From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 12 kastil Vampir



Aku menggunakan Super Magic. (Time Control) untuk membuat vila yang terlihat sudah ingin roboh itu menjadi sebuah vila yang indah dan kokoh kembali. Lalu aku menggunakan sihir (Creation) untuk membuat perabotan rumah, aku membuat alat masak, meja makan, sofa, tempat tidur dan lain-lain.


Vila ini sangat indah, dengan memiliki 2 lantai. Aku pun memutuskan mengambil lantai atas untuk di gunakan sebagai kamar tidur. Halaman yang awalnya di tumbuhi dengan rerumputan, kini telah menjadi halaman yang dipenuhi dengan pohon buah dan beberapa tanaman bunga. Entah kenapa banyak pohon yang timbul saat aku memutar balikkan waktu. Mungkin dulu tempat ini memang di penuhi dengan pepohonan.


Karena hari sudah malam aku pun pergi tidur.


Hari esok pun tiba. Aku pergi keluar untuk membeli bahan makanan, pada saat aku mengunci pintu, aku melihat sebuah segel pada kunci pintu yang aku pegang.


"Jadi begitu ya, hanya pemilik vila yang bisa memasuki vila ini, sepertinya keamanan di dunia ini lebih ketat dari pada keamanan di dunia ku sebelumnya."


Aku pergi berkeliling kota untuk mencari bahan makanan, setelah selesai mencari bahan makanan, aku memutuskan untuk membeli pakaian sehari-hari. Akan sangat merepotkan tiap hari aku memakai sihir (Creation) untuk membuat pakaian. Akhirnya aku selesai membeli pakaian, aku pun kembali ke vila yang berada di atas bukit.


Pada saat aku sampai di vila yang ku tinggali, aku melihat seorang gadis berdiri di depan vila ku. Aku mengabaikan gadis itu dan terus berjalan menuju pintu depan vila, pada saat aku ingin membuka pintu vila, gadis itu menghentikan ku.


"Tu-tunggu, apakah kau pemilik vila ini?"


Aku menangguk, lalu melanjutkan membuka pintu vila, aku memasuki vila lalu gadis itu berteriak dengan kencang.


"Tunggu," gadis itu lalu bersujud di tanah. "Aku mohon tolong berikan aku makanan, sudah tiga hari aku tidak makan. Aku mohon! Aku mohon! Aku mohon!"


Gadis itu terus berkata aku mohon, karena tidak tega, aku pun membiarkan gadis itu masuk kedalam. Aku membawanya keruang tengah, di ruang tengah sudah tersusun alat masak dan alat makan, disana juga terdapat meja makan.


"Padahal tiga hari yang lalu vila ini terlihat seperti ingin roboh." gadis itu bergumam sambil memerhatikan seluruh ruangan.


"Silahkan duduk, biar ku kasih tahu makanan yang ku buat nanti tidak gratis. Aku sudah mengingat wajah mu, jika kau tidak bayar akan kucari kau walaupun itu sampai ujung dunia sekalipun."


Gadis itu mengangguk, lalu ia pun duduk di meja makan. Aku memasak beberapa menu makanan lalu aku menghidangkan ke gadis itu, gadis itu menghabiskan semua makanan yang aku buat.


"Aaah, enak sekali. Adik kecil, jika kau sudah besar nanti kau pasti akan menjadi istri idaman para lelaki."


"Iya, iya, kau benar. Jika kau sudah selesai makan, cepat pergi! Ingat bayar apa yang kau makan hari ini."


"Ok, jika aku memiliki uang yang cukup, nanti akan kubayar. Ngomong-ngomong siapa nama adik? Apakah adik tinggal di sini sendiran? Dimana orang tua adik?"


Aku duduk di meja makan bersama gadis itu. "Namaku Mira, aku tidak punya orang tua, jadi aku tinggal di vila ini sendirian.


"Eh, tidak punya orang tua? Apakah mereka meninggal?"


"Hal itu bukan urusan mu, terus siapa namamu?"


"Nama ku Lia, aku seorang petualang."


"Petualang ya, dari cerita yang ku dengar, biasanya petualang itu berkelompok," gadis itu lalu mengangguk. "Lalu di mana teman-teman mu?"


"Aku tidak tahu."


"Haaah, kenapa bisa tidak tahu?"


"Baiklah akan kudengar, lagi pula sekarang aku lagi bosan"


"Ceritanya di mulai 3 hari yang lalu-"


Lia dan kawan-kawan menerima sebuah permintaan dari seorang bangsawan ibu kota, untuk mencari pedang pahlawan. Jadi Lia dan kawan-kawan memutus kan untuk pergi ke kota Tiramisu, karena mereka pernah mendengar cerita, kalau pedang pahlawan berada di kastil pemimpin vampir.


Akhirnya mereka sampai di kastil vampir, teman-teman Lia semuanya adalah laki-laki, hanya Lia saja yang perempuan. Pada saat mereka ingin memasuki kastil, hanya Lia saja yang tidak bisa masuk. Lalu Lia teringat satu hal, kalau kastil itu hanya bisa di masuki oleh laki-laki saja. Lia pun menyuruh kawan-kawan nya untuk mencari pedang itu, dan meninggalakan Lia sendirian di luar kastil. Lia menunggu selama 3 hari tapi kawan nya tidak kembali.


"Karena mereka tidak kembali selama 3 hari, aku memutuskan meminta bantuan untuk mencari mereka, tapi tubuhku sangat lemas sampai aku tidak bisa berjalan, akhirnya aku melihat vila ini. Lalu aku pun memutuskan untuk minta makan sebelum pergi mencari bantuan."


"Sayang nya, kau tidak bisa mendapatkan makanan gratis, sudah cepat pergi sana! Cepat cari bantuan untuk mencari teman-teman mu. Bayaran untuk makanan nya bisa kau bayar setelah teman-teman mu di temukan."


"Terima kasih Mira." gadis itu beranjak dari tempat duduk nya, dan pergi keluar meninggal kan vila.


Aku membersihakan piring-piring yang di pakai Lia makan, lalu aku memasak kembali untuk aku makan. Aku memikirkan sesuatu pada saat sedang makan.


Kastil pemimpin vampir itu, hanya bisa di masuki oleh laki-laki saja. Sebaiknya aku coba untuk memasuki nya nanti malam, walaupun sekarang aku bukan laki-laki lagi, tapi dulunya aku adalah seorang laki-laki. Mungkin saja aku bisa memasuki kastil itu.


Malam hari tiba, aku berada di depan pintu kastil, pintu kastil itu memiliki tinggi sekitar 10 meter. "Baiklah, sekarang akan ku coba buka pintu kastil ini." aku mencoba menyetuh pintu itu, tapi pada saat aku menyentuhnya, tangan ku terasa seperti tesetrum dengan listrik tegangan tinggi.


Sepertinya aku tidak bisa memasuki kastil ini, aku menyentuh pintu kastil sekali lagi, tangan ku tersetrum sangat hebat, sampai-sampai tangan ku mati rasa, lalu aku berteriak. "Dispel Magic." rasa sakit di tangan ku pun hilang. aku mendorong pintu kastil itu.


Pintu terbuka sedikit! Ini berkat Dispel Magic milik ku. Aku memasuki kastil itu, pada saat aku memasuki kastil, aku tidak bisa melihat apapun karena di dalam kastil sangat lah gelap. Lalu tiba-tiba seluruh lampu di ruangan menyala, dan membuatku bisa melihat kembali.


Aku pun berjalan kedepan, setelah beberapa detik, aku berhenti berjalan. Terdapat dua jalan di depan ku, yang satu mengarah ke kiri dan satu lagi ke kanan. Aku memutuskan mengambil jalan di sebelah kiri, lalu aku menemukan dua jalan lagi, kali ini aku mengambil jalan ke kanan, dan aku menemukan dua jalan lagi, aku pun mengambil jalan ke kanan lagi. Akhirnya aku terus menemukan jalan bercabang ke arah kiri dan ke kanan.


Tidak peduli aku lewat mana, rasanya aku seperti mengulang di tempat yang sama terus. Dengan kesal aku memakai (clairvoyance) untuk melihat ke seluruh kastil, aku terus melihat jalan bercabang, lalu aku melihat dua orang pria, mungkin mereka adalah kawan Lia. Lalu pada akhirnya aku melihat sebuah ruang tahta dengan pedang tertancap di dekat kursi tahta.


"Aku menemukan lokasi pedang itu, ternyata pedang itu berada di ruangan paling atas kastil ini. Kalau aku berjalan ke atas kastil bisa berhari-hari aku sampai, kalau begitu aku akan lewat jalan pintas."


Aku mengarahkan tangan ku atas, lalu aku menyebutkan. "Hole." langit-langit kastil pun berlubang hingga menembus lantai paling atas. Aku menggunakan (Fly) untuk pergi ke atas.


Aku sampai di ruang paling atas, aku melihat pedang tertancap di depan ku, aku mendekati pedang itu, dan mencoba mencabut pedang itu.


Pada saat aku menyentuh pedang itu, tangan ku terasa seperti terbakar.


"Aw, bukan cuma pintu, tapi juga pedang nya. Apakah semua benda di kastil ini, melarang semua gadis untuk menyentuhnya?"


Aku memegang pedang itu lagi, rasa terbakar menyelimuti tangan kanan ku. "Dispel Magic." saat aku mengatakan nya, akhirnya rasa terbakar pun menghilang. Lalu aku mencoba mencabut pedang itu, tapi pedang itu terasa berat di tangan kanan ku, aku memutuskan menggunakan kedua tangan ku.


Dengan kedua tangan, aku menarik pedang itu, tapi pedang itu juga tidak mau di cabut.


Aku pun mengaktifkan sihir. "Dispel Magic." lalu aku mencoba menarik lagi, tapi tetap tidak bisa tercabut, tapi pedang nya terasa lebih ringan. Aku pun mengaktifkan (Dispel Magic) secara terus menerus.


Setelah 50 kali menggunakan (Dispel Magic) akhirnya pedang itu tercabut.