From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 107 Ke Istana



Charles terbangun dari tidur nya, setelah bangun ia pergi ke ruangan paling belakang istana, ruangan paling belakang adalah ruangan kolam air panas. Charles berendam di situ selama beberapa menit. Setelah berendam, Charles kembali ke kamar nya. Saat di kamar Charles memakai baju seragam nya, baju itu adalah baju turun temurun dari raja sebelum nya. Setelah memakai baju, Charles pergi keruang makan. Saat di ruang makan, di sana sudah ada Carla, Shina, Lina, White, dan Lavender.


Charles menyapa mereka berlima, setelah menyapa mereka berlima, Charles duduk di kursi kosong yang ada di ruangan itu.


Para pelayan datang membawakan makanan, mereka pun memakan makanan yang di bawa pelayan.


Selama beberapa menit, mereka sama sekali tidak melakukan pembicaraan, suasana canggung sangat terasa di sekitar mereka.


Charles menghela nafas panjang. Seperti biasa, mereka tidak ada niatan untuk akrab satu sama lain. Pikir Charles.


Charles terus memakan makanan nya. Beberapa detik kemudian, Charles berhenti makan. Ia pun mulai membuka pembicaraan.


"O iya, tadi malam Mira ada ngirim surat." Kata Charles.


"Kenapa? Dia sudah minta pulang?" Kata Lina.


"Anak-anak tetaplah anak-anak... Baru sehari sudah merengek minta pulang." Kata White.


"Bisa tidak untuk tidak menghina anak ku." Kata Carla kesal.


"Aku hanya mengatakan yang sebenar nya saja.... Dia itu masih anak-anak, anak-anak yang bodoh dan tidak mengerti cara memimpin.... Jika di lihat mungkin dia lebih bodoh dari Yuri." Kata Lina.


"Apa maksud perkataan mu? Kau bilang kalau anak ku bodoh." Kata Shina kesal.


"Aku setuju dengan Lina... Jika di lihat kemampuan mereka berdua itu lebih rendah dari pada Putri yang lain." Kata White.


"Apa kalian bilang!" Kata Carla dan Shina kesal.


"Tenang dulu, Carla... Shina. Lina dan White, berbicara sesuai fakta, ya... Walaupun kepintaran Nina dan Blanc masih di bawah anak ku." Kata Lavender menyombongkan diri.


"Apa kau bilang!?" Kata Lina, White, Shina, dan Carla.


Mereka berlima akhir nya saling berdebat, itu semua di akibatkan satu kalimat dari Charles.


Nyesal aku sudah ngomong. Pikir Charles.


Tiba-tiba pintu ruang makan di buka oleh seseorang. Yang membuka pintu adalah seorang prajurit.


"Permisi!" Kata prajurit yang baru saja masuk.


Semua istri Charles menjadi diam setelah satu orang prajurit masuk. Charles menghela nafas lega. Syukurlah. Pikir Charles lega.


"Kenapa kau kemari?" Tanya Charles lantang.


"Maafkan hamba karena telah mengganggu yang mulia. Saya kesini hanya ingin memberika. Surat kepada anda."


"Surat? Dari siapa?"


"Dari tuan Putri Mira!"


"Cepat berikan surat nya padaku sekarang!"


"Baik!"


Prajurit berjalan mendekati Charles, saat di dekat Charles, prajurit berlutut, setelah itu ia memberikan amplop kepada Charles.


Ada apa lagi Mira mengirimkan surat? Apakah dia perlu bantuan? Pikir Charles.


Charles membuka amplop, di dalam amplop itu terdapat selembar kertas. Charles mengambil kertas itu, kemudian ia membuka lipatan kertas, setelah itu ia membaca nya.


Kenapa Mira tiba-tiba mengirimkan surat? Pikir Carla.


Pasti dia minta pulang. Kata Lina dan White.


Charles bangkit dari tempat duduk nya. "Cepat siapkan ruang sidang sekarang!" Kata Charles serius.


Prajurit yang berlutut kebingungan. "Me-memang nya ada apa yang Mulia?"


"Jangan banyak tanya cepat siapkan sekarang!" Kata Charles membentak.


"Ba-baik."


Prajurit pun bergegas mengikuti suruhan Charles. Sebelum Prajurit pergi keluar, Charles memanggil prajurit itu lagi.


"Tunggu!" Kata Charles.


Prajurit itu berbalik badan kemudian ia berlutut. "Sekalian kirim seratus prajurit ke kota Cocoa! Dan kirim surat untuk semua Putri, suruh mereka pulang!"


Prajurit bangkit. "Akan saya laksanakan." Prajurit pun pergi dari ruang makan.


"Charles!! Tunggu!" Kata Carla yang berjalan di belakang Charles.


"Kita tidak punya waktu lagi, sebentar lagi Mira akan datang. Kita harus cepat-cepat menyiapkan ruang sidang nya.... Anak itu, aku tidak menyangka dia akan melakukan nya dalam waktu sehari." Kata Charles sambil berjalan dengan cepat.


"Melakukan apa? Dan apa hubungan kedatangan Mira dengan ruang sidang?"


"Mira menangkap semua bangsawan di kota Cocoa, mereka semua terdakwa dengan pasal berlapis. Dan Mira ingin kita menyidang mereka semua sekarang!"


"Seriusan... Semua bangsawan sudah di tangkap Mira? Memang nya apa yang mereka lakukan?"


"Sudah ku bilang kan mereka terkena pasal berlapis, itu artinya mereka melakukan banyak kejahatan..... Contoh nya, saja yang Mira sudah kirim bukti nya pada ku tadi malam."


"Jadi surat yang kau maksud itu..."


"Itu benar barang bukti para bangsawan kota Cocoa. Barang bukti yang di kirim Mira membuktikan kalau bangsawan kota Cocoa melakukan penggelapan pajak..... Karena itu, kira harus cepat menyiapkan ruang sidang nya."


Ke empat putri mendapatkan surat dari istana. Surat itu menyuruh mereka pulang. Mereka semua pun langsung menggunakan Cristal teleportasi untuk berpindah ke istana.


Sementara itu di kota Cocoa. Di Vila Mira, para bangsawan yang Mira tangkap, di ikat di tiang yang ada di Vila Mira. Mereka semua berteriak.


"Lepaskan kami!! Kami tidak bersalah!! Ini semua salah Sarion, kami hanya mengikuti nya." Begitulah mereka semua berteriak.


Sedangkan Sarion sendiri di ikat di ruang kerja Mira, dia di ikat dengan rantai sihir. Tubuh Sarion menjadi seperti semula, tubuh nya tidak hitam legang lagi. Sarion menangis seperti anak kecil di ruang kerja Mira.


"Ghoul!!" Teriak Sarion sambil merintihkan air mata. "Tolong aku!! Ghoul!! Oberon!! Tolong aku!!"


Sedangkan Mira sendiri sedang berada di kamar nya bersama dengan Natasha, Arisa dan Jack. Para Vampir sudah kembali ke danau Denizi setelah pertarungan berakhir.


"Jadi kita sekarang menunggu apa?" Tanya Arisa.


"Kita tunggu para pasukan dari kerajaan datang. Ayah pasti akan mengirim pasukan kesini untuk menjemput kita."


"Tapi kita sudah menunggu tiga puluh menit di sini. Kapan sebenarnya mereka datang." Kata Jack.


"Entahlah... Mungkin sekitar sepuluh menit lagi... Selagi mereka belum datang, aku ingin tidur.... Kalian jangan ganggu aku."


Aku memejamkan mata ku, setelah aku memejamkan mata ku. Ada seseorang yang membuka pintu kamar ku.


"Kami datang tuan Putri!!"


Yang membuka pintu adalah seorang prajurit.


"Cih... Mereka datang di waktu yang tidak tepat."


Aku bangkit dari tempat tidur ku, kemudian aku berjalan keluar. Natasha, Arisa, Jack dan prajurit yang baru datang mengikuti ku.


"Kalian sudah lihat kan kondisi kota Cocoa?"


"Kami sudah melihat nya," Kata prajurit yang baru datang. "Kami tidak menyangka kota Cocoa akan setengah hancur seperti itu, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Kalian sudah memeriksa ruang tengah lantai dua?"


"Sudah, disana ada Elf, yang terikat dengan sihir."


"Elf itulah yang menyebabkan setengah kota Cocoa hancur.... Para bawahan ku, tadi malam bertarung habis-habisan dengan nya."


"Be-begitu ya... Jadi karena itu dia di ikat dengan rantai sihir."


"Kau sudah faham kan, jangan sampai Elf itu terlepas. Jika dia terlepas, akan terjadi sesuatu yang gawat."


"Ka-kami akan berusaha untuk menjaga nya agar tidak terlepas.... O iya, kami juga sudah mengobati para pelayan di Vila ini."


"Begitu ya... Terima kasih banyak."


Kami sampai di lantai satu, saat kami di sana. Tali yang mengikat para bangsawan yang terikat di tarik oleh prajurit. Mereka terus memberontak untuk melepaskan diri, tapi para prajurit mengabaikan nya. Lalu Sarion yang terikat dengan sihir, di gendong oleh seorang pajurit. Ia menangis seperti anak kecil.


Aku menunjuk Sarion. "Elf itu, biar kami yang membawa nya."


Prajurit yang membawa Sarion mengangguk. Sarion, kemudian ia letakkan di lantai. Aku mendekati Sarion, kemudian aku menambah kekuatan ikatan sihir Sarion.


Natasha, Arisa dan Jack mendekati ku. "Kami siap berangkat!" kata ku berteriak ke semua prajurit.


Beberapa orang prajurit datang membawa Cristal sihir besar, kemudian sisa dari Prajurit yang tidak membawa Cristal membuat formasi lingkaran mengelilingi ku dan para tahanan. Lalu prajurit yang membawa Cristal masuk kedalam Formasi lingkaran.


"Pindahkan kami ke Istana!" Teriak prajurit yang membawa Cristal.