From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 154 Jack telah jatuh



Perspektif Natasha.


Setelah di suruh Mira, aku turun dari kereta kuda lalu berjalan masuk ke penginapan.


Aku mengetahui cara Mira untuk dapat mengetahui keberadaan Arisa dan Jack. Cara itu adalah memeriksa penginapan kota Banitza satu persatu. Jika seorang turis pergi ke kota asing, pasti mereka akan menyewa penginapan. Karena itulah Mira berasumsi kalau Arisa dan Jack ada di penginapan.


Aku membuka pintu penginapan, saat pintu terbuka lebar. Seorang pelayan menyapa dengan : "Selamat datang!"


Aku mengangguk membalas sapaan pelayan. Aku berjalan ke meja Resepsionis.


Resepsionis tersenyum cerah saat melihat ku mendekati nya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Resepsionis.


"Aku ingin mengetahui catatan orang yang menyewa kamar di penginapan ini 5 hari yang lalu."


"Maafkan saya. Saya tidak bisa menunjukkan catatan penginapan ini kepada pelanggan."


Aku menghela nafas. "Ini perintah dari Putri kelima kerajaan Fantasia. Dan saya adalah pelayan nya."


Untuk membujuk resepsionis ini agar mau menunjukkan catatan nya, ada 2 cara. Pertama dengan uang sogokan, kedua dengan ancaman menggunakan nama keluarga kerajaan. "Apakah kau pikir ada yang berani menggunakan nama keluarga kerajaan sembarangan?" Aku memberikan sedikit dorongan agar dia merasa takut dan menunjukkan catatan kepadaku.


"Ba-baiklah. Akan segera saya ambilkan." Kata Resepsionis itu, ia menunduk di belakang meja, setelah itu ia berdiri sambil membawa buku tebal dari bawah meja.


Seperti nya ia mengambil buku itu dari laci meja.


"I-ini catatan nya." Resepsionis itu menyodorkan buku nya padaku.


Aku membuka buku itu, lalu membalik-balik nya menuju catatan tanggal yang sesuai dengan 5 hari yang lalu.


Setelah sampai pada tanggal yang sesuai, aku mencari nama Arisa dan Jack.


Aku menemukan nya! Di sini tertulis. Arisa dan Jack menyewa kamar nomor 30 di lantai 2, ruangan dengan Double Bed.


Setelah menemukan nama Arisa dan Jack, aku menyerahkan buku itu pada Resepsionis.


"Terima kasih. Dan maafkan aku karena memaksa mu melakukan ini." Aku membungkuk meminta maaf.


Resepsionis ikut membungkuk.


Setelah itu, aku pergi dari penginapan dan kembali mendatangi Mira, yang berada di depan penginapan.


Perspektif Mira.


Natasha kembali, setelah ia memasuki penginapan selama beberapa menit.


"Bagaimana?" Tanya ku.


"Mereka menyewa kamar nomor 30." Jawab Natasha.


"Ternyata mereka benar-benar ada di penginapan ya.... Aku sudah menduga nya sih... Tapi aku tidak menyangka akan menemukan mereka secepat ini." Aku melompat dari kereta kuda. "Kalau begitu ayo kita datangi mereka. Dan juga, kau sudah boleh pergi."


Aku menyuruh penjaga gerbang yang mengemudi kereta kuda. Penjaga gerbang mengangguk, lalu ia menyambuk kuda dengan tali kemudi. Kereta kuda pun berjalan perlahan ke arah depan, lalu setelah berjalan beberapa meter ke arah depan, kereta kuda memutar balik pergi ke gerbang masuk kota lagi.


Melihat kereta kuda yang sudah pergi, Aku dan Natasha berjalan memasuki penginapan.


Natasha membuka pintu penginapan. Pelayan, Resepsionis dan pelanggan yang ingin menginap menatap lurus ke arah ku.


Setelah melihat ku, mereka berlutut.


"Ka-kami sudah dengar, anda akan datang kemari Putri Mira." Kata seseorang.


Mereka sudah dengar? Kapan!? Aku menatap Natasha dengan tatapan curiga. Saat ku tatap, Natasha memalingkan wajah nya.


Sudah pasti dia akan menggunakan nama ku untuk melihat catatan Resepsionis! Kenapa dia tidak pakai uang sogok saja!


Aku menghela nafas, lalu melihat ke arah depan.


"Aku kesini secara Rahasia. Jangan beritahu siapapun."


"Ba-baik!" Semua orang menjawab.


Aku menunjuk seorang pelayan. "Kau yang di sana." Pelayan yang ku tunjuk berdiri. "Dimana kamar Nomor 30?"


"Di-dilantai 2, kamar itu tepat berada di tengah-tengah lantai 2."


Setelah menjawab, pelayan yang ku tunjuk berlutut kembali.


Aku berjalan menuju lantai 2 bersama Natasha. Saat kami sampai di lantai 2, aku melihat ke lantai bawah. Orang-orang yang bersujud barusan menghembuskan nafas lega, dan berkata : "Syukurlah!!"


Setelah itu mereka mulai beraktivitas seperti biasa kembali.


"Natasha, apakah aku begitu menakutkan?" Aku bertanya.


"Mungkin." Natasha menjawab dengan nada meragukan.


Aku dan Natasha melanjutkan berjalan lagi menuju kamar nomor 30. Saat kami berjalan, kami melihat-lihat nomor kamar yang tertempel di pintu kamar. Sekitar 1 menit mencari, kami menemukan kamar bernomor 30.


"Di sini." Kata Natasha.


Natasha mengetok pintu perlahan. "Arisa. Jack!" Kata Natasha memanggil. Kami menunggu beberapa detik.


Natasha mengetuk lagi sambil memanggil nama Arisa dan Jack. Sekali lagi tidak ada jawaban.


Natasha melihat ke arah ku. "Bagaimana ini?"


"Tendang pintunya."


Natasha mengangguk. Kemudian Natasha mundur beberapa langkah, lalu ia menerjang pintu sambil menyodorkan kaki kanan nya, lalu Natasha menendang keras pintu itu sampai terlepas dari engsel nya.


Saat pintu terbuka, kami melihat seorang pria yang sedang meniduri seorang wanita.


Pria itu melihat kami kemudian beranjak dari atas kasur.


"Aku tidak menyewa kalian berdua." Kata pria itu dengan kesal.


"Jack, apa yang kau lakukan?" Tanya Natasha. "Dan siapa wanita itu?" Natasha menunjuk wanita yang terbaring tanpa pakaian di kasur. "Dan dimana Arisa?"


Pria yang kami lihat adalah Jack, dan dia sedang meniduri wanita asing, lalu yang paling aneh nya adalah Arisa tidak ada di sini.


"Kau yang di sana cepat keluar dari sini!" Aku menatap tajam ke arah wanita yang di atas kasur.


Wanita itu mengambil pakaian nya, lalu ia dengan cepat keluar kamar.


"Tunggu kita belum selesai!" Kata Jack. Sambil berusaha untuk menahan wanita yang ku suruh keluar.


Natasha memegang tangan Jack. "Apa yang kau lakukan sialan!?" Tanya Natasha dengan kesal.


"Itu kata-kata ku sialan!! Apa yang kalian lakukan!? Kalian membuat wanita yang ku sewa kabur. Sebagai ganti nya, aku akan memainkan kalian berdua."


Mendengar perkataan Jack, Natasha memukul hidung Jack dengan keras hingga mengeluarkan darah.


Jack terpental hingga tersungkur di pojok ruangan.


"Maaf Mira. Kau bilang ingin menghukum Jack kan? Bisa kau berikan peran itu padaku?"


"Lakukan sesuka mu!"


Natasha membunyikan tangan nya hingga terdengar bunyi "Krek, krek." Natasha berjalan mendekati Jack.


Jack menatap Natasha dengan tatapan tajam.


"Dasar ******* sialan!" Jack berteriak sambil menerjang Natasha.


"Wahai budak darah ku, berhenti!" Kata Natasha dengan kesal.


Jack langsung berlutut, setelah mendengar perkataan Natasha.


"Loh, loh. Kenapa aku tidak bisa bergerak." Kata Jack kebingungan.


Natasha berjalan mendekati Jack, lalu Natasha menendang pelipis kanan Jack dengan keras. Jack terpental ke arah kiri. Natasha mendekati Jack yang sudah terbaring lemah di lantai.


Natasha memukul perut Jack. Jack memuntahkan darah. Kemudian Natasha melompat, Natasha pun mendarat tepat di wajah Jack.


Setelah itu Natasha memukul kepala Jack secara bertubi-tubi.


Saat Natasha memukuli Jack, aku berkeliling kamar.


Ada yang aneh dengan perilaku Jack. Dia tidak mengingat kami, bahkan dia sampai meniduri wanita asing. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku memiliki firasat buruk saat melihat keadaan Jack. Dan yang paling aneh, Arisa tidak ada di sini. Jika saudara nya terjerumus ke arah sesat seperti ini, seharus nya Arisa sudah menghentikan nya.


Saat aku berkeliling, aku melihat botol minuman. Botol itu berada di atas kasur, berada tepat di samping pakaian Jack. Ngomong-ngomong Jack telanjang saat ini.


"Natasha. Apakah kau sudah selesai?" Tanya ku kepada Natasha yang masih memukuli Jack.


"Belum. Kalau anak ini tidak sekarat, aku tidak akan berhenti."


"Pukul saja ************ nya, semua laki-laki kelemahan nya di situ. Kalau bisa kau putuskan saja batang nya."


Setelah aku berkata seperti itu, aku mengambil botol minuman yang ada di atas kasur.


"Baiklah Mira. Akan ku putuskan milik nya."


"Tu-tunggu. Kak Natasha. Aku sudah sadar! Jangan lakukan itu, ku mohon!"


Setelah mendengar itu, aku mendekati Jack sambil membawa botol minuman yang ku ambil di atas kasur.


Saat aku melihat kondisi Jack, aku merasa kasihan padanya.


Wajah nya Bonyok, banyak lebam di tubuh nya, giginya banyak copot, dan yang paling parah aku bisa melihat beberapa organ dalam nya hancur.


Dengan mata emas ku, aku bisa melihat kedalam tubuh Jack. Rasanya sedikit menakutkan.


Aku menunjukkan botol yang ku ambil dari atas kasur. "Ini kau beli di mana?"


"I-itu aku beli di Club malam." Jawab Jack dengan wajah ketakutan.


"Apa itu Mira?" Tanya Natasha.


"Botol ini mirip dengan botol yang di berikan Lizard pada ku." Aku mencium bau dari tutup botol yang terbuka. "Dan bau nya sama seperti botol yang di berikan Lizard. Ini adalah minuman yang memiliki efek sama seperti serbuk surgawi. Seperti nya tadi Jack masih dalam pengaruh minuman ini."


Aku menghela nafas. "Apa yang kau lakukan selama 5 hari ini? Dan di mana Arisa? Jawab aku Jack!" Aku memberikan pertanyaan kepada Jack dengan nada mengancam.