
Setelah menghubungi Natasha, aku menyimpan telepon genggam model lama di (Inventori), aku kemudian menjelaskan situasi terkini kepada Kak Yuri yang masih kebingungan berdasarkan informasi yang telah ku terima dari Natasha. Setelah menjelaskan situasi, dan menjelaskan rencana yang akan ku lakukan secara detail kepada Kak Yuri, aku pun menghilangkan sihir yang telah ku aktifkan sebelum nya.
Untuk saat ini, aku hanya perlu menunggu waktu eksekusi di laksanakan.
Seperti yang di jadwalkan, tidak sampai sepuluh menit, pembawa pesan beserta prajurit dari istana datang ke ruang bawah tanah, mereka memberitahu penjaga yang menjaga sel kami untuk membawa kami keluar dari sel untuk di eksekusi. Penjaga yang menjaga sel kami menuruti perintah itu, dengan cepat ia membuka pintu sel kami, lalu beberapa penjaga dari istana memasuki sel kami, kemudian memborgol kami.
Saat tangan ku dan tangan Kak Yuri telah di borgol, kami kemudian di bawa keluar dari ruang bawah tanah. Sesampai nya di luar, kami di bawa ke halaman, yang di sana sudah ada kereta kuda khusus tawanan yang menunggu kami. Saat kereta kuda di buka, penjaga yang mengantar kami dengan kasar mendorong kami masuk, hal itu menyebabkan Kak Yuri merintih kesakitan. Dengan cepat aku mendekati Kak Yuri, lalu menanyai kondisi nya. Kak Yuri menjawab: "Aku baik-baik saja." sembari tersenyum. Dari ekspresi wajah nya, tidak ada tanda-tanda khawatir ataupun takut. Padahal sebentar lagi ia akan di eksekusi. Ini menandakan Kak Yuri percaya pada rencana yang akan ku lakukan kali ini akan berhasil tanpa ada kendala. Melihat ekspresi wajah Kak Yuri yang seperti itu, aku merasa senang, walaupun aku tidak menunjukkan nya di wajah ku.
Setelah kami berdua masuk kedalam kereta, pintu kereta di tutup. Kereta yang kami naiki tidak memiliki jendela, kereta yang kami naiki hanya ada beberapa lubang kecil yang berguna untuk membiarkan udara masuk. Akibatnya saat pintu di tutup kereta menjadi gelap, cahaya matahari yang memasuki lubang kecil tidak cukup untuk menerangi seisi kereta secara keseluruhan.
Aku mulai merasakan getaran, menandakan kalau kereta saat ini sedang berjalan....
... Satu menit kemudian... Kereta berhenti. Aku bisa mendengar suara warga kota yang sibuk melakukan aktifitas dari dalam kereta. Dari sini saja aku sudah tahu kalau kami saat ini berada di balai kota. Nampak nya Kak Nina ingin mengeksekusi kami di depan publik. Suara warga kota pun terhenti, di gantikan dengan suara lantang Kak Nina yang tengah melakukan pidato.
Isi pidato Kak Nina memberitahukan pengalihan kekuasaan Kak Yuri kepada diri nya, dengan alasan Kak Yuri yang telah melakukan tindakan yang sangat keji yaitu membunuh Ibu. Kak Yuri yang juga ikut mendengar pidato Kak Nina seketika cemberut, wajah nya menunjukkan kebencian kepada Kak Nina. Setelah mengatakan alasan penyerahan kekuasaan, Kak Nina kemudian menunjukkan bukti, dari perkataan nya, aku tahu bukti yang ia tunjukkan itu adalah Video yang ia perlihatkan pada ku saat di ruang rapat barusan. Tidak lama berselang, aku dapat mendengar Kak Nina yang melanjutkan pidato nya dengan suara yang di hiasi dengan isak tangis, pidato itu berisi omong kosong yang mengatakan kalau ia menganggap Ibu sudah seperti Ibu kandung nya sendiri. Sekali lagi Kak Yuri menunjukkan ekspresi kebencian terhadap Kak Nina, wajah Kak Yuri terdistorsi, menunjukkan ekspresi marah, tubuh Kak Yuri juga bergetar hebat, aku bisa melihat ia mengepalkan tangan nya dengan begitu keras.
Kak Nina menyelesaikan pidato nya, seketika warga kota berteriak dengan sangat keras. Dari nada suara nya, aku dapat merasakan kebencian yang begitu kuat yang di arahkan kepada kriminal yang membunuh Ibu, yaitu Kak Yuri.
"Uwaaah... Kak Nina benar-benar totalitas..." Gumam ku dengan senyum masam.
Pintu kereta yang kami naiki kemudian terbuka, lalu masuk dua orang pria berbadan besar memasuki kereta kami.
Kak Yuri di bawa keluar kereta terlebih dahulu, saat ia keluar, teriakan kebencian langsung di arahkan kepada nya. Tapi teriakan kebencian itu seketika berubah menjadi keheningan sesaat aku keluar dari kereta. Aku dapat melihat wajah para warga kota, mereka semua menunjukkan ekspresi kebingungan... Ya... Wajar mereka bingung... Mereka tidak mengetahui alasan ku di tangkap. Sebenarnya ini juga merupakan tindakan bunuh diri bagi pihak kak Nina. Jika aku, anak dari Ratu Carla, mengatakan Kak Yuri tidak membunuh Ratu Carla, maka pernyataan Kak Nina sebelum nya akan menjadi ambigu. Memang benar kalau Kak Nina menunjukkan bukti yang valid, tapi aku bisa membantah bukti itu dengan satu pernyataan ku. Coba pikirkan, aku sebagai anak kandung dari Ratu Carla, membantah 'Dengan Keras' pernyataan Kak Nina. Jelas sebagian besar warga kota akan meragukan pernyataan Kak Nina sebelum nya. Atas dasar itulah aku membiarkan diri ku di tangkap. Ini bertujuan untuk memecah opini publik terhadap status Kak Yuri, yang berpotensi membuat eksekusi ini di batalkan... Ini adalah rencana yang ku susun saat pertama kali datang ke sini, jika rencana ini gagal, dan Kak Nina memiliki tindakan pencegehan untuk ini, barulah aku memulai rencana ku yang sebenarnya.
"Aku tahu kalian pasti bingung dengan situasi kali ini. Pasti di antara kalian ada yang bertanya-tanya mengapa aku juga menangkap Putri Mira." Kata kak Nina saat melihat reaksi para warga sesaat setelah aku keluar dari kereta.
"Sebenarnya aku merasakan sakit, saat menangkap adik ku sendiri, tetapi kejahatan yang dia lakukan tidak dapat termaafkan..." Kata Kak Nina, kalung berwarna merah rubi yang ia kenakan mengeluarkan cahaya sesaat ia mulai bersuara, yang ku asumsikan kalau kalung itulah item pengendali pikiran yang di gunakan Kak Nina. Dan juga... Ia menatap wajah ku seolah-olah memprovokasi ku untuk mengatakan sesuatu... Aku dapat menduga jika aku mengatakan sesuatu, aku pasti akan kalah dalam kompetisi menggiring opini publik ini. Dan yang lebih parah nya lagi, Kak Nina seperti nya memiliki sesuatu yang dapat membuat ku kalah jika aku diam saja... Apapun pilihan ku, jelas aku akan kalah dalam menggiring opini publik kali ini.
"... Kejahatan...? Aku tidak merasa pernah melakukan kejahatan."
"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku tahu perbuatan keji mu saat peperangan berlangsung!"
"...."
"Aku anggap diam mu itu sebagai tanda konfirmasi."
"...."
Kak Nina terdiam saat aku mengatakan hal itu, bahkan para warga kota yang menyaksikan juga terdiam. Aku melanjutkan perkataan ku, mengabaikan reaksi mereka. "Jika itu yang kakak maksud dengan perbuatan keji, maka aku tidak bisa menyangkal pernyataan kak Nina sebelum nya. Tetapi... Kak Nina juga tidak boleh lupa, kalau negara kita bisa sampai seperti ini juga karena perbuatan keji raja-raja terdahulu."
"Kau pandai bicara juga rupanya... Perbuatan keji yang ku maksud adalah kejadian di kota Paela... Pada saat itu kau dengan mudah nya menggunakan warga kota sebagai umpan untuk membunuh pasukan Demon yang telah melewati lautan."
".... Lalu apa yang harus aku lakukan? Mengevakuasi warga kota? Yang jelas hal itu akan membuat pasukan Demon terpecah belah dan menuju kota-kota terdekat. Hal itu jelas akan menimbulkan lebih banyak korban lagi... Dan harus nya Kak Nina tahu kota Paela terkenal dengan tingkat kejahatan yang tinggi, dan juga menurut data banyak kasus penggelapan, korupsi, dan hal-hal ilegal lain yang terjadi di kota itu. Apakah aku salah mengorbankan para kriminal itu untuk menyelamatkan kota-kota terdekat? Dan juga jika aku tidak melakukan itu, pasukan aliansi akan kalah dalam perang kali ini."
Pada titik ini Kak Nina tiba-tiba tersenyum sinis... Aku bisa menebak ia berharap aku mengatakan hal itu.
"Kau jelas salah Mira... Ayah tidak akan pernah berbuat hal sekeji itu. Dia akan memprioritaskan warga negara nya di atas apapun, walaupun mereka penjahat sekalipun. Ayah berkeyakinan kalau penjahat pasti akan menemukan titik balik nya dan berubah menjadi orang baik, karena itu ia memaafkan para kriminal kecuali mereka melakukan perbuatan yang benar-benar kejam... Dan Mira kau salah satu dari kriminal itu! Kau membantai warga kota yang belum tentu bersalah! Kau sungguh kejam Mira!"
Kalung yang di kenakan Kak Nina mengeluarkan cahaya terang, dan yang paling buruk nya tidak ada yang menyadari hal itu. Kalung itu jelas mengaktifkan sihir pengendali pikiran. Dan benar saja, sesaat Kak Nina mendeklarasikan aku adalah kriminal yang kejam, para warga kota langsung menatap ku dengan tatapan dingin.
"Aneh... Ayah memaafkan kriminal, tapi ia tidak memaafkan ku saat berbuat salah. Jika bukan karena usaha ku sendiri, aku yakin aku masih berada di kota Tiramisu sekarang." Kata ku kepada Kak Nina.
"Diam! Apapun yang kau katakan tidak ada gunanya sekarang! Hukum mati mereka!"
Atas perintah Kak Nina kami di bawa naik ke atas podium yang telah di siapkan Kak Nina, podium itu berada di tengah kerumunan, dengan lebar lima meter, dan di atas podium itu ada dua buah guillotine yang berdiri bersampingan. Warga kota berteriak mengeluarkan kata-kata kebencian saat kami di seret naik ke atas podium.
Dua orang prajurit berbadan besar menyeret kami ke depan Guillotine, kepala kami berdua di pegang dengan kasar, lalu kepala kami di letakkan di lubang yang ada di Guillotine, pisau guillotine yang tajam dan nampak baru berada di atas leher kami, pisau itu di tahan dengan tali, apabila tali itu di potong, pisau itu akan langsung memisahkan kepala dengan badan kami. Aku melirik ke arah Kak Yuri, tidak ada tanda ketakutan di wajah nya, menandakan ia masih percaya aku bisa menyelamatkan nya, terlepas dari situasi kami saat ini.
Kak Nina memerintahkan untuk memotong tali, pisau Guillotine dengan cepat jatuh, tepat di atas belakang leher kami, tetapi sebelum pisau itu menyentuh tenguk kami, sebuah panah es melesat! Seketika menghancurkan pisau Guillotine.
"Sialan Arisa..." Gumam ku sesaat pisau Guillotine hancur, sembari tersenyum kecil. Aku tahu panah es itu berasal dari Arisa, tapi aku sedikit kesal dengan nya, karena tidak melakukan hal itu lebih cepat.
---------------------------------------------------------------------
Author's Note.
Maaf sebulan nggak update. Saya sibuk daftar ulang kuliah. Jadi nggak ada waktu untuk nulis. Mohon pengertian nya. Dan terima kasih kepada para pembaca yang selalu setia menunggu novel ini Update.