From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 145 Memerintah Arisa dan Jack ke Kota Banitza



Tiga hari kemudian.


Aku duduk di pondokan kecil yang ada di tengah taman istana.


Di depan ku berdiri Natasha, ia melihat ke arah ku dengan seksama.


"Natasha. Sekarang lihat mata ku!!"


Natasha kau di larang menghisap darah ku malam ini.


"Bagaimana Natasha? Apakah mata ku bersinar?"


"Tidak."


"Serius!?"


Natasha mengangguk.


Perasaan gembira meluap dalam tubuh ku.


"Sekarang mata mu bersinar."


..... Dan memon gembira ku di ganggu Natasha.


Selama 3 hari ini aku melakukan berbagai percobaan tentang mata ku yang bersinar.


Jika dari percobaan tadi, bisa di buktikan, mata ku bersinar saat aku sedang gembira, bersemangat, atau jika emosi ku meluap-luap. Mata ku tidak bersinar lagi jika aku berfikir keras. Kemarin mata ku bersinar saat aku berfikir keras, tapi sekarang tidak lagi.


Aku membaringkan kepala ku di meja yang ada di depan ku. Lalu menghela nafas panjang.


Selama 3 hari ini, aku belum menjalankan tahap selanjutnya dari rencana ku. Itu semua salah mata ku yang bersinar di saat aku berfikir keras, tapi sekarang mata ku tidak bersinar lagi!! Ini saat nya untuk menjalankan tahap selanjutnya dari rencana ku.


"Mata mu bersinar lagi Mira." Kata Natasha memberitahu.


"Aku sedikit bersemangat. O. Iya dimana Arisa dan Jack?"


"Arisa sedang mengerjakan tugas pelayan di istana, dan Jack berlatih pedang bersama ksatria."


"Hmmmm."


"Mata mu bersinar lagi."


"Aku sedikit bersemangat, kurasa ini saat nya untuk menjalankan tahap selanjutnya dari rencana ku...... O. Iya. Ngomong-ngomong tentang sinar mata, mata mu juga kadang bersinar Natasha."


"Aaaah, itu. Sebenarnya mata ku bersinar waktu tengah malam, atau mungkin di saat emosi ku sedang meluap-luap."


"Itu sama seperti mata ku." Apa hubungan nya emosi dengan sinar mata? Kenapa setiap emosi meluap-luap mata bisa bersinar?


"Aku tidak tahu kenapa bisa mata bisa bersinar." Natasha menjawab apa yang kupikirkan. "Tapi menurut hipotesa Amanda, sinar mata di sebabkan energi sihir yang meluap di saat emosi kita juga ikut meluap."


Penjelasalan yang logis.


"Natasha."


"Apa?"


"Sebenarnya aku berfikir Amanda lebih cocok menjadi Ratu Vampir dari pada kau. Dia mampu membuat keputusan yang cepat dan tepat, pintar di bidang ekonomi, dan memikirkan kawan-kawan Ras nya yang lain. Dia adalah pemimpin ideal menurut ku."


"Kalau begitu aku tidak cocok menjadi Ratu Vampir? Begitu maksud mu?"


Aku mengangguk. "Kau itu kebalikan dari Amanda, lambat dalam membuat keputusan, kemampuan mu pas-pasan di bidang ekonomi, dan kau selalu memikirkan diri mu sendiri. Dengan kata lain kau egois."


"Tidak sopan! Aku juga memikirkan kawan-kawan Ras ku. Kalau aku egois, aku sudah pasti meninggalkan Ras ku tersegel di kastil Vampir dulu."


"Tapi kau meninggalkan Ras mu sesudah membebaskan mereka kan?"


Natasha tersentak. "I-itu....."


"Karena keputusan egois mu itu, aku mengucapkan terima kasih. Karena kau meninggalkan Ras Vampir, aku bisa mempercayakan punggung ku pada mu.... Sekali lagi aku ucapkan terima kasih."


Natasha terdiam mendengar perkataan ku, kemudian ia tersenyum. "Mira...... Ternyata kau hanya ingin memuji ku ya..... Kenapa kau tidak langsung bilang saja secara langsung? Kau malah mengatakan nya dengan cara berbelit-belit. Padahal kau hanya tinggal bilang, Natasha aku mencintai mu."


"Tunggu!! Kenapa kau malah sampai kesana!? Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih."


Natasha terus menggoda ku untuk mengatakan 'Natasha aku mencintai mu'.


Tapi aku mengabaikan dia. Aku berdiri, lalu berjalan meninggalkan Natasha.


"Tu-tunggu Mira!" Natasha berteriak setelah aku tinggal kan. Kemudian ia menyusul ku.


\*\*\*


Aku berjalan di dalam istana, sesekali ada prajurit yang membungkuk pada ku. Aku bertanya pada mereka.


"Di mana Pelayan ku?"


"Pelayan? Aaaah, maksud anda kepala pelayan Arisa?"


Tanpa ku sadari, Arisa mendapatkan jabatan penting di istana.


Aku mengangguk atas pertanyaan prajurit.


"Kalau kepala pelayan Arisa, ada di pos peristirahatan pelayan."


"Terima kasih."


Aku berjalan menuju pos peristirahatan, tempat itu berada di lantai satu, di bagian dekat tangga untuk naik lantai ke dua.


Aku berjalan menyusuri ruangan koridor istana, ruangan yang panjang itu sudah berapa kali ku lewati, tapi tetap saja aku berdecak kagum dengan ruangan yang besar ini.


Setelah berjalan 1 menit, aku sampai di dekat tangga menuju lantai dua. Ruangan itu berjarak 3 meter di sisi kiri dari tangga.


Ruangan peristirahatan, memiliki pintu kayu berwarna coklat gelap. Natasha tanpa ku suruh, membuka kan pintu untuk ku.


Pintu di buka Natasha, saat terbuka aku melihat para pelayan sedang makan dan bercanda satu sama lain. Saat melihat pintu terbuka, pandangan mereka tertuju ke arah ku.


"Nona Mira!" Kata salah satu pelayan sambil berdiri dari tempat duduk nya. Pelayan yang lain ikut berdiri.


"Tidak perlu memberi hormat!" Aku mengangkat tangan ku mengisyaratkan mereka untuk duduk kembali, mereka pun mengikuti isyarat ku dan duduk kembali.


"Aku mencari Arisa?"


Mendengar nama Arisa, salah satu pelayan berteriak. "Kepala pelayan Arisa!! Nona Mira memanggil."


Di sudut ruangan ada ruangan kecil, ruangan itu biasa di gunakan untuk memasak para pelayan, Arisa keluar dari ruangan itu.


"Ka- Maksud ku. Nona Mira. Mengapa anda kemari?"


"Ada yang ingin ku bicarakan. Pergi ke kamar ku dengan segera! Dan juga beritahu saudara laki-laki mu."


Setelah mengatakan itu, aku pergi keluar dari ruangan peristirahatan dan berjalan menuju kamar ku yang ada di lantai 2 istana.


\*\*\*


Aku menunggu di kamar.


Di dalam kamar ku ada meja kecil, di atas nya ada cangkir kosong, teko penuh yang berisi teh, manisan tentu saja ada makanan favorit ku yaitu coklat.


Aku mengisi cangkir kosong dengan teh.


Setelah menuang teh, waktu nya untuk makan cemilan.


Setelah memakan cukup banyak cemilan, Arisa datang bersama dengan Jack.


Saat mereka berdua datang, aku menyuruh Arisa membuat (Barrier) agar pembicaraan kami tidak di dengar oleh orang lain selain kami berempat.


Natasha duduk di sisi kanan meja, Arisa di sisi kiri, lalu Jack di sebrang meja di depan ku.


Natasha menuang teh di cangkir nya, lalu memberikan teko ke Jack, Jack menuangkan teh ke cangkir nya, lalu giliran Arisa yang terakhir.


Cangkir ku masih penuh.


Aku menyesap teh ku, lalu mengambil cemilan, mereka semua juga mengambil cemilan yang mereka suka.


Setelah aku makan satu buah cemilan, aku menyesap teh ku lagi.


"Aku menyuruh kalian kesini karena ingin memberitahu kalian rencana ku selanjutnya."


Saat aku berkata seperti itu. Natasha, Arisa dan Jack menelan cemilan mereka lalu menyesap teh, kemudian menatap ku dengan serius.


"Jadi apa yang harus kami lakukan?" Tanya Natasha.


"Natasha kau tetap di sini menemani ku.


Arisa dan Jack akan pergi ke kota Banitza, sebelum kalian pergi gunakan sihir (Doppleganger) untuk menciptakan tiruan kalian."


"Kenapa kami harus ke kota Banitza?"


"Bahasa mudah nya aku ingin kalian memata-matai kota itu.


Laporkan masalah kota itu, Jumlah penduduk Bangsawan dan Non Bangsawan tentu saja. Besar kota, kondisi kota, kondisi Geogarfis, masalah ekonomi, sektor pertanian, lahan, dan lain-lain yang berhubungan dengan kota itu."


"Untuk memata-matai akan susah untuk mengetahui semua hal yang Kak Mira sebutkan barusan. Bagaimana kalau kita mencuri berkas yang berhubungan dengan masalah yang Kak Mira sebutkan barusan?" Tanya Arisa.


"Kalau laporan dari berkas, aku takut akan ada pemalsuan data. Apalagi yang membuat nya adalah orang yang tidak ku kenal, aku ingin kalian langsung yang mendata kota itu. Tenang saja, Arisa bisa menggunakan sihir (Clairvoyance) untuk mengetahui, Jumlah penduduk, kondisi Geografis, besar kota, lahan dan sektor pertanian kota tersebut. Dan untuk sisa yang tidak di ketahui Arisa, aku ingin Jack yang mengumpulkan informasi.


Aku tidak ingin ada informasi yang salah, informasi kalian saat ini akan menentukan masa depan ku. Kalian ingat itu!"


"Baiklah kami akan ingat itu." Arisa dengan gugup menjawab.


"Jadi kapan kita akan melakukan kegiatan mata-mata ini?" Tanya Jack.


"Besok."


"Sudah ku duga jawaban itu akan keluar." Kata Arisa. Nada bicara nya seperti, ia tertimpa dengan batu berat berton-ton.


Setelah menjelaskan, aku menyesap teh lagi untuk menghilangkan haus. Setelah penjelasan panjang.


Saat itu, aku teringat sesuatu yang seperti nya cukup penting.


Kalau tidak salah Kak Rosa berada di posisi nomor 4 dalam tes.


Apakah dia harus ku bantu juga? Mungkin dia bisa berguna di masa depan?


Saat memikirkan Kak Rosa bisa berguna bagi ku, rasa senang memenuhi tubuh ku. Tanpa sadar aku tersenyum.


"Kau merencakan sesuatu lagi Mira?" Tanya Natasha.


"Apakah mata ku bercahaya sekarang?"


"Itu bercahaya.... Sangat terang."