From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 295 Berbicara pada tiga orang misterius



Selama Arisa terbang turun ke tanah, ketiga orang misterius sama sekali tidak menyerang kami. Alhasil kami pun berhasil mendarat ke tanah dengan mudah tanpa hambatan.


Saat kaki kami sudah menyentuh tanah, Arisa melepaskan pelukan nya. Kami mendarat sekitar tujuh meter di depam kawah berada. Tepat pada saat itu, ketiga orang misterius keluar dari dalam kawah, berdiri menghadap kami dengan ekspresi wajah penuh dengan kepercayaan diri.


Ketiga orang itu adalah pria, salah satu nya adalah anak laki-laki yang nampak nya seorang Human, seorang Elf dan seorang pria dewasa yang Ras nya juga seorang Human.


Hmmm...? Rasanya aku pernah melihat mereka di suatu tempat...? Dan juga mengapa aku tiba-tiba kesal saat melihat mereka bertiga...? Oh. Itu benar. Mereka adalah Bruno, Javelin, dan Siegurd, para bajingan yang telah menghianati ku... Tunggu dulu, dari mana aku tahu nama mereka bertiga? Dan juga ini adalah pertama kali nya aku bertemu mereka, tapi mengapa aku merasa telah kenal lama dengan mereka? Dan mengapa aku berpikir mereka telah mengkhianati ku?


"Yo, Mira. Lama tidak bertemu."


Saat aku tengah di landa kebingungan, salah satu dari mereka menyapa ku dengan akrab, yang menyapa ku adalah seorang pria dewasa yang bernama Siegurd.


"..."


Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku hanya diam, tidak membalas sapaan nya.


"Kuuuh...." Aku tidak tahu mengapa, tapi Siegurd nampak gembira setelah ku abaikan.


"Kau gila seperti biasa." Aku tanpa sadar menggerakkan mulut ku, berbicara pada nya dengan suara pahit.


Entah kenapa, saat aku berbicara pada nya, hati ku rasanya di penuhi dengan amarah yang sangat besar.


"Ha... Ha... Ha... Setelah di abaikan... Setelah itu di hina... Rasanya.... Sangat NIKMAT!" Dengan wajah di penuhi Euforia, Siegurd berteriak sangat kencang hingga suara nya menggema.


Melihat kelakuan Siegurd yang seperti itu, aku secara reflek memasang wajah jijik, sementara itu Arisa masih berwajah datar dan kedua teman Siegurd menatap nya dengan tatapan penuh penghinaan. Mendapatkan perlakuan buruk itu, ia malah menjadi makin senang.


"Kau sama sekali tidak berubah ya Mira... Kau bahkan tidak menua sama sekali." Teman Siegurd, Javelin mengabaikan kelakuan aneh Siegurd, ia berbicara dengan ku dengan ramah seolah-olah ia berbicara dengan kawan lama.


Aku yang di ajak nya bicara merasakan iritasi, di ajak bicara dengan nya membuat ku muak. Tapi kata-kata nya selanjut nya membuat ku mau tidak mau berbicara dengan nya. "Seperti nya Ras mu memang benar-benar berubah." Kata nya.


"Ras ku masih sama. Aku masih seorang Human biasa." Kata ku dengan datar. Walaupun aku berkata 'Human Biasa.' aku merasakan keganjilan pada diri ku sendiri, keganjilan itu membuat ku tidak yakin apakah diri ku masih seorang Human atau bukan.


"Dari ekspresi wajah mu... Kau sendiri bahkan tidak yakin kalau kau masih Human." Javelin membalas perkataan ku dengan wajah lelah.


"..." Aku diam tidak menjawab.


"Dan juga, seperti nya kau tidak mengerti mengapa kau bisa berbeda dari Human lain nya."


"..." Sekali lagi aku terdiam. Dia sudah menebak apa yang ada di dalam kepala ku.


"Kau jangan berharap bisa sama seperti Human yang ada di dunia ini, karena dari awal kau sudah berbeda! Kau bukanlah Human dari dunia ini, kau adalah Human dari dunia lain, kau adalah sosok asing di sini."


Mendengar perkataan Javelin aku hanya bisa mengangkat kedua alis mata ku, memasang wajah bingung. Aku sama sekali tidak dapat memproses apa yang ia katakan.


"Javelin..." Saat aku di tengah memproses perkataan Javelin di kepala ku, teman nya yang lain memanggil nama nya, dia adalah seorang anak kecil, bernama Bruno. Aku tidak tahu mengapa aku bisa tahu nama anak itu, aku pun memutuskan untuk berhenti memikirkan alasan mengapa aku bisa mengenal mereka. Aku juga dapat mengendalikan emosi negatif yang ada di dalam hati ku saat aku berbicara pada mereka bertiga. "Jangan kau berbohong pada nya, alasan ia tidak menua karena Ras nya berubah saat ia mencapai level seratus." Kata Bruno kepada Javelin.


"... Tapi aku tidak salah mengenai dia yang bukan Human dari dunia ini bukan?"


"... Aku tidak bisa menyangkal hal itu."


Pembicaraan mereka makin jauh, meninggalkan ku dalam kondisi kebingungan, tepat di saat itulah Arisa yang selama ini berdiam membuka mulut nya untuk angkat bicara.


"Apa yang dari tadi kalian bicarakan? Dan juga siapa kalian? Mengapa kalian bisa mengenal Kak Mira? Dan Kak Mira apakah kau mengenal mereka bertiga?" Tidak bisa menahan diri nya dari kebingungan, Arisa melontarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada ketiga orang asing dan kepada ku.


Bruno, Javelin dan Siegurd sedikit terkejut karena pertanyaan yang di lontarkan dengan bertubi-tubi oleh Arisa, mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhir nya memutuskan untuk menjawab pertanyaan Arisa, aku juga yang di berikan pertanyaan oleh nya juga ikut menjawab.


"Bisa di katakan aku mengenal mereka?" Jawab ku dengan ragu-ragu. Jujur aku sama sekali tidak mengenal mereka, dan ini juga adalah pertemuan pertama ku dengan mereka, hanya saja aku seperti mengenal mereka sudah sejak lama dan ini adalah reuni kami setelah sekian lama... Di dalam kepala ku ada ingatan samar-samar tentang mereka... Ingatan milik siapa sebenarnya yang ada di dalam kepala ku ini...? Ingatan ku sendiri...? Hmm...?


"Mengapa kak Mira malah balik bertanya?" Karena aku menjawab pertanyaan Arisa dengan nada bertanya, Arisa menjadi sedikit kesal dengan jawaban ku yang sedikit kabur. "Haaah...." Arisa menghela nafas, yang tidak ku ketahui alasan nya mengapa ia melakukan itu. "Lalu siapa kalian bertiga? Apa hubungan kalian dengan Kak Mira?" Arisa menyerah menanyai ku lebih lanjut, ia kemudian bertanya ke tiga orang asing.


"... Berarti kalian adalah Player." Kata ku kepada mereka.


"Ya. Itu benar." Jawab Bruno.


"Kalau begitu, kalian adalah penjajah dari dunia lain yang membuat alam semesta ini menciptakan sistem untuk melawan kalian."


Mendengar penjelasan ku, para Player saling bertatapan sekali lagi, mereka seakan-akan menyuruh seseorang untuk menjelaskan sesuatu pada ku, akhir nya Bruno pun memutuskan kalau ialah yang akan menjelaskan. "Kau bilang sistem di ciptakan untuk melawan kami?" Ia bertanya pada ku.


"Memang begitu kan kenyataan nya." Jawab ku, lagipula itulah yang di jelaskan Gloria kepada ku.


"Hmmm.... Jawaban mu mengenai sistem di ciptakan oleh alam semesta sudah benar, hanya di bagian tujuan sistem di ciptakan jawaban mu yang salah. Sistem di ciptakan bukan bertujuan untuk melawan kami... Sistem di ciptakan untuk melawan musuh sesungguh nya yang di ciptakan oleh penjajah dunia lain. Malahan sistem yang mengirim kami ke sini untuk melawan penjajah itu."


".... Lalu siapa penjajah yang kau maksud itu?" Tanya ku.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, aku ingin bertanya satu hal kepada Elf yang berada di samping mu."


"Aku?" Karena Arisa tiba-tiba menjadi pusat perhatian dia memastikan kalau dialah yang di maksud dengan menunjuk diri nya sendiri.


"Ya. Kau." Jawab Bruno tanpa jeda sedikit pun. "Dimana Catherine?" Tanya nya.


"Catherine? Aku tidak mengenal orang bernama Catherine." Jawab Arisa.


Aku sebenarnya juga tidak mengenal siapa itu Catherine, tapi aku segera mengetahui kalau dia adalah Demi Human kucing hitam, berjenis kelamin perempuan, ingatan asing milik seseorang memberitahu ku hal itu... Pada titik ini aku sudah lelah bertanya-tanya milik siapa ingatan asing yang ada di dalam kepala ku ini.


"Dia sekarang di kenal sebagai Catulus, Putri kerajaan Animalia."


Mendengar perkataan Bruno membuat ku terkejut, Catherine yang ku ketahui adalah Demi Human kucing hitam sekarang berubah menjadi Demi Human kucing Putih. Dan lebih parah nya lagi, dia adalah Putri kerajaan yang paling berpengaruh di Benua Yuro.


"Jadi yang kau maksud itu Putri Catulus." Arisa menjawab, entah kenapa ia nampak tidak terkejut sama sekali.


"Itu benar. Di mana dia sekarang?" Dengan senyum jahat Bruno bertanya pada Arisa.


".... Dia ada di sini!"


"!?"


Saat itu aku merasakan rasa sakit yang hebat di punggung ku, aku melihat ke bawah, di sisi kiri dada ku sebuah anak panah menusuk sangat dalam di dada kiri ku, itu tepat menusuk jantung ku. Dengan perlahan aku melihat ke belakang, aku melihat Arisa menusuk ku dengan anak panah.


Apa maksud nya ini!? Kenapa dia menusuk ku!?


"Maaf Mira, untuk kepentingan pribadi kami, kau harus mati di sini."


Wajah Arisa terdistorsi, perlahan-lahan berubah menjadi wajah Putri Catulus. Mata ku terbelalak kaget saat menyaksikan pemandangan itu. Di saat inilah, Bruno menjawab pertanyaan yang sebelum nya aku lontarkan pada nya. "Penjajah yang di lawan sistem adalah kau Mira. Kau adalah penjajah yang sebenarnya. Keberadaan mu di dunia ini hanyalah anomali yang perlahan-lahan merusak bintang ini."


\*\*\*


Saat Mira tertusuk, sebuah layar hologram muncul di hadapan Bruno dan kawan-kawan nya, layar itu berisikan pesan.


"Quest telah selesai..."


'Akhir nya kami bisa pulang!' Pikir Bruno, Siegurd, Javelin dan Catulus secara bersamaan, tapi pesan belum berakhir di situ.


"Hanya saja Player belum di perbolehkan untuk pulang. Sebelum penjajah menyelesaikan Quest nya."


Harapan Bruno, Siegurd, Javelin dan Catulus menghilang dalam sekejap mata.