 20 bangunan padaku. Setelah mendapat dokumen aku pergi, sementara Rio melompat-lompat kegirangan.
"Siapa kalian?" Kata salah satu pengawal.
"Panggil raja kalian, aku ada urusan dengan nya."
Salah satu pengawal, menyuruh pengawal yang lain nya memanggil Joshua. Selama beberapa menit kami di todong senjata, akhirnya Joshua datang bersama Alex dan pengawal yang memanggil nya.
"Turunkan senjata kalian!"
Para pengawal menurunkan senjata nya, kami berempat pun diajak masuk ke istana. Kami di bawa ke ruang tahta, seperti ruang tahta kerajaan Fantasia, ruang tahta kerajaan Eurasia juga memiliki pintu besar dan di jaga dengan banyak pengawal.
Pintu di dorong oleh beberapa pengawal, akhirnya pintu terbuka. Kami memasuki ruang tahta, tidak seperti ruang tahta kerajaan Fantasia yang di dalam nya hanya terdapat 2 kursi, di dalam ruang tahta kerajaan Eurasia terdapat banyak kursi dan satu meja panjang, lalu di ujung meja terdapat satu kursi yang mewah.
"Silahkan duduk di sana nona Mira, kursi di ujung sana adalah kursi tahta kerajaan." Kata Alex.
Aku duduk di kursi itu lalu yang lain nya duduk di kursi kosong, melihat prilaku raja Eurasia pada ku Arisa mengangkat tangan nya kemudian ia bertanya.
"Kenapa raja berprilaku sopan kepada Kak Mira?"
"Itu karena Mira adalah penguasa yang sebenarnya di negara ini. Raja di sini hanyalah boneka Mira." Kata Natasha.
Arisa pun tidak bertanya lagi.
"Jadi kenapa nona Mira datang kesini?" Tanya Joshua.
"Biasanya sebelum pembicaraan serius di mulai, ada makanan dan minuman yang di sediakan bukan?"
Mendengar perkataan ku Alex pun beranjak dari tempat duduk nya kemudian ia keluar dari ruang tahta.
"Mohon tunggu sebentar. Alex akan membawakan nya."
Beberapa menit kemudian Alex datang dengan tiga orang pelayan yang membawa teh dan kue. Sewaktu pelayan menghidangkan makanan padaku, pelayan itu menunjukkan wajah bingung.
Ketiga pelayan itu pun selesai menghidangkan makanan, tapi ketiga pelayan itu hanya berdiri di samping kursi yang ku duduki.
"Kenapa kalian bertiga masih disini? Cepat pergi!" Joshua membentak ketiga pelayan itu. Pelayan itu bergegas pergi meninggalkan ruang tahta.
"Maaf kan saya nona Mira." Kata Joshua sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, malahan bagus kau membentak mereka. Aku tidak ingin pembicaraan kita di dengar."
Aku mengaktifkan sihir (Barrier) di seluruh ruang tahta.
"Baguslah tidak ada orang di sini selain kita," Aku dapat mengetahui jumlah orang yang masuk di dalam (barrier) ku. "Aku mengaktifkan sihir ini agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kita, memang benar tidak ada orang di sini, tapi bisa saja orang luar mendengar pembicaraan kita."
"Kalau masalah itu tenang saja, tidak ada orang yang bisa mendengar pembicaraan kita dari luar karena ruangan ini kedap suara."
"Buat jaga-jaga saja. Makanya aku mengaktifkan sihir ini, aku tidak ingin karena kecerobohan ku, semua rencana yang ku susun menjadi berantakan."
"Jadi kenapa nona Mira kesini?" Tanya Joshua.
Aku meminum teh ku seteguk, kemudian aku menaruh teh ku di meja. "Aku ingin medirikan pasar gelap disini."
Semua orang terkejut, kecuali Natasha saja yang tidak terkejut.