From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 293 Ledakan Besar



Aku dan Arisa berdiri tepat di depan satu-satu nya bangunan yang ada di tempat kami di pindahkan.


Bangunan itu berbentuk persegi lima, berwarna putih dengan lebar sepuluh meter dan tinggi lima belas meter, di lihat dari tinggi nya, bangunan ini memiliki lima belas lantai.


Aku mengarahkan pandangan ku ke satu-satu nya pintu yang ada di bangunan. Saat aku hendak berjalan mendekati pintu bangunan itu, tiba-tiba bulu kuduk ku merinding. Aku merasakan bahaya!


Sedetik setelah aku merasakan bahaya, bangunan di depan ku bergetar hebat. Dari dalam bangunan keluar senjata api yang tak terhitung jumlah nya, besar masing-masing senjata itu juga tidak main-main, semua senjata itu sebesar sebuah Bazooka.


Hah? Bazooka? Apa itu...? Aku tidak tahu apa itu, tapi saat melihat besar dan bentuk senjata yang muncul, kata-kata itu langsung terbesit di kepala ku. Lupakan hal itu... Yang menjadi masalah sekarang adalah senjata yang muncul dari bangunan yang ada di depan kami. Masing-masing senjata itu memiliki daya tembak yang sangat mengerikan, jika kami terkena, luka-luka adalah efek yang paling ringan, jika senjata itu berkontak langsung dengan kami, sudah bisa di pastikan kami akan mati seketika.


Arisa seperti nya mengerti situasi yang kami hadapi sekarang, ia segera melompat ke depan ku, lalu mengaktifkan sihir (Barrier), melindungi ku dari ratusan Bazooka yang menembakkan peluru roket nya.


"Boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom, boom!"


Ledakan beruntun terjadi saat peluru roket berkontak langsung dengan (Barrier) Arisa. Tembakan beruntun itu tidak berlangsung lama, hanya satu menit saja. Walaupun sebentar, (Barrier) Arisa menunjukkan keretakkan sedikit. Jika tembakan roket itu berlangsung lebih lama, (Barrier) Arisa bisa di pastikan akan hancur akibat tembakan beruntun.


Setelah tembakan roket berhenti, Arisa hendak membatalkan sihir (Barrier) nya. Sayang nya, sebelum ia sempat melakukan itu, senjata Bazooka yang muncul dari dalam dinding bangunan di gantikan dengan senjata baru. Senjata itu adalah Gatling Gun, senjata api yang dapat menembakkan ratusan peluru dalam waktu semenit.


Gatling Gun mengunci arah tembakan nya ke aku dan Arisa, kemudian senjata itu menembakkan ratusan peluru. Untung nya Arisa belum membatalkan sihir (Barrier) nya, jadi seluruh peluru yang di tembakkan dapat di tahan oleh sihir Arisa.


"Dudududududududududududududududududududududududududududuududududududududududududududududududu!"


Suara bising Gatling Gun saat menembakkan peluru terus berdengung, hanya beberapa detik waktu berlalu, tapi peluru yang di tembakkan seperti nya sudah mencapai ribuan. Hal itu sangat mungkin terjadi, mengingat jumlah Gatling Gun yang mencapai ratusan, sama seperti Bazooka sebelum nya... Situasi tidak nampak baik, (Barrier) Arisa semakin lama semakin menunjukkan kerusakan, retakan di (Barrier) nya makin parah.


"Arisa, kalau terus seperti ini (Barrier) mu akan hancur! Lebih baik kita menjauh dari bangunan ini terlebih dahulu. Gunakan (Teleportation) untuk menjauh dari bangunan ini."


"Ba-Baik!"


Sesaat Arisa menjawab, semua senjata yang ada di bangunan berhenti menembak. Saat itu juga Arisa secara reflek menghembuskan nafas lega.


"Target di konfirmasi berhasil bertahan... Menyiapkan bom nuklir..."


Sesaat Arisa menghembuskan nafas lega, suara monoton terdengar dari arah bangunan yang ada di depan kami. Setelah suara monoton itu, seluruh senjata masuk kembali kedalam dinding bangunan. Harus nya aku menghela nafas lega juga setelah tahu senjata yang mengancam kami sudah menghilang... Tapi setelah mendengar suara monoton barusan, aku tidak bisa menghela nafas lega.


... Apa...!? Aku tidak salah dengar kan!? Bangunan itu menyebutkan bom nuklir kan!? Benar kan!?


"Arisa..."


".... Y-Ya!"


Saat aku memanggil nama nya, aku melihat mulut Arisa bergerak, ia seperti nya menggumamkan sesuatu dengan suara yang tidak bisa ku dengar. Tapi saat ia mendengar suara ku, Arisa menghentikan gumaman nya dan menjawab panggilan ku.


"Kita harus pergi dari sini! Sebelum semua nya terlambat!" Kata ku memerintah Arisa.


"Be-Benar... Aku juga berpikir seperti itu..." Jawab nya.


Arisa memelukku dengan tangan kanan nya, ia kemudian hendak mengucapkan mantra sihir (Teleportation). Tapi sebelum ia mengucapkan mantra nya, suara monoton dari bangunan di depan kami mengganggu fokus nya.


"Bom nuklir telah di siapkan... Ledakan akan di mulai dalam waktu sepuluh detik... Sepuluh... Sembilan... Delapan..."


Mendengar suara monoton yang mulai menghitung mundur, aku merasakan bahaya yang selama ini tidak pernah ku rasakan sebelum nya. Bulu kudukku berdiri, menanggapi perasaan ku. Aku tidak dapat melihat wajah ku sendiri, tapi aku sangat yakin aku berwajah pucat sekarang... Sumber perasaan bahaya ku tidak lain dan tidak bukan adalah, imajinasi ku. Sesaat suara mononton mulai menghitung mundur, aku membayangkan diri ku dan Arisa tidak sempat kabur dari tempat ini... Membayangkan apa yang akan terjadi pada kami saja sudah membuat ku ketakutan!


"Apa yang kau lakukan! Cepat rapal mantra nya!" Dengan suara keras aku meneriaki Arisa yang masih terdiam membatu saat ia mendengar suara monoton yang terus menghitung mundur.


"Empat... Tiga..."


"Super Magic Activated!"


"Dua..."


"Super Magic : Greater Teleportation!"


"Satu..."


\*\*\*


Di suatu tempat, sebuah ledakan besar terjadi....


Ledakan itu menyebabkan awan jamur setinggi sepuluh kilometer... Ledakan itu hanyalah permulaan dari serangkaian peristiwa yang akan terjadi selanjut nya.