From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 115 Pulang ke Cocoa



Kami sampai di ruang makan, di sana sudah ada ayah, dan ke empar Selir, beserta dengan ketiga saudari ku. Arisa dan Jack juga ada, mereka berdiri, bersama dengan barisan Pelayan.


Aku di duduk kan ibu di samping Kanan Kak Nina, lalu Kak Yuri duduk di samping kanan ku.


"Dasar kau ini bikin repot saja, kalau kau tidak sakit, kami tidak akan di panggil pulang." Kata Nina sambil mengerutkan wajah nya.


Blanc yang berada di samping kiri Nina mengangguk, lalu ia melihat ke samping kiri nya, di samping kiri nya ada Rosa duduk di sana. "Benarkan Rosa, Mira ini tahu nya bikin repot saja kan."


"Tidak juga.. Hitung-hitung bisa buat istirahat, karena kita di panggil ke sini." Kata Rosa sambil memalingkan wajah nya.


Nina dan Blanc memasang wajah kesal. Charles yang berada di sebrang meja bertepuk tangan sekali. "Hentikan kalian!! Adik kalian baru sembuh, seharus nya kalian bersyukur, bukan menghina nya."


"Maafkan kami ayahanda!" Kata Nina dan Blanc bersama-sama.


Para pelayan datang menaruh makan di atas meja. Untuk aku sendiri saja yang di berikan sup sayuran, yang lain nya di berikan hidangan berupa daging, dan hanya aku saja yang di berikan sayuran. Jika aku bisa protes, aku akan protes sekarang, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Karena tindakan seperti itu sangat tidak sopan, karena semua keluarga ku hadir, aku harus terlihat tetap sopan.


Yang lain nya sudah menyantap makanan mereka, hanya aku saja yang belum. Dengan perasaan tidak enak, aku mengambil sendok, lalu aku mengambil sayur yang ada di dalam Sup. Aku menyuap sayur itu dengan perlahan.


Saat sayur itu masuk kedalam mulut ku. Aku tidak percaya, rasa sayur nya sangat enak, berbeda dengan sayur yang di masak Natasha. Aku terus menyuap makanan kedalam mulut ku, aku merasa kekuatan ku kembali sedikit demi sedikit.


"O iya, bagaimana dengan perkembangan ekonomi kota kalian?" Tanya Charles.


Mendengar hal itu. Nina, Blanc, Rosa, dan Yuri menjadi tersedak karena kaget.


"Ti-tidak ada masalah." Kata Nina dengan wajah yang tidak meyakinkan.


Blanc dan Rosa mengangguk.


"Ti-tidak ada perkembangan sama sekali!" Jawab Yuri dengan lesu.


"Jadi begitu ya... Perkembangan ekonomi kota Nina, Blanc dan Rosa menurun. Dan untuk Yuri tidak ada perkembangan."


Nina, Blanc dan Rosa terbatuk-batuk mendengar hal itu.


Charles menghembuskan nafas panjang. "Dan Mira, bagaimana dengan mu?"


"Entahlah... Aku tidak tahu."


"Bagaimana bisa tidak tahu?" Tanya Yuri.


Natasha yang berada di barisan pelayan maju selangkah. "Yang Mulia boleh saya berbicara dengan Nona Mira sebentar?"


"Silahkan." Jawab Charles.


Natasha mendekati ku, kemudian ia berbisik padaku.


"Perkembangan nya tidak ada masalah, peraturan baru yang kau buat sudah di terapkan seminggu yang lalu. Hal itu membuat ekonomi kota perlahan meningkat." Kata Natasha berbisik.


"Begitu ya... Kalau memang itu benar, tunjukkan pada ku datanya!"


Natasha mengangguk. Kemudian ia melihat ke arah Arisa. "Arisa data nya!" Kata Natasha.


Arisa mengangguk. Kemudian ia berjalan mendekati ku, lalu Arisa mengeluarkan selembar kertas dari (Inventori) nya. Setelah itu ia memberikan kertas itu padaku.


Aku menaruh sendok di meja, lalu aku mengambil kertas yang di pegang Arisa.


Aku membaca kertas itu sejenak, setelah itu aku memberikan kertas ke Natasha. "Berikan ini pada ayah sebagai bukti!"


Natasha berjalan mendekati Charles saat di samping Charles, Natasha berlutut sambil menyodorkan kertas. Charles mengambil kertas yang di berikan Natasha.


Charles membaca sejenak. Setelah itu ia melihat Mira dengan senyum bahagia.


"Bagus sekali Mira, kerja keras mu selama tiga hari hingga membuat mu sakit. Ternyata tidak sia-sia. Teruskan kerja keras mu, tapi jangan memaksakan diri. Saat kamu menjadi ratu nanti akan berbahaya kalau kamu sakit."


Semua orang menengang lalu mereka melihat ke arah Mira.


Tatapan semua orang sangat tajam, sehingga Mira dapat merasakan tatapan mereka.


Apa yang kau katakan orang Tua!! Teriak Mira di pikiran nya. Aku tidak menyangka diri ku yang lain bisa tahan dengan suasana seperti ini saat sedang makan bersama. Aku tidak bisa membalas perkataan ayah, aku hanya bisa menunjukkan senyum canggung di hadapan yang lain. Aku melihat wajah Ibu, Ibu tersenyum bahagia, lalu aku melihat wajah Kak Yuri, Kak Yuri menunjukkan wajah sombong nya. Setelah itu aku melihat wajah ketiga saudari ku yang lain nya, wajah mereka berkerut. Itu tanda kalau mereka sedang marah! Aku mengabaikan wajah marah mereka, dan aku terus memakan makanan ku.


Beberapa menit kemudian kami semua sudah selesai makan, aku bangkit dari tempat duduk ku, lalu aku berdiri di lantai dengan perlahan. Aku sudah lumayan kuat untuk berdiri, mungkin sebelum nya aku lemas karena aku belum ada makan selama seminggu.


Natasha, Arisa dan Jack mendekati ku.


"Selamat atas kesembuhan anda Nona Mira." Kata Arisa.


Aku mengangguk. "Arisa bisa kau gunakan teleportasi sekarang, aku ingin cepat-cepat ke Cocoa."


"Mira istirahat dulu." Kata Kak Yuri yang berjalan mendekati ku.


"Itu benar Putri Mira." Kata Ibu Kak Yuri yang ada di samping Kak Yuri.


"Mira, ingat kata Charles. Jangan memaksakan diri." Kata Ibu yang tiba-tiba ada di belakang ku.


"Tenang saja bu, aku tidak akan memaksakan diri."


Carla menghela nafas panjang. "Baiklah kau boleh pergi, tapi jangan memaksakan diri!"


Aku mengangguk.


Aku berjalan mendekati Arisa, Natasha dan Jack juga mendekat ke Arisa. Arisa mengeluarkan Cristal dari (Inventori) nya. Setelah itu ia mengangkat Cristal tinggi-tinggi.


"Pindahkan kami ke Cocoa!" Kata Arisa. Cristal menyala, lalu Arisa membanting Cristal itu kelantai. Saat Cristal pecah kami sudah berada di ruang tengah Vila yang ada di kota Cocoa.


Leonardo dan para pelayan menyambut kami, tapi aku mengabaikan mereka. Lalu aku mengajak Natasha, Arisa dan Jack ke kamar ku.


Saat di kamar, aku duduk di kasur. Jack bersandar di pintu, Arisa dan Natasha duduk di kursi yang di keluarkan Arisa dari (Inventori) nya.


"Aku ingin membicarakan hal penting kepada kalian."


Tidak ada jawaban. Aku melanjutkan perkataan ku. "Aku tidak bisa menggunakan kekutan penuh ku, dan juga aku hanya bisa menggunakan sihir super ku hanya sepuluh kali dalam sebulan Kalau aku memaksakan diri menggunakan nya, maka tubuh ku akan hancur."


Semua orang memasang wajah terkejut.


Natasha bangkit dari tempat duduk nya. "Apa maksud mu dengan hancur?"


"Seperti kata nya... Tubuh ku akan hancur berkeping-keping kalau aku memakasakan diri."


"I-itu bohong kan Mira? Ha-habis nya selama ini.... Kau baik-baik saja!" Kata Natasha sambil menangis.


"Apa kalian pikir selama ini aku baik-baik saja?"


Natasha duduk lagi di kursi nya. "Ti-tidak mungkin..." Natasha menatap ku dengan tatapan sedih. "Ja-jadi selama ini, kau demam.."


Aku menganggukkan kepala ku. "Itu hanya gejala awal... Jika aku terus memakasakan diri, seperti yang ku bilang sebelum nya. Tubuh ku akan hancur."


Semua orang menundukkan kepala nya, lalu Natasha, Jack dan Arisa berjalan ke hadapan ku. Setelah itu mereka bertiga memeluk ku.


"Kalau begitu kami akan selalu menjaga mu!!" Kata Natasha.


"Tidak akan ku biarkan seorang pun menyentuh Kak Mira!" Kata Jack.


"Jack benar... Kami berdua terus berlatih selama Kak Mira tidak sadar. Jadi kami merasa kalau kami sudah menjadi lebih kuat."


Mendengar perkataan mereka membuat perasaan bahagia meluap dari dalam diri ku, tanpa sadar air mata membahasi pipi ku. Ini bukan lah tangisan kesedihan, tapi ini adalah tangisan kebahagiaan.


"Terima kasih semua nya.... Dan juga Jack lepaskan pelukan mu, bikin Jijik."


"Eeeeh," Kata Jack terkejut sambil menjauh. "Kak Natasha, dan Arisa padahal boleh meluk, kenapa aku aja yang nggak boleh!?"


"Pertama berubah dulu menjadi cewek, baru kau boleh memeluk ku."


Mendengar perkataan ku, Jack menjadi sedih. "Mana ada Cowok yang bisa berubah jadi Cewek!" Gumam jack kesal.


Arisa dan Natasha tertawa terbahak-bahak. Melihat kelakuan mereka, membuat ku tertawa kecil. Lalu pintu kamar di ketuk. Aku memperbolehkan orang yang mengetuk masuk.


"Ternyata kau Leonardo. Ada apa?"


"Ada yang mencari anda Nona."


"Siapa?"


"Nama nya Raisa... Aku menyuruh nya menunggu di ruang tamu!"


"Baiklah aku akan pergi kesana."


Aku melompat turun dari kasur, lalu aku mengikuti Leonardo pergi ke ruang tamu.


Saat di ruang tamu, aku melihat Raisa duduk sambil meminum minuman yang di sediakan Pelayan.


Raisa menengok pada ku. "Nona Mira... Senang melihat mu sudah sembuh."


Aku berjalan ke sofa yang ada di sebrang Raisa, lalu aku duduk di sofa itu. Natasha, Arisa dan Jack berdiri di belakang sofa yang ku duduki.


"Bagaimana kau tahu aku sudah pulang?"


"Aku mendengar suara berisik dari pelayan. Jadi aku menduga kalau kau sudah pulang."


"Begitu ya... Jadi apa urusan mu datang kesini? Tidak mungkin kan kau hanya ingin mengucapkan selamat."


"Anda benar... Saya kesini ingin memberitahu anda tentang tanaman liar yang di temukan penduduk di hutan." Kata Raisa dengan wajah serius.