
"Kenapa Laporan nya belum datang!?"
Aku berteriak kesal sambil berguling-guling di atas kasur ku.
Sudah 5 Hari semenjak Arisa dan Jack ku suruh pergi ke kota Banitza. Tapi selama itu mereka belum ada memberikan ku laporan.
Baik itu melalui Burung pengantar pesan, (Telephaty), atau langsung menemui ku melalui (Teleportation). Mereka sama sekali tidak ada memberikan laporan.
"Sialan!!"
Aku berteriak kesal.
"Mira, apakah itu perilaku yang biasa di lakukan seorang Putri?"
Natasha yang berdiam diri di pojok ruangan memperotes tingkah ku.
"Diam kau Natasha!" Aku membentak nya. "Kau tahu seberapa penting laporan mereka kan? Laporan mereka itu sangat penting. Tapi kenapa....... Mereka belum memberikan nya pada ku!! Waktu kita tidak banyak. Hanya tinggal beberapa bulan lagi sampai waktu penilaian! Sialan!!"
Natasha menutup telinga nya.
Di dalam kamar ku saat ini ada Natasha, Dopplegangger Arisa dan Jack.
Natasha menunjukkan wajah jengkel nya padaku, sementara Dopplegangger Arisa dan Jack tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Kalau kau memang penasaran dengan nasib mereka, kenapa kau tidak mendatangi mereka saja kesana?"
Aku bangkit, duduk di kasur ku. "Ide yang bagus. Jika mereka tidak memberikan ku laporan karena alasan yang tidak penting, akan ku pakai Super Magic ku untuk menghukum mereka."
"Sebaiknya jangan!" Natasha memprotes perkataan ku.
Aku melompat dari kasur, Natasha beserta Dopplegangger Arisa dan Jack mendekati ku.
Saat mereka di dekat ku, aku memegang tangan kanan Natasha dan tangan kanan Dopplegangger Arisa, lalu tangan kiri Dopplegangger Arisa memegang tangan Jack.
Ini kami lakukan agar aku bisa memindahkan mereka bertiga sekaligus ke depan gerbang Kota Banitza.
Saat aku ingin menggunakan (Teleportation) aku teringat bagaimana proses terbentuk nya sihir (Teleportation). Proses itu sangat menakutkan, aku pun sempat ragu-ragu untuk mengaktifkan sihir itu di karenakan proses sihir nya yang menakutkan.
"Kenapa Mira?" Tanya Natasha.
"Apakah kita benar-benar akan menggunakan Teleportation?"
"Tentu saja kita akan menggunakan nya, karena itu cara tercepat untuk sampai kesana." Natasha berkata agak sedikit jengkel.
Aku menggelengkan kepala ku, berusaha membuang jauh-jauh proses terbentuk nya sihir (Teleportation) dari kepala ku.
"Baiklah.... Telepor-"
Sebelum aku menyelesaikan mantra, pintu kamar ku di buka dengan keras.
"Mira!!" Orang yang membuka pintu berteriak.
Aku melepaskan tangan Natasha dan Dopplegangger Arisa. Lalu melihat orang yang baru saja masuk.
"Ibu, kenapa ibu terlihat marah?"
Yang masuk adalah Ibu, aku bisa melihat kekesalan di wajah nya.
Ibu menatap ku dengan tajam, rasa dingin menjalar di punggung ku. Itu adalah rasa Takut!
Ibu mendekati ku, saat di dekat ku ia mencubit kedua pipi ku dan menarik nya dengan keras.
"Kenapa kamu di bilangi nggak nurut?" Kata Ibu dengan kesal.
"Aduh, aduh!!" Aku merintih kesakitan, saat itulah ibu baru melepaskan cubitan nya.
"Apa maksud ibu?" Aku bertanya sambil memegangi kedua pipi ku.
"Sudah ibu bilang kan? Jangan menyuruh pelayan mengambil makanan di tengah malam lagi."
"Aku tidak pernah menyuruh pelayan mengambil makanan di tengah malam."
"Jangan bohong! Pelayan berkata sewaktu ku interogasi. Tuan Putri yang menyuruh ku mengambil nya. Begitulah yang ia katakan!"
Ibu mencubit pipi ku lagi.
"Ampun Bu! Ampun!"
Ibu melepaskan nya.
Aku menggosok-gosok pipi ku, "Ibu... Apakah Ibu mendengar pelayan itu menyebutkan nama ku? Dia hanya bilang tuan Putri kan? Bisa saja Kak Nina, Kak Blanc, Kak Rosa atau mungkin Kak Yuri yang di maksud pelayan itu."
Ibu terkekeh saat mendengar pernyataan ku. Kemudian ia mencubit pipi ku lagi.
"Hebat juga kau membuat alasan. Tapi semua saudari mu saat ini sedang tidak ada di istana, jadi hanya kau pelaku nya."
Aku melepaskan kedua tangan ibu yang mencubit pipi ku. "Bukan aku yang menyuruh pelayan itu yang mengambil nya!!"
"Mira jangan Bohong!"
Aku berbalik, mendekati Natasha, Arisa dan Jack. "Kalau Ibu tidak percaya, aku akan pergi dari sini saja!"
"Haaaa?!" Ibu terkejut.
Natasha melemparkan Cristal sihir teleportasi, aku menangkap nya, lalu berkata : "Pindahkan aku ke Tiramisu!" Aku dengan cepat membanting Cristal sihir.
Bukan nya kita mau ke Banitza? Kenapa sekarang malah ke Tiramisu? Pikir Natasha saat melihat Mira menghilang dari hadapan nya.
Natasha mengambil Cristal sihir lagi, lalu ikut berpindah bersama Arisa dan Jack.
Carla yang melihat anak nya pergi bersama pelayan nya mulai panik.
"Apa yang ku lakukan!! Seharus nya aku percaya apa yang di katakan anak ku. Dia tidak mungkin berbohong."
Carla pergi dari kamar Mira kemudian berlari menuju ruang tahta tempat Charles berada. "Charles!! Mira kabur dari istana!" Carla berteriak sambil berlari menuju ruang tahta.
Aku, Natasha, Dopplegangger Arisa dan Jack berpindah ke depan Vila ku yang ada di Tiramisu.
Aku mendekati Dopplegangger Arisa dan Jack, menyentuh nya. Lalu aku merapal "Dispel Magic." Tubuh Dopplegangger pun menghilang dari hadapan ku.
Setelah menghilangkan Dopplegangger arisa dan Jack, aku dan Natasha berjalan masuk ke dalam Vila ku.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Natasha.
"Hanya ingin menyapa. Sudah lama kan kita tidak bertemu dengan Lizard dan Rabisia."
"Hmmm.... Lalu kenapa kau menghilangkan Dopplegangger Arisa dan Jack."
"Aku kesal melihat wajah mereka berdua."
Aku sampai di depan pintu, aku membuka nya.
Saat ku buka, Rabisia datang mengucapkan selamat datang.
"Selamat datang Nona Mira. Kenapa anda kesini?"
"Hanya ingin menyapa. Bagaimana Perusahaan dagang nya? Dan pasar gelap baru nya?"
Lizard datang dengan cepat dari lantai 2, lalu ia mengajak ku keruang tengah, aku di suruh duduk di sofa lalu teh dan cemilan datang saat aku duduk di sofa. Natasha duduk di samping ku.
Lizard duduk di sofa seberang ku. "Anda bertanya mengenai perusahaan dagang Mirror. Jawaban nya sudah pasti Nona Mira. Tidak ada masalah. Lalu pasar gelap yang baru, juga berjalan lancar. Ini bahkan lebih lancar dari pada saat bangsawan bernama Wilson mendukung kami dulu." Lizard menjawab pertanyaan ku saat kami baru datang kesini.
Aku meminum teh ku, lalu menaruh nya lagi di meja. "O. Iya. Itu mengingatkan ku, Rio dulu pernah bilang Low Light itu organisasi kecil kemudian ada seorang bangsawan yang mendukung hingga menjadi besar. Apakah nama bangsawan itu yang baru kau sebut tadi?"
"Anda benar nama bangsawan yang mendukung kami adalah Wilson. Saat organisasi Low Light masih kecil, orang itu yang membantu kami. Tapi saat organisasi Low Light sudah menjadi organisasi besar, kami menghianati orang itu." Lizard bercerita.
"Lalu bagaimana nasib orang bernama Wilson itu?"
"Entahlah. Tapi dari yang saya dengar dia membangun pasar gelap nya sendiri. Tapi saya tidak tahu di mana dia membangun nya."
Saat Lizard selesai bercerita, teh yang ku minum sudah habis. Aku beranjak dari tempat duduk ku lalu berpamitan dengan Lizard.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Ada satu kota yang ingin ku datangi."
"O.Iya Arisa dan Jack mana?" Rabisia bertanya.
"Benar juga. Kemana kedua bocah itu?" Sambung Lizard
"Aaah itu. Sebenarnya mereka berada di kota yang ingin ku datangi."
"O. Iya ini membuat saya bertanya-tanya dari tadi. Mata anda kenapa Nona Mira?" Tanya Rabisia.
"Untuk ini aku malas menjawab nya."
"Itu sangat indah." Kata Rabisia. Lizard mengangguk tanda setuju.
"Te-terima kasih!" Pujian itu datang tiba-tiba, jadi aku terkejut. Aku sampai menjawab terbata-bata.
"Ngomong-ngomong Nona Mira ingin kemana?"
"Kota Banitza."