From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 157 Lari.



Author's Note


Saya dan Partner saya Zack Razor bikin cerita Baru. Judul nya Collection Of Spooky Stories. Silahkan di baca ya.


Jangan lupa untuk tinggalkan Like, Kasih penilaian dan berikan tanggapan kalian. Sekian terima kasih.


-------------------------------------------


Kami melompat dari lantai 2 penginapan menuju keluar penginapan.


Kami mendarat di tengah-tengah kota.


Saat kami mendarat, banyak prajurit yang mengepung kami.


Natasha dan Jack berdiri tegak, kemudian mereka berjalan munuju depan ku untuk melindungi ku.


Sementara mereka melindungi ku, aku berlutut. Nafas ku berat, mata ku berkunang-kunang. Aku mulai batuk-batuk, di saat aku batuk, keluar darah dari mulut ku.


Aku juga merasakan adanya cairan yang keluar dari hidung ku, aku mengusap cairan itu, saat ku lihat sisa cairan itu di tangan ku, aku melihat darah. Jadi bisa di pastikan saat ini aku sedang mimisan.


Aku batuk lagi, darah keluar lagi.


Aku berusaha untuk berdiri, lalu berjalan ke depan Natasha dan Jack. Aku mengusap darah yang keluar dari hidung ku dan menatap semua prajurit yang mengepung kami dengan tatapan tajam.


Dari atas kami turun Arisa yang melompat ke depan para prajurit yang mengepung kami.


"Kau berkhianat Arisa?" Tanya Jack.


Arisa tidak menjawab.


"Jawab Arisa!" Natasha membentak Arisa.


Arisa hanya berdiam tidak menjawab.


"Percuma. Seperti nya pikiran nya sedang kendalikan oleh seseorang. Untuk penjelasan nya, akan ku jelaskan setelah kita lolos dari sini."


Setelah berkata dengan cukup panjang, aku terengah-engah, nafas ku lumayan berat. Hal itu membuat ku susah berbicara.


"Wah, wah. Ternyata adik ku benar-benar orang yang licik ya."


Suara yang tidak asing terdengar dari tengah-tengah pasukan. Sedetik setelah suara itu, para prajurit membuka kan jalan. Dari jalan yang di buka prajurit ada seorang pria yang berpakaian mewah dan seorang wanita yang memakai pakaian yang mewah juga. Mereka berdua berjalan mendekati ku.


"Jadi adik ku kenapa kau memata-matai kota ku?"


"Ternyata kau Yuri. Aku tidak menyangka kau akan terkena pengaruh laki-laki brengsek itu."


"Adik ku. Itu tidak sopan, seharus nya kau memanggil ku Kak Yuri kan. Dan juga jangan berkata buruk pada tunangan ku, walaupun kau adik ku tidak akan ku maafkan kau berkata buruk padanya."


Wanita itu mengangkat tangan kanan nya, lalu aku melihat dari atas bangunan banyak pemanah yang mengarah kan panah nya pada kami.


"Putri Yuri anda kenapa?" Tanya Jack.


"Diam kau pelayan rendahan." Kata wanita itu.


"Sayang, lupakan pria bodoh itu." Kata pria yang ada di samping wanita itu.


"Benar juga. Adik ku. Seharus nya kau senang karena kau di sambut oleh kakak tersayang mu."


"Maaf saja ya.. Aku tidak akan menganggap wanita rendahan seperti mu sebagai kakak."


Aku tersenyum pahit, senyuman ku adalah Poker Face. Saat ini tubuh ku sangat kesakitan. Aku bisa pingsan kapan saja, tapi karena adrenaline ku sedang berada di puncak nya, kepingsanan ku dapat tertunda.


"Jadi Boleh aku bertanya pada pria rendahan yang di sana itu!"


"Wilson!" Pria itu membantah perkataan ku.


Aku mengabaikan nya. "Jadi apa yang kau lakukan pada Kakak ku dan Bawahan ku? Bagaimana caramu mengendalikan pikiran mereka? Kau tidak menggunakan sihir kan? Dispel Magic ku tidak bekerja pada Arisa tadi. Itu bukti pasti kau tidak menggunakan sihir untuk mengendalikan pikiran mereka."


"Kau pintar sekali putri Mira. Itu benar aku tidak menggunakan sihir pada mereka."


"Lalu kau menggunakan apa?"


"Kau pikir aku akan mengungkapkan hal yang begitu penting pada mu!? Apakah kau bodoh?"


"Kau yang bodoh, selama kita berbicara. Aku sudah siap untuk pergi dari sini."


Itu benar. Selama kami berbicara, aku sudah memegang bokong Natasha dan Jack. Mereka sedikit terkejut saat aku pertama kali menyentuh nya, tapi ini kulakukan karena jika aku memegang tangan mereka aku akan ketahuan. Karena itulah aku memegang bokong mereka.


"Teleportation!"


"Hentikan dia Gadis Elf."


"Dispel Magic!" Arisa berteriak.


Setelah aku berkata seperti itu, aku sudah berpindah ke depan Vila ku yang ada di Tiramisu.


Saat sampai, tenaga ku langsung menghilang, aku jatuh ke tanah dan kesadaran ku mulai menghilang.


Persepektif Natasha.


Mira mulai terhuyung saat sampai di halaman Vila, aku langsung menangkap nya sebelum dia terjatuh.


"Kak Mira." Jack berteriak.


"Dia menggunakan terlalu banyak energi sihir." Aku menyentuh kening Mira. "Dia demam. Cepat kau buka pintu Vila!" Aku menyuruh Jack.


Aku membaringkan Mira di lengan ku, lalu aku mengangkat nya. Kemudian berjalan pelan ke arah Vila.


Jack membuka pintu Vila, aku langsung masuk kedalam. Saat di dalam aku berteriak :


"Lizard. Rabisia. Di mana kalian?"


"Kami di sini!" Seseorang membalas dari lantai 2. Kemudian keluar seorang gadis setengah kelinci dari salah satu kamar yang ada di lantai 2.


"Ada apa..... Kenapa dengan Nona Mira!?" Rabisia berteriak. Awal nya ia bertanya dengan tenang, tapi saat melihat Mira terbaring lemah di gendongan ku, Rabisia langsung menjadi panik lalu ia dengan cepat turun ke lantai 1.


Mendengar teriakan Rabisia, Lizard keluar dari salah satu kamar dan langsung bergegas mendatangi kami. Lizard bahkan tidak menggunakan tangga, ia langsung melompat dari lantai 2.


"Natasha. Nona Mira kenapa?" Tanya Lizard yang bergegas mendekati ku.


"Kebanyakan menggunakan energi sihir. Cepat kalian sediakan kamar untuk nya!"


"Akan kami laksanakan." Rabisia menjawab, lalu ia dan Lizard bergeas naik lagi kelantai 2.


Beberapa detik kemudian, Lizard berteriak dari lantai 2. "Kamar nya sudah siap!"


Aku menumbuhkan sayap kelelawar, lalu terbang ke kamar yang di maksud Lizard. Cara ini lebih cepat dari pada harus berlari.


Aku memasuki kamar, lalu membaringkan Mira di atas kasur.


Setelah itu aku menyuruh Lizard keluar kamar. Saat dia sudah keluar, aku melepas pakaian Mira, mengelap keringat yang membasahi tubuh nya, kemudian mengganti pakaian nya. Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian di (Blood Box) ku. Aku sudah menduga kejadian seperti ini bisa terjadi kapan saja, jadi aku menyiapkan semua yang ku butuhkan di (Blood Box) ku.


Setelah mengganti pakaian Mira, aku menarik selimut untuk membungkus tubuh Mira agar tidak kedinginan.


Setelah semua selesai, aku pergi keluar kamar dan menutup pintu kamar. Lalu aku pergi kelantai satu, di mana tempat semua orang berkumpul.


"Untuk saat ini biarkan Mira beristirahat sebentar." Aku berkata sambil menuruni tangga.


"Apa yang terjadi? Sampai-sampai kondisi Nona Mira seperti itu?" Tanya Lizard.


"Akan ku ceritakan sekarang. Cerita ini agak panjang."


"Aku baru sadar sekarang." Rabisia menatap Jack. "kenapa dengan wajah mu?"


"Benar juga. Kenapa wajah mu bonyok Jack?" Lizard yang seperti nya baru sadar ikut bertanya.


"Sebenarnya wajah Jack ada hubungan nya dengan cerita yang ingin kuceritakan."


"Kalau begitu. Ceritakan!" Kata Lizard.


"Sebenarnya saat kami di kota Banitza-"


Aku menceritakan semua yang terjadi di kota Banitza. Saat Jack patah hati, Arisa yang menghilang, Bangsawan bernama Wilson yang menjadi tunangan Putri Yuri, dan terakhir aku menceritakan saat Arisa yang tiba-tiba menyerang kami karena pikiran Arisa di kendalikan oleh musuh.


"Pikiran Arisa di kendalikan oleh musuh?" Tanya Lizard.


Aku mengangguk. "Bukan hanya Arisa, Kakak Mira, Putri Yuri juga.


"Apakah itu sihir? Atau kutukan?"


"Kata Mira itu bukan sihir. Karena Mira sudah mencoba Dispel Magic pada Arisa tapi tidak mempan. Dan jika itu kutukan, seharus nya kutukan itu tidak bisa melawan kutukan budak darah ku. Tapi Arisa dapat melawan kutukan ku, untung Mira langsung menyuruh ku membatalkan kutukan budak darah ku. Jika Arisa terus ku kutuk, Arisa mungkin akan mati, karena melawan kutukan ku."


"Jika bukan kutukan, dan sihir. Lalu Arisa di kendalikan menggunakan apa?"


"Entahlah. Musuh tidak memberitahukan tentang hal itu."


"Ini semua salah ku. Jika aku mencari Arisa waktu itu, mungkin dia tidak akan seperti ini." Kata Jack dengan nada berat. Penyesalan dapat tergambar jelas dari nada suara nya.


"Itu benar ini salah mu," Jack tersentak mendengar jawaban ku. "Karena itulah. Kau harus menebus kesalahan ini. Kau harus bisa melepaskan pengendali pikiran Arisa. Kau faham Jack?"


Jack mengangguk.


"Jadi apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" Tanya Rabisia.


"Untuk saat ini, kita harus membuat Mira sadar. Dia pasti tahu apa yang harus di lakukan."