
Carla, Yuri, ke empat Selir, Ke empat Putri sedang berada di ruang tahta. Mereka menunggu kedatangan Mira, mereka menunggu selama empat hari tapi Mira belum juga datang.
Carla berjalan mengelilingi ruang tahta, dia menunjukkan ekspresi gelisah di wajah nya. Selama dia berkeliling ruang tahta, Carla selalu bergumam: "Kapan Mira pulang? Kenapa dia belum pulang?" Carla selalu bergumam seperti itu, dengan nada suara cemas.
Melihat kelakuan Carla, ke empat Selir, menertawakan Carla. Mereka tertawa dengan suara kecil agar tidak kederangan Carla.
Yuri dan Shina mendekati Carla. "Yang Mulia, tenang!! Walaupun anda mengelilingi ruang tahta ini jutaan kali pun, Mira tidak akan pulang!!" Kata Shina
"Benar kata Ibu... Ibunda tenang dulu, melihat prilaku ibunda, malah membuat ku menjadi gelisah juga." Sambung Yuri.
"Tenang kalian bilang!!" Carla berteriak. "Bagaimana kalau Mira tidak mau pulang!? Pasti dia sangat kesal kepada Charles.... Makanya para prajurit memerlukan waktu berhari-hari untuk menjemputnya!!" Kata Carla.
"Saya tahu hal itu yang mulia," Kata Shina. "Tapi saya mohon anda tenang dulu!" Kata Shina meminta Carla tenang.
Carla menarik nafas panjang, kemudian Carla menghembuskan nya. Carla melakukan hal itu berulang-ulang. Carla melakukan hal itu untuk menenang kan diri. Setelah melakukan nya berkali-kali, akhir nya Carla menjadi sedikit lebih tenang.
"Sekarang aku sedikit lebih tenang." Kata Carla.
Shina dan Yuri tersenyum. "Kalau anda sudah sedikit lebih tenang, silahkan anda kembali duduk di singgassana." Kata Shina.
Carla mengangguk.
Kemudian Carla berjalan menuju singgassana nya, Shina dan Yuri kembali ke barisan mereka masing-masing. Shina kembali ke barisan para Selir, dan Yuri kembali ke barisan para Putri.
Jarak Carla semakin dekat dengan Singgassana nya, saat ia sampai di hadapan Singgassana nya, muncul cahaya terang di belakang Carla, lebih tepat nya cahaya terang itu muncul di tengah-tengah ruang tahta.
Carla berbalik badan melihat cahaya yang muncul di tengah ruangan. Melihat cahaya yang sangat terang itu, membuat Carla sangat senang.
"Sudah sampai!!" Kata Carla dengan gembira.
"Mira!!" Kata Yuri... Yuri menaruh tangan nya di dada, kemudian ia mengepalkan tangan nya. "Akhir nya kau pulang." Guman Yuri... Air mata Yuri menetes keluar dari mata kanan nya, senyum bahagia terhias di wajah Yuri.
Beberapa detik kemudian cahaya terang itu meredup, saat cahaya itu menghilang sepenuh nya. Mulai lah kelihatan lima puluh prajurit membentuk formasi lingkaran dengan empat orang di dalam lingkaran tersebut.
Carla melihat ke tengah formasi lingkaran yang di buat prajurit. Carla melihat empat orang di sana, terdapat anak kecil berambut perak, wanita dewasa berambut pirang, seorang Elf perempuan berambut pirang dan seorang remaja laki-laki berambut coklat... Tapi pandangan Carla hanya tertuju pada satu orang, pandangan Carla tertuju ke anak kecil berambut perak.
Rambut yang sama dengan milik nya, wajah nya yang sangat tidak asing... Melihat wajah anak kecil itu, air mata Carla mengalir jeluar dari kedua mata nya.
Carla berlari menunju anak kecil itu. "Mira!!" Teriak Carla sambil berlari.
\*\*\*
Saat aku sampai di ruang tahta, aku melihat ke arah depan ku. Aku melihat ibuku yang sedang menangis, aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku dari nya. Saat melihat nya, rasa rindu yang selama ini ku pendam rasanya menghilang setelah melihat wajah ibuku.
Ibuku berlari menuju arah ku. "Mira!!" Teriak ibuku.
Aku ingin berlari ke arah nya juga, tapi sayang nya aku terlalu takut untuk melakukan nya... Jadi aku hanya diam membatu di tempat ku berdiri, rasa nya sekarang aku ingin menangis, tapi air mata ku tidak keluar sama sekali.
Formasi lingkaran di buka sedikit oleh para prajurit, saat formasi terbuka sedikit, ibu masuk kedalam lingkaran. Saat aku dan ibu sudah berhadapan ibu berhenti tepat di depan ku.
"Mira." Kata Carla.
"I..." Aku ingin mengucapkan kata ibu, tapi mulutku terasa berat untuk mengucapkan nya, aku merasa sanga takut.... Ibu ku menangis kemudian ibu memeluk ku dengan erat.
"Syukurlah.... Kau sudah pulang. Syukurlah." Kata Carla.
Saat ibu, berkata seperti itu, rasa takut ku menjadi hilang... Sebenar nya apa yang ku takutkan? Apakah aku takut tidak di akui sebagai anak lagi seperti yang ayah ku lakukan?.... Fikiran seperti itu sempat terlintas saat aku di peluk.
Ibu mengelus kepala ku. "Syukurlah kau sudah pulang." kata Carla.
Aku merangkul tangan ku ke pinggang ibu, saat aku merangkul tangan ku. Air mata ku, keluar dengan sendiri nya. Sekarang aku menangis seperti anak kecil di pelukan ibu ku... Aku tahu sekarang aku ini adalah seorang anak kecil, tapi aku tidak pernah menangis seperti anak kecil sebelum nya.... Tapi sekarang aku menangis seperti anak kecil di pelukan ibu ku.
"Ibu..... Aku..... Pulang!!"
"Kau sudah bertahan di luar sana.... Kerja bagus Mira."
\*\*\*
Yuri melihat Mira menangis dengan sangat keras di pelukan Carla. Melihat hal itu, Yuri merasakan kebahagiaan di dalam hati nya.
"Kau tidak ikut?" Tanya Rosa, yang ada di samping Yuri.
Yuri menggelengkan kepala nya. "Saat ini aku akan melihat dulu." Kata Yuri dengan senyum Bahagia di wajah nya.
"Lupakan tentang Mira," Kata Blanc, yang berada di samping Rosa. "Lihat lelaki itu sangat tampan sekali..." Kata Blanc.
"Kau benar Blanc," Kata Nina, yang berada di samping Blanc. "Lelaki itu sangat tampan.... Tapi Elf yang di samping lelaki itu sangat mengganggu pemandangan. Kenapa bisa ada Elf yang ikut bersama Mira?" Kata Nina.
"Kalian malah membahas hal itu," Kata Yuri kesal. "Adik bungsu kalian baru pulang dengan selamat tahu... Kalian seharus nya bersyukur." Kata Yuri.
"Maaf saja Yuri, kami berdua tidak pernah menganggap Mira itu adik kami." Kata Nina. Blanc mengangguk kan kepala nya, tanda dia setuju.
Yuri hanya diam mendengar perkataan
kakak nya, dia tidak ingin berbicara lebih panjang lagi dengan kakak nya.
Ngomong-ngomong, sampai kapan Mira mau menangis. Pikir Yuri saat melihat Mira.
\*\*\*
Jack menyadari tatapan tajam seseorang yang sedang menatap nya. Jack tahu kalau arah tatapan itu berasal dari barisan para Putri kerajaan. Kenapa para saudari kak Mira menatap ku dengan tajam? Pikir Jack.
Tubuh Arisa menegang karena terkejut. "Jangan mengejutkan ku." Kata Arisa dengan berbisik.
"Maaf," Jawab Jack dengan berbisik pula. "Sebenarnya aku ingin bertanya." Arisa mengangguk mendengar perkataan Jack. "Kenapa saudari kak Mira menatap ku dengan tajam?" Tanya Jack.
"Mungkin mereka naksir kamu." Kata Arisa dengan nada mengejek.
"Tidak mungkin." Kata Jack.
"Lupakan tentang mereka.... Yang bikin aku heran dari tadi, Kak Mira tidak berhenti menangis.... Dia sekarang sudah seperti anak kecil normal." Kata Arisa.
"Maklum saja, Kak Mira sudah sangat rindu pada ibunya... Jadi wajar dia bersikap seperti itu."
\*\*\*
Aku melepaskan pelukan ku, dari pelukan ibu. Kemudian aku, mengusap air mata ku. Saat menangis tadi, perasaan bahagia meluap dari dalam hati ku.. Tapi saat ini aku hanya ada perasaan malu saja, apalagi aku menangis sangat keras seperti anak kecil. Yang lebih parah lagi, aku menangis di hadapan Natasha, Arisa, dan Jack. Padahal aku tidak ingin mereka melihat ku berprilaku seperti tadi.... Rasanya sangat malu sekali.
"Kalau Mira ingin di peluk lagi, ibu akan selalu memeluk mu." Kata Carla.
Aku menggelengkan kepala ku. Ibu hanya tersenyum bahagia, melihat prilaku ku yang seperti anak kecil. Aku cepat berbalik mengalihkan pandangan ku dari pandangan ibu, aku berbalik melihat ke arah Natasha, Arisa dan Jack.
Aku melihat Arisa dan Jack biasa saja melihat ku, tapi saat aku melihat ke arah Natasha, Natasha menahan mulut nya. Wajah nya seperti seseorang yang menahan tawa nya. Aku tahu saat ini Natasha sedang bersusah payah menahan tawa nya.
Aku berdehem-dehem. Kemudian aku menunjuk ke arah Natasha, Arisa dan Jack. "I-ibu, perkenalkan mereka bertiga bawahan ku. Yang rambut pirang nama nya Natasha," Natasha membungkuk saat ku sebutkan nama nya. "Yang Elf itu nama nya Arisa," Arisa menunduk saat ku sebutkan nama nya. "Lalu yang laki-laki nama nya Jack." Jack menunduk saat ku sebut nama nya.
Carla berjalan mendekati Natasha, Arisa dan Jack, kemudian Carla berjabat tangan dengan mereka bertiga. Setelah selesai berjabat tangan Carla memperkenalkan diri.
"Perkenalkan nama ku Carla. Terima kasih banyak telah menjaga anak ku." Kata Carla, sambil membungkuk.
Natasha menahan Carla agar tidak membungkuk. "Yang Mulia, anda seharus nya tidak membungkuk di hadapan orang yang baru anda temui. Apalagi kami bertiga ini hanya pelayan, kami tidak pantas mendapatkan terima kasih dari anda." Kata Natasha.
Carla tersenyum. "Begitu ya... Sebagai ganti terima kasih ku akan ku berikan kalian hadiah, kalian ingin apa?" Tanya Carla.
Natasha, Arisa dan Jack.menggelengkan kepala nya. "Kami tidak memerlukan hadiah." Kata Arisa.
"Sudah sewajarnya kami melindungi nona Mira... Nona Mira adalah penyelamat hidup kami, jika beliau tidak ada, mungkin kami saat ini sudah mati." Kata Jack.
"Benar apa yang di katakan nya, Nona mira adalah penyelamat kami... Kami akan terus melayani nya, hingga akhir hayat kami." Sambung Natasha.
Sungguh pelayan yang loyal, bagaimana Mira bisa membuat mereka seperti ini? pikir Carla.
Mendengar perkataan hadiah, dari ibu. Membuat ku teringat suatu hal, aku juga ingin memberikan Kak Yuri dan ibu hadiah. Aku mendekati ibu, kemudian aku menarik bajunya. Ibu duduk agar tinggi nya bisa sama dengan ku, saat aku sudah sama dengan ibu. Aku mendekatkan mulut ku ke arah telinga ibu.
"Ibu bisa panggil Kak Yuri." Aku berbisik.
"Kenapa tidak panggil sendiri?" Tanya Carla dengan suara pelan.
Aku tidak menjawab, kemudian aku menatap ibu dengan wajah memelas. Ibu menghembuskan nafas panjang, kemudian ibu berdiri. Lalu ibu memanggil Kak Yuri dan Selir Shina.
Mereka berdua berjalan memasuki formasi lingkaran yang dibuat prajurit kemudian mereka berjalan mendekati ku.
"Kenapa ibunda?" Tanya Yuri.
"Mira katanya mau ngomong." Jawab Carla.
"Itu... Anu.... A.. A... I... I" Aku tidak tahu ingin ngomong apa.
Kemudian Kak Yuri mengelus kepala ku. "Aku sudah memaafkan Mira kok... Aku tahu Mira tidak bermaksud jahat."
Aku tersenyum. "O iya. Aku ingin memberikan kalian hadiah."
"Hadiah?" Kata Carla dan Yuri bersamaan. "Mira tidak perlu memberikan hadiah, Mira pulang saja sudah merupakan hadiah bagi ibu." Sambung Carla.
Aku menggelengkan kepala, kemudian aku memasukkan tangan ku ke dalam kantung yang ada di samping gaun ku, sebenarnya aku menyimpan hadiah nya di (Inventori) hanya saja aku berpura-pura mengambil nya dalam kantung.
"Aku ingin tetap memberikan hadiah kepada ibu dan Kak Yuri."
Setelah aku selesai berkata seperti itu, aku mengeluarkan dua buah kalung yang sudah berhiaskan Ruby.
"Ru-Ruby!!" Kata Shina berteriak.
Semua orang mendekat ke arah ku, tapi mereka di halangi oleh para prajurit yang membuat formasi lingkaran, bahkan para Selir dan Putri juga di halangi.
"Kenapa Selir Shina menjadi heboh hanya dengan sebuah Ruby?"
"I-itu Ruby, salah satu jenis batu mulia yang sangat mahal!! Dari mana kau mendapat kan nya?" Kata Shina dengan panik.
"Itu benar Mira dari mana Mira dapat?" Tanya Carla.
"Ini punya ku... Dan juga aku punya banyak yang seperti ini.... Sudahlah, tidak perlu heboh, hanya dengan dua buah Ruby."
Semua nya, menjadi heboh karena aku memegang Ruby. Aku mengabaikan mereka kemudian aku berjalan mendekati ibu, lalu aku menarik gaun nya. Ibu duduk untuk menyamai tinggi ku. Saat tinggi ibu sudah sama dengan ku, aku memasang kalung nya di leher ibu.
"Lihatkan, ibu sangat cocok menggunakan nya... Selanjutnya Kak Yuri. Cepat Kak Yuri duduk! Aku tidak sampai ke leher nya Kak Yuri."
Kak Yuri duduk, kemudian aku memasang kalung nya di leher Kak Yuri. Lalu setelah ku pasang mereka berdua pun berdiri kembali.
Aku memerhatikan mereka berdua, mereka berdua sangat cocok menggunakan kalung Ruby yang ku kasih.