From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 149 Arisa dan Jack sampai di kota Banitza



Arisa dan Jack sampai di Kota Banitza saat matahari baru saja terbit.


Mereka saat ini, berada di gerbang masuk kota. Di sana terdapat tembok setinggi 100 meter mengelilingi kota, lalu di sana ada gerbang masuk yang di jaga oleh 2 penjaga.


"Jika kalian ingin masuk, silahkan bayar pajak 2 Koin Silver untuk 1 orang." Kata salah satu penjaga.


Melihat penjaga, Arisa dan Jack terkejut sekaligus bertanya-tanya dalam pikiran mereka.


Kenapa bisa ada penjaga pintu masuk di kota miskin seperti ini? Pikir mereka berdua.


Sangat wajar bagi mereka untuk terkejut, di kerajaan Fantasia. Bukan, di semua kerajaan di Benua Silia. Hanya kota Kaya yang memiliki penjaga pintu masuk Kota, hampir tidak ada penjaga pintu masuk Kota di Kota miskin. Kenapa bisa seperti itu? Karena tidak ada yang mau datang ke kota miskin.


Jadi tidak perlu repot-repot untuk menambah penjaga pintu masuk kota, karena memang tidak ada yang mau datang untuk memasuki kota miskin.


Awal nya kota Cocoa, salah satu kota miskin. Juga tidak memiliki penjaga pintu masuk Kota. Tapi semenjak kota itu menjadi kota kaya, banyak turis berdatangan untuk Coklat. Mira pun memutuskan untuk menambahkan penjaga pintu masuk kota untuk menarik pajak dari turis yang datang.


"Kenapa kalian terkejut?" Penjaga bertanya.


"Ti-tidak apa-apa.... Ini uang nya." Jack memberikan 4 koin Silver ke penjaga.


Setelah di beri uang, Penjaga membuka gerbang. "Silahkan masuk!" Penjaga berkata saat sudah selesai membuka gerbang.


Arisa dan Jack mengucapkan terima kasih kepada penjaga, kemudian mereka berdua masuk ke Kota banitza.


Sebelum masuk mereka melewati lorong, lorong itu tidak jauh hanya berjarak 3 meter. Saat melewati lorong, mereka bercakap-cakap.


"Jack ini sangat aneh, kenapa kota ini memiliki penjaga pintu masuk?"


"Aku juga berfikir seperti itu. Nanti kita laporkan hal ini."


Arisa mengangguk setuju dengan perkataan Jack.


Setelah bercakap-cakap, mereka sampai di ujung lorong. Mereka berjalan beberapa langkah, barulah mereka melewati lorong.


Secara resmi mereka pun masuk ke kota Banitza.


Kota Banitza memiliki bangunan besar yang dapat terlihat dari gerbang kota. Itu mungkin adalah Vila atau Mansion untuk di tinggali pemimpin Kota.


Kota ini memiliki bangunan yang cukup bagus, di kota ini juga ada beberapa bangunan kosong dan tanah kosong.


Jika di lihat kota ini tidak terlihat seperti kota miskin. Malahan ini terlihat seperti Kota Tiramisu yang bisa di anggap kota kaya.


"Ini tidak seperti kota miskin.... Aku kira penampilan nya akan sama seperti kota Cocoa saat pertama kali kita datang kesana." Jack bergumam, sambil melihat sekeliling.


"Untuk saat ini kita cari informasi tentang bentuk kota ini dulu. Di mana Distrik bangsawan dan orang biasa. Tetapi..... Di sini banyak sekali tanah kosong dan bangunan kosong."


"Kau benar. Sangat sayang sekali, tanah kosong itu bisa digunakan untuk membuat perkebunan atau pertanian kan?"


Arisa mengangguk.


Mereka mulai berkeliling, para penduduk mulai menyapa mereka. Tidak ada yang salah dengan penduduk kota ini, tidak seperti kota Cocoa yang hawa penduduk nya seperti orang mati saat Arisa dan Jack datang pertama kali ke sana.


"Apakah kota ini benar-benar sedang mengalami masalah ekonomi?" Arisa bergumam.


"Jika kota ini masuk salah satu kota miskin, mungkin saja kota ini benar-benar mengalami masalah ekonomi." Jack menjawab.


"Walaupun kau bilang seperti itu. Tapi... Kota ini sama sekali tidak terlihat seperti itu."


Saat mereka berkeliling, suara bising terdengar dari samping Arisa. Arisa melihat ke arah itu, di lihat nya Jack sedang memegangi perut nya.


"Maaf. Aku lapar." Jawab Jack sambil tersenyum.


Suara bising itu adalah suara perut Jack.


Benar juga. Saat kami berangkat tadi pagi, kami belum sempat sarapan. Pikir Arisa.


"Kalau begitu kita cari restoran atau warung makan."


Jack mengangguk atas Proposal Arisa, mereka lanjut berkeliling lagi. Kali ini bukan untuk memata-matai, tapi untuk mencari makan.


Sekitar 3 menit mereka berkeliling, akhirnya mereka menemukan sebuah Bar. Bar itu memiliki tanda minuman beralkohol. Karena perut Jack sudah tidak tahan lagi, Jack menyuruh Arisa untuk memilih Bar itu.


Waktu masuk, bunyi bel pintu terdengar. Itu untuk memberitahu jika ada pelanggan datang.


Di dalam Bar lumayan ramai, suara tawa para pelanggan Bar, bisa terdengar jelas saat mereka memasuki Bar.


Setelah bel berbunyi, datang seorang pelayan perempuan mendekati mereka berdua.


"Selamat datang. Silahkan ikuti saya!"


Pelayan itu langsung menyuruh Arisa dan Jack untuk mengikuti nya. Arisa dan Jack pun mengikuti, mereka di bawa ke meja paling ujung. Saat sampai, mereka berdua di suruh duduk dan menentukan pesanan mereka.


"Aku Steak daging sapi." Jack memesan.


"Aku Sup ayam." Kata Arisa setelah selesai membaca Menu.


"Steak daging sapi dan Sup Ayam." Pelayan mencatat pesanan. "Lalu kalian ingin minum apa? Minuman beralkohol, Teh, Kopi, Jus atau Susu Coklat?"


Mendengar susu Coklat, Arisa dan Jack terkejut.


Minuman khas di kota Cocoa, kenapa bisa ada di Kota Banitza? Pikir Arisa dan Jack.


"Kenapa bisa ada susu Coklat di sini?" Arisa secara tidak sabar langsung bertanya.


"Aaah, itu. Awal nya karena Pemimpin kota ini, Putri Yuri membawa nya dari Ibu kota."


Susu Coklat sudah ada di Ibu Kota, minuman itu di jual secara khusus di toko manisan milik Mira.


Pelayan melanjutkan cerita nya. "Saat Putri Yuri membawa coklat dari ibu kota, beliau langsung membagikan nya ke semua penduduk. Kalian tahu, banyak yang suka minuman itu. Mengetahui hal itu, Putri Yuri bersama dengan Bangsawan kota ini membeli nya langsung di kota Cocoa. Setelah itulah Coklat di jual juga di kota Banitza. Walaupun harga nya masih sangat mahal, para warga banyak yang membeli nya. Ah, maaf saya terlalu banyak bicara."


Arisa menggelengkan kepala nya. "Tidak apa-apa, kami juga minta maaf karena menyita banyak waktu mu. Aku memesan Susu Coklat."


"Aku juga."


"Akan saya bawakan."


Setelah menanyakan pesanan, pelayan pergi.


Arisa dan Jack mendekatkan kepala mereka, lalu mereka berbisik.


"Ini sudah kutanyakan berkali-kali," Arisa berkata dengan kesal. "Apakah kota ini benar-benar kota miskin? Jika memang itu benar, kenapa bisa kota ini membeli banyak persediaan coklat. Padahal kan makanan itu tidak bisa di beli oleh kota ini, jika kota ini benar-benar kota miskin. Apakah memang benar kota ini mengalami krisis ekonomi? Apakah itu benar? Katakan padaku!"


"Aku juga tidak tahu. Tapi menurut data di ibukota, memang benar kan kota ini kota miskin?"


"Kata Kak Mira data di kota ini bisa di palsukan. Kalau begitu data di ibukota bisa di palsukan, benar kan?"


"Aku rasa itu tidak mungkin. Data di ibukota langsung di buat sendiri oleh Raja, apa untung nya Raja memalsukan data?"


"Kalau begitu. Bagaimana cara mu menjelaskan situasi ini?"


Jack menggelengkan kepala nya. Setelah itu pelayan datang, mereka berdua pun saling menjauhkan kepala mereka.


"Maaf menunggu lama," Pelayan membawakan nampan berisi piring, mangkuk, dan dua buah gelas. " Ini Steak, dan Susu Coklat anda," Pelayan menaruh pesanan Jack di depan nya. "Ini Sup ayam dan Susu Coklat anda." Setelah itu ia menaruh pesanan Arisa.


"Terima kasih." Arisa membalas.


Pelayan tersenyum. "Selamat menikmati." setelah mengatakan itu, Pelayan pergi.


Di atas piring Jack ada potongan daging sapi, di samping nya ada Garpu dan Pisau. Jack mengambil Garpu dan Pisau. Jack memotong daging sapi dengan pisau, menusuk dengan Garpu, lalu menyuap nya kemulut.


Saat itu, rasa enak dari daging sapi memenuhi mulut Jack.


Apa ini? Ini sangat enak!! Ini adalah daging sapi tingkat tinggi. Tidak salah lagi!! Aku sudah sering mencoba nya di istana, tidak mungkin salah!! Bagaimana bisa Bar yang kelihatan sederhana ini menyediakan daging sapi tingkat tinggi?! Pikir Jack heran.


"Jack!" Arisa memanggil Jack.


"Aku tahu apa yang ada di pikiran mu."


"Ini makanan kelas atas. Bagaimana bisa Bar seperti ini menyajikan makanan kelas atas?"


"Semakin di selidiki, semakin banyak ke anehan di kota ini." Kata Jack sambil menyuap makanan nya.