From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 119 Peringatan dari Kerajaan Elf



Puluhan Ribu cahaya kuning pergi dari istana setelah mendengar perintah Oberon.


Suara wanita menggema di seluruh istana Oberon. "Sarion... Sekarang kau mendapatkan izin ku untuk masuk ke hutan Roh."


"Bukan kah anda bilang selama Ghoul masih memiliki dendam, kami tidak akan bisa masuk ke hutan Roh?"


"Sekarang dendam itu sudah menghilang.. Karena itulah aku menyuruh Oberon untuk membantu Ghoul balas dendam."


"Jadi begitu ya.." Jawab Sarion tersenyum bahagia. "Terima kasih Ratu Roh, terima kasih Oberon."


Oberon mengangguk. Setelah itu cahaya emas yang ada di langit-langit istana turun mendekati Sarion.


"Sekarang keluarkan kekuatan Ghoul yang masih tersisa, setelah itu sentuh aku!"


Sarion mengangguk. Lalu tangan kanan nya berubah menjadi hitam legang.


"Sekarang cepat sentuh aku!"


Sarion menyentuh cahaya emas yang ada di depan nya, cahaya emas itu makin terang hingga Oberon dan Sarion menutup mata.


Oberon merasakan kalau cahaya terang sudah menghilang, ia pun memutuskan membuka mata. Saat Oberon membuka mata, ia tidak melihat Sarion, padahal sebelum nya Sarion berada di depan Oberon.


Oberon tersenyum. "Jadi kau sudah pergi ke hutan Roh ya... Sarion."


"Sekarang kita lihat bagaimana reaksi dari kerajaan manusia yang lemah itu." Gumam Oberon sambil berjalan menuju singgassana nya. Sarion duduk di singgassana nya, setelah itu ia memejankan mata. Oberon memiliki kemampuan untuk melihat semua kejadian yang di lihat oleh Roh. Dengan cara memejamkan mata.


\*\*\*


Aku berada di ruang makan bersama dengan Natasha, Arisa dan Jack. Aku bersama mereka bertiga sedang memakan roti dengan selai coklat. Selama satu bulan ini, aku sudah membangun perusahaan yang memproduksi coklat, dan juga keadaan ekonomi kota sedikit demi sedikit membaik. Di karenakan peternakan dan perusahaan coklat yang ku bangun, di kota Cocoa tidak ada yang pengangguran sekarang, karena aku mempekerjakan mereka sebagai peternak dan pegawai di perusahaan ku.


Dan juga pajak berjalan dengan lancar, keuangan kota sudah stabil sekarang. Aku memotong gaji peternak dan pegawai sebanyak dua puluh persen untuk membayar pajak. Dan juga aku mendapatkan pajak dari pedagang yang datang ke kota, jujur saja semenjak ada nya peternakan dan perusahaan coklat banyak pedagang yang ingin kerja sama dengan ku untuk mendapatkan izin berjualan coklat di luar kota.


Perasaan ku saat ini sangat bahagia, bukan karena keadaan ekonomi kota yang membaik. Perasaan ku bahagia karena aku sudah menemukan makanan favorit ku yaitu coklat. Jika tidak ada masalah yang datang, saat ini aku sudah berada di surga dunia!


Aku terus mengunyah roti yang ku makan, rasa coklat dari selai, menyebar di dalam mulut. Aku mengunyah dengan perlahan, karena sangat sayang untuk langsung menelan rasa coklat yang sangat enak ini kedalam tenggorokan ku.


Natasha yang melihat Mira tersenyum bahagia, menghela nafas lega. Natasha lega, Natasha lega, karena menurut perkiraan Natasha, Mira akan terpukul karena kekuatan nya melemah. Tapi ternyata Natasha salah, Mira sangat bahagia, karena di kelilingi dengan makanan yang di kembangkan nya semenjak sebulan yang lalu, Mira menyebut makanan nya nama coklat. Mungkin Mira memberi nama coklat, di karena kan makanan nya berwarna coklat. Itulah yang di pikirkan Natasha.


Natasha juga berpikir, makanan bernama coklat yang di sukai Mira ini. Sangat enak, ia juga kadang tidak bisa berhenti memakan makanan terbaru ini. Bahkan Arisa dan Jack juga ketagihan memakan makanan bernama coklat ini.


Natasha melihat ke Mira. Saat melihat Mira, jantung Natasha berdebar sangat kencang perasaan behagia meluap dari dalam diri Natasha. Entah kenapa setiap Natasha melihat Mira, Natasha merasakan perasaan bahagia.


Tanpa sadar Natasha bergumam dengan suara keras. "Mira..." Mira menengok ke arah Natasha.


"Ada apa?"


"Aku mencintai mu!" Kata Natasha tersenyum bahagia.


"Hah," Kata Mira heran. "Maaf Natasha, karena terlalu kaget aku tidak bisa mendengar mu! Bisa kau ulangi perkataan mu sebelum nya."


"Sudah ku bilang aku mencintai mu!" Kata Natasha berteriak.


"Jadi begitu ya... Arisa.. Jack... Kurung Natasha! jangan sampai dia lepas!"


"Baik!" Jawab Arisa dan Jack bersama-sama.


Arisa dan Jack menahan kedua tangan Natasha, kemudian mereka berdua memaksa Natasha berdiri.


"Eh," Kata Natasha terkejut. "Lepaskan aku!" Kata Natasha berteriak.


Mira berdiri di atas kursi nya, kemudian ia membungkuk mengambil roti di atas meja. Lalu ia berdiri tegak kembali. "Jangan lepaskan dia!! Aku mempunyai firasat dia akan menghisap darah ku!" Mira berteriak, setelah berteriak Mira menyuap roti yang ia ambil kedalam mulut nya.


Natasha terus memberontak, Arisa dan Jack terus berusaha menahan Natasha yang memberontak.


"Cepat bawa Natasha menjauh dari ku! Jangan sampai dia menghisap darah ku!"


"Aku nggak akan menghisap darah mu! Aku hanya mengungkapkan perasaan ku pada mu.. Itu saja."


Mira duduk di kursi nya. "Sekarang Natasha, jelaskan pada ku. Bagaimana perasaan cinta mu pada ku?"


"Rasa nya sama seperti Jack mencintai kakak mu Yuri!"


"Ke-kenapa aku juga ikut di bawa-bawa!?" Kata Jack dengan wajah memerah.


"Arisa!! Jack!! Cepat bawa dia!!"


"Eeeeh," Kata Natasha terkejut. "Kenapa?"


"Mana ada cewek yang suka sama cewek.. Kau itu menakutkan Natasha!"


"Kalau begitu Mira.. Apakah kau bisa menyukai pria?"


"Jawaban nya sudah jelas... Itu hal yang tidak mungkin terjadi!"


Natasha terus memberontak, Arisa dan Jack terus membawa Natasha.


Tiba-tiba perasaan Mira, Natasha, Arisa dan Jack menjadi tidak enak. Bulu kuduk mereka berdiri, walaupun hanya sebentar.


"Kak Mira... Kak Natasha... Jack... Kalian merasakan nya?" Tanya Arisa.


Semua orang mengangguk. "Kami merasakan nya... Energi sihir dalam jumlah besar menyerang kerajaan Fantasia." Jawab Mira dengan suara pelan.


Arisa dan Jack melepaskan Natasha. Kemudian Natasha mendekati Mira. "Apa yang harus kita lakukan Mira?"


"Kita tunggu saja sampai energi sihir itu sampai di sini... Arisa... Berapa lama lagi energi sihir itu sampai kesini?"


"Lima detik lagi."


"Mulai hitung mundur!"


"Tiga...


Dua....


Satu..."


Ledakan besar terjadi di depan Vila. Ledakan itu sampai mengguncang Vila, Natasha dengan reflek langsung memeluk Mira. Arisa dan Jack juga saling berpelukan. Beberapa detik kemudian dari arah ruang tengah datang Leonardo dengan nafas tersengal-sengal.


"Nona Mira...." Kata Leonardo dengan nafas yang sudah sesak. "A-ada raksasa batu di depan Vila!!" Kata Leonardo. Wajah nya ketakutan warna wajah nya pucat pasi. Keringat nya bercucuran. Dari intonasi suara nya, sudah bisa di pastikan kalau Leonardo sangat panik dan ketakutan.


"Ayo cepat kita periksa kedepan!" dengan satu perintah dari Mira. Natasha, Arisa dan Jack pergi ke depan Vila. Mira di gendong oleh Natasha menuju depan Vila.


\*\*\*


Di istana kerajaan Fantasia. Charles dan Carla berada di ruang tahta. Charles sedang duduk di singgassana nya bersama dengan Carla. Ia memeriksa perkembangan dari kegiatan memimpin kota yang ia berikan kepada ke lima putri nya.


Menurut data yang di lihat Charles. Kota yang di pimpin Nina dan Blanc mengalami penurunan ekonomi. Sedangkan Rosa dan Yuri mengalami peningkatan ekonomi walaupun sedikit. Melihat hal itu Charles menjadi senang. Walaupun kedua anak nya yang lain membuat charles kecewa karena terus mengalami penurunan ekonomi. Lalu Charles sampai pada data perkembangan dari kegiatan memimpin Mira. Mira menunjukkan perkembangan Ekonomi yang sangat pesat. Bahkan banyak pedagang yang memasuki kota Cocoa untuk menjalin kerja sama. Charles melihat ke arah Carla, Carla tersenyum bahagia.


"Seperti nya dengan begini sudah terlihat siapa yang akan mewarisi tahta." Kata Carla.


"Masih belum.... Masih ada waktu lima bulan lagi... Bisa saja kejadian tidak terduga terjadi."


"Kau benar... Semoga saja ada kejadian tidak terduga terjadi dan membuat Mira pulang ke istana nanti."


"Seharus nya kau tidak berharap seperti itu!"


Doa Carla seperti terkabul, dengan di tandai terjadi nya ledakan besar di halaman istana. Ledakan itu sampai mengguncang seluruh istana. Pintu ruang tahta di buka, masuk seorang prajurit. Prajurit yang masuk berjalan ke tengah ruang tahta, setelah itu ia berlutut.


"Yang Mulia... Ada raksasa batu di halaman istana!"


"Raksasa batu?"


Prajurit mengangguk. "Apa yang harus kita lakukan?"


"Kerahkan semua pasukan untuk menghalang raksasa batu itu!"


"Baik yang mulia!" Prajurit berdiri kemudian ia berjalan keluar ruang tahta.


"Carla aku akan memeriksa keluar.. Kau tunggu di kamar!"


"Aku juga ikut!" Kata Carla sambil memeluk Charles.


"Aaaah," Kata Charles dengan wajah memerah. "Terserah mu!"


Mereka berdua pergi ke beranda yang berada di lantai dua istana, dari situ mereka bisa melihat kejadian di halaman istana. Saat sampai di beranda, mereka berdua melihat ke empat Selir sudah berada di beranda.


"Yang Mulia!" Kata semua Selir sambil berlutut.


"Formalitas nya nanti saja." Jawab Charles


Semua Selir berdiri.


Mereka semua melihat ke halaman, di tengah halaman berdiri seorang raksasa batu yang besar nya mengalahkan besar dari istana.


"A-apaan itu!!" Kata Charles terkejut.


Raksasa batu membuka mulut nya. Lalu dari mulut raksasa batu itu keluar suara berat yang terdengar hingga penjuru kota.


"Manusia lemah... Aku adalah Roh tanah. Namaku Genome! Aku kesini membawakan pesan dari Raja Elf dan Ratu Roh... Kalian di perintahkan untuk menyerah dan menjadi budak dari para Elf... Kalian di berikan waktu tiga hari untuk menjawab... Jika kalian setuju menjadi budak para Elf maka kami akan senang hati menerima kalian. tapi jika kalian melawan, kalian akan kami habisi tanpa tersisa."


Setelah mengatakan itu, raksasa batu berubah menjadi tumpukan pasir,lalu pasir itu jatuh hingga memenuhi halaman istana.


Charles yang mendengar pesan dari raksasa batu menjadi naik darah, ia berjalan memasuki istana. Saat di istana ia berteriak hingga suara nya terdengar ke penjuru istana.


"Panggil para Bangsawan, dan anak-anak ku ke istana! Cepat panggil mereka!!!" Kata Charles berteriak sangat kencang hingga kaca di seluruh istana pecah.