
Aku, Natasha, Arisa dan Jack terbang ke Perbatasan Kota Cocoa dan kota Banitza, yaitu arah Barat.
Kami terbang bersampingan, di samping kanan ku ada Natasha, kemudian di samping kiri ku ada Arisa dan di samping kiri Arisa ada Jack. Kami berempat terbang dengan kecepatan sedang menuju perbatasan Kota Cocoa dan Kota Banitza.
Kami terbang sekitar 15 menit. Akhirnya kami melihat sebuah gua di kejauhan. Jika di hitung dari jarak dari Kota Cocoa, gua yang kami lihat adalah Sarang Wyvern, berarti di depan kami sudah terlihat perbatasan Kota Cocoa dan kota Banitza.
Aku berhenti, Natasha berhenti di ikuti Arisa kemudian Jack.
"Kenapa Kak Mira?" Tanya Arisa. "Perbatasan ada di depan mata. Kenapa Kak Mira berhenti?"
"Sebelum kita kesana, ada hal yang ingin ku tanyakan ke Natasha."
Aku melihat Natasha dengan tatapan serius.
"Natasha, kau benar-benar bisa mengalahkan Dragon Leader itu kan?"
"Sudah ku bilang, aku bisa mengalahkan Dragon King Sen... Diri.... An?"
Suara Natasha makin pelan di akhir saat melihat tatapan serius Mira.
Saat ini Mira khawatir dengan Natasha, lawan kali ini berbeda dari biasanya. Lawan kali ini adalah Naga yang memiliki satu pasukan. Naga yang merupakan mahluk superior setelah Vampir. Itu adalah lawan mereka kali ini.
Memang benar, dulu Vampir adalah Ras terkuat, tapi itu dulu. Bisa saja Ras Dragon yang sekarang lebih kuat dari Ras Vampir, karena itu Mira khawatir.
Dan juga Dragon Leader ini tidak di ketahui apa kekuatan nya. Hal itu tambah membuat Mira khawatir.
Bagi Mira, Natasha adalah sosok yang sangat berharga, karena di saat Mira sedang kesusahan Natasha selalu ada menemani nya, jadi tidak salah Mira khawatir. Dan juga bila Natasha kesusahan Mira tidak bisa membantu karena kekuatan Mira sekarang melemah, karena itulah Mira khawatir.
Natasha terbang mendekati Mira, kemudian ia memegang kepala belakang Mira, mendekatkan kepala nya dengan kepala Mira kemudian Natasha menempelkan kening nya dengan kening Mira.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan kalah." Kata Natasha dengan suara lembut lagi menenagkan.
"Natasha, kadang terlalu percaya diri bisa membawa kehancuran. Bergeraklah dengan hati-hati."
Natasha menepuk kepala Mira dengan lembut, kemudian Natasha menjawab.
"Baiklah. Aku akan bergerak dengan hati-hati."
Setelah mendengar jawaban Natasha, perasaan ku menjadi sedikit lebih tenang.
Natasha melepaskan dekapan nya, kemudian ia terbang mengarah ke Gua. Arisa dan Jack dengan cepat menyusul Natasha, dan aku mengikuti di posisi paling belakang.
Mendarat perlahan-lahan di depan jalan masuk Gua, perasaan tidak nyaman memenuhi tubuh ku.
Perasaan apa ini? Rasa takut?
Kalau memang benar ini rasa takut, berarti musuh yang akan kami hadapi sangat kuat!
Tidak. Musuh tidak kuat. Aku yang melemah!
Tanpa kusadari keringat dingin mulai membasahi tubuh ku, tubuh ku gemetaran.
Natasha, Arisa, Jack mulai berjalan memasuki Gua. Hanya aku saja yang tidak berjalan, kaki ku tidak mau bergerak! Aku terlalu takut untuk bergerak masuk kedalam Gua.
Natasha melihat kebelakang.
"Mira. Kau kenapa?" Tanya Natasha saat melihat Mira gemetaran.
"Ka-kaki ku!! Kaki ku tidak mau bergerak!"
Aku memukul lutut ku dengan keras, rasa sakit menggantikan rasa takut ku. Kaki ku bisa bergerak, walaupun masih gemetaran saat melangkah.
"Ba-Bagus!! Akhirnya bisa bergerak! Ayo kita cepat masuk kedalam Gua itu."
"Kak Natasha," Arisa memanggil. "Sebaik nya kita mengikuti saran Kak Mira. Kita akan mengantai dulu malam ini, jika melihat kondisi Kak Mira sekarang, aku rasa tidak mungkin menyerang pasukan Wyvern dan Dragon Leader itu."
"Kau benar," Natasha membalas. "Mira prioritas utama disini, bisa gawat kalau dia terluka lagi."
Jack mengangguk tanda setuju.
Di dalam hati ku muncul perasaan marah.
Itu wajar, aku yang di juluki Player terkuat di FL, malah di kasihani dengan bawahan ku sendiri. Ini seperti penghinaan, tapi....
Aku hanya bisa menerima rasa kasihan mereka, kondisi ku sekarang tidak memungkinkan melawan Pasukan Wyvern dan Dragon Leader. Walaupun ada Natasha, Arisa dan Jack, kemenangan kami tidak bisa di pastikan.
Dan juga, aku akan menjadi beban mereka saja.
"Te-terima kasih semuanya." Dengan berat hati aku mengucapkan terima kasih.
Natasha mendekati ku, kemudian dia menepuk kepala ku dengan lembut.
"Tenang saja. Apapun yang terjadi, kami tidak akan membiarkan mu terluka."
"Bukan itu maksud ku..."
Natasha berbalik, kemudian ia berjalan memasuki Gua dengan percaya diri.
Arisa dan Jack mengikuti dari belakang.
Aku masih gemetar ketakutan, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan kuat, kemudian menampar pelan kedua pipi, barulah aku melangkahkan kaki kanan ku maju selangkah.
Dengan perlahan aku berjalan memasuki Gua.
Saat sudah di dalam, penglihatan berkurang karena gelap nya Gua. Aktifkan sihir (Light) untuk penerangan, dengan sihir itu aku dapat melihat di dalam Gua dengan jelas.
"Kenapa kalian berhenti di sini?" Aku bertanya dengan suara pelan.
"Ssst!" Natasha dengan cepat menutup mulut ku.
Aku memberikan tatapan memelas untuk di beri penjelasan.
Natasha pun menjawab dengan suara pelan di dekat telinga ku. "Kami mendengar suara dengkuran."
Aku mendorong tangan Natasha yang membungkam mulut ku.
"Dengkuran? Aku tidak dengar dengkuran."
"Dengar sendiri!" Natasha menegaskan dengan suara pelan.
Aku menajamkan pendengaran ku, saat itu aku mendengar suara dengkuran keras. Bukan hanya satu dengkuran, tapi ada banyak!
"Apakah itu Dragon Leader?"
"Dragon Leader tidak mendengkur sewaktu tidur. Suara dengkuran ini berasal dari pasukan Wyvern itu!" Jawab Natasha.
"Mira, bagaimana apa kau masih bisa lanjut? Sekarang kita masih bisa mundur." Tanya Natasha.
Aku mengangguk. "Aku sudah masuk sejauh ini, tidak ada kata mundur lagi sekarang!"
Setelah berkata seperti itu aku berjalan dengan cepat memasuki Gua lebih dalam, di ikuti Natasha, Arisa dan Jack.
Saat kami memasuki Gua makin dalam, suara dengkuran yang kami dengar makin kencang dan makin jelas terdengar.
Kami memperlambat langkah kami, berjalan berjinjit agar suara langkah yang di keluarkan menjadi kecil.
Kami berjalan dengan lambat tapi mantap agar langkah tidak terdengar.
Saat kami sudah cukup dalam memasuki Gua, Natasha menarik tangan ku.
Natasha menunjuk bagian kanan nya. "Di sana ada jalan! Mau coba periksa?" Tanya Natasha dengan suara pelan.
Ok, sekarang ada dua pilihan.
Pilihan pertama adalah terus maju masuk kedalam Gua, dan pilihan kedua adalah berjalan ke arah kanan, melewati jalan yang di tunjuk Natasha.
"Bagaimana kalau kita berpencar?" Tanya Jack.
"Ide bagus."
"Kalau begitu. Aku dan Arisa yang pergi kearah depan, lalu Kak Mira dan Kak Natasha pergi ke arah kanan."
Natasha dan aku mengangguk. Kemudian kami berjalan berpisah dari Arisa dan Jack.
"O. Iya. Arisa, Jack. Saat kalian bertemu sesuatu, hubungi kami lewat Telephaty. Kami juga akan menghubungi kalian nanti."
Aku memperingati Arisa dan Jack sebelum kami benar-benar berpisah. Arisa dan Jack menjawab : "Kami mengerti!" setelah menjawab mereka melanjutkan berjalan ke depan.
Kami pun melanjutkan berjalan ke arah kanan setelah mendapatkan jawaban dari Arisa dan Jack.
Saat kami berjalan ke arah kanan, suara dengkuran yang kami dengar, terdengar makin kecil. Itu tanda kalau kami menjauh dari para Wyvern yang sedang tidur.
"Suara dengkuran nya makin kecil. Apakah kita berjalan menuju kamar Dragon Leader?" Kata Natasha.
"Semoga saja itu salah!"
Aku membantah perkataan Natasha dan terus berjalan.
Beberapa menit aku berjalan, aku merasakan energi sihir dari arah depan ku. Aku pun berhenti karena aku merasakan energi sihir itu.
Energi sihir yang kurasakan sangat kuat, dan jarak nya sangat dekat, seakan-akan energi sihir itu tepat berada di depan ku.
Aku menarik tangan Natasha, agar dia berhenti berjalan.
Saat Natasha berhenti, aku memperbesar sihir (Light) ku sehingga dapat menerangi seluruh tempat.
Saat cahaya tersebar, aku melihat sosok kadal raksasa di depan ku. Kadal itu berwarna hitam pekat dengan sayap di punggung nya.
"Ternyata ini benar-benar kamar Dragon Leader ya...."
Di saat bersamaan aku menemukan Dragon Leader, aku mendapatkan Telephaty dari Arisa.
"Kak Mira! Kami menemukan sarang Wyvern nya. Tapi kami tidak melihat adanya Dragon Leader."
"Arisa, aku dan Natasha menemukan Dragon Leader nya."
"Bagaimana sekarang Mira?" Tanya Natasha.
Aku mengabaikan pertanyaan Natasha, kemudian aku menghubungi Arisa lagi.
"Arisa. Berapa jumlah Wyvern nya?"
"Sekitar 100. Kami tidak tahu jumlah pasti nya."
"Mira!!" Natasha berteriak. "Menghindar!"
Aku melihat ke arah depan, Dragon Leader yang ada di depan ku membuka mulut nya lebar-lebar, untuk bersiap-siap menyemburkan nafas api ke arah ku.