From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 335 Mulai Bergerak



"Apapun yang kau inginkan Mira. Kami akan mengikuti mu." Natasha menjawab terhadap ajakan ku yang ingin cepat-cepat ke Fantasia untuk memastikan kondisi di sana.


Tapi masalah nya, walaupun memang aku ingin cepat-cepat ke sana. Aku masih harus mengabulkan permohonan Ibu yang meminta ku untuk menguburkan jasad nya di kampung halaman nya. Atas dasar itulah aku menyarankan kepada para bawahan ku...


"Untuk saat ini, aku ingin membagi tim. Tim pertama pergi ke Ibu kota untuk memastikan situasi dan sisa nya ikut dengan ku untuk pergi ke wilayah perdagangan Benua Silia."


"Kami tidak keberatan... Tetapi mengapa kita harus melakukan hal itu?"


"Ini adalah permintaan Ibu. Dia ingin aku menguburkan jasad nya di kampung halaman nya."


Aku memberitahu pembagian tim kepada mereka. Tim pertama yang ikut dengan ku ke wilayah perdagangan. Tim ini hanya beranggotakan dua orang termasuk aku. Aku memilih untuk membawa Natasha bersama ku, lalu sisa nya pergi ke Fantasia untuk memeriksa kondisi. Karena Thinkie bukan termasuk bawahan ku, ia tidak ikut dalam operasi kali ini. Tim kedua, yang bertugas memeriksa keadaan di Fantasia, adalah Arisa dan Jack dan juga Amanda yang menawarkan diri untuk ikut serta bersama mereka.


Setelah membagi tim, aku menyarankan mereka untuk menyamarkan diri.


Aku mengambil item dari (Inventori) ku. Item itu berupa aksesoris, seperti anting, kalung, dan juga gelang. Aksesoris ini berguna untuk merubah penampilan seseorang dengan sihir ilusi.


Semua orang yang ikut serta dengan operasi kali ini masing-masing mengambil aksesoris yang ku ambil dari (Inventori). Arisa memakai kalung, Jack memakai gelang, lalu Amanda, aku dan Natasha memakai anting di salah satu telinga kami. Setelah memakai aksesoris, penampilan kami mulai berubah. Rambut dan mata Jack yang berwarna coklat, berubah menjadi pirang dengan mata nya yang berubah menjadi berwarna biru, dan tubuh nya sedikit memendek. Lalu ada Arisa yang ras nya tidak berubah sama sekali, tapi warna dari rambut nya berubah, yang semula pirang berubah menjadi hijau, mata nya yang semula berwarna hijau berubah warna menjadi biru, lalu penampilan nya yang seperti gadis remaja berubah menjadi seperti seorang wanita yang berumur di akhir dua puluhan. Amanda tidak mengalami perubahan signifikan, hanya warna rambut dan mata nya saja yang berubah. Natasha juga sama seperti Amanda, rambut dan mata nya saja yang berubah, awal nya rambut nya pirang kini berubah warna menjadi hitam, mata nya yang merah darah berubah warna sama seperti warna rambut nya, berwarna hitam. Untuk kasus ku, perubahan begitu signifikan. Penampilan ku yang seperti anak kecil berubah menjadi seorang gadis remaja, ini sama seperti menggunakan sihir (Growth), tapi beda nya penampilan ku kali ini hanyalah ilusi. Lalu mata ku berubah warna seperti warna semula, yaitu berwarna merah rubi, untuk rambut ku berubah warna menjadi hitam sama seperti Natasha.


"Ini sedikit gawat." Kata ku, saat melihat penampilan ku di cermin yang di keluarkan oleh Arisa dari (Inventori) nya untuk memeriksa penampilan kami.


Penampilan ku kali ini bisa mengundang sedikit masalah. Alasan nya ada banyak. Tapi untuk alasan utama nya adalah... Aku... Aku sungguh CANTIK! Itu benar. Aku begitu Cantik! Melebihi wanita manapun!


Walaupun aku tahu, ini bisa mengundang masalah... Aku tidak bisa berhenti berpose di depan cermin sembari tersenyum, mengagumi penampilan ku.


"Aaaaah.... Sudah lama aku tidak melihat Mira bersikap narsis seperti ini." Kata Natasha kepada ku dengan senyum masam.


"Siapa yang Narsis!? Aku hanya mengungkapkan Fakta! Kau pikir ada seseorang yang secantik diri ku di dunia ini!?"


Natasha, Arisa, Jack, Amanda dan Thinkie terdiam. Entah itu karena mereka mengakui kecantikan ku, atau hanya tidak tahu bagaimana harus merespon sifat percaya diri ku yang berlebihan... Bagaimana pun juga, memang fakta penampilan ku kali ini sedikit bermasalah. Penampilan ku sebagai remaja bukanlah hasil sihir (Growth) yang dapat merubah tubuh ku menjadi dewasa, tapi ini hanyalah ilusi. Jika seseorang menyentuh ku, lalu sihir ilusi yang menyelimuti tubuh ku terganggu, aku akan kena masalah. Sebagai contoh, jika seseorang melempar batu ke kepala ku, karena perbedaan tinggi badan antara ilusi tubuh remaja ku dan tubuh asli ku, batu itu akan menembus kepala ku. Seperti seseorang yang melempar batu ke sebuah hologram. Dan untuk efek lanjutan nya, bisa di tebak... Penyamaran ku akan terbongkar.


"Haaah... Bagaimana pun juga, penampilan ku kali ini memang bermasalah..." Aku mengeluarkan sebuah tongkat dari (Inventori) lalu memegang nya di tangan ku, dan ilusi langsung rusak. Di karenakan tangan asli ku, dan tangan dari ilusi ku yang memiliki perbedaan ketinggian.


"Benar juga... Kenapa kau tidak mengubah warna rambut mu saja? Tidak perlu memakai item ini?"


"Aku akan melakukan itu..." Kata ku sambil menghela nafas, melepas item perubah penampilan, membuat ilusi remaja ku menghilang, aku kemudian menggunakan sihir untuk merubah warna rambut perak ku menjadi hitam dan warna mata emas ku menjadi merah rubi.


Setelah merubah penampilan, Arisa mengeluarkan jasad Ibu dari (Inventori) nya yang kemudian di simpan lagi oleh Natasha di (Blood Box) milik nya. Setelah semua beres, aku mengambil peta dari (Inventori), memastikan lokasi wilayah perdagangan Benua Silia, menyuruh Arisa membuat Crystal sihir teleportasi ke kordinat yang di tentukan. Sebelum berpindah tempat, Arisa terlebih dahulu pergi ke Benua Chiso untuk mengantarkan Thinkie pulang. Beberapa menit kemudian ia kembali, setelah itu barulah kami berpindah tempat ke tujuan kelompok kami masing-masing.


\*\*\*


Aku dan Natasha menggunakan Crystal sihir teleportasi untuk berpindah ke wilayah perdagangan Benua Silia, sedangkan Arisa dan kelompok nya berpindah dengan sihir nya ke Ibu kota Kerajaan Fantasia.


Aku dan Natasha sampai ke kota yang menjadi pusat perdagangan Benua Silia, yang bernama Moussaka. Balai kota Moussaka, di siapkan untuk tempat teleportasi dari berbagai wilayah, terbukti saat kami melakukan teleportasi, para penjaga kota langsung berkumpul mengelilingi kami sembari komandan penjaga mendatangi kami sambil memintai identitas kami.


Memberikan identitas palsu yang sudah kami siapkan, aku dan Natasha dapat dengan mudah melewati penjagaan ketat Kota Moussaka. Kami pun berjalan di jalanan kota, sembari mencari informasi mengenai situs sejarah yang seharus nya menjadi peninggalan kerajaan kecil yang dulu menempati wilayah ini.


Julukan kota Moussaka, pusat perdagangan Benua Silia, bukanlah isapan jempol belaka, saat kami berteleportasi saja sudah banyak kereta kuda yang melintasi jalanan kota sembari membawa barang-barang dari berbagai negara. Bahkan saat di balai kota tadi, sedetik setelah kami berteleportasi, banyak kereta kuda muncul di samping kami, melihat bagaimana sigap nya respon dari penjaga yang berjaga di sana, menandakan kalau kereta kuda muncul di tengah-tengah balai kota adalah hal biasa.


Seluruh kota Moussaka seperti distrik jual-beli yang ada di Ibu kota, melihat banyak nya toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan.


Saat aku dan Natasha baru berjalan beberapa meter dari tempat kami berteleportasi sebelum nya, aku menerima (Telepathy) dari Arisa.


'Kak Mira,' Suara Arisa bergema di kepala ku. 'Kami tidak langsung berpindah ke Ibu kota. Seperti nya ada (Barrier) yang menghalangi teleportasi kami.' Arisa memberikan informasi yang mengejutkan di saat kami baru saja memulai operasi.