From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
chapter 48 Permintaan Joshua ke Mira



Sehari setelah aku sakit, ternyata bubur buatan Natasha sangat manjur mengobati demam, sekarang tubuhku tidak panas lagi. Walaupun bubur itu manjur, rasanya sangat pahit, aku tidak ingin memakan nya lagi.


Saat ini aku sedang berada di ruang tengah rumah ku yang berada di kerajaan Eurasia. Aku sedang duduk di sofa bersama Natasha, Arisa dan Jack. Saat ini aku menyuruh Arisa untuk membaca buku yang kuberikan padanya saat latihan, aku menyuruh nya sebagai bentuk hukuman karena dia yang merencanakan untuk menyeburkan ku di kolam. Sedangkan Jack aku putuskan untuk menghukum nya di lain waktu.


Aku sedang membaca data penjualan yang kubuat. Menurut data tersebut, budak banyak terjual di kerajaan Eurasia, dan para pembeli budak semua nya adalah bangsawan. Lalu untuk serbuk surgawai banyak terjual di kerajaan Milefolia, dan rata-rata pembelinya adalah rakyat biasa, bahkan setengah di antaranya adalah penduduk di daerah kumuh kerajaan Milefolia.


Setelah selesai membaca data penjualan, aku menyuruh Natasha membuatkan aku teh dan membawakan beberapa roti. Mendengar perintah ku, Natasha bergegas membuatkan teh dan membawakan beberapa roti.


Satu menit kemudian Natasha datang membawa teh dan roti untukku. Aku mengambil roti yang di bawa Natasha, kemudian aku memotong kecil roti yang kupegang. Setelah ku potong menjadi kecil, aku mencelupkan roti itu kedalam teh, lalu aku memakan roti yang sudah ku celupkan.


"Sepertinya ada yang kurang."


Natasha, Arisa, dan Jack melihat ku. "Apa nya yang kurang? Biasanya kau makan roti dengan mencelupkan nya kedalam teh kan." Kata Natasha.


"Aku sedikit bosan, makan roti dengan cara mencelupkan nya."


"Kalau begitu makan langsung saja." Jawab Natasha.


"Jika di makan langsung rasanya hambar. Makanya aku mencelupkan ke teh."


"Lalu kau ingin makan roti nya dengan cara bagaimana lagi? Selain dua cara itu.


Aku memegangi daguku, kemudian aku mendapatkan ide untuk membuat selai.


"Bagaimana kalau kita membuat selai?"


"Selai?" Kata Natasha, Arisa dan Jack bersama-sama. "Apa itu Selai?" Tanya Jack.


"Selai itu mirip dengan krim yang di pakai di kue."


"Kalau begitu kenapa tidak pakai krim saja?bentuk nya kan mirip." Kata Arisa.


"Mirip, tapi selai dan krim itu berbeda."


"Apa bedanya?" Tanya Arisa.


"Kalian akan tahu nanti, setelah kita membuat nya."


Setelah percakapan singkat itu, Alex datang berlari dari depan pintu masuk.


"Mira!!" Alex berteriak. Kemudian Alex menaruh kertas bergambar di depan ku. "Coba kau baca koran ini."


"Koran?"


"Kau tidak tahu ya?" Tanya Alex.


Sebenarnya aku tahu, tapi aku tidak menyangka kalau di dunia ini ada koran, semenjak aku datang ke dunia ini aku tidak mengetahui kalau di dunia ini ada koran.


Aku mengambil koran yang terletak di meja, kemudian Alex menjelaskan tentang koran.


"Koran itu tempat kita mendapakan berita, terbitnya empat bulan sekali. Jadi berita di koran itu adalah berita empat bulan yang lalu."


Ternyata terbit nya empat bulan sekali, pantas saja aku tidak pernah melihat nya. Aku berada di dunia ini juga kurang lebih baru empat bulan.


"Empat bulan yang lalu, apakah ada berita tentang pengusiran ku?"


"Tidak ada berita tentang pengusiran mu, tapi ada berita yang lebih mengejutkan. Coba kau baca halaman depan koran."


Aku membaca halaman depan koran. Di sana tertulis. "Mata-mata kerajaan Milefolia yang menyusup ke Low Light memberitahukan, Low Light telah berdiri di daerah kumuh kerajaan Eurasia tiga bulan yang lalu."


"Aku tidak menyangka, kalau ada mata-mata disana."


"Coba kau baca sampai habis."


"Dan mata-mata itu memberitahukan nama pemimpin Low Light. Nama pemimpin Low Light adalah Misha." lalu di bawah, terdapat gambarku saat aku menyamar menjadi Misha.


"Untung saja kau menyamar, kalau tidak kau pasti akan ketahuan."


"Apa yang kau bilang Alex, Kak Mira sudah tahu kalau ada mata-mata di sana, makanya Kak Mira menyamar." Kata Jack.


"Begitu ya." Jawab Alex dengan ekspresi kagum.


"Apakah ada berita yang lain?"


"Coba kau buka halaman sebelahnya. Mungkin bagimu berita nya tidak terlalu penting sih. Karena kau sudah di usir dari kerajaan, jadi kau tidak mungkin mengkhawatirkan ke empat saudari mu lagi."


"Tunggu dulu. Apa hubungan berita selanjutnya, dengan ke empat kakak ku?"


Aku membalik kan halaman ke halaman selanjutnya, lalu disana tertulis. "Empat bulan yang lalu, ke empat putri kerajaan Fantasia di culik oleh sekelompok orang. Dari kesaksian Putri Rosa, nama pemimpin kelompok yang menculik mereka adalah Gaztor. Putri Rosa juga menyebutkan kalau Putri ke empat yang bernama Yuri mengalami trauma setelah kejadian itu."


Setelah membaca berita itu, dada ku menjadi sesak. Perasaan Amarah meluap keluar. Aku menggenggam kedua ujung koran itu sampai rusak. Kemudian Natasha, menepuk pundak ku dari belakang.


"Mira." Kata Natasha.


Aku melihat kearah Natasha. "Sejak kapan kau ada di belakang ku?"


"Sejak tadi. Apakah kau mengkhawatirkan mereka?"


"Aku tidak mengkhawatirkan mereka. Aku hanya khawatir pada satu orang."


"Maksud mu, Kakak mu yang bernama Yuri itu?"


Aku tidak menjawab Natasha, kemudian aku beranjak dari tempat duduk ku.


"Kebetulan kau datang Alex, apakah di kota ada yang menanam buah?"


"Di kota ini tidak ada yang menanam buah."


"Lalu apakah kau tahu tempat yang bagus untuk menanam buah?"


"Kalau kau ingin menanam buah. Kenapa tidak pakai halaman istana saja?"


"Hmmm, boleh juga. Tapi aku tidak ingin menanam buah nya, aku ingin menyuruh orang yang melakukan nya."


"Aku dan Jack bisa menanam nya, menanam buah itu gampang bagi kami." Kata Arisa.


"Jika hanya kalian berdua saja akan lama selesai, aku juga tidak bisa menyuruh prajurit kerajaan melakukan nya kan. Jadi aku perlu bantuan lain."


Aku melihat ke arah Alex. "Alex, berapa banyak anak di panti asuhan?"


"Hmmm, kalau tidak salah ada sekitar seratus anak."


"Beritahu Joshua, aku akan membeli seluruh panti asuhan itu. Sekarang panti asuhan itu milikku. Jika Joshua ingin protes panggil aku ke istana. Jika dia menerima nya, segera siapkan dokumen kepemilikan panti asuhan."


Alex segera bergeas pergi ke istana, saat Alex berada di istana. Alex melihat Joshua di depan ruang tahta, kemudian Alex memberitahu apa yang Mira bilang ke Alex, kemudian Joshua mengajak Alex memasuki ruang tahta.


Saat di ruang tahta, Joshua mengambil kertas dan pena, setelah itu Joshua duduk di kursi nya. Kemudian Joshua menulis di atas kertas itu. Setelah menulis Joshua memberikan kertas yang berisi tulisan tangan nya ke Alex.


"Ini dokumen kepemilikian panti asuhan. Di sana tertulis kalau aku sudah memberikan panti asuhan itu ke Mira, dan di sana juga tertulis tanda tangan ku sebagai bukti kalau aku setuju." Kata Joshua.


Alex mengambil kertas itu kemudian Alex berbalik dan pergi dari ruang tahta, sebelum Alex pergi Joshua memanggil Alex.


Mendengar panggilan Joshua, Alex pun berbalik dan melihat ke arah Joshua.


"Beritahu Mira untuk datang, ada yang ingin ku bicarakan pada nya, beritahu dia untuk datang sendirian."


"Baik." Jawab Alex.


Kemudian Alex berbalik, dan langsung bergegas pergi ke rumah Mira. Saat tiba di rumah Mira, Alex memberikan kertas yang di berikan Joshua kepadanya.


"Ini dokumen nya." Kata Alex.


Aku mengambil dokumen itu, lalu membuka nya. Lalu membaca singkat dokumen itu, setelah membacanya aku pun menggulung kembali dokumen itu. Aku dan yang lain nya bergegas pergi ke panti asuhan, tapi Alex menghentikan ku dan memberitahuku kalau Joshua ingin bertemu dengan ku.


"Baiklah aku akan menemui Joshua sekarang."


"Ayah bilang hanya kau sendiri saja, jangan mengajak orang."


"Baiklah aku akan kesana sendirian."


Aku pun bergegas pergi ke istana. Saat tiba di istana, aku di sambut dengan seorang pelayan.


"Ikuti saya Nona Mira. Yang Mulia menunggu anda di ruang tahta." Kata pelayan itu.


Aku mengikuti pelayan itu keruang tahta, saat aku sampai di depan ruang tahta. Pelayan itu langsung bergegas meninggalkan ku. Para pengawal ruang tahta membuka pintu yang menutupi ruang tahta, saat pintu terbuka, aku memasuki ruang tahta. Saat di dalam ruang tahta aku melihat Joshua duduk di kursi nya.


Joshua menyuruh ku duduk di kursi yang ada di sebrang nya. Aku dan Joshua berhadapan di depan kami terdapat meja, kemudian datang pelayan membawakan teh, setelah menyajikan teh ke padaku dan ke Joshua, pelayan itu langsung pergi.


"Jadi kenapa kau menyuruh ku datang ke sini?"


"Aku ingin kau membantu Alex mengatur kota Vanila selama seminggu." Jawab Joshua.