From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 122 menyerang kerajaan Elf Part II



Dengan satu perintah dari seseorang yang berteriak dari atas pohon yang paling tinggi, Para Elf terus menembaki kami dengan panah. Padahal mereka tahu, menembaki kami adalah hal yang tidak berguna dan sia-sia.


Aku mengeluarkan lima persen kekuatan ku, aku menggunakan (Clairvoyance) untuk melihat ke bagian paling atas pohon yang paling besar.


Aku melihat seorang Elf laki-laki yang terus memerintahkan para Elf yang lain, jika ku amati dia adalah Raja Elf. Dengan kata lain dia adalah Oberon.


Aku melihat ke arah Natasha. "Natasha tahan mereka!" Natasha mengangguk. Kemudian aku melihat ke arah Amanda. "Suruh yang lain nya juga!"


"Baik!" Jawab Amanda.


Aku menggunakan (Teleportation) untuk berpindah ke samping orang yang ku duga Oberon. Saat aku berada di samping orang yang ku duga Oberon, para Elf yang berada di dekat orang yang ku duga Oberon terkejut.


Dengan Reflek mereka menembaki ku dengan sihir.


Aku mengayunkan tangan ku sambil menggunakan (Forced Dispel Magic). Sihir yang mengarah pada ku menghilang tanpa tersisa.


"A-apa tidak mungkin!!" Kata salah satu elf terkejut.


"Ba-bagaimana kau bisa menghilangkan sihir Roh dengan mudah!?" Teriak Elf yang ku duga Oberon.


Aku melihat ke arah Elf yang baru saja berteriak. "Apakah kau Oberon?"


"Jangan sebut nama ku manusia rendahan!"


"Kalau begitu kau benar Oberon kan?"


"Sudah ku bilang-"


"Benar kan?" Aku memakai sihir (Fear) untuk memberikan intimidasi. Aku melihat wajah semua Elf ketakutan, efek dari sihir (Fear) menyebar dengan cepat.


"Ka-kau benar.... Aku.... Oberon. Apakah kau memiliki masalah dengan ku manusia?"


Aku mencengkram wajah Oberon, setelah itu aku mengangkat nya. Karena kekuatan ku melemah, aku merasakan sedikit berat untuk mengangkat nya. Tapi aku berhasil mengangkat nya, karena aku menambahkan kekuatan ku menjadi tujuh persen.


Aku mengangkat Oberon hingga kaki nya melayang di lantai beberapa centimeter.


Aku melihat ke arah para Elf yang berada di puncak pohon. "Sebaik nya kalian lari... Jika kalian tidak ingin mati!"


Setelah mengatakan itu, aku membawa Oberon ke atas langit, Oberon memberontak, tapi aku menambah kekuatan ku untuk mencengkram nya. Kekuatan yang ku gunakan saat ini sebanyak sembilan persen.


Aku mengangkat Oberon tinggi-tinggi. Hingga pada akhir nya aku sampai pada ketinggian sepuluh ribu kaki di atas permukaan laut.


"Sebelum aku menjatuhkan mu... Aku akan memberi mu pertanyaan. Tergantung jawaban mu, mungkin kau akan ku ampuni. Katakan pada ku dimana Sarion?"


"Bu-bunuh saja aku!"


"Jadi begitu ya.... Sarion ada di hutan Roh."


"Ba-bagaimana kau!?"


"Mind Reading. Saat ku berikan pertanyaan, kau memikirkan satu tempat. Dan tempat itu adalah hutan Roh.... Jadi aku yakin seratus persen kalau hutan Roh tempat Sarion berada sekarang."


"Si-sialan... Kau membaca pikiran ku!?" Oberon tersenyum. "Walaupun kau tahu.. Kau tidak akan sampai di sana."


Aku melepaskan Oberon. Ia pun terjatuh dari atas langit. "Aku bosan mendengar jawaban mu!"


Jarak Oberon dengan puncak pohon keramat makin dekat. Saat terjatuh Sarion berpikir. "Aku akan mati terhempas!!" Pikir Sarion panik. Ia terus memutar otak nya agar tidak mati! Beberapa detik kemudian jarak nya sudah sangat dekat, Oberon yang tidak berdaya terhempas di atas pohon keramat. Tapi Oberon masih selamat, tapi tubuh nya sudah hancur lebur. Ia berpikir, mungkin ia selamat karena berkah dari pohon keramat.


Kemudian ia melihat dengan samar-samar gadis berambut perak terbang menukik kebawah dengan kecepatan tinggi. Dari samping kanan nya, terdengar suara istri dan anak-anak nya mendekat.


"Ayah!!"


"Suami ku!!"


Dengan segenap tenaga Oberon berteriak. "Sillvaine!! Bawa anak dan istri ku pergi dari pohon keramat!"


Cahaya berwarna hijau mengelilingi istri dan anak-anak Oberon. Mereka di bawa oleh cahaya hijau turun dari pohon keramat.


Oberon melihat gadis kecil berambut perak makin cepat mendekati nya, kemudian gadis kecil berambut perak merubah posisi terbang nya, lalu ia mengarahkan kedua kaki nya ke Oberon.


Kedua kaki dari gadis kecil berambut perak terkena perut Oberon. Oberon yang terkena tendangan yang sangat keras memuntahkan darah. Ia juga makin terdorong ke dalam pohon keramat, hingga akhir nya ia terdorong memasuki batang pohon keramat hingga ke akar-akar nya. Pohon keramat pun terbelah dua. Tapi aneh nya Oberon masih belum mati ia hanya sekarat. Dan kondisi pohon keramat sekarang terbelah dua secara vertikal.


 


\*


 


Beberapa menit sebelum pohon keramat terbelah, di sebuah tempat. Tempat itu memiliki banyak pohon, tapi semua pohon memiliki daun-daun berwarna-warni seperti pelangi.


Sekelompok anak kecil itu di suruh oleh gadis kecil berambut pirang yang memiliki kulit putih kemerah-merahan.


"Ghoul!! pengobatan nya sudah selesai, kau sudah sembuh!"


"Terima kasih... Thinkie!"


"Ghoul!!" Seorang Elf berlari menuju Ghoul. Saat di dekat Ghoul ia memeluk Ghoul. "Syukurulah kau sudah sembuh!" Kata Elf itu dengan bahagia.


"Ini semua berkat Thinkie! Berterima kasihlah pada Thinkie Sarion!"


"Thinkie itu siapa?"


"Ratu Roh!"


Sarion melihat para anak kecil yang ada di hutan warna-warni itu sebagai cahaya saja. Jadi ia tidak bisa melihat wujud anak kecil.


"Ja-jadi ratu roh itu nama nya Thinkie! Aku tidak tahu.... Dan juga aku sangat terkejut melihat hutan Roh yang ternyata memiliki banyak warna seperti ini!"


"Hutan ini melambangkan cahaya Roh yang juga warna-warni!" Jawab Thinkie.


"Hmmm, jadi begitu ya."


"Ngomong-ngomong Thinkie," Kata Ghoul dengan wajah serius. "Terima kasih telah mau membalaskan dendam ku!"


"Tidak perlu berterima kasih... Hanya untuk melawan manusia rendahan."


"Kau benar." Raut wajah Ghoul berubah. Dalam sekejap wajah nya menunjukkan kecemasan.


Hal yang di cemaskan Ghoul terjadi, semua Roh merasakan telah terjadi sesuatu pada pohon keramat. Semua Roh pun menjadi panik.


"A-apa yang terjadi!?" Kata Thinkie panik.


Sarion menatap Ghoul dengan wajah cemas. "Gh-ghoul ja-jangan ini!?"


"Ti-tidak salah lagi..." Kata Ghoul. Wajah nya pucat. Ia sangat ketakutan. "A-apa yang telah ku lakukan!?"


Thinkie berteriak. "Ghoul!! Jelaskan apa yang terjadi!? Kau tahu sesuatu kan!?"


"I-ini semua ulah manusia yang ku lawan!?"


"Apa!? Mana ada manusia yang bisa berbuat sejauh ini!?"


"Maaf Thinkie... Sebenarnya manusia ini.. Telah membuat Vampir menjadi bawahan nya."


"Vampir!? Seharus nya mereka sudah punah!? Walaupun mereka masih ada.. Bagaimana bisa manusia membuat Vampir menjadi bawahan nya!?"


"Aku tidak tahu!? Tapi gadis kecil berambut perak itu..."


Perkataan Ghoul di potong oleh Thinkie. "Gadis kecil berambut perak? Ghoul jawab aku... Apakah gadis kecil yang kau maksud ini berumur sepuluh tahun?"


"A-apakah kau kenal dengan nya?"


"Dari reaksi mu... Seperti nya aku benar... Ghoul... Ayo kita datangi gadis kecil itu! Kau harus minta maaf pada nya."


"A-ada apa Thinkie? Apakah kau tahu gadis kecil ini?"


"Aku tahu dia.. Dia adalah salah satu anggota dari lima orang aneh."


"Lima orang aneh?" Kata Ghoul dan Sarion.


Thinkie mengangguk. "Kalian tahu Javelin?"


Ghoul mengangguk. "Dia adalah raja Elf yang seangkatan dengan pahlawan Sieg."


"Kau benar... Aku pernah menguping pembicaraan pahlawan Sieg dan Javelin. Mereka bercerita tentang kelima kawan mereka, yang di beri julukan orang aneh."


"Siapa kelima kawan mereka itu?"


Thinkie menggelengkan kepala nya. "Aku hanya tahu nama julukan dan ciri-ciri nya saja.... Pertama Raksasa kecil. Dia adalah Ras Giant yang tidak bisa berubah menjadi wujud aslinya. Lau ada Javelin, Elf yang hanya bisa menggunakan tombak. Lalu ada Pahlawan Sieg yang tubuh nya bisa membesar dan mengecil, lalu ada kucing hitam pembunuh, dia adalah demi human kucing yang tugas nya menghabisi musuh dengan panah nya. Dan terakhir ada Loli Perak.. Dia adalah penyihir terkuat, bahkan dia adalah orang terkuat di antara kelima orang aneh... Ghoul. Kau pasti ber urusan dengan Loli perak ini, kata Sieg, dia adalah gadis kecil berambut perak dan berwajah imut, walaupun wajah nya imut dia tidak akan segan-segan menghabisi musuh nya."


"jadi aku harus betul-betul minta maaf pada nya ya... Jika di lihat lagi, memang aku yang salah." Kata Ghoul menyesal.


Thinkie mengabaikan perkataan Ghoul, ia mengaktifkan sihir, sihir itu memunculkan sebuah lubang hitam. Itu adalah pintu keluar dari hutan Roh.


"Kita sekarang pergi ke gadis kecil itu." Kata Thinkie dengan wajah serius.