
Beberapa hari sebelum prajurit menjemput Mira.
Aku sedang minum teh di ruangan tengah Vila ku yang berada di Tiramisu. Saat aku meminum teh ku seteguk, Natasha, Arisa dan Jack. Duduk di sofa yang berada di sebrang tempat ku duduk.
"Mira." Kata Natasha memanggil.
Aku menengok ke arah Natasha.
"Saat kau pulang nanti apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Natasha.
"Hmmm," aku menyilangkan tangan ku. "Benar juga ya... Apa yang akan ku lakukan nanti?
"Kenapa kau malah balik bertanya?" Kata Natasha dengan heran.
"Sebenar nya aku bingung, ingin melakukan apa?"
Aku menatap Natasha, Arisa, dan Jack. Saat menatap mereka bertiga aku memikirkan ide yang bagus.
"Aku tahu!! Saat aku pulang nanti, kita akan pamerkan kekuatan kita pada semua orang yang ada di istana."
"Pamerkan kekuatan?" Tanya Arisa dan Jack bersama-sama.
"Benar kita pamerkan kekuatan kita... Kita akan memukul beberapa prajurit istana dan berlaku tidak sopan di hadapan raja... Kita buat hari kepulangan ku tidak bisa di lupakan semua orang, dan menjadi peringatan bagi semua orang yang meremehkan ku."
"Memukul beberapa prajurit!!" Kata Arisa berteriak.
"Berlaku tidak sopan!!" Kata Jack berteriak.
"Kenapa kalian berteriak seperti itu?"
"Tentu saja kami berteriak!!" Kata Arisa dan Jack bersama-sama. "Jika Kak Mira melakukan itu maka Kak Mira nanti di usir lagi." Sambung Arisa.
"Tenang saja. Aku tidak akan di usir lagi."
\*
Kembali ke masa kini, di ruang tahta.
Goby gemetar ketakutan, wajah nya pucat, seluruh tubuh nya mengeluarkan keringat dingin. Baru kali ini Goby menerima ketakutan seperti ini, selama dia menjadi pemimpin pasukan baru kali ini dia ketakutan. Dia tidak pernah takut, walaupun melawan ras paling kuat. Dia tidak pernah takut akan kematian. Dia tidak memiliki rada takut, tapi sekarang dia merasakan ketakutan yang luar biasa.
Kaki Goby bergetar, dia tidak bisa berdiri, seluruh tubuh nya lemas. Nafas nya menjadi berat. Karena tidak bisa menahan rasa takut nya lagi, Goby menjadi tidak sadarkan diri.
Aku melihat pria bernama Goby itu gemetar ketakutan, tidak lama kemudian pria bernama Goby pingsan. Aku tidak menyangka menggabungkan sihir (Fear) dan (Fire Ball) akan memberikan efek sekuat ini, untuk sementara aku tidak akan menggabungkan sihir lagi.
Aku menengok ke arah singgassana, aku melihat ekspresi terkejut ibu, kemudian aku melihat ke arah ayah. Ayah sama sekali tidak terkejut ia malah tersenyum lebar.
"Hahahahahahaha," Charles tertawa terbahak-bahak. "Seperti nya kau terlalu berlebihan Mira. Untuk memamerkan kekuatan mu kau hanya harus mengetes nya di Cristal sihir pengecek bakat, kau tidak seharus nya mengalahkan prajurit terbaik ku."
Ayah bisa tahu kalau tujuan ku untuk memamerkan kekuatan. Bagaimana ayah bisa tahu.
"Wajah mu mengatakan bagaimana aku bisa tahu kalau kau sedang memamerkan kekuatan," Kata Charles saat melihat ekspresi terkejut Mira. "Tentu saja aku tahu, aku bisa tahu apa yang sedang di fikirkan anak ku sekarang."
"Baru sekarang kau memanggil ku anak, bukan kah kau sudah membuang ku dan tidak menganggap ku sebagai anak lagi."
"Aku mengusir mu karena ada alasan. Aku mengusir mu untuk melatih mu menjadi kuat. Lebih kuat dari semua saudara mu."
"Sampai kapan kau akan terus berbohong, kau mengusir ku karena kau harus mengikuti peraturan leluhur kan."
"Tidak, tidak, " Charles menggelengkan kepala nya. "Aku mengusir mu untuk melatih mu."
"Bohong!!"
"Tidak!!"
"Bohong!!"
"Tidak!!"
"Kalau kau masih terus bilang tidak aku akan pergi ke Tiramisu lagi."
Semua orang terkejut karena perkataan ku.
"Iya, aku mengusir mu karena mengikuti peraturan leluhur." Kata Charles dengan suara pelan.
"Maafkan ayah karena telah mengusir mu." Kata Charles dengan suara pelan. Wajah Charles menunjukkan ekspresi bahagia.
Aku memberontak, agar di turunkan dari gendongan. "Lepaskan aku, jangan perlakukan aku seperti anak kecil... Lepaskan!! Natasha, Arisa, Jack bantu aku."
Natasha, Arisa dan Jack. Menatap ku dengan wajah bahagia, kemudian Natasha menggerekkan mulut nya. Walaupun Natasha berbicara tanpa suara, aku tahu apa yang sedang ia katakan. Ia mengatakan "Syukurlah semua rencana mu berhasil."
Aku menatap ke arah singgassana, aku melihat ibu menangis sambil tersenyum bahagia. Kemudian aku melihat ke arah Kak Yuri, Kak Yuri juga ikut tersenyum bahagia. Aku melihat ke seluruh Selir dan ke seluruh Putri. Selir Shina tersenyum bahagia. Sedangkan Selir yang lain berekspresi marah, Kak Nina dan Kak Blanc memasang ekspresi marah, sedangkan Kak Rosa tidak ber ekspresi sama sekali.
Jika ku lihat dari ekspresi mereka, aku bisa mengetahui isi hati mereka. Aku pun memutuskan kalau Kak Rosa orang yang bisa di percaya.
Ayah menurunkan ku dari gendongan nya. Kemudian dia mengelus kepala ku, saat dia mengelus kepala ku, aku dengan cepat menepis tangan nya.
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil."
"Kau itu masih anak kecil tahu," Kata Charles dengan nada mengejek. "Jadi berlaku lah seperti anak kecil."
"Kalau kau menganggap ku seperti anak kecil, kenapa kau dulu mengusir ku."
"Sudahlah. masa lalu biarlah masa lalu, jangan kau ungkit jangan ingatkan aku.... Berhenti bercanda nya."
"Dari tadi siapa sih yang sebenarnya bercanda."
"Ayah memanggil mu kesini sebenarnya untuk-"
Ayah menceritakan semua tentang tes yang ia berikan ke pada ke empat kakak ku, dan juga bagaimana dengan hasil sementara yang ayah berikan.
"Begitulah ceritanya." Kata Charles menutup cerita.
"Begitu ya... Jadi Kak Nina, Kak Blanc, Kak Rosa, dan Kak Yuri menerima tes dari ayah berupa memimpin sebuah kota. Tapi mereka semua gagal untuk memajukan ekonomi kota nya dan malah menurunkan ekonomi dari kota yang mereka pimpin. Dan ayah memanggil ku ke sini untuk mengikuti tes itu."
"Begitulah, bagaimana kau sudah memutuskan untuk mengambil kota yang mana? Saran ayah kau sebaiknya mengambil kota yang berada di daerah utara Fantasia yang bernama Puding. O iya, semua kakak mu sudah menjalan kan tes ini selama enam bulan. Jadi waktu mereka tinggal enam bulan, tapi untuk mu ayah berikan satu tahun. Untuk menyelesaikan tes ini."
"Tunggu dulu, jadi nanti aku selesai tes nya enam bulan lebih lambat dari yang lain?"
Charles mengangguk.
"jangan berikan aku waktu setahun. Berikan aku waktu enam bulan!!"
Charles terkejut.
"Aku akan memajukan ekonomi kota yang ku pilih dalam waktu enam bulan. Aku tidak ingin selesai belakangan dari yang lain."
Charles terseyum mendengar perkataan Mira. "Begitu ya. Jadi kota apa yang kau pilih. Apakah Puding?" Tanya Charles.
"Tidak aku tidak akan memilih Puding. Aku akan memilih Cocoa."
\*
Beberapa jam berlalu, hari sudah malam. Saat ini aku sedang di antar oleh pelayan kerajaan menuju kamar lama ku. Natasha, Arisa, dan Jack mengikuti ku dari belakang.
Akhir nya kami pun sampai di kamar ku, aku membuka pintu kamar ku. Saat aku membuka pintu kamar ku, aku melihat ke seluruh sudut ruangan. Perabotan di dalam kamar tidak ada yang berubah sama sekali, bahkan selama enam bulan tidak ada yang berubah. Ruangan kamar sangat bersih, mungkin kamar ini di bersihkan setiap hari.
Aku memasuki kamar ku, saat aku berada di dalam kamar. Aku langsung merebahkan diri di kasur.
"Aaaah, sudah ku duga kasur di istana sangat nyaman di tiduri."
Natasha, Arisa dan Jack ikut merebahkan diri di kasur.
"Kau benar." Kata Natasha dengan suara lega.
"Kalian jangan baring di sini, mana ada pelayan yang tidur sekasur dengan majikan nya."
"Ada pelayan tidur sekasur degan majikan nya," Kata Natasha. Kemudian Natasha menunjuk diri nya sendiri. "Ini pelayan yang tidur sekasur dengan majikan nya sendiri."
Aku menendang mereka bertiga hingga jatuh dari kasur.
"Mira kau tidak boleh berlaku kasar kepada bawahan mu." Kata seseorang dari depan pintu kamar.
Aku bangkit dari kasur ku, kemudian aku melihat ibu dan Kak Yuri sedang berdiri di depan pintu.