From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 121 Menyerang kerajaan Elf Part I



Aku bersama dengan ketiga bawahan ku terbang di langit malam, kami berempat sampai ke pinggir Benua Silia. Lautan samudra membentang luas di hadapan kami, saat memasuki wilayah lautan aku menggunakan sihir (Clairvoyance). Sihir ini aku pakai agar aku dapat melihat rombongan para Vampir dan Lizard.


Aku terus terbang ke depan, setelah aku sampai di tengah lautan aku melihat bayangan kadal raksasa dan kelompok orang melayang di udara.


"Aku melihat mereka!"


Aku langsung menambah kecepatan terbang ku, akhir nya aku sampai. Kadal raksasa yang ku lihat adalah Lizard yang berubah menjadi naga, dan kelompok orang yang kulhat adalah Para Vampir.


Aku berhenti, lalu Natasha, Arisa dan Jack menyusul dari belakang, setelah itu mereka berhenti juga.


Ditengah lautan, kami terbang di udara, para Vampir dan Lizard menatap ku dengan tatapan penuh dengan harapan.


"Pertama-tama kita harus terbang lebih tinggi!"


Aku melayang makin ke atas, hingga jarak ku sangat dekat dengan awan, dari langit, bulan terlihat sangat besar. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan hal itu, tapi yang pasti, bulan tepat berada di hadapan ku, seakan-akan aku bisa meraih nya dengan tangan ku.


"Aku tidak menyangka langit malam akan seindah ini!" Kata Amanda yang datang dari bawah.


"Tapi malam yang indah ini akan menjadi malam terakhir untuk para Elf." Kata Lizard. Suara nya berat, itu di karenakan saat ini Lizard sedang berada di wujud naga nya.


"Kak Mira yakin ingin membantai mereka?" Tanya Arisa yang berada di belakang ku.


"Itu tergantung... Jika mereka mau menyerahkan Sarion, aku akan mengampuni mereka."


"Mira benar," Kata Natasha membenarkan. "Itu tergantung mereka. Tapi... Kalau boleh jujur, aku sangat ingin membantai mereka, karena pembantaian akan menjadi panen darah bagi Vampir." Kata Natasha sambil menjilati bibir nya, senyum jahat Natasha terpampang jelas di wajah nya.


"Seperti nya kau sangat ingin membantai mereka Natasha."


"Tentu saja."


"Apakah ada alasan khusus?... Menurut ku, kau tidak akan membantai mereka hanya karena panen darah, karena pasokan darah mu sudah tercukupi melalui darah ku."


Natasha tertawa kecil. "Kau benar..... Kalau boleh jujur... Alasan nya aku sangat kesal pada para Elf itu. Mereka sangat sombong ingin menjadikan kita budak."


"Kau benar... Jadi malam ini kita akan menghancurkan kesombongan mereka, dengan rasa takut.... Mari kita berangkat!"


Semua orang mengangguk, aku langsung melesat ke arah depan.


Beberapa menit kemudian. Aku dan kelompok ku sudah sampai di langit-langit Benua Hokahi.


Benua hokahi sangat besar, dari atas langit aku dapat melihat, Benua Hokahi adalah Benua yang di penuhi dengan pohon. Dari atas langit, aku hanya bisa melihat daun-daun dari berjuta-juta pohon yang menutupi Benua Hokahi.


Di sekitar pohon itu ada cahaya terang, karena merasa penasaran aku menggunakan (Clairvoyance). Untuk melihat lebih dekat ke benua Hokahi.


Saat aku melihat nya, aku mendapati rumah-rumah pohon tersusun rapi, Mereka juga membangun jembatan gantung yang menyambung kan pohon lain nya.


"Seperti nya mereka tinggal di atas pohon."


"Di atas pohon?" Tanya Arisa. "Apakah kak Mira yakin?"


"Aku melihat nya langsung! Jadi aku yakin seratus persen."


"Mungkin itu peraturan baru!"


"Apakah waktu dulu mereka tidak tinggal di atas pohon?"


"Seingat ku tidak... Benarkan Jack?"


Jack mengangguk.


"Hmmmm, begitu ya."


"Apakah kita serang sekarang?" Tanya Natasha.


"Tentu saja sekarang.... Pertama aku yang turun. Selanjutnya Natasha, Arisa dan Jack. Setelah itu Lizard lalu pasukan Vampir!"


Semua orang mengangguk.


Aku pun dengan kecepatan tinggi turun menuju Benua Hokahi.


\*\*\*


Di istana Oberon lebih tepat nya di sekitar kolam yang ada di pohon keramat. Para Elf bangsawan sedang berpesta, mereka berpesta karena mereka sangat senang karena akan mendapatkan Budak baru. Yaitu para manusia yang berasal dari kerajaan Fantasia.


Mereka semua bersenang-senang dengan meminum alkohol, dan bermain dengan wanita.


Oberon duduk di singgassana nya yang telah ia pindahkan dari dalam istana, lalu di pangkuan Oberon duduk istri nya dengan pakaian minim, hingga para Elf pria yang lain tergoda dengan istri Oberon.


"Kemana mata kalian melihat sialan!!" Teriak Oberon kesal.


Semua orang mengalihkan pandangan nya, Oberon meminum kembali alkohol yang ia pegang.


"Jangan berani kalian menatap istri ku!"


"Sudahlah sayang.. Hari ini kita berpesta kemenangan, jangan kesal karena masalah seperti itu!" Balas istri nya sambil mendekatkan wajah nya ke wajah Oberon.


"Kau benar... Hari ini kita berpesta kemenangan!" Teriak Oberon dengan gembira.


Tiba-tiba terjadi ledakan besar, ledakan itu mengguncang seluruh hutan di Benua Hokahi.


"Ada apa itu!"


Anak Oberon yang berada di pinggir pohon melihat sesuatu di bawah pohon. Ia melihat seseorang gadis kecil berambut perak. Tanah yang di injak gadis kecil itu memiliki bolongan besar. Sehingga pohon di sekitar nya terlempar menjauh.


"Gadis kecil?"


Oberon bersama istri nya pergi ke pinggir pohon, ia melihat seorang gadis kecil berambut perak. Seperti yang di bilang anak nya.


"Cuma anak kecil, tembaki dia dengan panah pasti akan langsung mati!"


Dari atas langit turun seorang wanita, saat wanita itu mendarat tanah yang di jadikan tempat nya mendarat menjadi hancur. Wanita yang baru saja mendarat berambut pirang, dan berparas cantik. Dan yang paling mengejutkan, wanita yang berambut pirang memegang pedang berwarna merah darah.


Semua orang terkejut melihat hal itu, lalu turun dua orang lagi, satu nya Elf wanita berambut pirang dan satu nya manusia laki-laki berambut coklat. Lalu setelah mereka turun, datang pasukan yang memegang senjata dari darah dan seekor Naga.


"Apa yang sedang terjadi?" Kata Oberon. Wajah nya pucat, keringat dingin nya bercucuran.


\*\*\*


Aku bersama dengan kelompok ku berhasil mendarat di Benua Hokahi, aku melihat para Elf sedang berada di atas pohon, mereka menatap kami. Dari wajah mereka, seperti nya mereka ketakutan, mungkin mereka takut karena melihat Lizard. Memang benar aku membawa Lizard untuk menakuti para Elf. Tapi aku tidak menyangka dampak nya akan sangat efektif.


Aku berdehem secara pelan, lalu Amanda mendekati ku, kemudian ia menyentuh punggung ku.


"Sekarang suara mu dapat terdengar oleh seluruh orang!" Kata Amanda sambil tersenyum.


Seorang Elf menodong kan panah ke pada ku.


"Si-siapa kalian!?"


Aku melihat ke belakang, lalu aku menganggukkan kepala. Itu tanda kalau aku menyuruh para bawahan ku bersiap menerima serangan.


Mereka membalas dengan anggukan juga.


Aku melihat ke atas, lebih tepat nya ke arah pohon paling besar. Karena sebelum aku sampai, aku melihat energi sihir yang besar berasal dari pohon yang paling besar, yang letak nya di tengah-tengah hutan. Jadi aku memutuskan untuk melihat ke arah pohon bersar itu.


Aku berdehem sekali lagi. "Perkenalkan Para Elf sekalian.. Aku adalah Putri Kelima kerajaan Fantasia, nama ku Mira. Aku kesini ingin meminta.... Bukan aku kesini ingin memerintahkan kalian! Serahkan Sarion pada ku! Maka akan ku ampuni kalian. Jika kalian menolak, aku pastikan Ras Elf tidak akan ada lagi di dunia ini."


Arisa mendekat, kemudian ia berdiri di samping ku. "Kak Mira!"


Aku melihat ke arah Arisa.


"Apakah aku juga termasuk?"


Jack dari belakang Arisa memukul kepala Arisa. Kemudian Jack membentak Arisa. "Di saat seperti ini kau masih bisa bercanda!?"


"Ma-maaf habis nya... Suasana nya sangat tegang jadi aku ingin mencairkan suasana."


Jack menutup mulut Arisa, kemudian Jack menarik Arisa mendekat ke Natasha. Saat di dekat Natasha, Arisa mendapatkan pukulan lagi dari Natasha.


"Maaf!!" Kata Arisa menyesal.


Aku menghembuskan nafas kemudian aku melihat ke arah pohon yang paling besar lagi.


"Jadi apa jawaban kalian?"


Dari atas pohon paling besar terdengar teriakan yang sangat keras. "Siapa yang mau menuruti perintah mu anak kecil.... Bantai kami kalau bisa... Pemanah tembaki mereka dengan panah Roh!"


Amanda melihat ratusan anak panah mendekati kami. Ia pun berteriak. "Pasukan Perisai!"


Natasha dengan para Vampir yang lain nya dengan cepat melukai tangan mereka, setelah itu mereka mengucapkan mantra.


"Cursed Blood Control... Shape Two: Shield!"


Darah dalam jumlah banyak mengelilingi kami semua, lalu darah itu berubah menjadi ribuan perisai kecil yang mengelilingi kami.


Suara hantaman panah terdengar dari luar, itu pertanda panah yang di tembakan Elf tidak dapat menembus perisai yang di buat Natasha dan pasukan nya.


Aku melihat ke arah Arisa. "Arisa aktifkan Barrier!" setelah itu aku melihat ke arah Natasha. "Natasha setelah Arisa mengaktifkan barrier, nonaktifkan perisai darah ini!"


"Baik!"


Amanda mendekatkan mulut nya ke telinga ku. "Kenapa kau menyuruh Natasha menonaktifkan perisai darah nya?"


"Pandangan kita terhalang dengan perisai darah ini... Jika kita menggunakan Barrier Arisa, kita dapat melihat dengan jelas para Elf menembaki kita."


Dari belakang ku Arisa berteriak. "Sudah aktif!"


"Sekarang Natasha!"


Natasha dan pasukan para Vampir menonaktifkan sihir mereka. Perisai darah yang menghalangi kami pun menghilang, darah yang di pakai masuk kembali kedalam luka yang di buat oleh Natasha dan pasukan nya.


Aku melihat tembakan panah berhenti, sekarang wajah para Elf makin ketakutan.


Terdengar suara teriakan lagi dari atas pohon yang paling besar. "Apa yang kalian lakukan!? Terus tembaki panah kalian!"


Mereka menembaki lagi, tapi panah mereka di pantulkan dengan medan yang tidak terlihat. Itu merupakan sihir (Barrier) milik Arisa.


"Ti-tidak mungkin!" Kata salah satu Elf.


Dari atas pohon yang paling besar terdengar suara teriakan yang sama seperti sebelum nya.


"Terus tembaki mereka!"


Panah terus di tembakkan. Tapi percuma saja, panah itu terus di pantulkan dengan sihir (Barrier) Arisa.


Jika ku amati, yang berteriak dari atas pohon adalah raja Elf. Aku pun memutuskan mengeluarkan lima persen dari kekuatan ku.