
Aku terbang melintasi langit malam bersama Natasha dan Arisa. Aku menyipitkan mata ku, dan setumpuk cahaya terlihat sejauh 500 meter. Aku menajamkan Visi ku, kemudian dengan samar-samar terlihat dinding tinggi yang mengelilingi setumpuk cahaya itu. Tidak usah di pertanyakan lagi, itu adalah kota Caramel dan dinding pertahanan kota.
Aku segera memberitahu Arisa dan Natasha kalau aku melihat kota di depan dengan jarak 500 meter.
"Entah kenapa aku memiliki firasat buruk." Arisa berkata di samping ku sambil memeluk diri nya sendiri dan menggosok-gosok lengan nya dengan telapak tangan. "Dingin!" Arisa berkata sambil gemetaran.
"Firasat buruk?" Natasha bertanya. Ia sekarang ada di depan ku.
"Aku merasa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Jack." Jawab Arisa.
Saat Arisa berkata seperti itu, Natasha berhenti secara tiba-tiba. Itu membuat ku juga berhenti, kemudian Arisa juga ikut.
"Kenapa?"
"Mira. Detak jantung Jack. Berhenti."
Arisa terkejut sambil menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, air mata sedikit tekeluar dari sudut matanya. "Tidak mungkin!" Gumam Arisa dengan suara bergetar.
"Apakah itu benar?"
Natasha menganggukkan kepala nya dengan wajah serius.
Jack terbunuh!? Apakah musuh yang di lawan nya sebegitu kuat!? Kalau begitu, ancaman dari mereka sudah mulai dekat? Tidak... Seharus nya mereka belum bergerak. Tapi sekarang Jack mati, hanya mereka yang bisa menyamai kami di dunia ini. Itu berarti mereka sudah bergerak?
"Mira!"
"Ke-kenapa?"
"Tidak. Hanya saja kau menunjukkan wajah yang menakutkan."
"Bukan apa-apa."
Pemikiran ku langsung di potong oleh Natasha, yang jelas jika Jack mati mereka sudah pasti bergerak. Sialan! Tidak.... Apakah ini merupakan keuntungan? Jika Jack mati, dia akan mulai berubah menjadi Vampir. Aku tidak tahu aku harus bersyukur atau kesal pada saat seperti ini.
"Lalu bagaimana?"
"Ah. Hmmmm..... Seperti nya sudah di mulai."
Natasha yang mengetahui maksud pertanyaan ku menjawab sambil menyilangkan tangan nya di dada nya.
"Kalau begitu, Jack sudah...." Kata Arisa dengan suara bergetar.
"Seperti nya begitu.... Lalu Mira, apakah kita akan menyusul Jack? Kau tahu kan kordinat teleportasi dari sihir pemindahan itu."
"Kita tidak perlu menyusul Jack. Dengan level nya, dan perubahan Ras nya, dia pasti akan menjadi sangat kuat, mungkin lebih kuat dari pada kau Arisa."
"Kenapa.... Kau malah mati dasar bodoh! Padahal kau bilang tidak akan terbunuh! Dasar bodoh!" Arisa mencaci saudara nya yang saat ini tidak berada di sini.
Tiba-tiba aku mengantuk, aku pun menyuruh Natasha dan Arisa untuk tidak memikirkan terlalu dalam tentang Jack dan segera menyuruh mereka pulang ke kota Caramel. Dengan itu kami terbang mendekati kota Caramel tanpa memikirkan dan mengkhawatirkan Jack. Itu terdengar kejam, tapi kami tahu kalau Jack tidak akan kalah, sekuat apapun musuh nya.
\*
"Pengisian energi sihir selesai. Tuan Pierot." Gaztor berseru dengan suara gembira.
Gaztor mengangguk.
Gaztor mengarahkan tangan nya ke arah depan, dan mengucapkan mantra (Gate) tapi sebelum ia selesai berbicara, tangan nya segera terpotong oleh benda merah yang berasal dari bawah nya. Benda itu berbentuk seperti duri.
"Aaaaakh!" Gaztor berteriak, menjatuhkan Yuri, lalu berguling-guling di tanah. Darah segar menyembur dari tangan yang sudah puntung itu.
Pierot melihat ke belakang, dan hal yang mengerikan terjadi di depan mata nya. Pria yang di siksa nya, lalu di penggal kepala nya oleh Pierot, sekarang berdiri tanpa kepala. Darah di kepala nya masih menyembur seperti air mancur.
Kemudian darah itu, mengeras seperti sebuah tiang. Pierot melihat dari pangkal leher sampai ke uiung tiang darah, dan di lihat nya ada kepala di situ. Tiang itu makin memendek membawa kepala kembali ke pangkal leher, saat sudah menyatu, asap putih keluar di sekitar leher, membuat kepala dan leher tersambung kembali
Pria itu menunduk sehingga wajah nya tidak dapat di lihat Pierot, saat pria itu mendongak dan menatap Pierot, bulu kuduk Pierot pun berdiri.
Yang di lihat Pierot adalah mata merah seperti darah, kebencian tergambar jelas dari tatapan nya. Pria itu menyeringai menunjukkan taring putih bersih milik nya. Kulit pria itu memucat seperti mayat, dan kuku jari-jari nya memanjang.
"Haaaaaah," Pria itu menghela nafas panjang. "Aku gagal menepati janji ku ke kak Mira." Pria itu melihat ke arah tangan nya, lalu mengepalkan telapak tangan nya, kemudian dia membuka telapak tangan nya kembali. Ia melakukan itu beberapa kali. "Hmm... Tubuh ku tidak mengeras, kata Kak Mira jika seseorang mati, tubuh nya akan mengeras. Apakah ini karena aku baru mati?" ia memerengkan kepala nya.
Di- Dia, dia, dia hidup kembali!? Pikir Pierot Panik. Lalu apa-apaan sikap nya itu!? Dia betul-betul mengabaikan ku. Kalau begitu....
Pierot berubah menjadi hitam legang, dan melesat ke arah pria itu, lalu Pierot menyerang nya menggunakan tangan kanan, tapi itu bukanlah pukulan. Karena, tangan Pierot berubah menjadi pedang hangar, itu ramping dan tajam di ujung nya. Itu adalah serangan tusukan.
Dia tidak menghindar? Pierot kebingungan, itu karena mata nya dan mata pria itu saling bertemu seharus nya pria itu berhasil melihat Pierot, tidak seperti sebelum nya, pria itu tidak bisa melihat pergerakan Pierot sama sekali. Tapi kali ini ia terlihat, jadi Pierot berpikir, Pria itu akan menghindar. Tapi ia tidak menghindar. 'Begitu ya.... Walaupun dia bisa melihat pergerakan ku, dia tidak bisa menghindar ya....' Pikir Pierot sambil tersenyum.
Pedang Pierot dengan lancar menusuk dada kiri pria itu, dan itu tepat pada jantung nya. 'Berhasil!' pikir Pierot sambil tersenyum.
Tapi, senyum Pierot segera menghilang.
Tangan kanan pria itu bergerak, dan memegang tangan Pierot yang berubah menjadi mata pedang.
"Kau memiliki tehnik yang menarik ternyata."
"Racial Skill : Type DemiHuman Cat Version! Quick step!"
Tangan Pierot berubah menjadi bayangan, setelah itu Pierot melompat, dan begerak kesana kemari menjauh dari pria itu. Pergerakan nya selincah seekor kucing.
"Skill apa itu? Aku tidak pernah mendengar nya."
"Heh! Kau pikir aku akan menjawab?"
"Kalau kau tidak menjawab, kau akan merasakan sakit loh, yakin nggak mau jawab?"
"Biar aku menjawab nya, kau juga akan membunuh ku kan? Lebih baik aku mati dengan tidak memberikan informasi dari pada mati dengan memberikan informasi."
"Jika kau menjawab pertanyaan ku, kau akan mati tanpa menerima rasa sakit. Tapi kalau kau tidak menjawab, kau akan menerima rasa sakit."
"Yang nama nya mati, selalu meninggalkan rasa sakit. Walaupun kau dalam keadaan tertidur, pasti kau akan merasakan sakit saat kau menerima kematian."
Pria itu menggelengkan kepala nya. "Sewaktu kau memenggal kepala ku, saat itu aku tidak merasakan rasa sakit. Ini jawaban dari seseorang yang pernah mati, seharus nya kau percaya kan?"
"Begitu ya... Kalau begitu, aku akan membunuh mu sekali lagi dengan rasa yang teramat sakit."
"Itu kalimat ku."
Kedua nya saling menatap, bersiap-siap untuk menyerang.