
Saat ini aku duduk bersama Arisa, sambil menatap dua orang yang terbaring di lantai tidak sadarkan diri.
Saat melihat mereka seperti tidak sadarkan diri seperti itu hanya membuat ku khawatir, pikiran-pikiran negatif pun berdatangan ke kepala ku. 'Mereka tidak mati kan?' Itu adalah salah satu dari pikiran negatif itu. Tetapi segera aku melihat bagian perut dan dada mereka mengembang mengempis, tanda mereka bernafas, aku segera lega. Tetapi tetap saja pikiran negatif terus menghantui di kepala ku. 'Bagaimana mereka tidak akan pernah sadarkan diri seperti aku dulu?' Saat memikirkan itu, aku menjadi paham bagaimana perasaan Ibu dan Natasha saat melihat aku tidak sadarkan diri. Ini seperti nya hukuman bagi ku, karena selalu membuat mereka khawatir.
Aku harap mereka segera sadarkan diri.
Aku melipat lutut ku, kemudian memeluk nya, menyandarkan diri ke dinding lalu membenamkan wajah ku kedua lutut ku.
"Kak Mira," melihat aku yang terpuruk karena khawatir, Arisa segera menenangkan ku. "Tenang saja, mereka berdua pasti akan sadarkan diri." Kata nya sambil tersenyum. Walaupun wajah nya tersenyum, tetapi hati nya juga di penuhi kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan sama seperti ku. Karena itu aku membalas nya dengan. "Aku tahu itu."
Mendengar aku menjawab seperti itu, Arisa merangkul ku ke pelukan nya. Lalu ia mengelus-ngelus kepala ku.
Aku langsung membenamkan wajah ku ke dada nya, segera kehangatan tubuh Arisa terasa di tubuh ku.
"Fufufu," Arisa tertawa kecil.
Aku segera mengintip melihat ke wajah nya, kemudian aku bertanya. "Ada apa?"
"Tidak. Sangat jarang Kak Mira berperilaku seperti anak kecil seperti sekarang ini."
Aku tersenyum saat mendengarkan dia mengatakan itu. "Rasanya tidak enak di panggil Kakak oleh orang dewasa." Kata ku pada nya.
"Walaupun wujud ku dewasa, aku masih lebih muda dari Kak Mira." Balas Arisa sambil tersenyum.
Berkat obrolan santai kami, rasa tidak nyaman di hati ku sedikit berkurang, walaupun aku masih cemas dan khawatir, tetapi sekarang sudah mendingan dari pada saat pertama kali melihat Ibu dan Natasha di bawa kemari. Saat itu juga aku merasakan amarah yang begitu ku, sampai-sampai aku langsung ingin menggunakan semua kekuatan sihir ku. Tetapi aku berhasil menenangkan diri. Jika aku membuat langkah gegabah di sini, itu akan berbahaya di masa depan.
Saat aku sedang di peluk Arisa, aku mendengar suara erangan, kemudian aku melihat ke arah suara itu berasal. Dan melihat kalau ibu bergerak sedikit. "Ibu!" Kata ku sambil melepaskan diri dari Arisa dan mendekati Ibu.
Saat di samping nya, aku menggoncang-goncang tubuh nya, sambil meneriakkan "Ibu! Ibu!"
Setelah beberapa kali melakukan itu, kelopak mata ibu bergerak, kemudian dia perlahan-lahan membuka mata nya.
"Mira?" Katanya saat mata nya terbuka sepenuh nya.
"Iya ini aku, ibu!"
Ibu bangkit perlahan-lahan, ia duduk sambil memegangi kepala nya. Arisa langsung mendekat, untuk menopang tubuh nya.
"Apakah anda tidak apa-apa? Yang Mulia Ratu?" Kata Arisa saat menopang tubuh ibu.
"Kau......" Ibu memegang kepala nya lagi, kemudian ia melihat sekeliling. "Di mana kita?"
"Kita di culik," Balas Arisa atas pertanyaan ibu.
"Di culik?" Ibu melihat ku, kemudian ia melihat Arisa dan terakhir melihat Natasha yang masih tidak sadarkan diri. Setelah melihat semua orang, ibu memegangi kepala nya lagi.
"Aaaakh!" Kata Ibu mengerang kesakitan.
"Ibu tidak apa-apa?"
Karena melihat Ibu begitu kesakitan, aku menjadi khawatir. Walaupun dia sudah sadar, tetapi dia merasakan sakit kepala. Pasti kelompok agama itu melakukan sesuatu pada nya. Saat aku berasumsi seperti itu, amarah kembali memuncak di dalam diri ku.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing..... Bagaimana para penyusup itu masuk ke kamar Mira....." Ibu bergumam dengan suara kecil.
"Jadi Ibu di serang di kamar ku juga!?"
Itu berarti, Ibu di culik tidak lama setelah aku di bawa kemari.
Ibu mengangguk. "Itu benar," Kata nya. "Saat aku ingin istirahat setelah melakukan tugas, aku berpikir ingin mengunjungi kamu. Tetapi di dalam kamar mu, tidak ada kamu! Sebagai gantinya malah ada sekelompok orang dengan jubah hitam, setelah itu aku merasakan pusing yang hebat hingga kesadaran aku menghilang. Saat aku sadar, aku sudah ada di sini."
"Begitu ya....."
Saat kami berbicara apa yang terjadi, terdengar suara erangan, dan aku melihat ke arah suara itu. Dan melihat Natasha perlahan-lahan bangkit dari tidur nya sambil memegangi kepala nya.
"Aaakh!" Natasha mengerang kesakitan, memegangi kepala nya. "Sialan mereka!" Kata nya dengan kesal.
Segera Natasha melihat sekeliling, dia melihat ke arah kami bertiga. Setelah itu dia menghela nafas lega. "Syukurlah aku menemukan kalian."
Setelah mengatakan itu, Natasha segera berlutut. Eeeeeh..... Kita akan melakukan itu......
Karena tidak ada pilihan lain, aku berdiri, membersihkan pakaian ku kemudian berbicara pada Natasha.
"Jadi, apa yang terjadi?" Kata ku pada nya.
Perilaku kami saat ini, adalah posisi resmi bawahan ku jika mereka ingin menyampaikan informasi kepada ku. Kami melakukan ini jika ada pihak ketiga di antara kami. Seperti ayah ku, ibu ku atau kakak ku. Jika hanya ada aku, Natasha dan yang lain nya, kami akan berbicara seperti biasa. Tetapi ada Ibu di sini, karena itu kami memakai posisi resmi kami. Saat aku melirik, Arisa juga berlutut di dekat ibu ku, itu segera membuat ibu yang masih duduk di lantai kebingungan, dia pun segera bangkit dan berdiri di samping ku.
"Iya!" Balas Natasha dengan suara lantang. "Saat saya menyadari Nona Mira tidak di ada di kamar, saya segera mencari anda di keliling istana, tetapi masih tidak menemukan anda. Setelah itu, saya berhasil menguping hasil penyelidikan dari Yang Mulia Raja kalau kamar anda sudah di susupi yang membuat Anda dan Yang Mulia Ratu di culik."
"Menguping......" Gumam Ibu saat mendengar laporan Natasha.
Aku mengabaikan itu, kemudian bertanya lagi pada Natasha. "Lalu bagaimana kau bisa tertangkap?"
"Lalu kau tertangkap saat menyelidiki kelompok agama itu lebih jauh?" Ibu seperti nya berhasil menyimpulkan bagaimana Natasha bisa tertangkap, dia pun segera bertanya pada nya.
"Seperti yang anda katakan!" Kata Natasha sambil menundukkan kepala nya.
"Charles betul-betul lalai dalam memimpin." Kata Ibu dengan wajah sedikit kesal. "Baiklah lupakan itu sekarang, kalian tidak perlu berlutut, sekarang bukan acara resmi. Kita dalam masalah yang sama, jadi tidak perlu melakukan itu."
"Mengerti!" Kata Arisa dan Natasha bersama-sama.
Ibu mengangguk mendengar perkataan mereka, kemudian Ibu duduk kembali lalu aku juga ikut duduk yang membuat Natasha dan Arisa duduk juga.
"Tetapi kita ada di mana?" Kata Ibu sambil melihat sekeliling.
"Saya yakin kita ada di Kota Salad." Jawab Natasha.
Itu jawaban yang sedikit mengejutkan. Siapa sangka, target kota yang akan ku bantu setelah kota Banitza akan menjadi tempat kami berada sekarang.
\*\*\*
Kenapa!?
Kenapa!?
Kenapa!?
Kenapa!? Pelaku nya tidak ketemu!?
Aku sudah menggunakan sihir yang membuat semua orang mengakui kejahatan nya, tetapi kenapa aku masih tidak menemukan pelaku yang menculik anak dan istri ku!?
Pikir Charles saat duduk di singgassana menyaksikan semua orang berlutut di hadapan nya.
Beberapa jam yang lalu, Charles dengan sihir (Judgment) nya yang dapat membuat seseorang berbicara dengan jujur, menanyai semua orang yang hadir. Dia hanya memiliki satu pertanyaan. "Apakah kamu yang menculik Carla dan Mira?" Charles menanyai satu per satu orang yang hadir. Tetapi jawaban mereka sama. "Bukan saya yang melakukan nya!"
Interogasi berakhir dalam waktu singkat. Tetapi Charles masih tidak yakin, sehingga dia melakukan itu selama berulang-ulang hingga menghabiskan waktu beberapa jam. Bahkan di tengah proses Charles menambahkan kekuatan pada lingkaran sihir (Judgment) tetapi hasil nya sama. Mereka menjawab 'Bukan saya yang melakukan nya!'
Karena kekuatan sihir di perkuat, efek dari lingkaran sihir (Judgment) pun berakhir dengan cepat setelah sihir itu di perkuat Charles.
Karena hasil nya tidak sesuai harapan Charles, dia pun menjadi stres.
Dan kembali ke masa kini.
Suasana hening terjadi di ruang tahta, semua orang ketakutan karena Charles berwajah cemberut setelah interogasi berulang-ulang yang panjang. Bahkan tidak ada yang berani untuk menarik nafas panjang saat ini, mereka bernafas dengan jumlah minimal, sehingga tubuh mereka tidak kelihatan bergerak saat mereka bernafas.
"Sialan!!" Charles berteriak yang membuat semua orang terkejut.
Dia berdiri dari tempat duduk nya.
"Selidiki lebih lanjut siapa yang menculik Anak dan Istri ku. Jika kalian tidak bisa melakukan sampai besok, kalian akan ku cap bersalah. Lakukan sekarang!"
"Baik Yang Mulia!" Kata semua orang, mereka segera berdiri dan dengan cepat berjalan menuju ke pintu keluar ruang tahta.
Di saat kelompok ksatria, prajurit dan pengawal yang akan keluar paling terakhir. Mereka di hentikan oleh Charles.
"Aku tidak melihat para bawahan Mira. Kemana mereka?"
Salah satu pelayan menjawab. "Tadi pagi mereka menerima tugas dari Putri Mira, dan segera meninggalkan istana pagi ini."
Mira menyuruh mereka pergi meninggalkan istana, apakah Mira mengetahui kalau dia akan di culik dan menyuruh bawahan nya untuk lari sebelum mereka di culik?
Segera salah satu pelayan lain, maju kemudian menyampaikan laporan tambahan.
"Tetapi, Elf itu tidak ikut meninggalkan istana."
"Hmmm.... Kenapa seperti itu?"
"Saya bertanya kepada nya, 'kenapa kau tidak ikut meninggalkan istana?' Kemudian dia menjawab....."
"Dia menjawab apa?"
"Pekerjaan kali ini, tidak cocok untuk ku. Dan juga, tugas ku untuk mengawal Nona Mira adalah tugas ku. Lalu dia berkata seperti ini, mungkin pekerjaan kali ini dapat membahayakan Nona Mira."
Dapat membahayakan Mira? Apakah penculikan ini berhubungan dengan pekerjaan yang di katakan bawahan Mira ini?
"Apakah kau tahu pekerajaan apa yang di maksud?"
"Dia tidak menjawab. Katanya ini sangat rahasia, jika dia mengatakan lebih banyak, aku bisa di hukum Nona Mira."
Jika aku bisa menyelidiki pekerjaan yang di maksud ini, mungkin aku tahu siapa yang menculik Carla dan Mira.